Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Anak Sialan
Setelah kedatangan Rafa ke Rumah Sakit Alana merasa lega, ia kini merasa tak sendiri menjaga Cia.
Saat hatinya merasa lega, disitu ia baru merasakan sakit disekujur tubuhnya. Tepat saat lima belas menit ia berbaring di ranjang.
"Ughhh" Rintih Alana.
Rafa dan Cia menoleh ke arahnya, mereka berdua satu kamar dengan dua ranjang berbeda atas permintaan Alana.
"Ada yang sakit sayang?"
Tanya Rafa pelan menatap istrinya yang merintih kesakitan. Alana hanya mengangguk pelan, Rafa kemudia memanggil dokter.
"Tunggu ya sayang. Bentar lagi dokter datang"
Rafa menenangkan Alana. Sementara Cia, ia hanya diam melihat ibunya kesakitan.
Ada perasaan perih dihatinya, kasihan terhadap apa yang terjadi pada Alana.
"Mamah.... Maafin Cia. Ini gara-gara Cia mau makan ramen, Pah" Cia menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang menimpa mereka berdua.
"Nggak... Ini takdir sayang"
Alana mencoba tersenyum agar anaknya tak merasa cemas berlebihan. Ia menahan sakit tanpa merintih lagi.
Skip
Setelah diperiksa dokter, dan diberi obat pereda nyeri Alana baru bisa tidur dengan tenang. Nafasnya teratur, namun perban yang menghiasi kepala, tangan, serta kakinya menjadi pertanda bahwa Alana sangat kesulitan menahan sakit.
____
Dikediaman Johan dan Safa mereka tengah berkumpul makan malam bersama.
Ini adalah pertama kali untuk Vino bisa makan bersama dengan kedua orangtuanya.
"Mommy, Daddy.. Vino happy malam ini bisa makan bertiga. Ini pertama kalinya untuk Vino". Kalimat polosnya terasa menampar Johan dan Safa.
"Iya sayang, Vino makan yang banyak ya sayang"
Safa menyahut Vino pelan, lembut tidak ada keributan yang terjadi seperti malam-malam sebelumnya.
Johan menaruh daging ayam di piring Vino
"Vino suka paha kan? ini untuk Vino dua-duanya"
Vino tersenyum ceria melihat dua paha ayam kin berada di piringnya.
"Makasih, Daddy" suara imutnya menambah kesadaran Johan dan Safa bahwa mereka telah lalai menjadi orangtua.
Kini, meja makan itu terlihat hidup ada suara tawa Vino, Safa dan Johan.
_____
Saat diruang tamu keluarga Johan tengah berkumpul saling bertukar cerita antara Safa, Johan dan Vino.
Tiba-tiba ponsel Johan berdering pertanda ada panggilan masuk.
Saat diangkat, rahang Johan mengeras wajahnya terlihat panik.
"Kenapa Han?" Tanya Safa dengan wajah penasaran.
"Cia... Cia kecelakaan" Johan gemetar.
Mata Safa menyipit, rahangnya mengeras dan terlihat kesal.
"Kamu masih berhubungan sama mantan kamu berarti? Anak kamu cuma Vino. Gak ada Cia"
Tegas Safa sambil menunjuk dada Johan lalu pergi menarik tangan Vino untuk masuk kamar.
"Vino, ayo. Kamu harud tidur"
Vino yang ketakutan menurut saat tangannya ditarik secara halus oleh Safa.
"Cia anak aku, kakaknya Vino."
Suara berat Johan menggema diruang keluarga membuat langkah Safa dan Vino terhenti.
"Vino punya kakak, Dad?" polos Vino.
"Nggak.. Dia bukan kakak kamu, dia hanya anak dari perempuan jahat yang dulu mengambil Daddy dari Mommy". Tegas Safa lalu segera melangkah ke kamar Vino.
Safa kembali ke ruang tamu melihat Johan yang mondar mandir gelisah.
"Kamu dengerin aku gak sih? Aku gak mau kamu berhubungan lagi dengan mantan istri kamu dan anak sialan itu" Safa penuh emosi.
Johan kehilangan kesabaran pada Safa, ia mendorong tubuh istrinya hingga membentur dinding, mencengkaram bahu Safa kencang.
"Anak sialan? Cia anak aku"
Suara Johan penuh penekanan.
"Dan aku berhak penuh atas Cia, gak satu orang pun yang bisa halangin aku ketemu Cia. Termasuk kamu"
Johan lalu pergi keluar dari rumahnya menuju rumah sakit.
______
Dirumah sakit, Alana tengah tertidur sementara Cia tak bisa tidur. Ia takut Alana, akan pergi selamanya.
"Papa... Mama kasian, kakinya gak bisa jalan ya?"
Cia terlalu khawatir dengan kondisi Alana. Padahal kondisi dirinya sama parahnya.
"Sayang, Cia tidur ya istirahat. Biar cepat sembuh, mama juga tidur agar bisa cepat sembuh". Sahut Rafa.
"Cia mau ketemu papa Johan... Dia kesini gak Pah?"
"Kita tunggu ya sayang, kalo gak sibuk pasti kesini". Rafa mengelus punggung tangan anak tirinya itu.
Klik..
Pintu ruangan Cia dan Alana terbuka langkah Johan pelan, takut mengganggu Alana yang tidur pulas.
"Pak, saya minta maaf. Terlambat datang kesini"
Ucap Johan tak enak.
"Sudahlah, sekarang temani saja Cia. Dia kangen katanya" Rafa kembali ke sisi Alana, sementara Johan disamping putrinya.
"Papa Johan.." Cia terlihat senang melihat papa kandungnya datang.
"Cia tidur ya, papa jagain disini"
Johan mengelus pipi anaknya, hatinya perih melihat kondisi anaknya.
"Tuhan, jika bisa ditukar lebih baik aku yang menderita dari pada Cia" batinnya berbisik lirik.
Alana merintih didalam tidurnya, Rafa dengan sigap menggenggam tangan istrinya.
"Sayang... Ada yang sakit?" Tanyanya pelan.
Alana membuka mata perlahan, melihat Rafa disampingnya dengan wajah penuh khawatir.
"Mas, tangan aku sakit banget"
Rafa segera mengambil minyak kayu putih membalurkan ke tangan Alana yang terasa sakit.
"Udah enakan sayang?"
Rafa membetulkan selimut istrinya menutup hingga bahu. "Tidur lagi ya, aku disini sayang. Cia juga disini ditemani Johan, kamu yang tenang istirahat ya. Jangan terlalu banyak fikiran dulu. Fokus ke kesehatan kamu ya"
Rafa mengusap kepala Alana lembut.
_____
Sementara itu di kediaman Safa, ia tengah menahan marah dan emosi. Ia meminum wine guna menenangkan fikirannya.
"Alana sialan. Dia masih gak terima cerai sama Johan. Dia masih gunakan anak sialan itu untuk ketemu Johan."
Gerutunya kesal penuh amarah, penuh rencana busuk untuk Alana.