Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22_Terungkap
"Hubungi IT untuk memeriksa sistem perusahaan. Cari siapa dalang dari semua ini." perintah Elvara dengan tatapan tajam. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengetuk meja kerja dengan pelan, menahan amarah yang mulai memuncak.
"Baik, Nyonya. Saya akan segera menghubungi tim IT sekarang juga." jawab Berry sigap sambil menganggukkan kepala. Wajahnya terlihat serius sebelum buru-buru keluar dari ruangan.
Beberapa menit kemudian, ruang server perusahaan dipenuhi para teknisi IT yang sibuk membuka berbagai layar pemantauan.
Suasana mendadak berubah tegang. Tak ada seorang pun yang berani bercanda, semua fokus pada layar masing masing.
"Ada apa sebenarnya, Pak?" tanya salah satu staf IT sambil mengenakan headset.
"Sistem perusahaan diretas. Semua transaksi hampir lumpuh. Kita harus menemukan sumber serangannya secepat mungkin." jawab kepala divisi IT dengan wajah tegang.
"Baik, saya mulai melacak alamat IP yang masuk." Lanjutnya. Tangannya segera mengetik serangkaian perintah, sementara matanya terus mengawasi pergerakan data di layar monitor.
"Aku akan memeriksa log server. Jangan sampai ada satu data pun yang terlewat." balas salah satu staf IT. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha seteliti mungkin agar tidak ada jejak digital yang luput dari pemeriksaan.
"Bagian firewall sudah saya amankan. Kalau pelaku mencoba masuk lagi, kita bisa langsung mendeteksinya." ujar kepala divisi IT. Ia menjelang napas panjang sebelum kembali menatap layar yang di penuhi deretan kode.
Jari-jari mereka menari cepat di atas keyboard. Suara ketikan memenuhi ruangan yang dipenuhi ketegangan.
Bunyi notifikasi dari komputer yang terus berdenting. Keringat mulai membasahi pelipis beberapa teknisi, tetapi tak seorang pun berhenti bekerja.
Sementara itu, Berry kembali memasuki ruang kerja Elvara.
"Nyonya, tim IT sudah mulai bekerja. Mereka sedang melacak pelaku." ucap Berry. Ia berdiri tegak di depan meja kerja sambil menunggu respon atasannya.
Elvara mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari jendela kaca di belakang meja kerjanya.
"Berapa lama mereka membutuhkan waktu?" tanyanya dengan nada dingin. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada, berusaha mengendalikan emosinya.
"Mereka meminta waktu beberapa jam. Serangannya cukup rumit." ucap Berry. Nada suaranya terdengar bati hati, khawatir jawaban itu mengecewakan Elvara.
"Tidak masalah. Yang penting aku ingin hasilnya. Siapa pun pelakunya, aku akan membuatnya menyesal." balas Elvara dengan sorot mata tajam. Rahangnya kembali mengeras, sementara jemarinya mengepal di atas meja.
Berry hanya mengangguk. Ia tahu ketika Elvara berbicara setenang itu, justru saat itulah kemarahannya berada di puncak.
"Baik, Nyonya." jawab Berry cepat, ia segera meninggalkan ruangan untuk memastikan seluruh instryksi dijalankan.
Dua jam kemudian...
Seorang teknisi berlari tergesa menuju ruang rapat.
"Pak! Kami menemukan sesuatu!" serunya dengan napas memburu. Dadanya naik turun, tetapi wajahnya memancarkan secercah harapan.
Kepala divisi IT langsung menghampiri.
"Apa hasilnya?" tanya Berry penasaran. Ia melangkah semalin dekat, berharap kabar yang dibwa teknisi itu menjadi titik terang.
"Kami berhasil memulihkan sebagian besar server. Dan kami juga menemukan jalur akses yang digunakan peretas." jelas kepala divisi IT. Matanya berbinar karena akhirnya menemukan petunjuk penting.
"Siapa?" tanya Berry. Nada suaranya berubah semakin serius.
"Masih kami pastikan. Tapi alamat IP-nya mengarah ke jaringan pribadi." jawab kepala divisi IT sambil terus memperhatikan data yang terus bermunculan di monitor.
"Lanjutkan penyelidikannya!" perintah Berry. Tatapannya penuh tekanan.
"Siap!" jawab seluruh tim hampir bersamaan.
Tak lama kemudian, layar monitor kembali menampilkan data baru.
Mata seluruh tim langsung membesar.
"Pak... nama pengguna yang dipakai untuk masuk ke sistem sudah muncul." ucap salah satu seorang teknisi. Suaranya terdengar bergetar karwna tidak menyangka nama itu akan muncul.
"Siapa?" tanya kepala divisi IT. Jantungnya berdegup lebih cepat. Teknisi ini menelan ludah sebelum menjawab.
Teknisi itu menelan ludah sebelum menjawab.
"Arsenio..." katanya lirih. Ruangan ketika terasa jauh lebih sunyi dari pada sebelumnya.
Ruangan mendadak sunyi.
"Kamu yakin?" tanya kepala divisi IT. Ia menatap teknisi itu lekat lelah, memastikan tidak ada kesalahan sedikitpun.
"Seratus persen yakin. Semua jejak digital mengarah kepadanya. Bahkan ada beberapa percobaan akses sebelumnya yang menggunakan akun bayangan miliknya." jawab teknisi itu mantap. Ia memutar monitor agar semua orang bisa melihat bukti yang telah di temukan.
"Cetak semua buktinya. Jangan ada yang terlewat." perintah kepala divisi IT. Wajahnya berubah semakin serius karena kasus ini akan memasuki tahap yang lebih besar.
"Baik, Pak." jawab para staf serempak.
Printer mulai bekerja tanpa henti, mengeluarkan lembar demi lembar bukti digital.
Beberapa menit kemudian...
Berry kembali masuk ke ruangan Elvara sambil membawa sebuah map tebal. Ekspresinya terlihat tegang.
"Nyonya..." panggilnya pelan. Ia berhenti tepat di depan meja kerja Elvara.
Elvara yang sedang membaca dokumen langsung mengangkat wajahnya.
"Sudah ketemu?" tanyanya tenang.
Berry mengangguk perlahan.
"Ya." jawabnya singkat.
"Siapa?" tanya Elvara. Pandangannya tak lepas dari wajah Berry.
Berry menarik napas dalam sebelum menyerahkan map itu.
"Dalang di balik peretasan perusahaan adalah... Arsenio." ucapnya pelan. Kalimat itu terasa begitu berat keluar dari bibirnya.
Elvara terdiam beberapa detik. Tatapannya berubah semakin dingin saat membuka isi map tersebut.
Di dalamnya terdapat laporan lengkap, rekaman akses server, alamat IP, hingga jejak transaksi digital yang semuanya mengarah kepada satu nama.
Arsenio.
Sudut bibir Elvara perlahan terangkat membentuk senyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.
"Aku sudah menduganya." ucapnya tenang. Matanya terus menelusuri setiap halaman bukti tanpa sedikit pun menunjukkan keterkejutan.
Berry terlihat heran.
"Nyonya tidak terkejut?" tanyanya. Dahinya berkerut karena respon Elvara yang begitu tenang.
"Orang yang kehilangan segalanya akan melakukan apa saja untuk balas dendam." jawab Elvara sambil menutup map itu. Nada suaranya rendah, tetapi penuh keyakinan.
"Apa kita langsung melaporkannya ke polisi?" tanya Berry.
Elvara menggeleng pelan.
"Belum." jawabnya singkat. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja.
"Kenapa?" tanya Berry semakin bingung.
"Karena aku ingin dia merasa aman terlebih dahulu. Biarkan dia berpikir rencananya berhasil." jawab Elvara. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya, menyiratkan bahwa ia telah menyiapkan langkah berikutnya.
Berry mengangguk mengerti.
"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanyanya lagi sambil menyiapkan buku catatan.
"Kumpulkan semua bukti. Gandakan datanya. Simpan di tempat yang aman." perintah Elvara. Sorot matanya penuh kewaspadaan.
"Baik, Nyonya." jawab Berry mantap.
"Jangan sampai Arsenio tahu kalau kita sudah mengetahui semuanya." lanjut Elvara.
"Mengerti." jawab Berry penuh keyakinan.
Berry segera keluar menjalankan perintah.
Elvara kembali menatap jendela kantornya. Sorot matanya penuh ketegasan.
"Arsenio... permainanmu sudah berakhir." gumamnya lirih dengan senyum penuh arti.
Tak lama kemudian, telepon di meja Elvara berdering.
"Nyonya, seluruh sistem perusahaan sudah kembali normal. Operasional bisa berjalan seperti biasa." lapor kepala divisi IT dari balik sambungan telepon.
"Kerja bagus. Pertahankan pengawasan selama dua puluh empat jam penuh. Aku tidak ingin ada celah sekecil apa pun." ujar Elvara.
"Siap, Nyonya." jawab kepala divisi IT penuh hormat sebelum sambungan telepon berakhir.
Elvara menutup telepon, lalu kembali membuka map berisi bukti-bukti tersebut. Kali ini ia tidak hanya melihat nama Arsenio sebagai seorang mantan suami, tetapi sebagai seorang penjahat yang telah berani menyerang perusahaannya.
Di sisi lain, Arsenio masih duduk santai di kantornya dengan senyum penuh kemenangan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh jejak digitalnya telah berhasil dilacak. Ia mengira aksinya begitu sempurna hingga tak seorang pun mampu membongkarnya.
Namun, tanpa disadarinya, roda telah berputar. Elvara kini memegang seluruh bukti yang cukup untuk menghancurkan karier, reputasi, bahkan kebebasan Arsenio.
Tinggal menunggu waktu yang tepat, Elvara akan membalas semua pengkhianatan itu dengan cara yang tak pernah dibayangkan oleh Arsenio. Awal dari kejatuhan pria itu akhirnya benar-benar dimulai.