Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Ningsih menatap sang anak dengan kening mengkerut karena tidak mengerti, entah apa yang direncanakan oleh sang anak.
"Ibu harus memastikan kak Ardi meniduri kak Rania saat ditempat itu dan buang kedalam rahim kak Rania agar dia bisa hamil, aku akan pastikan kak Rania akan kesana".
"Kamu serius nak?". Tanyanya tidak percaya.
"Aku yakin Bu, akan kulakukan apapun untuk mengembalikan semua kejayaan kita tetapi jika itu tidak berhasil maka aku akan mencari orang lain untuk dinikahkan sama kak Ardi yang jauh lebih kaya dari kak Rania, bagaimana menurut ibu?".
Kini mata Ningsih melebar sempurna, itu jauh lebih baik daripada harus membujuk si Rania keras kepala dan kurang ajar itu.
"Lebih baik kita Carikan kakak kamu yang baru saja nak, ibu malas berurusan dengan Rania, jika bukan karena hartanya, ibu malas melakukannya". Jawabnya kesal.
Membayangkan wajah Rania yang tengah menghina dan mengusirnya tadi membuatnya langsung emosi dan jengkel setengah mati.
"Ibu yakin?, apa ibu mau melanjutkan rencana kita sebelumnya?". Adel menatap ibunya dengan heran.
Sejak tadi ibunya begitu menggebu-gebu untuk mendapatkan mantan iparnya itu tapi begitu dia memberi saran yang lain malah ibunya lebih setuju lagi.
"Ibu lebih suka saran mu yang baru nak, ibu malas berurusan dengan Rania, apalagi dia menghina kita seperti itu, lebih baik kita cari perempuan yang lebih kaya dan juga lebih cantik darinya, biar dia menyesal karena membuang kakak kamu".
"Itu ide yang bagus Bu, sebaiknya kita lepaskan saja kak Rania, aku juga malas berurusan sama dia, kita kayak pengemis saja saat berhadapan dengannya padahal kita bisa hidup juga kok".
Ningsih mengangguk setuju dengan perkataan sang anak, jika mereka mendapatkan orang yang lebih baik dari Rania maka dia yakin jika perempuan itu akan menyesal melepas anaknya yang baik dan tampan itu.
"Ya sudah nak, kita carikan saja kakak kamu perempuan yang lebih baik dari Rania, ibu yakin banyak yang mau sama kakak kamu secara kan dia ganteng dan punya pekerjaan tetap".
"Iya Bu, aku akan mencarikannya yang jauh lebih baik dari Rania, biar dia menyesal karena memperlakukan kita seperti ini dan juga meninggalkan kak Ardi".
Ardi yang berjalan mendekati mereka pun mendengar semua rencana kedua wanita dihadapannya ini, tangannya mengepal dengan marah karena keduanya seenaknya saja bertingkah, jika bukan ulah mereka dia tidak akan merasakan hal ini karena selama ini Rania begitu mencintainya tapi karena kelakuan keluarganya padanya selama ini membuat Rania membuangnya dan kini dia mendapatkan perlakuan memalukan dari semua lingkungan nya.
"Tidak usah bertingkah dan melakukan hal aneh-aneh Bu". Tegurnya dengan suara rendah dan sarat penuh dengan peringatan.
Kedua perempuan yang sedang asyik mengobrol itu langsung terlonjak kaget karena terkejut akan kehadiran Ardi yang berada dibelakang mereka.
Keduanya langsung berbalik melihat wajah Ardi yang sudah tidak enak dipandang karena marah.
"Kalian berdua penyebab aku dan Rania berpisah, harusnya kalian itu sadari jika semua ini terjadi karena kalian selalu memperlakukan dia tidak baik".
Ardi menatap keduanya dengan tatapan tajam dan penuh dengan kekesalan. Bayangan bagaimana dirinya diperlakukan akhir-akhir ini dengan semua yang menjadi keseharian lingkungan nya membuatnya sulit memejamkan mata, dia khawatir jika Tania benar-benar memecat dirinya .
"Kamu ini apa-apaan sih Ardi, tidak usah banyak protes, jika kamu tidak membohongi keluargamu sendiri, ibu dan Adel tidak mungkin menindas Rania, kami pikir dia hanya orang yang menumpang itu karena kamu".
Ningsih menatap kesal sang anak, dia tidak terima disalahkan karena menurutnya tindakannya itu wajar karena dia tidak tahu jika Rania yang memiliki semuanya sedangkan anaknya yang menumpang.
"Sekalipun ibu tahu dari awal, ibu tidak harus memperlakukan Rania seperti itu, dia sudah banyak membantu keluarga kita, Adel yang bahkan sudah masuk kuliah dan tengah magang itu juga berkat Rania, ibu sudah kelewatan".
Kini Ningsih berdiri kemudian mendekati sang anak dengan nafas memburu karena emosi.
"Diam saja kamu Ardi, ikuti apa perkataan ibu begitu juga dengan rencana itu, ibu tidak mau hidup susah terus menerus, jadi kamu harus turuti apapun itu".
Ardi menatap ibunya dengan tatapan teramat kecewa, dia tidak menyangka ibunya hanya menjadikannya batu loncatan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.
"Ibu tega sekali padaku". Ucapnya dengan lirih.
"Ibu bukan tega padamu, ibu hanya ingin keluarga kita hidup dengan makmur dan dipandang baik oleh orang lain jika kita memiliki segalanya tidak akan ada yang merendahkan kita, sudah cukup selama ini ibu berkorban banyak, kamu pikir menguliahkan kamu hingga sarjana seperti itu tidak menghabiskan uang". Sungutnya jengkel.
Yang dia katakan benar adanya, selama ini dia dan suaminya mati-matian untuk berhemat agar Ardi bisa kuliah ditempat yang bagus agar kelak anak itu bisa merubah nasib mereka tapi ternyata yang memiliki semua itu adalah istrinya sedangkan anaknya hanya staf biasa sungguh membuatnya terpukul.
"Jangan banyak bicara lagi, lakukan apa yang ibu katakan, ibu tidak mau terus hidup susah, ibu akan carikan kamu perempuan yang jauh lebih baik Rania dan pastinya bisa ibu dan Adel manfaatkan, jangan sampai kamu banyak tingkah, ibu tidak akan pernah memaafkan mu ".
Ardi menghela nafas, ibunya benar-benar Tidka memberinya pilihan untuk menolak, ibunya benar keadaan keluarganya memang tidak kaya, dia berkuliah pun membuat orangtuanya betul-betul kalang kabut memenuhi biayanya.
"Terserah ibu sajalah, yang penting jangan sakiti Rania lagi, kalian sudah banyak menyakiti hatinya jadi tidak usah mengganggunya pagi, aku tidak mau kehilangan pekerjaan ku karena bosku adalah suami dari sahabatnya Rania".
Ardi meninggalkan keduanya dengan keadaan begitu kesal tapi tidak mungkin membantah perkataan ibunya, dia menyayangi ibunya walau kelakuannya membuatnya selalu mengelus dada.
"Kamu lihat kan?, kakakmu tidak punya pilihan lain selain menurut apa perkataan ibu, dia akan selalu begitu, jadi sekarang kamu cari orangnya yang bisa kita manfaatkan, tidak usah mengurusi Rania lagi, dia menyebalkan soalnya".
Adel mengangguk kemudian tersenyum lebar, dia sudah memikirkan beberapa target yang akan dia dapatkan setelah ini, dia akan mendapatkan yang betul-betul kaya setelah ini.
"Tenang saja Bu, aku dekat dengan para bos di kantor magang ku, aku yakin aku bisa mendapatkan salah satu dari mereka, aku akan membawa kak Ardi untuk pendekatan dengan mereka".
Ningsih tersenyum lebar karena mendapatkan jalan keluar dari obsesinya menjadi orang kaya.
"Itu bagus sekali nak, kamu harus cari yang banyak uangnya dan jabatan tinggi supaya kamu bisa mulus masuk saat selesai kuliah nanti".
"Tenang Bu, aku sudah punya targetnya".