Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Ardi memukul keras tempat tidurnya, emosinya masih terasa begitu mengingat bagaimana teman sekantornya memandang dan membully nya tadi, dia tidak Terima diperlakukan seperti itu oleh mereka.
"Ini semua karena Tania sialan itu, dia harusnya diam saja dan tidak ikut campur urusanku dengan Rania, dia hanya orang lain yang tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga ku". Sungutnya dengan kesal.
Tania betul-betul mempermalukannya sampai ke dasar, dia bahkan tidak bisa membalas apapun perkataan Tania karena dia istri dari bosnya, dia takut dipecat karena melawan dan kurang ajar pada istri bos.
Dia teringat dengan perkataan Tania tadi, dia tidak mungkin melepaskan Rania tapi jika dia bersikeras untuk mempertahankan nya dia akan kehilangan pekerjaannya.
"Pastikan sidang perceraian mu dengan Rania tidak kamu persulit nanti jika tidak kamu akan tahu akibatnya, akan kubuat kamu kembali ke setelan awalmu sebelum kamu bertemu dengan Rania".
Perkataan itu terus terngiang dikepalanya sejak tadi, dia seperti tercekik diantara dua pilihan, dia tidak ingin kehilangan Rania karena Rania adalah sumber uang selain pekerjaanya tapi jika tidak melepaskannya dia akan kehilangan pekerjaannya terus bagaimana dengan kehidupannya dan juga keluarganya
"Apa yang harus kulakukan sekarang? , aku tidak mungkin kehilangan pekerjaanku, tapi melepas Rania juga tidak baik untuk kehidupanku, aku membutuhkan Rania untuk hidupku terutama membiayai keluargaku".
Dia mengacak rambutnya kasar, dia sungguh sangat kesal karena semua ini kembali menimpanya, andai ibu dan adiknya tidak membuat Rania murka seperti ini, hidupnya tetap akan baik-baik saja.
Dia juga merasa bersalah karena selama ini diam saja saat mereka menindas Rania karena kebohongannya sendiri padahal selama ini Rania begitu baik padanya bahkan sangat menghormatinya, kini dia menyesali segalanya tapi ternyata semuanya sudah terlambat dan Rania sudah tidak mau kembali padanya bahkan menggugat cerai.
Diluar kamarnya, kedua perempuan kesayangannya itu kini sedang berdiskusi untuk melakukan sebuah rencana untuk membuat Rania kembali kepada Ardi, mereka tidak mau kenangan tambang uang mereka apalagi ternyata Rania itu cukup kaya, Ardi saja yang membohongi mereka.
"Bu, aku tidak mau hidup begini terus, aku mau kembali kerumah mewah kak Rania, aku juga ingin punya mobil, tapi bagaimana caranya". Ucapnya dengan lesu.
Keduanya telah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, mereka kini tengah memasak makan malam untuk mereka semua karena keduanya takut jika kedua lelaki itu kembali murka kepada mereka
"Kamu benar nak, andai kakak mu tidak membohongi kita seperti ini, kita pasti akan tetap berada dirumah Rania, kita tidak mungkin kehilangan semuanya, kita masih bisa hidup enak seperti dulu, ibu akan memperlakukan Rania lebih baik supaya dia bisa tetap memberikan kita uang".
Keduanya menghela nafas kasar tapi Adel langsung tersenyum begitu mendapatkan ide yang bagus menurutnya, dia langsung melompat kesenangan kemudian memeluk ibunya seakan dia memenangkan lotre
"Bu gimana kalau kita jebak kak Rania saja, supaya dia bisa tidur kembali dengan kak Ardi dan kalau bisa dia harus hamil, toh dia tidak akan bisa mengugat cerai kalau dia bisa tidur kembali dengan kak Ardi".
Ningsih tersenyum lebar mendengar usul sang anak, jika Rania hamil pasti mereka tidak akan bisa berpisah sekalipun Rania menggugat ke pengadilan.
"Itu ide yang bagus nak, tapi bagaimana caranya? , apalagi hamil begitu, kamu tahu sendiri mereka sudah menikah beberapa tahun tapi Rania belum juga hamil sampai sekarang".
Mata Ningsih yang tadinya cerah langsung redup seketika, dia baru sadar akan hal itu, anak dan menantunya memang sudah menikah beberapa tahun tapi entah mengapa mereka belum dikaruniai seorang anak.
"Kita coba saja buk, jika kita tidak nekat untuk itu kita tidak akan tahu hasilnya". Bujuk Adel.
Dia akan melakukan apapun untuk bisa kembali mendapatkan kehidupan nya yang dulu, yang penting baginya kenyamanan yang dia dapatkan dari rumah Rania dulu harus dia dapatkan lagi.
"Tapi bagaimana caranya nak? , kamu tahu sendiri Rania bahkan tidak mau bertemu dengan kita apalagi kakak kamu itu, dia bahkan tidak sudi kita sentuh, terus bagaimana caranya mereka bisa tidur bersama? ". Kesal sang ibu.
Ide anaknya sangat bagus tapi untuk membuat Rania kembali tidur bersama Ardi apalagi sampai hamil itu terdengar sangat mustahil mengingat berapa bencinya Rania pada mereka semua apalagi tadi mereka membuatnya malu dengan membuat keributan ditempatnya bekerja
"Ibu tenang saja, biar aku yang atur soal itu, aku akan lakukan apapun untuk bisa kembali kerumah kak Rania dan menguasainya, ibu lihat saja, ibu hanya perlu mengendalikan kak Ardi saja".
Ningsih tersenyum kemudian mengangguk setuju, mereka harus bisa kembali menyatukan Rania dan Ardi karena Rania memiliki segalanya yang bisa mereka manfaatkan untuk menunjang hidup mereka
"Ya sudah nak, kamu pikirkan rencananya matang-matang, beritahu ibu jika kamu butuh bantuan, ibu akan bantu semampu ibu".
Adel tersenyum kemudian melanjutkan memasaknya sambil memikirkan rencana yang matang untuk menjebak mantan kakak iparnya itu.
Ardi dsn ayahnya akhirnya kelaur dari kamar untuk mengisi perut mereka karena telah lapar, keduanya hanya duduk kemudian mengedarkan pandangannya kesemua ruangan yang telah rapi dan bersih.
"Besok ayah tidak mau melihat rumah yang berantakan lagi, kalian berdua harus membersihkannya sebelum kami pulang bekerja". Ucapnya membuka percakapan.
"Benar kata ayah, ibu dan juga kamu Adel hanya di rumah setelah pulang kuliah jadi rapikan rumah jangan seperti tadi, aku tidak suka".
Keduanya tidak menjawab, mereka hanya menganggukkan kepalanya dengan malas menyetujui perkataan itu.
Sedangkan Rania yang kini pulang kerumahnya hanya bisa menghela nafas, dia teringat bagaimana perkataan beberapa dokter yang menyaksikan tingkah keluarga mantan suaminya bahkan dia juga dipanggil oleh pimpinan tempatnya bekerja itu untuk mendapatkan teguran
"Kasihan yah masih muda tapi sebentar lagi janda, katanya dia itu cuma dimanfaatkan sama keluarga suaminya".
"Iya aku dengar tadi mereka membuat keributan disini bikn malu dirumah sakit saja apalagi tadi banyak pasien yang melihat itu".
"Saya harap ini tidak terulang kembali dokter Rania, kami sangat terganggu akan hal ini".
Perkataan mereka semua itu terus berputar dikepalanya seperti benang rusak yang begitu mengikatnya.
"Bagaimana caranya aku lepas dari mereka?, sejujurnya aku sudah lelah seperti ini".
Dia menerawang bagaimana dirinya selalu berada dibalik layar untuk membantu suaminya itu, dia begitu mencintainya tapi yang dia balas hanya kesakitan dan begitu diremehkan padahal dia tahu bagaimana dirinya memperjuangkan agar Ardi hidup lebih baik
Dia bahkan menutup mata dari teguran para sahabatnya yang terlalu baik kepada Ardi selama ini dan benar saja hanya kecewa yang dia dapatkan.