"Dulu Ku tulis takdirmu untuk menderita, sekarang malah..aku yang harus bertarung nyawa merubah takdir itu." Ling Xie seorang penulis novel kolosal, tidak sengaja terjebak ke dalam cerita novelnya sendiri. Ia terbangun ke dalam cerita nya sendiri. Ia terkejut mendapati dirinya terbangun dari tidur, dan masuk ke dalam tubuh putri Jin Ling Xie. Seorang protagonis, yang ia ciptakan untuk hidup sengsara, seorang putri yang terbuang, dan di fitnah sebagai wanita murahan, oleh Putri Li Mei Feng seorang putri palsu dari kerajaan Feng Ling. Di dunia yang kejam ini, ia harus bertahan hidup dengan bantuan Sistem. Misinya sungguh berat dan tidak main-main. Ia harus mengembalikan takdir putri yang terbuang itu, untuk merebut posisi putri mahkota Kerajaan Feng Ling yang asli, dari tangan Li Mei Feng si putri palsu itu. Serta merebut kembali jodoh sejatinya yaitu seorang pangeran Zhong Yang. Dan membersihkan nama baik Ibu kandung nya, Selir Agung Ling Mei Rong dari fitnahan Yan Shi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUSTIKA DEWI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Tepi Danau Cermin Biru
Matahari sore mulai merunduk, menyebarkan cahaya keemasan yang membelah permukaan Danau Cermin Biru sejernih kaca. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, mengibarkan helai rambut hitam Ling Xie saat ia berlari kecil menuju tempat pertemuan itu. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa bersalah dan harapan, semoga Pangeran Zhong Yang masih ada di sana, atau setidaknya tidak terlalu kecewa.
Saat ia tiba di tepi danau, sosok jangkung dengan jubah berwarna biru langit bergambar Naga emas sudah berdiri di sana, membelakangi dirinya. Pangeran Zhong Yang sedang menatap pantulan dirinya di dalam air, tangannya memegang sehelai daun teratai yang baru saja ia petik.
"Mohon maafkan hamba, Pangeran!" seru Ling Xie terengah-engah setelah sampai di dekatnya, lalu membungkuk dalam-dalam. "Hamba sangat sibuk di dalam istana hingga hampir melupakan janji kita. Hamba datang secepat mungkin begitu hamba memiliki waktu luang."
Mendengar suara itu, Pangeran Zhong Yang perlahan berbalik. Wajahnya yang tampan tidak menunjukkan kemarahan sedikitpun, sebaliknya ia tersenyum tipis yang meneduhkan hati.
"Aku tahu kau pasti akan datang," ucapnya lembut, suaranya sehalus permukaan danau. "Aku tidak pernah meragukan janjimu, Ling Xie. Aku hanya menunggu sebentar saja, dan itu tidak seberapa dibandingkan dengan kesibukanmu di istana."
Ling Xie mengangkat wajahnya, matanya sedikit terbelalak mendengar kata-kata itu. Rasa bersalah di hatinya perlahan luruh digantikan rasa hangat yang menjalar di dada.
"Tetap saja, hamba yang salah karena hampir melupakannya," ucapnya dengan nada yang masih sedikit menyesal.
Pangeran Zhong Yang tertawa kecil, suara tawa itu terdengar jernih seperti gemericik air. Ia mengulurkan sehelai bunga teratai putih yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Lihatlah, matahari sore ini sangat indah, bukan? Dan sekarang, kau sudah ada di sini. Itu sudah cukup bagiku."
Ling Xie menerima bunga itu dengan senyum malu-malu, aroma harum segar tercium dari kelopaknya. Di bawah langit sore yang berwarna jingga kemerahan, kedua sosok itu berdiri berdampingan di tepi danau, menikmati keindahan pemandangan yang tenang, seolah waktu pun berhenti berputar untuk menyaksikan kedamaian di antara mereka.
"Bunga yang cantik, untuk wanita tercantik yang pernah ku temui." puji Pangeran Zhong Yang pada Ling Xie.
Wajah Ling Xie seketika memerah padam mendengar pujian itu, sehingga warnanya menyerupai warna langit senja yang sedang memancarkan sinar kemerahan. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia menundukkan kepalanya perlahan, tak sanggup menatap mata Pangeran yang menatap matanya dengan tulus.
"Pangeran ini..selalu saja pandai merangkai kata-kata manis," ucapnya dengan suara pelan yang sedikit bergetar, jari-jarinya yang halus meremas lembut kelopak bunga teratai putih itu. "Hamba hanyalah wanita biasa, tidak seindah yang pangeran katakan."
Pangeran Zhong Yang tersenyum makin lebar, lalu perlahan ia merentangkan jari, menyentuh lembut dagu Ling Xie yang terhalang oleh cadar putihnya.
"Bisakah kamu melepaskan cadarmu itu ketika bertemu denganku?" pinta Pangeran Zhong Yang dengan suara lembut yang berhembus di telinganya
"Bisakah kamu melepaskan cadarmu itu, ketika bertemu aku?" pinta Pangeran Zhong Yang dengan suara lembut yang berhembus di telinganya.
Sentuhan jari Pangeran dibatas cadar putih itu terasa begitu hangat, hingga membuat sekujur tubuh Ling Xie sedikit bergetar halus. Suaranya lembut seolah menyusup perlahan ke dalam hatinya, membuat napasnya tertahan sejenak.
Wajah Ling Xie yang tersembunyi dari balik cadar putihnya, terasa makin memerah panas. Ia menatap Manik mata Pangeran, yang menatapnya penuh harap, tanpa ada niat jahat sedikitpun, hanya ketulusan hati yang mendalam.
Dengan perlahan dan hati-hati, jari-jarinya yang halus terangkat, menyentuh ujung cadar itu. Ia menuruti permintaan itu, menurunkan nya perlahan hingga wajah cantiknya yang bersinar terang terekspos sepenuhnya di bawah cahaya senja. Kulitnya seputar pualam, matanya berbinar jernih seperti air danau, dan pipinya masih menyisakan rona merah malu yang cantik.
"Jika itu keinginan Pangeran.." ucap Ling Xie pelan, suaranya terdengar manis dan lembut, "Maka hamba akan melakukan nya. Hamba tidak ingin menyembunyikan wajah ini, dari lelaki yang paling hamba percaya."
Pangeran Zhong Yang terpaku sejenak, menatap seolah sedang melihat permata terindah yang baru saja di temukan. Ling Xie tampak cantik sekali bagaikan bidadari dari khayangan. Wajah cantik itu, serasi berpadu dengan baju hanfu putih hijau selaras dengan tusuk konde hijau muda berbentuk daun. Senyuman Pangeran Zhong Yang melebar, penuh kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Cantik dan sangat menawan." bisiknya pelan, seolah takut suaranya akan memecah keindahan momen itu. "Sungguh, kau jauh lebih cantik dari yang ku bayangkan.
"Kamu tidak perlu terlalu formal seperti itu. Waktu lalu kan aku sudah menyuruhmu untuk memanggilku dengan sapaan 'Kakak' saja. Lagian itu akan terasa lebih akrab dan santai," tegur Pangeran Zhong Yang kepada Ling Xie.
"Maaf, Kakak Zhong. Saya lupa dengan itu," ucap Ling Xie dengan suara yang lembut namun terlihat manja.
"Nah, begitu dong. Mulai hari ini, kau harus menyapaku dengan sebutan Kakak!" ujar Pangeran Zhong Yang.
Tiba-tiba mata Ling Xie melirik ke arah tangan kanan Pangeran Zhong Yang, yang terlihat terluka. Ia tampak panik, dan mulai inisiatif untuk mengobatinya.
"Astaga, kau terluka, Kakak Zhong!" ucap Ling Xie dengan panik sambil meraih tangan Pangeran yang sedang terluka itu.
Ling Xie mulai mencari dedaunan yang biasa dipakai untuk pertolongan pertama pada luka, lalu membalurkan nya ke sekitar luka itu setelah ditumbuk halus menggunakan batu di tepi danau. Ia mengambil pita panjang berwarna putih yang terikat di rambutnya untuk membalut luka di tangan Pangeran Zhong Yang.
Saat Ling Xie membalut luka di tangan Pangeran Zhong Yang, mata pangeran itu tak berhenti menatap wajah cantiknya. Tatapan itu perlahan berubah menjadi rasa tertarik, bahkan ia merasakan kenyamanan saat berada di dekat Ling Xie. Ternyata Ling Xie tidak hanya cantik, tetapi juga perhatian dan penyayang.
"Wahai Ling Xie, ternyata kamu begitu lembut hati. Aku baru menyadari, kecantikanmu bukan hanya pada rupa, tetapi juga pada kebaikan hatimu yang tulus. Rasanya ada kedamaian saat berada di dekatmu. Ingin rasanya menjadi kekasih hatimu," gumam Pangeran Zhong Yang dalam hati saat melihat Ling Xie.
"Sudah selesai, Kakak Zhong. Lukamu sudah saya obati," ucap Ling Xie dengan suara manja yang begitu menggemaskan.
Pangeran Zhong Yang menatapnya lekat, matanya menyiratkan kelembutan yang tak terlukiskan. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, hingga napas hangatnya menyentuh pelan dahi Ling Xie. Gadis itu terdiam, matanya perlahan terpejam seolah mengerti apa yang akan terjadi.
Sebuah sentuhan lembut, ringan seperti jatuhnya kelopak bunga, mendarat sejenak di bibirnya. Hanya sekejap, namun terasa begitu hangat dan menenangkan. Saat sentuhan itu terlepas, wajah keduanya telah memerah padam, sementara jantung berdegup kencang seirama di dada masing-masing.
Sentuhan itu begitu lembut dan menenangkan, seolah meluruhkan kesadaran Ling Xie. Tanpa sadar, ia tak lagi menahan diri. Perlahan, seolah mengikuti alunan perasaan yang mekar di dadanya. Ia sedikit menyahut kelembutan itu dengan gerakan yang sangat malu-malu dan polos.
Hanya sekejap, namun hal itu seolah menjadi jawaban tulus dari hatinya yang selama ini tersembunyi. Kedua dunia mereka seakan berhenti berputar, tersesat dalam kehangatan asmara yang tak terucapkan itu.
Ling Xie tersadar, perlahan melepaskan tautan itu, lalu menengok ke sekelilingnya. Senja mulai merunduk, langit pun tampak perlahan menggelap.
"Bisakah Kakak Zhong mengantarkan ku pulang ke Istana Kerajaan Feng Ling? Hari sudah hampir malam," pinta Ling Xie.
"Baiklah, naiklah ke atas kuda ini. Biar ku antar kau pulang," ujar Pangeran Zhong Yang.
Ling Xie mengangguk pelan. Tidak lupa ia memasang kembali cadar putih penutup wajahnya. Ling Xie menaiki kuda itu dibantu oleh Pangeran Zhong Yang, lalu pangeran pun ikut menaikinya. Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu, berjalan menuju Istana Kerajaan Feng Ling.