Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Di lantai paling atas sebuah gedung perkantoran di pusat kota, suasana ruang rapat terasa sunyi.
Seorang pria duduk di kursi paling ujung meja panjang.
Andika Prayoga.
Pria yang kini mengendalikan organisasi Black Viper itu membaca beberapa berkas tanpa mengangkat kepala.
Di hadapannya, seorang pria paruh baya menunggu dengan tenang. "Tuan Sanjaya mengirim laporan terbaru," ujar anak buah Andika sambil menyerahkan sebuah map.
Andika membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat peta sebuah desa dengan beberapa bidang tanah yang diberi tanda merah. "Berapa yang sudah dikuasai?"
"Dua belas bidang. Masih ada beberapa pemilik yang menolak menjual."
Andika menutup map itu. "Penolakan selalu membuat pekerjaan menjadi lambat."
Pria paruh baya itu akhirnya angkat bicara. "Tuan Sanjaya meminta izin menggunakan cara yang lebih tegas."
Andika tersenyum tipis. "Asal tidak mengganggu nama Black Viper."
"Beliau paham."
"Bagus."
Andika berdiri lalu berjalan ke jendela. "Proyek itu terlalu penting untuk gagal."
"Jika seluruh lahan berhasil dikuasai, nilainya akan berlipat ganda, Tuan."
Andika mengangguk pelan. "Kalau begitu... singkirkan siapa pun yang menghalangi."
Ruangan kembali sunyi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bu Ratih pun segera berpamitan. Setelah mengantarnya sampai ke depan pagar, Kinan dan Darwin kembali masuk ke dalam rumah.
Kinan membuka rantang pemberian Bu Ratih. Aroma manis kolak pisang langsung memenuhi ruangan. Ia mengambil dua mangkuk kecil, lalu menuangkan kolak ke dalamnya. "Ini," ucapnya sambil menyerahkan satu mangkuk kepada Darwin.
Darwin menerimanya dengan senyum tipis. "Bu Ratih baik sekali."
Kinan ikut tersenyum. "Katanya tadi pagi beliau sengaja memasak banyak."
Mereka menikmati kolak dalam suasana tenang. Sesekali terdengar suara sepeda motor melintas di jalan depan rumah, memecah keheningan sore itu.
Beberapa saat kemudian, Darwin meletakkan sendoknya. "Ada yang aneh di puskesmas."
Kinan menoleh. "Apa?"
"Siang tadi aku sedang menyapu halaman. Kebetulan Kepala Desa datang menemui Kepala Puskesmas."
"Lalu?"
"Mereka membahas soal lahan."
Kening Kinan langsung berkerut. "Lahan?"
Darwin mengangguk. "Aku juga heran. Bukankah urusan lahan biasanya ditangani kantor desa atau pertanahan? Kenapa malah dibicarakan di puskesmas?"
Ia berhenti sejenak, mengingat kembali percakapan yang didengarnya. "Yang membuatku semakin curiga, begitu ada orang lewat, mereka langsung menghentikan pembicaraan."
Kinan terdiam beberapa saat. "Mungkin hanya kebetulan."
"Bisa saja," sahut Darwin. "Tapi rasanya tetap janggal."
Kini giliran Kinan bercerita. "Kalau di TK juga ada kejadian yang membuatku berpikir."
Darwin mengangkat pandangan.
"Salah satu wali murid, Bu Linda, meminta bantuanku. Katanya anaknya diculik oleh suaminya sendiri."
Darwin tampak terkejut. "Serius?"
Kinan mengangguk. "Aku dan kepala sekolah langsung menghubungi polisi. Syukurlah, beberapa jam kemudian anak itu berhasil ditemukan dalam keadaan selamat." sengaja Kinan tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Lalu suaminya?"
"Melarikan diri. Polisi masih mencarinya."
Darwin menghela napas pelan. "Kenapa sampai nekat menculik anaknya sendiri?"
"Karena Bu Linda menolak menandatangani surat penjualan tanah."
Darwin terdiam. Kinan melanjutkan, "Roni memaksa istrinya menjual tanah warisan keluarga. Saat ditolak, dia malah membawa kabur anak mereka."
Ruangan kembali sunyi. Darwin menundukkan pandangan ke mangkuk kolaknya yang hampir kosong.
"Baru beberapa hari tinggal di desa ini...ternyata sudah banyak masalah yang kita temui," sambung Kinan pelan. Ia mengaduk perlahan sisa kuah kolak. "Entah kenapa, aku merasa desa ini tidak setenang yang terlihat."
Darwin mengangguk. "Aku juga mulai merasakan hal yang sama."
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara ribut-ribut terdengar dari luar.
"Tolong...! Jangan...!" Tangisan seorang anak kecil menyusul beberapa detik kemudian.
Kinan dan Darwin saling berpandangan. Mereka segera keluar menuju teras.
Di ujung gang, beberapa warga tampak berdiri memandangi sebuah rumah.
Rumah itu...
Kinan langsung mengenalinya. "Itu rumah yang waktu itu..."
Darwin mengangguk pelan. "Iya." Rumah yang beberapa hari lalu mereka lihat didatangi mobil bak terbuka.
Tak lama kemudian, sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depan rumah tersebut. Pintu belakang terbuka. Seorang pria paruh baya turun dengan setelan jas abu-abu yang rapi. Langkahnya tenang, tetapi kehadirannya membuat suasana berubah mencekam.
Empat pria berbadan tegap mengikuti dari belakang. Tak seorang pun warga berani mendekat.
Pria itu berhenti tepat di depan halaman rumah.
"Mana suamimu?" tanyanya datar.
Seorang perempuan menggendong anak kecil.
Wajahnya pucat. Matanya sembab menjawab, "Suami saya belum pulang, Tuan."
Pria itu menatapnya tanpa ekspresi. "Belum pulang... atau sengaja menghindar?"
Perempuan itu menggeleng cepat. "Saya benar-benar tidak tahu."
"Tapi aku tahu." Suara pria itu tetap tenang. "Dia sedang menghindari kenyataan."
Air mata perempuan itu kembali mengalir. "Tuan... sejak suami saya menolak menjual tanah ini, dia menghilang. Sampai sekarang saya tidak tahu dia di mana." Anak kecil di pelukannya mulai menangis.
Perempuan itu memeluk anaknya semakin erat.
"Kami tidak pernah berniat menjual rumah ini. Tanah ini peninggalan orang tua kami."
Pria itu melangkah satu langkah mendekat. "Tidak ada tanah yang tidak bisa dibeli."
Perempuan itu menggeleng sambil menangis. "Ini satu-satunya tempat kami tinggal."
"Kalau begitu..." Pria itu menatap lurus ke arahnya. "...temukan suamimu." Ia berhenti sejenak. "Beri tahu dia. Dalam tiga hari, dia harus datang menemuiku. Kalau tidak..." Tatapannya beralih ke rumah sederhana itu. "...rumah ini tidak akan menjadi milik kalian lagi."
Perempuan itu langsung berlutut. "Tuan... saya mohon..."
Namun pria itu sudah berbalik. Keempat pria berbadan tegap mengikuti langkahnya menuju mobil.
Saat itulah terdengar ucapan dari salah seorang warga. "Itu... Tuan Sanjaya."
Nama itu membuat Darwin terdiam. Ia langsung teringat percakapan yang didengarnya siang tadi di puskesmas.
"Kalau lahan itu belum juga beres bulan ini, beliau sendiri yang akan turun tangan."
Berarti... Orang inilah Tuan Sanjaya.
Darwin tetap memandangi mobil itu hingga menghilang di ujung jalan. Ucapan perempuan tadi terus terngiang di benaknya.
Menolak menjual tanah... lalu suaminya menghilang.
Instingnya mengatakan, semua ini bukan sekadar sengketa tanah biasa. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di desa itu.
Namun Darwin memilih menyimpan semua pikirannya. Ia belum ingin Kinan mengetahui terlalu banyak tentang cara berpikirnya. "Masuk, yuk," ucapnya pelan.
Kinan mengangguk. Mereka kembali ke dalam rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil hitam yang ditumpangi Tuan Sanjaya melaju meninggalkan desa.
Tak lama kemudIan, kendaraan itu memasuki sebuah kawasan yang dipagari tembok beton setinggi hampir tiga meter. Gerbang besi terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah rumah besar bergaya modern yang berdiri di tengah halaman luas.
Mobil berhenti tepat di depan teras. Seorang pria segera membukakan pintu. "Tuan."
Tuan Sanjaya turun tanpa menanggapi. Langkahnya tenang memasuki rumah, diikuti beberapa pengawal.
Baru saja ia hendak menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya, seorang pria bergegas datang menghampiri.
Roni.
Pria itu membungkukkan badan. "Tuan, saya sudah mendapatkan informasi tentang perempuan yang ikut campur dalam urusan Linda."
Langkah Tuan Sanjaya terhenti. "Perempuan yang mengalahkan mu itu?"
"Iya, Tuan."
"Hasilnya?"
Roni mengeluarkan sebuah map tipis dari balik jaketnya. "Namanya Kinan."
Tuan Sanjaya menerima map itu, lalu membukanya sekilas. "Hanya ini?"
Roni mengangguk pelan. "Itu yang membuat saya heran."
Tuan Sanjaya mengangkat pandangan. "Jelaskan."
"Menurut warga, Kinan baru sekitar seminggu tinggal di desa bersama suaminya."
"Lalu?"
"Dia mengajar di TK, sedangkan suaminya bekerja sebagai petugas kebersihan di puskesmas."
"Itu saja?"
"Iya, Tuan."
Beberapa detik berlalu. Tuan Sanjaya kembali membuka map itu. Tatapannya berhenti pada foto Kinan. Foto sederhana yang diambil dari kejauhan ketika Kinan sedang berjalan keluar dari TK. "Menarik..." gumamnya pelan.
Roni menunggu perintah berikutnya.
"Menurutmu?"
Roni berpikir sejenak. "Insting saya mengatakan perempuan itu bukan orang biasa."
Tuan Sanjaya menutup map tersebut. "Insting saja tidak cukup."
Ia menyerahkan kembali map itu kepada Roni.
"Awasi setiap gerak-geriknya. Jangan bertindak gegabah. Kalau dia memang hanya guru TK biasa, kita tidak perlu membuang waktu. Namun kalau ternyata bukan..." Tuan Sanjaya menghentikan ucapannya. Sorot matanya berubah tajam. "...aku ingin menjadi orang pertama yang mengetahuinya."
"Baik, Tuan." Roni membungkukkan badan. Tuan Sanjaya kemudian melangkah menuju ruang kerjanya. Sementara Roni menggenggam map itu lebih erat.
Entah mengapa... Perempuan bernama Kinan itu membuat firasatnya terasa tidak nyaman.