Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Motor GL Herk Berwarna Pink dan Rezeki Tak Terduga
Seminggu berlalu dengan rasa cemas yang tak kunjung hilang. Surat peringatan penutupan bengkel itu masih tergeletak di meja kerja, menjadi pengingat terus-menerus akan ancaman Bima. Faris tak pernah tidur nyenyak, malam-malam ia habiskan mencari cara mengurus izin dan dokumen tanah, tapi biaya yang dibutuhkan sangat besar, jauh di luar kemampuan mereka saat ini. Uang hasil kerja sama pengusaha kemarin sudah habis terpakai beli suku cadang dan keperluan sehari-hari.
Pagi itu, Faris duduk diam di pojokan, matanya menatap layar ponselnya lekat-lekat. Di layar itu terlihat grafik naik turun aplikasi investasi saham yang ia pelajari diam-diam. Selama ini ia menyisihkan uang receh, hasil sisa belanja atau ongkos servis, dimasukkan sedikit demi sedikit ke aplikasi itu. Bukan ia tidak percaya kerja keras tangan, tapi Faris sadar, zaman berubah, pintu rezeki bisa datang dari mana saja, asal ditekuni dengan teliti dan jujur.
Tangan Faris bergetar sedikit saat melihat angka di layar berubah jadi hijau terang. Angka keuntungan yang terkumpul selama berbulan-bulan itu... jumlahnya lumayan besar! Jauh melebihi dugaan. Semuanya naik drastis berkat keputusan berani yang ia ambil beberapa waktu lalu, saat ia membaca pergerakan pasar sambil merakit mesin.
"Gun! Li nih, kemari cepat!" panggil Faris bergetar.
Guntur dan Ali langsung mendekat. "Ada apa Bang? Ada kabar buruk lagi?" tanya Ali khawatir.
"Lihat ini..." Faris menunjuk layar ponsel. "Uang yang saya tabung dan mainkan di aplikasi saham ini... untungnya lumayan besar. Cukup banyak, bahkan lebih dari cukup buat kebutuhan mendesak kita sekarang."
Guntur melotot tak percaya. "Serius Bang? Berarti... berarti kita ada uang tunai yang lumayan banyak sekarang?"
"Iya. Ini rezeki tak disangka. Saya ingat Bapak dulu pernah bilang, rezeki itu berputar, bisa datang dari arah mana saja. Ternyata benar, lewat jalan yang sama sekali tidak saya sangka-sangka," jawab Faris sambil tersenyum haru.
Pagi itu juga, Faris langsung mencairkan seluruh dana hasil investasi itu. Uang tunai tebal kini ada di tangannya. Ada dua hal yang langsung ia lakukan. Pertama, ia suruh Guntur dan Ali bergegas ke pasar.
"Gun, kamu sama Ali ke pasar besar. Beli beras sekarung penuh, beli bahan dapur lengkap: minyak, gula, tepung, bumbu-bumbu, daging, ikan, semuanya beli cukup banyak. Bawakan pulang ke rumah. Ibu sama Bapak pasti senang sekali melihat dapur kita penuh lagi. Sudah lama rasanya dapur kita sepi, masak apa adanya saja," perintah Faris lembut.
"Siap Bang!" jawab Guntur dan Ali berbarengan, berlari keluar penuh semangat.
Kedua, Faris bergegas ke bengkel motor bekas di pinggiran kota. Di sana ada sebuah motor legendaris yang sudah lama ia incar: Honda GL Herk, motor yang dulu sangat terkenal tangguh, kencang, dan sering dipakai buat balap liar zaman dulu. Kondisinya masih utuh, mesin sehat, cuma bodi agak kusam dan ada sedikit penyok. Harganya pas banget dengan sisa uang yang ada.
Tapi ada satu hal unik yang terlintas di pikiran Faris. Ia ingat betul sifat Bima yang sombong dan suka meremehkan. Kalau ia bawa motor biasa, Bima bakal makin meremehkan. Tapi kalau ia bawa motor yang sama sekali tak terduga, yang warnanya mencolok banget, itu bakal jadi pukulan telak buat harga diri Bima.
"Mas, saya ambil motor ini. Tapi satu syarat... tolong cat ulang bodinya pakai warna pink terang, yang nyolok mata, yang kalau lewat jalanan semua orang nengok. Biar beda dari yang lain," kata Faris tegas ke pemilik bengkel.
Pemilik bengkel sampai garuk-garuk kepala bingung. "Pink, Mas? Buat GL Herk yang biasa dipakai balap? Nanti diketawain orang lho!"
Faris cuma tersenyum misterius. "Biarin diketawain, yang penting kencang dan punya arti. Kerjakan ya, saya mau ambil hari ini juga."
Siang itu, Guntur dan Ali pulang ke rumah membawa beban berat. Karung beras, kantong-kantong besar berisi bahan makanan lengkap, semuanya mereka susun rapi di dapur. Ibu Arum Sari keluar dari kamar tidur, kaget bukan kepalang melihat dapur yang tadi kosong melompong, kini penuh sesak seolah ada pesta.
"Anak-anak... ini... ini dapat dari mana semua ini? Kalian dapat uang dari mana?" tanya Ibu Arum Sari suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca menatap tumpukan beras dan bahan makanan itu.
Bapak Wijaya Hidayat yang berjalan tertatih-tatih menopang badannya ke kursi kayu di ruang tengah, ikut terbelalak kaget. Penyakitnya belum sembuh total, tubuhnya masih lemah, tapi hatinya langsung berdebar haru melihat apa yang dibawa anak-anaknya.
Ali maju mendekat, memegang tangan ibunya. "Ibu... tenang aja. Ini uang halal kok. Abang Faris dapat untung lumayan banyak dari aplikasi investasi saham yang beliau pelajari diam-diam selama ini. Beliau bilang, rezeki ini buat Ibu sama Bapak, biar dapur kita nggak sepi lagi, biar Ibu nggak pusing mikirin apa mau dimasak besok."
Mata Ibu Arum Sari langsung banjir air mata. Ia memegang pipi Ali dan Guntur bergantian, lalu menatap ke arah pintu di mana Faris baru saja masuk, masih pakai baju kerja penuh oli. Air mata itu jatuh membasahi pipi keriputnya, campuran rasa haru, bangga, dan sedih karena anak-anaknya harus berjuang sekeras ini demi keluarga.
"Ya Allah... anak-anakku... anak-anakku hebat sekali..." isak Ibu Arum Sari, suaranya tersendat. "Maafkan Ibu ya, Nak... maafkan Ibu sama Bapak yang cuma bisa kasih nasib susah ke kalian. Harusnya kalian sekolah tinggi, harusnya kalian enak-enak, malah harus banting tulang begini..."
Bapak Wijaya menunduk dalam, air mata pun menetes di pipi tuanya yang keriput. Ia menangis bukan karena sedih, tapi karena terharu luar biasa. Ia ingat dulu ia sering mengajari mereka, kalau mau maju harus berani, harus pandai mencari peluang, jangan cuma diam menunggu nasib. Dan sekarang, anak-anaknya membuktikan semuanya.
"Bapak bangga..." suara Bapak Wijaya parau dan gemetar. Ia menatap Faris yang berdiri tegap di sana. "Bapak nggak nyesal dikurangi harta atau apa. Punya anak-anak kayak kalian, ini harta paling besar yang Bapak punya. Kalian buktiin, walaupun putus sekolah, walaupun susah, kalian punya otak dan hati yang jauh lebih berharga dari apa pun."
Faris mendekat, berlutut di depan kedua orang tuanya, mencium tangan mereka dengan hormat dan mata berkaca-kaca juga.
"Jangan bilang begitu lagi ya, Ibu, Bapak. Justru kami yang berterima kasih. Kalian yang ajarin kami arti hidup, arti berjuang, arti jujur. Kami nggak malu putus sekolah, kami malu kalau nggak mau berusaha. Uang ini rezeki tak disangka, tapi kami nggak bakal berpuas diri. Ini baru langkah kecil."
Sore itu, suasana rumah Hidayat penuh haru dan doa. Dapur mulai mengepulkan asap masakan lagi, aroma sedap menyebar ke seluruh penjuru rumah.
Menjelang sore, Faris pamit sebentar. Ia kembali ke bengkel motor bekas. Dan saat itu juga, keluar lah motor GL Herk yang sudah berubah total. Cat pink cerah mengkilap menyala di bawah sinar matahari, kontras banget sama rangka dan mesin hitam legam. Suaranya menderu gahar, bertenaga, siap melesat kencang.
"Guntur! Ali! Ayo keluar lihat ini!" seru Faris bangga.
Guntur dan Ali berlari keluar, mulut mereka terbuka lebar tak percaya.
"Wih... Pink?! Bang Faris... ini GL Herk legendaris kok warnanya Pink?! Nanti ditertawakan orang lho!" seru Guntur sambil menahan tawa, tapi matanya bersinar melihat motor gagah itu.
"Biarlah ditertawakan! Justru itu tujuannya," jawab Faris sambil mengelap tangki bensin pink itu bangga. "Ingat Bima? Dia suka pamer motor mahal, warna hitam, perak, kelihatan mewah. Dia pikir keren itu mahal. Tapi kita tunjukin, keren itu unik, keren itu punya karakter, keren itu nggak takut beda. Nanti kalau kita bawa ini ke arena balap liar tempat Bima biasa main, atau kalau kita lewat depan dia... dia bakal kaget setengah mati. Dia bakal bingung, kok anak putus sekolah punya motor kencang, kok warnanya pink, kok berani banget. Itu bakal ganggu pikiran dia, itu bakal bikin dia nggak tenang. Dan ingat... motor ini bukan cuma buat gaya. Mesinnya udah aku cek, siap diajak lari kencang, siap kalahin motor-motor modifikasi mahal dia."
Ali mengangguk antusias. "Bener juga kata Abang. Ini motor keren banget, beda dari yang lain. Kalau lewat jalanan, semua orang pasti ingat 'itu motornya Hidayat Bersaudara'."
Malam itu, saat lampu-lampu jalan mulai menyala, Faris, Guntur, dan Ali naik berboncengan tiga di atas motor GL Herk warna pink itu. Suara mesinnya menderu kencang membelah jalanan sepi malam itu, menuju kawasan pinggir kota tempat biasanya anak-anak kaya seperti Bima berkumpul dan mengadu kecepatan.
Di balik warna mencolok itu, ada pesan tegas yang tersirat: Hidayat Bersaudara tidak hanya bangkit dari keterpurukan, tapi mereka bangkit dengan cara yang tak terduga, berani, dan tak terkalahkan. Dan Bima, si anak konglomerat yang suka meremehkan, sebentar lagi bakal dikejutkan oleh kehadiran motor pink yang membawa petaka buat harga dirinya itu.
Di rumah, Ibu Arum Sari dan Bapak Wijaya masih duduk di teras, menatap kepergian anak-anak mereka dengan doa di bibir dan air mata bahagia di mata. Mereka tahu, perjuangan masih panjang, rintangan masih banyak, tapi mereka juga yakin: anak-anak mereka sudah punya bekal yang cukup untuk menaklukkan dunia.