Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis yang Tidak Bisa Disilang
Arka duduk di teras rumah sendirian, malam sudah larut.
Nadia sudah tidur sejak jam sepuluh—kelelahan setelah menemani cucu-cucu yang berlarian sepanjang hari. Damar kecil, yang tadi sore duduk di pangkuan Arka mendengarkan cerita, sekarang pasti sudah bermimpi tentang hal-hal yang hanya diketahui anak-anak.
Di tangannya, Arka memegang kotak kayu kecil itu lagi.
Dia tidak tahu kenapa dia mengambilnya malam ini. Mungkin karena percakapannya dengan Damar kecil tadi sore—pertanyaan sederhana dari mulut anak tujuh tahun yang ternyata membuka kembali sesuatu yang dia kira sudah lama dia tutup.
"Menurut Kakek, kenapa hal-hal sedih bisa terjadi?"
Arka membuka kotak itu, mengeluarkan surat-surat satu per satu—surat dari ibunya, catatannya sendiri, beberapa foto yang dia tambahkan selama bertahun-tahun. Di bagian paling bawah kotak, ada sesuatu yang dia tidak ingat menaruhnya di sana.
Sebuah foto kecil, warnanya sudah sangat pudar—hampir seperti bayangan daripada gambar.
Foto itu menunjukkan seorang anak laki-laki kecil, berdiri sendirian di depan sebuah pohon mangga. Usia mungkin delapan tahun. Wajahnya tidak terlihat jelas karena kualitas foto yang sudah sangat buruk dimakan waktu.
Tapi Arka mengenali pohon itu. Pohon mangga yang sama di halaman rumah ini—hanya jauh lebih kecil, masih muda, belum setinggi dan serindang sekarang.
Dan di balik foto itu, dengan tulisan tangan yang Arka tidak kenali—bukan tulisan ibunya, bukan tulisannya sendiri—tertulis empat kata:
"Jangan berhenti di sini."
Arka menatap tulisan itu lama. Sangat lama.
Tangannya mulai gemetar—bukan karena usia, tapi karena sesuatu yang berbeda, sesuatu yang dia pikir sudah tidak akan pernah dia rasakan lagi: getaran yang familiar, seperti sebuah frekuensi yang hanya tubuhnya bisa kenali.
Jangan berhenti di sini.
Siapa yang menulis ini? Kapan? Dan bagaimana bisa sampai di dalam kotak yang selalu dia jaga sendiri, yang tidak pernah dia biarkan orang lain membukanya?
Pikirannya berlari ke kemungkinan-kemungkinan. Bisa jadi foto ini sudah ada sejak lama, tersembunyi di antara surat-surat, dan dia baru menemukannya sekarang karena baru sekarang dia melihat sampai ke bagian paling bawah.
Atau—dan ini yang membuat dadanya berdenyut dengan cara yang aneh—bisa jadi foto ini baru "muncul." Seperti album foto Damar yang ditemukan Nadia bertahun-tahun lalu, seperti catatan ibunya yang tersimpan di antara surat-surat cinta lama. Sisa-sisa dari dunia lain, yang entah bagaimana menembus ke dunia ini, meninggalkan dirinya dalam bentuk-bentuk fisik yang tidak seharusnya bisa ada.
Jangan berhenti di sini.
Pesan dari siapa? Dari versi dirinya yang lain—versi yang sudah lebih jauh dalam perjalanan ini, yang sudah melihat lebih banyak, yang tahu sesuatu yang Arka di sini belum tahu?
Atau dari sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang tidak punya nama, tapi yang selalu ada di balik setiap perjalanan, setiap perubahan, seperti tangan tak terlihat yang mengarahkan tanpa pernah menampakkan diri?
Arka bangkit, berjalan ke halaman, berdiri di bawah pohon mangga yang sudah tua itu. Udara malam dingin menyentuh kulitnya—kulit yang sudah keriput, tangan yang sudah mulai kehilangan kekuatannya.
Dia menatap langit—langit yang sama, bintang-bintang yang sama.
Dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, dia merasakan sesuatu yang dia pikir sudah lama pergi: dorongan. Bukan kesedihan yang memicunya, bukan tangisan yang membawanya. Hanya dorongan—perasaan bahwa ada sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang masih menunggunya di suatu tempat di sepanjang garis waktu yang sudah dia tapaki selama ini.
Tapi apa? pikirnya. Aku sudah menyelamatkan Mama. Aku sudah menemukan Nadia. Aku sudah membiarkan Damar pergi dengan damai. Aku sudah menulis surat untuk masa depan. Aku sudah—
Dia berhenti.
Satu nama muncul di pikirannya—nama yang sudah lama tidak dia pikirkan secara serius. Nama yang selalu ada di pinggiran, tidak pernah benar-benar pergi.
Sera.
Sera yang, di dunia ini, hidup normal. Sera yang tidak tahu tentang kekuatannya. Sera yang tidak pernah mengalami tujuh belas kali kehilangan. Sera yang bahagia, punya keluarga, punya Dito yang masih ada di sisinya.
Tapi Arka, tiba-tiba, tidak bisa berhenti memikirkan satu pertanyaan: apakah itu cukup bagi Sera?
Maksudnya—bukan Sera yang ada di dunia ini. Tapi Sera yang asli. Sera yang pernah ada di dunia yang sudah tidak ada—dunia di mana dia mengalami semuanya, kehilangan semuanya, dan masih memilih untuk memperingatkan Arka, bahkan ketika dia sendiri tidak punya apa-apa lagi.
Apakah Sera itu—Sera yang asli—mendapatkan kedamaiannya sendiri? Atau apakah dia masih ada di suatu tempat, di antara garis-garis waktu yang patah, sendirian, tanpa ada yang mengingat?
Arka mengerutkan kening, mencoba memahami ke mana pikirannya mengarah.
Selama ini, dia berpikir bahwa setiap kali dia mengubah sesuatu, "dunia lama" hilang—tergantikan sepenuhnya oleh dunia yang baru. Bahwa Sera, Damar, semua orang yang ada di "dunia lama" itu, tidak lagi "ada" dalam arti apa pun.
Tapi foto ini—foto yang tidak seharusnya ada, dengan tulisan tangan yang bukan milik siapa pun yang dia kenal—menunjukkan bahwa mungkin dia salah. Mungkin "dunia lama" tidak benar-benar hilang. Mungkin semua dunia itu masih ada, berdampingan, dalam dimensi-dimensi yang tidak bisa dia sentuh dengan tangannya, tapi yang sesekali—dalam foto-foto yang memudar, dalam mimpi-mimpi yang terlalu nyata, dalam kata-kata yang muncul di tempat yang tidak seharusnya—masih bisa menyentuhnya.
Dan jika itu benar—jika semua dunia itu masih ada—maka Sera yang asli, Sera yang tua, Sera yang pernah kehilangan segalanya demi menyelamatkan orang-orang yang tidak pernah mengingatnya—
—mungkin masih ada di sana. Sendirian. Di dunia yang sudah hancur, yang tidak punya siapa pun lagi.
Arka merasa sesuatu yang dia tidak kira masih bisa dia rasakan di usia ini: rasa bersalah. Bukan rasa bersalah yang menghancurkan, tapi rasa bersalah yang lembut—rasa bersalah seorang teman yang menyadari bahwa ketika dia menemukan kebahagiaannya sendiri, ada seseorang yang mungkin tertinggal.
Jangan berhenti di sini.
Empat kata itu tiba-tiba terasa seperti sesuatu yang bukan hanya pesan—tapi undangan. Undangan untuk melakukan satu perjalanan lagi. Bukan untuk mengubah sesuatu. Bukan untuk "memperbaiki" apa pun. Tapi untuk... menemukan seseorang. Untuk memastikan seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya tidak dibiarkan sendirian di antara garis-garis waktu yang patah.
Arka berdiri di bawah pohon mangga itu, angin malam menyentuh rambutnya yang putih, dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, air matanya mengalir—bukan karena kesedihan, bukan karena penyesalan.
Tapi karena dia tahu, dengan kepastian yang tidak bisa dia jelaskan, bahwa perjalanannya belum selesai.
Dan mungkin—hanya mungkin—tidak akan pernah selesai, selama masih ada seseorang yang membutuhkan untuk diingat.