Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlindungan Rahasia Sang CEO
Malam itu, paviliun belakang diselimuti keheningan yang mencekam bagi Aisha. Ia duduk bersimpuh di samping boks bayi Kael, menyandarkan keningnya pada pembatas kayu sembari menggenggam jemari mungil sang bayi. Air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak perih di pipinya yang pucat.
Aisha didera ketakutan luar biasa. Pikiran bahwa mantan mertua dan suaminya akan datang membuat keributan di kediaman Arkan membuatnya merasa seperti bom waktu. Jika Tuan Adrian tahu masa lalunya yang rumit, ia pasti akan diusir malam ini juga.
*Tok, tok, tok.*
Ketukan pintu yang tegas namun tidak terlalu keras mengejutkan Aisha. Ia tersentak, buru-buru mengusap wajahnya dan berdiri. Dengan langkah ragu, ia membuka pintu paviliun.
Aisha terpaku. Berdiri di ambang pintu adalah Adrian. Pria itu sudah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja hitam dengan kancing atas yang terbuka dan lengan yang digulung rapi. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci wajah Aisha yang sembap.
"T-Tuan Adrian..." bisik Aisha, badannya otomatis bergetar. Ia bersiap untuk mendengar kalimat pengusiran. "Maafkan saya... jika ada kesalahan lagi yang saya perbuat."
Adrian tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam ruang tamu paviliun tanpa permisi, membuat Aisha terpaksa mundur beberapa langkah. Aura dominan pria itu langsung memenuhi ruangan yang sunyi tersebut.
"Suamimu... maksudku, mantan suaminya datang ke gerbang depan sore tadi," ucap Adrian tanpa basa-basi, suaranya bariton, datar, dan sedingin es.
Mendengar hal itu, lutut Aisha mendadak lemas. Ia nyaris kehilangan keseimbangan jika tidak segera berpegangan pada sandaran sofa. Air matanya kembali merebak. "Tuan... saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya bersumpah tidak pernah meminta mereka datang ke sini. Saya tidak bermaksud membawa sial atau masalah ke rumah Anda. Tolong jangan pisahkan saya dari Kael... saya mohon..."
Aisha bersiap untuk berlutut di lantai demi memohon belas kasihan, namun sebelum lututnya menyentuh lantai marmer, sepasang tangan kekar dan hangat mencengkeram kedua lengannya dengan kuat, menahannya agar tetap berdiri.
Aisha mendongak perlahan dengan mata berkaca-kaca. Wajah Adrian berada sangat dekat dengannya. Cengkeraman tangan Adrian terasa begitu kokoh, namun anehnya, tidak ada rasa sakit sedikit pun.
"Berdirilah. Aku tidak suka melihat pekerjaku mengemis seperti ini," ujar Adrian, suaranya melunak satu tingkat, meski raut wajahnya tetap tegas. Pria itu melepaskan cengkeramannya begitu Aisha sudah berdiri dengan stabil.
Adrian memalingkan wajahnya sekilas ke arah kamar tempat Kael sedang tertidur, lalu kembali menatap Aisha. "Aku sudah mengusirnya. Dan aku sudah memerintahkan tim keamananku untuk memastikan pria itu ataupun ibunya tidak akan pernah bisa mendekati area perumahan ini lagi, apalagi mengusikmu."
Aisha tertegun, matanya melebar tidak percaya. "A-Anda... tidak mengusir saya?"
Adrian mendengus kecil, sebuah seringai tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Mengusirmu? Lalu siapa yang akan memberikan makan untuk anakku? Kontrak kita hitam di atas putih, Aisha. Dan seperti yang kukatakan pada pria brengsek itu sore tadi... apa pun yang berada di bawah atap rumahku adalah tanggung jawabku. Termasuk dirimu."
Kata-kata *"termasuk dirimu"* bergaung indah di telinga Aisha, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Bahkan saat masih menikah dengan Taufik, ia tidak pernah dilindungi seperti ini.
"Uang seratus juta yang kuberikan padamu," lanjut Adrian dengan nada mengintimidasi yang kembali mencuat. "Jangan pernah berpikir untuk memberikan sepeser pun kepada mereka sebagai uang damai. Jika mereka memerasmu lagi lewat telepon, serahkan nomornya pada Hendra. Biar tim hukumku yang menyeret mereka ke jalur hukum."
Aisha perlahan menundukkan kepalanya, kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa haru dan syukur yang membuncah di dadanya. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan Adrian. Anda sudah menyelamatkan hidup saya."
Adrian menatap puncak kepala Aisha selama beberapa detik. Ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk mengusap rambut wanita itu dan menenangkannya, namun Adrian dengan cepat menepis ego tersebut. Ia berdehem pelan untuk menguasai dirinya kembali.
"Sudahlah. Cepat istirahat. Jaga kesehatan dan emosimu. Aku tidak mau nutrisi untuk Kael terganggu hanya karena kamu terus-menerus menangis seperti ini," ucap Adrian ketus, mencoba menutupi rasa peduli yang mulai menyusup ke hatinya.
Pria itu kemudian berbalik dan melangkah keluar dari paviliun, meninggalkan Aisha yang kini menatap kepergiannya dengan perasaan yang mulai berubah. Di bawah langit malam yang pekat, dinding es di antara sang CEO dingin dan sang Ibu Susu perlahan-lahan mulai retak, memicu lahirnya sebuah perasaan baru yang belum siap mereka akui.
---
Bersambung