Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Batasan yang Perlahan Kabur
Lobi gedung fakultas teknik perlahan mulai sepi setelah bel masuk kelas berbunyi nyaring, namun Kinar masih bergeming di posisinya. Pertanyaan Rian yang bernada selidik tadi masih menggantung di telinganya, menuntut jawaban yang jujur. Kinar menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya sebelum menatap Rian dengan senyuman yang dipaksakan se-normal mungkin.
"Ah... dia emang agak aneh dari sananya, Rian. Gak usah terlalu diambil hati ya," kilah Kinar sambil berjalan mendahului Rian menuju ruang kelas di lantai dua. Tangannya meremas tali tas ranselnya erat-erat, mencoba mengalihkan fokus dari rasa panas yang masih tertinggal di area dahinya akibat sentuhan jemari Arga tadi. "Yuk, buruan. Nanti kita beneran diamuk sama dosen kalau telat."
Rian hanya bisa mengangguk pasrah, mengikuti langkah Kinar dari belakang. Meski mulutnya terdiam, sorot mata Rian menunjukkan dengan jelas bahwa dia tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban santai Kinar. Posesifnya Arga tadi bukan sekadar sikap seorang sahabat lama atau suami di atas kertas; itu adalah tatapan seorang pria yang sedang menandai wilayah kekuasaannya agar tidak diganggu oleh siapa pun.
Selama dua jam pelajaran berlangsung, pikiran Kinar sama sekali tidak bisa sinkron dengan materi presentasi yang sedang dibawakan oleh kelompoknya. Matanya memang menatap ke arah proyektor di depan kelas, namun fokusnya melayang jauh ke halaman kontrakan, ke arah waslap es batu pagi tadi, dan ke arah kilat cemburu di mata Arga yang begitu pekat. Kinar merutuki dirinya sendiri berkali-kali di dalam hati. Bagaimana bisa kesepakatan kontrak bermeterai yang mereka buat dengan penuh kesadaran kini malah menjebak perasaannya sendiri ke dalam labirin tanpa jalan keluar?
Begitu kelas berakhir dan jam menunjukkan pukul satu siang, Kinar segera membereskan buku-bukunya dengan tergesa-gesa.
"Nar, mau makan siang bareng di kantin depan dulu gak? Anak-anak yang lain pada mau ngumpul tuh," ajak Rian sambil menghampiri meja Kinar.
Kinar menggeleng cepat, memberikan lambaian tangan tanda penolakan yang halus. "Sori banget, Rian. Gue gak bisa ikut. Gue... udah ada janji lain siang ini. Duluan ya semua!"
Tanpa menunggu balasan dari Rian atau teman-temannya yang lain, Kinar langsung menyampirkan tasnya dan berlari kecil keluar dari ruang kelas, menuju ke arah lobi tempat Arga berjanji akan menjemputnya. Kinar tidak mau mengambil risiko memicu kemarahan "suami fiktif"-nya itu jika dia kedapatan pulang terlambat atau berjalan bersama cowok lain lagi.
Begitu kakinya melangkah keluar dari pintu kaca lobi, Kinar langsung mendapati motor sport hitam itu sudah terparkir rapi di bawah pohon peneduh. Pengendaranya, Arga, sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya, masih mengenakan jaket jins dan helm yang kacanya dinaikkan ke atas. Begitu menyadari kehadiran Kinar, Arga langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menyodorkan helm cadangan ke arah Kinar tanpa berkata apa-apa.
Kinar menerima helm itu, memakainya, lalu naik ke atas jok belakang dengan gerakan yang jauh lebih ragu-ragu daripada tadi pagi.
"Tepat waktu. Bagus," ucap Arga singkat dari balik helmnya, suaranya terdengar datar namun ada nada kepuasan yang terselip di sana begitu melihat Kinar benar-benar keluar sendirian tanpa dikawal oleh Rian.
"Gue kan emang selalu menepati janji, gak kayak lo yang hobi ngancem gak bakal bukain pintu rumah," gerutu Kinar sengaja mengeraskan suaranya agar menembus bisingnya deru mesin motor yang mulai dinyalakan.
Arga tidak membalas gerutuan itu. Dia langsung menarik tuas gas, membawa motornya membelah jalanan kampus yang cukup padat siang itu. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ketika motor sport itu berbelok tajam di tikungan depan gerbang kampus, Arga sengaja mengerem sedikit mendadak, membuat tubuh Kinar otomatis terdorong ke depan dan membentur punggung tegap Arga dengan sempurna.
Refleks, Kinar langsung melingkarkan kedua lengannya ke sekeliling pinggang Arga untuk menjaga keseimbangan. Kinar sempat berniat menarik kembali tangannya karena panik, namun sebelum hal itu terjadi, tangan kiri Arga yang bebas dari stang motor mendadak bergerak turun, menggenggam punggung telapak tangan Kinar yang berada di pinggangnya, menahannya agar tetap berada di sana di sepanjang sisa perjalanan pulang.
Genggaman tangan Arga terasa sangat hangat dan protektif, seolah-olah mengirimkan pesan tanpa kata bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi batasan kontrak yang bisa menjauhkan mereka. Dinding persahabatan yang mereka bangun selama belasan tahun kini benar-benar telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh jalinan rasa baru yang menuntut untuk diakui oleh ego mereka masing-masing.
Halo, Teman-Teman Pembaca Setia! ✨
Aku mau ngucapin terima kasih banyak dari lubuk hati yang paling dalam untuk kalian semua yang sudah meluangkan waktu, kuota, dan energinya buat membaca kisah perjuangan rumah tangga abal-abal Arga dan Kinar ini.
Melihat antusiasme, dukungan, setiap view, like, komen gemas, sampai bintang lima yang kalian kasih bener-bener jadi bahan bakar utama buat aku untuk terus konsisten menulis dan menembus batas kata di setiap babnya. Tanpa adanya kalian, cerita "BESTIE, KUA DI SEBELAH MANA?" ini gak akan bisa hidup dan seseru ini.
Semoga naik-turunnya emosi, drama adu jidat yang konyol, sampai momen salting brutal mereka bisa terus menghibur dan menemani hari-hari kalian, ya!
Tetap kawal perjalanan sandiwara pasutri gadungan ini sampai akhir! Jangan lupa buat terus tinggalin jejak berupa komentar atau dukungan kalian di bab selanjutnya, karena satu komen dari kalian itu berharga banget buat kelangsungan jari-jariku ngetik, hehe.
Kalian semua luar biasa! Happy reading, and see you in the next chapter! ❤️
Salam hangat,
Markario Putra
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/