Halo... sekian lama vakum akhirnya aku kembali ke platform kesayangan kita semua. Aku akan kembali aktif sebagai penulis menemani waktu senggang anda semua. Semoga bukuku bisa menjadi teman setia anda semua. Terima kasih.
Luna seorang dokter Onkologi berbakat dinikahi oleh seorang lelaki yang mengaku seorang karyawan di salah satu perusahaan besar bidang Farmasi. Lelaki itu menikahi Luna tanpa banyak tanya latar belakang Luna karena tahu Luna adalah anak yatim-piatu yang besar di panti asuhan. Lelaki itu mengira Luna hanya seorang perawat rumah sakit tanpa menyelidiki pekerjaan Luna sesungguhnya.
Ternyata di balik pernikahan ini tersimpan misteri yang tidak diketahui oleh Luna. Luna mengira suaminya memang seorang karyawan yang memiliki gaji kecil. Secara diam-diam Luna mendukung suaminya dengan memberinya obat hasil penelitiannya. Lalu apa yang didapatkan oleh Luna. Mari kita simak bersama-sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Sandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Tugas
Pagi ini Anjas harus lebih giat mencari Luna. Secepatnya menemukan Luna untuk klarifikasi hubungan mereka. Kedengarannya memang merugikan Luna tetapi Luna harus berkorban demi menutupi kerugian perusahaan. Anjas yakin sekali Luna akan kembali bila dia berjanji berbuat adil pada Clara dan Luna. Anjas akan beri status pada Luna agar Luna tidak kabur lagi.
"Sebentar lagi aku mau ke rumah sakit mencari keterangan tentang Luna. Dan kau Clara coba gunakan koneksimu cari tahu dokter bernama Luna. Kalau dia itu dokter top di bidang kanker tentu tak sulit mendapatkan info tentang Luna. Kau harus ingat kalau semua untuk kita semua juga." Anjas berkata mengandung ancaman. Clara harus bantu dia menemukan Luna karena ini juga demi kepentingan Clara sendiri. Mereka membutuhkan anak-anak Luna jadi mau tak mau Clara harus mengalah.
Clara pasang wajah suram namun tak kuasa membantah. Dia memang membutuhkan anak-anak Luna untuk menyelamatkan posisinya di keluarga ini. Clara yakin kalau keluarga Kutilan pasti akan melakukan test DNA terhadap anak-anak yang baru. Mereka tidak akan menerima anak-anak itu begitu saja sebelum menemukan kepastian bahwa mereka merupakan keturunan langsung dari keluarga Kutilan.
"Iya... Aku kan usaha." sahut Clara tidak senang. Tidak senang juga tak ada gunanya. Dia berada di pihak kalah. Jalan terakhir adalah bekerja sama dengan Anjas menemukan orang yang mereka butuhkan.
Anjas menarik nafas lega kalau Clara bersedia membantunya menemukan Luna. Bertambah satu bantuan menambah peluang menemukan Luna lebih cepat.
"Terima kasih sayang... Kalau gitu aku ke kantor dulu. Aku akan menemui beberapa investor kita. Doakan semoga negosiasi kita berjalan lancar." Anjas menepuk pipi Clara penuh kasih sayang. Dapat dipastikan Anjas benar-benar cinta pada Clara. Anjas tidak peduli kekurangan Clara, bahkan berusaha menutup kekurangan istrinya itu dengan pengobatan orang tak berdosa. Itu merupakan bentuk cinta sulit diukur.
Papa Anjas juga bersiap hendak menyusul ke kantor. Papa Anjas tak bisa tinggal diam lihat perusahaan yang dia bangun nol akan segera tinggal kerangka. Kalau tidak segera ditangani semua akan hancur.
Tinggallah Mama Anjas dan Clara di meja makan. Keduanya saling diam tidak tahu harus ngobrol apa. Tidak topik tepat selain membahas masalah Luna dan perusahaan. Clara tak tahu apa-apa tentang perusahaan. Tidak ada yang bisa dia sumbangkan untuk mengembalikan kejayaan farmasi mereka. Takutnya bukan menyumbang kejayaan melainkan kehancuran. Lebih baik Clara diam saja lihat Anjas dan papanya bekerja sama menopang perusahaan.
"Hari ini kamu tak usah ke mana-mana. Perut sudah menggunung tak baik keliaran.." ujar Mama Anjas sambil meninggalkan meja makan. Perempuan paro baya ini tidak tahu bagaimana membantu anak dan suaminya di saat kacau begini. Paling hanya bisa bantu doa semoga badai cepat berlalu.
"Iya ma..." sahut Clara lirih. Bukan saat tepat menyalurkan hobinya jalan-jalan ke mall dan butik. Clara harus sabar menunggu kabar baik dari Anjas.
Clara sudah berjanji akan mencari tahu mengenai dokter Luna lewat kawan-kawannya. Semoga di antara kawan-kawannya ada yang mengenal dokter Luna dan memberinya informasi akurat. Clara yakin Anjas akan berterima kasih padanya bila berhasil menemukan Luna. Clara akan meminta imbalan yang tidak kecil bila berhasil membantu Anjas.
Di kediaman Alvin terlihat Luna ngobrol panjang lebar dengan mertuanya. Memberi perhatian merupakan obat paling manjur untuk orang memiliki penyakit jiwa.
Ibu Alvin tampak suka pada menantunya itu. Luna perhatian tidak anggap dia orang sakit jiwa. Setiap tutur kata Luna mengandung pujian terhadap senior yang patut dihormati. Ibu Alvin merasa sangat dihargai.
Cukup lama ngobrol akhirnya ibu Alvin pamitan hendak istirahat. Kegiatan pagi ini cukup bikin dia lebih tenang. Tatapan matanya sudah tidak liar kayak hari sebelumnya. Sudah ada sinar lembut seorang ibu terhadap anaknya. Luna melihat jelas tatapan lembut ibu di mata itu. Itu merupakan berita bagus.
Luna juga kembali ke kamar mencari info dari Wina. Luna belum bisa gunakan ponsel maka hanya bisa mengandalkan laptop mengirim kabar ke Wina. Wina belum tentu duduk di depan laptop pada jam kerja. Bisa jadi dia sedang melaksanakan tugas di meja operasi. Luna adu nasib siapa tahu Wina sedang ada waktu. Berusaha kan tak ada salah ketimbang bingung sendirian di dalam kamar.
Dugaan Luna tidak salah. Wina memang sedang sibuk melaksanakan tugasnya. Luna sudah mengirim kabar melalui email tetapi belum mendapat balasan.
Luna cek email siapa tahu ada kabar dari rekan kerja lain. Luna paling tidak bisa duduk bengong menghitung detik-detik waktu berlalu. Paling tidak harus ada sedikit kegiatan utak atik ilmu kedokteran.
Luna menemukan satu email lumayan panjang dari rekannya di lembaga riset. Luna tak menyadari ada email masuk ke kotak berita. Tangan Luna cepat-cepat scroll membaca email dari rekan kerja di lembaga riset.
\=Una...pasien HIV mu mendadak kolaps setelah konsumsi obat terakhir darimu. Kami sedang berusaha menolongnya. Harap segera balas. Kami bingung tak tahu harus berbuat apa. Ayok segera hubungi kami. Jangan main petak umpet sayangku! Mohon setor mukamu yang cantik ke markas. Ditunggu ya.\=
Luna melihat kalau kabar itu masuk di hari kemarin malam sekitar pukul sepuluh. Pantesan tidak terbaca karena dia keburu tidur. Luna memarahi diri sendiri lalai memeriksa alat komunikasi yang tersisa saat ini. Ini tak leluasa berponsel sehingga ada yang menjadi korban. Semua ini gara-gara Anjas dan Clara biadab. Andai kedua manusia itu tidak masuk ke hidupan mungkin hari ini makin banyak pasien tertolong.
\=Sekarang bagaimana kondisi pasien.\= Luna segera membalas berharap rekannya membaca email darinya.
Luna mulai gelisah memikirkan nasib pasien yang bersedia menjadi kelinci percobaan untuk obatnya. Pasien pengidap virus HIV ini bersedia mengorbankan diri jadi kelinci percobaan karena sadar hidupnya memang sudah tak ada harapan. Lebih baik mencoba daripada mati sia-sia. Siapa tahu obat Luna berhasil menekan virus jahat itu. Berarti harapan untuk hidup lebih lama sudah terbentang di depan mata.
Lama tak ada balasan membuat Luna semakin gelisah. Dia tak bisa duduk manis menunggu kabar tanpa berbuat sesuatu. Setiap detik adalah nyawa bagi si sakit. Luna harus segera menemui pasien itu untuk melihat kondisinya. Tetapi bagaimana Luna bisa keluar dari rumah yang mirip istana raja zaman dulu. Rumah maha luas dengan pengawalan di sana-sini. Tak mudah keluar dari rumah ini tanpa seijin Alvin.
Luna harus berbuat sesuatu akan nyawa pasien itu. Apapun yang terjadi dia harus keluar dari rumah ini menuju ke markas di mana pasien sedang di rawat.
Luna keluar kamar mencari pembantu untuk hubungi Alvin. Luna yakin pembantu di rumah ini memiliki akses menghubungi Alvin. Tak mungkin mereka tak tahu nomor ponsel boss mereka. Luna teringat Alvin pernah memperkenalkan seorang art bernama Bu Mar kepala pembantu di rumah ini. Luna harus segera menemukan Bu Mar untuk menanyakan nomor ponsel Alvin.
Luna berjalan dari lorong ke lorong lain. Rumah ini seperti labirin menyesatkan orang. Butuh waktu lumayan panjang untuk mengenal seluk-beluk rumah ini. Kalaupun ada maling masuk ke sini belum tentu bisa keluar dengan selamat. Belum sempat keluar sudah ketangkap karena nyasar dalam rumah.
Beberapa kali putar akhirnya Luna berjumpa dengan seorang pembantu lebih muda. Pembantu itu seperti hendak membersihkan perabotan di sekitar ruang Luna menemukannya.
Luna girang bukan main jumpa seseorang untuk berbagi rasa sepi. Semula Luna hampir putus asa mencari orang bisa diajak bicara. Untunglah nasib baik berpihak padanya.
"Maaf adik kecil..." sapa Luna cepat sebelum pembantu pergi.
Gadis muda itu menghentikan kegiatan langsung beri hormat pada majikan barunya.
"Ibu... Ada yang bisa kubantu?" tanya gadis itu sopan.
"Ponselku rusak... Apa bisa bantu aku hubungi pak Alvin?"
"Tentu bisa Bu... Ibu bisa gunakan telepon rumah. Di situ ada nomor kontak Pak Alvin cuma biasanya yang angkat asisten pak Alvin. Nanti akan diteruskan ke pak Alvin. Mari kuantar!" gadis itu juga tak kalah ramah dari pembantu sebelumnya. Gadis muda ini tampak sudah kena training ketat dari Alvin. Sikapnya sopan menghormati majikan. Tidak ada gelagat dia abaikan permintaan Luna.
Pembantu muda itu berjalan dahului Luna menuju ke satu tempat di mana telepon rumah bersemayam di sana. Ternyata tak jauh dari ruang keluarga. Di sana ada bufet khusus menampung alat komunikasi yang sudah mulai ditinggal orang. Zaman ini orang lebih suka gunakan seluler ketimbang telepon rumah.
"Ini Bu... " gadis muda itu menunjuk telepon warna hitam di atas bufet.
"Coba kau hubungi asisten pak Alvin bilang ibu mau bicara." Luna enggan membuka komunitas dengan orang asing tanpa ijin Alvin. Alvin belum tentu suka diganggu saat dia sedang bekerja. Luna tak mau sok akrab langsung nyelonong bicara dengan asisten Alvin. Luna kan belum tahu bagaimana tampang asisten Alvin. Biarlah pembantu itu sampaikan keinginan bicara sama Alvin.
"Baik Bu..." pembantu muda segara menekan beberapa angka lalu menunggu panggilan dijawab dari seberang. "Selamat siang pak Japri. Ini ibu mau bicara sama pak Alvin."
"Baik...tutup saja biar pak Alvin telpon balik. Di tunggu ya."
Pembantu meletakkan horn telepon dengan hati-hati sesuai amanah asisten Alvin. Asisten bernama Japri itu harus melapor dulu ke majikan ada telepon dari rumah. Apa Alvin akan bersedia bicara atau tunggu dia pulang baru bicara. Semua harus seijin dari orang bersangkutan.
Tak lama telepon berdering. Pembantu muda itu mundur ke samping beri ruang bagi Luna angkat telepon. Sudah ada balasan artinya Alvin telah telepon balik.
"Itu telepon dari pak Alvin Bu..angkat saja..."
"Oh..." Luna baru tersadar setelah ditegur pembantu muda itu. Pikiran Luna tersita oleh nasib pasiennya. Seluruh pikiran Luna tercurah kepada pasien yang sedang sakit itu. Luna harus segera bertindak sebelum berakhir fatal.