NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Pengajuan Cuti

Baskara mengerjapkan mata. Ia bangkit dari tempat tidurnya, setengah merasa bingung karena ia mendapati matahari sudah tinggi dan Aira tidak ada di sampingnya. Baskara segera melonjak turun dari ranjang. Cepat-cepat ia membuka pintu kamar. Wajahnya panik saat ia tidak mendapati Aira. Namun, langkahnya melambat manakala suara gelak tawa dua orang perempuan memenuhi dapur.

Baskara mengintip. Senyumnya mengembang saat ia melihat Sita dan Aira sibuk memasak di dapur.

"Sepertinya kehadiran anak perempuan itu benar-benar menghidupkan suasana rumah ya, Bas," ucap Gunawan yang seketika membuat Baskara terperanjat kaget.

"Ayah sudah lama tidak melihat senyum ibumu selepas itu sejak Berlian meninggal."

Baskara membuang napas kasar. Adik bungsunya, Berlian adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Berlian adalah anak yang ceria, dia juga cerdas jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Namun, sayang hidupnya tidak berumur panjang. Berlian mengalami kecelakaan sepeda motor saat membonceng temannya waktu SMA. Dia mengalami pendarahan kepala parah hingga akhirnya meninggal dunia.

Baskara menatap kembali dua wanita berbeda generasi itu, lalu senyumnya kembali mengembang.

"Bunda kayaknya sayang banget sama Aira, Ayah."

"Memangnya kamu enggak?" goda Gunawan seraya berjalan ke halaman depan.

"Ha? Aku?"

Baskara kesulitan menelan salivanya ia mengikuti langkah Gunawan menuju halaman depan dan menatap sang ayah yang sedang menyiram tanaman.

"Ya, kamu. Menikah dengan dia sudah hampir empat bulan. Sudah ada rasa sayang?"

Baskara diam. Dia bahkan masih kesulitan membedakan perasaannya sendiri.

"Itu ...."

Gunawan tersenyum. Ia menatap Baskara sejenak sebelum kembali memperhatikan tanaman-tanaman di halaman.

"Ayah dan Bunda juga dulu hasil perjodohan. Bedanya, ayah dan bunda sudah diam-diam saling memendam rasa. Mungkin sedikit berbeda sama kamu. Ayah sempat khawatir karena masalah vidio kemarin. Bundamu sudah berpikir hal terburuk. Rahma, mamanya Aira juga khawatir. Nanti sepulang dari sini, kamu sempatkanlah main ke rumah mertuamu, Bas."

"Baik, Ayah."

Gunawan diam..

Matanya menerawang jauh ke depan. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tapi sulit untuk diucapkan. Gunawan mengembuskan napas panjang. Ia mematikan kran airnya. Membereskan selang, lalu duduk di kursi teras.

Baskara yang melihat itu juga ikut menyusul sang ayah duduk di sampingnya.

"Namamu masuk dalam daftar."

Baskara mengerutkan dahinya. "Satgas?"

Gunawan mengangguk tegas. "Belum final. Daftar satgas resmi masih menunggu penetapan."

Baskara diam.

"Sejak awal kamu memutuskan untuk ikut jejak ayah masuk ke dunia militer, ayah sudah sampaikan segala konsekuensi dan resiko dari keputusanmu."

"Baskara tahu, Ayah."

"Sekarang kamu sudah menikah. Ada orang lain selain ayah dan bunda yang akan menunggumu pulang."

Baskara mengangguk. "Baskara paham, Ayah."

Gunawan menatap putranya. Ada semburat rasa bangga terpancar dari wajahnya saat melihat Baskara. Ia akhirnya mengangguk.

"Ambillah cuti. Sebentar saja. Ajak Aira pergi. Kalian butuh waktu berdua untuk keluar dari rutinitas sejenak setelah kejadian kemarin."

"Baik, Ayah."

Aira berjalan menuju ke teras dan mengajak Gunawan serta Baskara untuk sarapan.

"Wah, kamu masak, Ai?"

Aira tersenyum kaku. "Bukan. Bunda yang masak. Aku bantu sedikit aja. Coba goreng telur dadar tadi, tapi gosong," ucap Aira malu-malu.

Baskara tersenyum, lalu mengacak lembut puncak kepala Aira. Mereka pun sarapan bersama sebelum Gunawan dan Sita melanjutkan kunjungan tugas.

Baskara dan Aira pun pulang, tapi mobil itu tidak mengarah ke rumah dinas Baskara, melainkan ke rumah Rahma. Aira sedikit terkejut, tapi ia tahu Baskara mungkin sengaja membawanya berkunjung ke rumah ibundanya.

"Mama!"

Rahma memeluk erat putrinya. Ia sedikit terkejut saat melihat mobil Baskara terparkir di depan rumahnya.

"Astaga, Aira. Mama khawatir. Kamu baik-baik aja, Nak?" tanya Rahma dengan mata berkaca-kaca.

Aira mengangguk. "Maaf, kemarin-kemarin Aira sengaja nggak mampir ke sini. Aira takut mama tambah khawatir."

Rahma mengangguk. Ia pun bersalaman dengan Baskara.

"Semua sudah beres, kan, Bas?"

Baskara mengangguk.

Kunjungan itu tidak berlangsung lama. Mereka hanya bercengkrama singkat. Aira juga mengambil beberapa barangnya sebelum akhirnya pulang ke rumah dinas Baskara.

"Kalau minggu depan kita pergi, kamu bisa cuti, kan, Aira?" tanya Baskara memecah keheningan saat perjalanan pulang.

"Hmm... coba deh."

"Semoga bisa, ya. Setelah dipikir-pikir, ucapan ayah sama bunda ada benarnya juga. Kayaknya, kita butuh refreshing setelah masalah yang kemarin."

Aira mengangguk malu-malu.

***

"Dokter Aira, kamu, kan tahu staff igd nggak banyak. Igd harua tetap beroperasi 24 jam dengan dokter jaga sesuai ketentuan. Kalau pengajuan cutimu mendadak begini agak repot juga," ucap Genta saat ia membaca pengajuan cuti Aira.

Aira menggigit bibirnya. Ia tahu, meski punya hak cuti sama seperti pegawai lain, tapi pengaturannya sangat sangat ketat.

"Hanya 3 hari."

"Saya tahu. Saya harus mencari pengganti jagamu."

Aira menunduk.

"Tumben sekali mengajukan cuti mendadak begini, mau honeymoon bareng suami?" tanya Genta seraya tersenyum.

Aira menatap Genta sejenak sebelum mengangguk malu-malu.

Genta tertawa.

"Kalau saya kasih waktu 2 hari aja untuk cuti gimana? Asal kamu bisa dapat pengganti dokter jaga dan nggak ada jadwal dokter jaga yang kosong selama kamu cuti," ucap Genta.

Aira tersenyum lebar sebelum akhirnya mengangguk. "Siap, Dok! Kalau itu aman. Saya pastikan nggak akan ada jadwal dokter jaga kosong selama saya cuti!" ucap Aira penuh semangat.

Aira keluar dari ruang kerja Genta, ia pun mencari keberadaan Sinta di ruang loker untuk menggantikan jadwal jaganya.

"Please ... setelah itu gue bakal gantiin jadwal lo seminggu penuh. Ya... ya... ya?" ucap Aira seraya menautkan kedua tangan di depan dada.

Sinta menatap Aira dengan mata berbinar.

"Beneran seminggu penuh?"

Aira mengangguk mantap.

"Jadwal jaga pagi, siang, malam?"

"Semuanya! Gue gantikan!"

Sinta mengulurkan tangannya. "Deal!"

***

"Duduk!"

Baskara memberi hormat sebelum akhirnya duduk sesuai perintah Kolonel Haryo.

"Saya sudah membaca pengajuan cutimu, Letnan Baskara."

"Siap! Izin, mohon maaf karena pengajuannya mendadak," ucap Baskara tegas.

Kolonel Haryo tersenyum.

"Jika saya jadi kamu, saya juga akan mengajukan cuti setelah semua yang terjadi. Jujur, saya masih merasa tidak enak."

"Siap, Izin, Komandan masalah yang lalu sudah berlalu, saya dan istri sudah tidak terlalu ambil pusing. Jelita juga sudah meminta maaf secara terbuka dan memberikan klarifikasinya dengan mengunggahnya di media sosial. Saya rasa itu sudah cukup. Lama kelamaan,orang-orang juga pasti akan segera lupa dengan masalah kemarin."

Kolonel Haryo mengangguk. Ia pun menandatangani permohonan cuti Baskara.

"Take your time, Letnan."

Baskara menegakkan posisi tubuhnya dan berujar siap.

Ia keluar dari ruang kerja Kolonel Haryo. Namun, langkahnya melambat saat melihat Kapten Aga menunggu di koridor markas.

"Izin, Kapt, kapten cari saya?" tanya Baskara usai memberi hormatnya pada Kapten Aga.

Kapten Aga mengangguk tegas.

"Ada yang perlu kita bicarakan."

Baskara mengangguk tegas. Ia meminta izin pada Kapten Aga untuk mengirimkan pesan singkat pada Aira.

"Izin, berpamitan dengan istri, Kapt!"

Kapten Aga tersenyum. "Santai saja. Kita cuma bicara berdua, kok."

Baskara mengangguk seraya tersenyum. Ia mengetikkan sebuah pesan singkat pada Aira.

Baskara : Maaf, Ai. Sepertinya hari ini aku nggak bisa jemput. Sampai ketemu di rumah ya.

Aira membuka pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Ia mengembuskan napas pelan usai membaca sepintas, lalu Aira kembali berlari ke bank darah, mengambil beberapa kantong darah untuk transfusi. Seusai menyerahkan kantong darah itu, perut Aira tiba-tiba berbunyi. Sepertinya, perutnya sudah mulai meronta karena sejak siang dibiarkan kosong.

"Ah, laper banget gue. Tapi, kalau makan sekarang, nanti gimana Baskara ya? Hmm ... minta bungkus aja deh."

Aira memesan dua bungkus nasi kebuli ayam. Ia membawanya pulang. Sesampainya di rumah, Aira melihat rumah dinas Baskara masih kosong. Lampu juga masih belum dinyalakan.

Dia belum pulang? Batin Aira.

Aira menatap jam tangannya, sudah pukul sembilan malam, tapi Baskara belum menampakkan tanda-tanda kepulangannya. Aira menata nasi kebuli di atas meja makan. Ia masih menahan diri untuk tidak makan duluan meski perutnya sudah sangat kelaparan.

Aira memilih duduk di sofabed sembari menghidupkan televisi meskipun ia lebih fokus mengulir ponselnya. Tanpa sadar mata Aira terpejam. Aira tertidur di sofabed dalam posisi duduk.

Baskara membuka pelan pintu depan. Ia terkejut saat melihat Aira tertidur di sofabed dalam posisi duduk. Baskara melepaskan seragamnya, lalu mendekati Aira. Ia tersenyum saat menatap wajah Aira yang tampak tenang saat terlelap. Baskara melingkarkan tangannya di leher dan kaki Aira mencoba untuk mengangkat Aira dan memindahkannya ke ranjang.

Namun, baru akan mengangkat tubuh istrinya, mata Aira terbuka. Membuat Baskara terkesiap seketika. Mata mereka saling beradu. Posisi tubuhnya sangat dekat begitu pula dengan wajah Baskara. Hembusan napas keduanya saling menerpa lembut ke wajah masing-masing. Baskara membeku seketika.

"Kamu mau apa?"

________________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!