NovelToon NovelToon
TENTANG KITA YANG NGGAK SENGAJA

TENTANG KITA YANG NGGAK SENGAJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: grayen

Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.

Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.

Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu Pertama

Sejak foto Alya dan Raka di festival sekolah menyebar di grup kelas, kehidupan mereka jadi sedikit lebih ribet.

Padahal foto itu sama sekali tidak dibuat dengan sengaja. Dion hanya kebetulan memotret saat Raka menarik tangan Alya supaya tidak tersandung kabel. Tapi di mata teman-teman mereka, momen itu terlihat seperti adegan di film remaja.

Akibatnya, setiap kali Alya dan Raka terlihat bersama, selalu ada yang menggoda.

“Eh, mana pasangan festival?”

“Kalau jalan jangan jauh-jauh, nanti nggak masuk frame.”

“Dion, siapin kamera lagi!”

Awalnya Alya selalu membalas, “Bukan begitu ceritanya,” atau “Kalian salah paham.”

Namun lama-kelamaan ia menyerah. Semakin dijelaskan, teman-temannya malah semakin semangat meledek.

Raka justru terlihat santai.

Suatu hari, saat mereka berjalan menuju kantin, Dion kembali menggoda, “Rak, kapan traktir nih?”

Raka hanya menjawab sambil tertawa, “Nunggu menang undian dulu.”

“Undian apa?”

“Undian yang belum ada.”

Semua orang ikut tertawa, termasuk Alya yang akhirnya tidak bisa menahan senyum.

 ---

Beberapa hari kemudian, saat jam istirahat pertama, Nadya harus menemui guru BK untuk membahas kegiatan kelas.

Alya memilih menghabiskan waktu di perpustakaan. Ia membawa laptop dan beberapa buku referensi untuk menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia.

Perpustakaan sedang cukup sepi. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali bunyi halaman buku yang dibalik.

Saat Alya sedang mengetik, seseorang berdiri di samping mejanya.

“Permisi… Alya, kan?”

Alya mendongak dan langsung mengenali wajah itu.

“Arvin?”

Cowok itu tersenyum.

“Masih ingat ternyata.”

“Ya iya. Kita pernah satu tim lomba fotografi.”

Arvin duduk setelah Alya mempersilahkannya.

Mereka mulai mengobrol ringan tentang hobi memotret. Arvin bercerita kalau sekarang ia sering mengikuti kompetisi fotografi di luar sekolah dan baru saja membeli lensa baru.

Alya terlihat antusias.

“Serius? Yang 50 mm itu?”

“Iya. Hasil portrait-nya bagus banget.”

“Pengen coba deh.”

“Nanti kalau ada waktu, boleh.”

Obrolan mereka mengalir begitu saja. Sesekali mereka tertawa saat mengingat pengalaman lucu waktu lomba dulu, seperti ketika kamera Arvin tiba-tiba mati karena baterainya habis di tengah penilaian.

 ---

Di sisi lain, Raka baru selesai latihan basket lebih cepat dari biasanya.

Ia membawa sebuah buku sejarah yang beberapa hari lalu dipinjam dari Alya.

“Gue balikin sekarang aja,” gumamnya sambil berjalan ke arah kelas.

Namun ketika melewati perpustakaan, langkahnya terhenti.

Dari balik pintu kaca, ia melihat Alya sedang duduk berhadapan dengan seorang cowok yang tidak dikenalnya.

Mereka tampak asyik mengobrol.

Bahkan beberapa kali Alya tertawa lepas.

Raka berdiri diam.

Buku di tangannya masih dipegang erat.

Entah kenapa, ia merasa ada yang mengganjal di dadanya.

“Rak!”

Suara Dion membuyarkan lamunannya.

“Ngapain di sini?”

Raka menunjuk ke arah dalam.

“Itu siapa?”

Dion ikut melihat.

“Oh, itu Arvin. Anak kelas sebelah. Kayaknya dia suka fotografi juga.”

Raka mengangguk pelan.

“Oh.”

“Kenapa?”

“Nggak kenapa.”

Tapi wajahnya mengatakan hal yang berbeda.

Dion menyipitkan mata lalu tersenyum jahil.

“Lo cemburu, ya?”

“Ngaco.”

“Yakin?”

“Yakin.”

Meski menjawab cepat, Raka sendiri tidak terlalu yakin.

 ---

Sore harinya, Alya menyadari Raka tidak mengirim pesan seperti biasanya.

Tidak ada meme receh.

Tidak ada chat iseng.

Bahkan grup tugas pun sepi.

Karena penasaran, Alya mengirim pesan lebih dulu.

> Alya:

Buku sejarah gue masih sama lo, kan?

Tak lama kemudian balasan masuk.

> Raka:

Iya.

> Alya:

Besok dibawa ya.

> Raka:

Oke.

Hanya itu.

Alya membaca ulang percakapan mereka.

Singkat sekali.

Padahal biasanya Raka selalu menambahkan candaan atau stiker lucu.

“Kenapa, ya?” gumamnya pelan.

 ---

Keesokan paginya, Raka datang ke kelas dan langsung meletakkan buku di meja Alya.

“Nih.”

“Thanks.”

“Iya.”

Lalu ia pergi begitu saja.

Alya semakin bingung.

Saat istirahat, ia melihat Raka lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan bersama Dion.

Beberapa kali mata mereka bertemu, tapi Raka hanya mengangguk kecil lalu kembali mengobrol.

Nadya yang duduk di samping Alya ikut memperhatikan.

“Kalian berantem?”

“Enggak.”

“Terus kenapa dia jadi pendiem?”

“Gue juga nggak tahu.”

“Coba tanya.”

Alya mengangguk pelan.

Mungkin memang itu satu-satunya cara.

 ---

Sepulang sekolah, Alya menemukan Raka sedang memasukkan bola basket ke dalam tas jaring di dekat lapangan.

Ia menghampiri pelan.

“Rak.”

Raka menoleh.

“Hm?”

“Boleh ngobrol bentar?”

“Boleh.”

Mereka berjalan ke bangku panjang di bawah pohon dekat lapangan.

Beberapa detik hanya diisi suara angin yang menggoyangkan daun.

Akhirnya Alya membuka pembicaraan.

“Lo kenapa akhir-akhir ini aneh?”

Raka tertawa kecil.

“Bukannya dari awal gue emang aneh?”

“Bukan yang itu.”

“Terus?”

“Lo jadi diem.”

Raka menunduk sebentar sebelum menjawab.

“Gue lihat lo ngobrol sama Arvin kemarin.”

“Oh…”

“Kayaknya akrab banget.”

Alya langsung paham arah pembicaraan itu.

“Dia teman lama waktu lomba fotografi.”

“Cuma teman?”

“Iya.”

“Yakin?”

Alya menatap Raka beberapa detik, lalu tersenyum.

“Lo lagi cemburu?”

Raka mengusap tengkuknya dengan malu.

“Sedikit mungkin.”

Jawaban jujur itu membuat Alya tidak bisa menahan tawa.

“Rak, beneran nggak ada apa-apa.”

“Iya, sekarang gue tahu.”

“Lain kali tanya aja. Jangan malah ngilang.”

Raka mengangguk.

“Siap.”

Suasana yang sempat canggung perlahan mencair lagi.

Sebelum pulang, Raka bahkan sempat berkata sambil tersenyum,

“Kalau nanti ketemu Arvin lagi, kenalin gue juga ya.”

“Buat apa?”

“Biar dia tahu fotografer favorit gue udah punya partner ngobrol.”

“Partner ngobrol doang?”

“Ya… sementara.”

Alya menggeleng sambil tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Raka yang berbeda—bukan usil atau jahil, melainkan seseorang yang diam-diam takut kehilangan perhatian dari orang yang mulai berarti baginya.

Dan tanpa disadari Alya, ada perasaan hangat yang muncul karena mengetahui hal itu. Mungkin, rasa cemburu kecil itu justru membuat mereka semakin dekat daripada sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!