NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Cahaya yang Tidak Bisa Dipadamkan

SMA Wijaya masih dalam keadaan aneh.

Bukan ramai.

Bukan juga sepi.

Tapi… kosong yang salah tempat.

Tidak ada notifikasi.

Tidak ada layar menyala.

Tidak ada suara ponsel.

Seolah seluruh sekolah baru saja kehilangan satu indra penting.

Selene berdiri di lorong depan ruang OSIS.

Tangannya masih gemetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena marah.

“Dia memutus semuanya…”

bisiknya.

Di dalam ruang OSIS, Arsen masih berdiri diam.

Matanya menatap layar yang sudah gelap total.

Tapi pikirannya tidak ikut gelap.

“Dia tidak hanya mematikan sistem,” kata Arsen pelan.

“…dia mematikan akses kita ke permainan.”

Selene menoleh cepat.

“Dan kamu santai saja?”

Arsen akhirnya menatapnya.

“Ini bukan santai.”

Ia melangkah pelan.

“Ini berarti dia tidak ingin kita bermain di arena yang sama lagi.”

Selene tertawa kecil, tapi suaranya patah.

“Jadi kita dikeluarkan?”

Arsen tidak langsung menjawab.

“Tidak.”

Ia berhenti.

“Kita hanya dipaksa naik level.”

Sunyi.

Di luar sekolah.

Mobil Anya sudah bergerak.

Tapi kali ini tidak cepat.

Tidak tegang.

Hanya stabil.

Anya duduk diam.

Tulus melirik dari kaca spion.

“Queen… sistem sekolah benar-benar mati total. Tapi itu tidak menutup jejak Selene.”

Anya mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Tulus ragu.

“Kalau dia menyebarkan data itu secara manual…”

Anya memotong.

“Dia akan mencoba.”

Ia menatap jendela.

“Tapi bukan dia yang harus kita fokuskan sekarang.”

Tulus mengerutkan dahi.

“Arsen?”

Anya diam sejenak.

“…iya.”

Di sisi lain kota.

Gedung Rafardhan Group.

Lantai 42.

Arsen duduk sendirian.

Layar laptop di depannya tidak lagi menampilkan data sekolah.

Tapi jaringan global kecil yang ia bangun sendiri.

Baskoro masuk perlahan.

“Tuan… ada laporan dari luar negeri.”

Arsen tidak menoleh.

“Singkat.”

Baskoro menelan ludah.

“Ada pergerakan dana besar dari entitas tidak dikenal yang terhubung ke… Black Diamond.”

Arsen berhenti mengetik.

Pelan.

“Black Diamond…”

Baskoro mengangguk.

“Tapi tidak hanya itu.”

Arsen akhirnya menatapnya.

“Apa lagi?”

Baskoro membuka file.

“Nama internalnya mulai muncul lagi di jaringan gelap.”

Arsen membaca layar.

Matanya menyipit.

“…EL.”

Ruangan menjadi lebih dingin.

“Dia tidak hanya ada di sekolah,” kata Arsen pelan.

“…dia ada di mana-mana.”

Baskoro mengangguk.

“Dan ini bukan sekadar organisasi kecil, Tuan.”

Arsen menutup laptopnya perlahan.

“Ini jaringan.”

Ia berdiri.

“Terstruktur.”

Baskoro menambahkan hati-hati.

“Dan sangat tua.”

Hening.

Arsen berjalan ke jendela kaca besar.

Kota terlihat seperti papan catur raksasa di bawahnya.

“Anya Clarissa…”

Namanya keluar pelan.

Seperti sedang diuji.

“Siapa kamu sebenarnya?”

Di mobil Anya.

Tiba-tiba lampu dashboard berkedip.

Tulus langsung waspada.

“Queen, ada sinyal asing masuk ke jalur komunikasi kita.”

Anya menatap layar.

Tidak panik.

Tidak tergesa.

“Dari mana?”

Tulus mengetik cepat.

“…Rafardhan Core.”

Anya terdiam sepersekian detik.

Lalu tersenyum tipis.

“Dia mulai menembus batas lagi.”

Tulus menoleh.

“Haruskah kita putus lagi?”

Anya menggeleng.

“Tidak.”

Ia bersandar.

“Biarkan dia masuk sedikit.”

Tulus terkejut.

“…itu berbahaya.”

Anya menatapnya.

“Justru itu tujuannya.”

Di gedung Rafardhan.

Arsen menatap layar baru.

Sebuah koneksi terbuka.

Bukan ia yang memulai.

Tapi “diberi akses”.

Arsen menyipit.

“…dia mengizinkan aku masuk?”

Baskoro langsung tegang.

“Tuan, ini bisa jebakan.”

Arsen mengangkat tangan.

“Tidak.”

Ia duduk kembali.

“Ini undangan.”

Dan ia menekan enter.

Di sekolah.

Ruang OSIS masih gelap.

Selene kembali masuk diam-diam.

Ia membuka laptop lain.

Bukan sistem sekolah.

Tapi perangkat eksternal.

“Kalau kalian pikir aku berhenti…”

bisiknya.

“…kalian salah.”

Ia mulai mengetik.

Cepat.

Tidak stabil.

“Kalau dunia tidak mau menonton di layar…”

“…aku akan paksa mereka melihat langsung.”

ENTER.

Dan sesuatu dikirim.

Bukan ke sekolah.

Bukan ke Arsen.

Tapi ke publik.

Di seluruh kota.

HP mulai hidup kembali.

Tapi bukan sistem sekolah.

Sebuah video.

Tanpa judul.

Tanpa nama pengirim.

Hanya satu frame pertama:

pelabuhan malam.

simbol berlian hitam samar.

Di mobil Anya.

Alarm langsung berbunyi.

Tulus panik.

“Queen! Selene baru saja upload data ke jaringan publik!”

Anya langsung menatap layar.

Matanya berubah dingin.

“…dia melewati batas terakhir.”

Tulus menelan ludah.

“Ini akan menyebar dalam hitungan detik.”

Anya diam.

Lalu berkata pelan:

“Kalau dia sudah memulai kebakaran…”

Ia membuka pintu mobil.

“…aku yang akan mengakhirinya.”

Di gedung Rafardhan.

Arsen melihat notifikasi yang sama.

Video itu.

Muncul di semua perangkat.

Matanya membesar sedikit.

“…Selene.”

Ia berdiri.

“Dia gila.”

Baskoro langsung berkata.

“Kita harus hentikan penyebaran ini!”

Arsen menggeleng.

“Tidak.”

Ia menatap layar.

“Ini bukan lagi tentang sekolah.”

Lalu ia mengambil jasnya.

“Ini tentang siapa yang akan berdiri di atas reruntuhan setelah ini selesai.”

Di langit Jakarta.

Malam mulai turun lagi.

Dan di bawahnya—

tiga arah berbeda mulai bergerak.

Anya.

Arsen.

Selene.

Tanpa sadar…

mereka tidak lagi bermain di papan yang sama.

Mereka sudah menjadi papan itu sendiri.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!