NovelToon NovelToon
Garis Merah Di Sekolah ( Triple Z)

Garis Merah Di Sekolah ( Triple Z)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Ini season ke 2 dari novel Putra Sang Letnan Kolonel. Dengan Genre Yang berbeda kisah Triple Z (Zayda, Zayden, dan Zafran)

Tawa Semua siswa seketika mencekam, sesaat serangan brutal terjadi di tempat itu.

Panik, Takut semua menjadi satu dalam kericuhan. Hanya dalam hitungan jam puluhan siswa dan guru mati di tempat.

Semua siswa mencari ruangan aman untuk berlindung, tetapi tidak ada satupun ruangan yang bisa menjamin.

Kecuali satu area rooftop. Namun, apakah mereka bisa naik ke atas?


Adakah para siswa ada yang selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 ( Perjuangan Zayda & Alea )

POV Zayda dan Alea

Halaman belakang. Alea dan Zayda baru aja jatuh dari tembok. Napas Zayda masih ngos-ngosan akibat menahan beban Alea dengan tangannya, saking takutnya untuk turun Alea menindih tubuh Zayda ketika mendarat, membuat napasnya sedikit tertahan.

Tidak hanya napas yang pengap, tubuhnya pun terasa remuk dan pegal.

"Alea ... Aww!" Zayda menyentuh punggungnya.

"Maaf Zayda, aku tidak sengaja. Sakit?"

"Yaiyalah sakit, Alea. Kamu pikir tubuh aku ini tembok apa, aku sudah bilang injak telapak tanganku bukan lompat jadinya aku yang ketindih." Zayda menggerutu. Alea hanya nyengir, sambil memasang wajah sesalnya.

"Maaf, maaf, sini aku bantu." Alea membantu Zayda berdiri.

Setelah beberapa detik, hening.

"Ya, udah kita lanjut ke ruang keamanan," ujar Zayda setelah merasa lebih baik.

"Tunggu Zayda!" tahan Alea saat Zayda hendak melangkah. "Kamu yakin aman?" Alea penakut.

Zayda membuang napas kasar. "Sekarang dengarkan aku ya, Alea. Jika kamu berisik mereka pasti datang. Jadi, kunci mulutmu dan ikuti apa yang aku lakukan. Mengerti!"

"Tapi ...."

"Walau takut kita harus berani. Kamu pilih mati atau hidup?"

"Hiduplah!" bantah Alea.

"Yaudah, diam. Kita jalan sekarang." Zayda membelakangi Alea, yang siap melangkah lebih dulu.

Tanpa banyak ngomong, mereka langsung lari mengendap. Punggung nempel ke tembok sekolah. Lorongnya sepi. Terlalu sepi. Cuma ada suara napas mereka sendiri, sama jantung yang berdebar kencang.

Alea menggenggam tangan Zayda erat.

“Pelan...” bisiknya. Suaranya gemetar.

Zayda ngangguk. Matanya nyapu kiri-kanan. Tiap sudut lorong, tiap pintu kelas yang kebuka gelap. Siapa tau ada yang ngintip.

Langkah mereka pelan banget. Ujung kaki dulu biar tidak menimbulkan bunyi. Tetap waspada, karena satu langkah salah ... bisa jadi yang terakhir.

Tujuan mereka satu: Ruang Keamanan. Di ujung lorong.

Setelah menempuh ketegangan di sepanjang lorong, akhirnya mereka sampai di pintu besi. Bertuliskan "RUANG KEAMANAN".

Zayda dorong pelan. _Kriiit..._

Kosong.

Meja opsir kebalik. Monitor CCTV udah mati semua. Bau darah samar-samar. Nggak ada siapa-siapa. Ruangan itu sangat berantakan. Zayda menatap kartu remi sisa permainan para petugas tadi pagi, kartu itu masih rapi di atas meja —menunggu sang pemilik memainkannya, tapi ... Mereka semua tidak akan kembali karena sudah dijemput ajal. Kecuali dua yang tersisa ... Pak Farhan dan Pak Fajar.

Zayda, langsung masuk, matanya mencari laci senjata. Alea ikut melangkah.

"Alea, kamu periksa semua laci, aku akan periksa di ruangan itu." Tunjuk Zayda pada satu pintu yang tertutup.

"Ok!" Alea setuju.

 Alea mulai membuka laci satu persatu.

"Ketemu." Satu laci kebuka. Isinya masih ada. 2 pistol dinas, sama 3 magazen amunisi. Sisanya sudah dibawa Zayden.

"Zayda ketemu!" Zayda, yang hendak menuju ruangan tadi kembali ke arah Alea. Zayda ngambil satu pistol. Tangannya dingin. Berat.

 “Alea, pegang ini. Isi pelurunya.”

Alea nerima magazen dengan tangan yang kaku. Takut, tapi maksa berani.

"Gimana caranya?" Alea sama sekali tidak pernah memegang pistol, apalagi cara memasang peluru.

Zayda menoleh. "Ah iya, aku lupa. Sini biar aku saja." Zayda mengambil pistol dan magazen milik Alea, lantas mengisinya dengan peluru.

"Ini," ucapnya yang memberikan pistol itu kembali.

"Aku belum pernah melakukannya Zayda," ucap Alea saat menerima pistolnya.

"Lakukan saja sebisamu. Cara menembaknya tarik pelatuknya," jelas Zayda. Alea manggut-manggut.

Zayda menatap lagi ke arah pintu—ruangan yang sebelumnya akan Zayda masuki. Lalu berjalan ke arah pintu itu, Alea yang melihat Zayda menjauh segera mengekorinya.

Zayda menarik handle pintu. Tidak tahu ada apa di dalam tapi Zayda hanya berpikir, mungkin masih ada senjata lain di dalam.

_klik_

Pintu terbuka lebar. Satu langkah maju tiba-tiba ...

“Zay...”

_Klik._

Suara pistol dikokang. Dingin. Dekat banget.

Darah Zayda sama Alea langsung dingin. Mereka membeku.

Dari balik rak, muncul seorang lelaki. Baju hitam. Wajahnya separuh ketutup masker. Matanya kosong, marah. Dialah Rais, salah satu komplotan teroris yang sudah Zayden lumpuhkan.

Namun, kesalahan Zayden waktu itu tidak melenyapkannya. Hanya mengurungnya di ruangan itu—guna ... Untuk mendapatkan informasi lebih. Tanpa Zayden tahu pria itu kini menghadang adiknya sendiri.

Sekarang dia bebas. Dan laras pistolnya ... nempel di kepala Zayda.

“Jangan gerak, bocah,” desisnya.

Zayda sama Alea membeku.

Laras pistol itu dingin banget di pelipis Zayda membuat Alea langsung merem. “Zay...” bisiknya, mau nangis.

“Pistolnya taruh. Sekarang!” perintah teroris itu.

Jantung Zayda copot. Takut. Tapi liat Alea lebih takut. Alea menjatuhkan pistolnya, Zayda ... Ia tetap memegang pistolnya. Dengan tenang tapi gemetar, Zayda angkat pistolnya pelan ... terus

_BRAK!_

Dia ayunin gagang pistolnya ke muka si teroris. Nggak ngarah. Asal kena aja.

_Brakk_

Rais terjatuh menimpa tumpukan kardus. Setelah dipukul gagang pistol oleh Zayda. Alea langsung menjerit sekencang-kencangnya.

 “Yakk!" Alea, menghajar Rais dengan kakinya. melempar barang apapun yang ada. Gulat. Acak-acakan. Ala anak SMA. Nggak ada jurus. Cuma cakar, dorong, jerit, nangis.

Pistol jatuh. _Tak!_ Menggelinding di lantai.

“Ambil!” teriak Zayda sambil narik rambut teroris itu. Matanya udah merah.

Rais, masih lemah. Luka tembaknya merembes, Zayda yang melihat luka itu langsung menekannya.

"Akhh!" jerit Rais.

"Alea ngapain bengong?"

Refleks Alea hanya bengong tanpa membantu. "Aku bingung aku ngapain?"

"Cari tali, kita ikat dia!" teriak Zayda.

"Oh, iya." Alea, mulai mengacak-acak setiap tempat guna menemukan sebuah tali. Zayda masih menekan perut Rais, yang terluka tanpa melihat bahaya yang akan menimpanya.

Tangan Rais terangkat, menodongkan pistol ke arah Alea.

_DORR_

"Akhh!"

Refleks, Zayda menoleh. Alea merunduk, peluru itu melesat ... hampir mengenainya. Napas Alea tercekat, detak jantung tidak stabil, tubuhnya terpaku, pandangan kosong.

Alea hampir saja mati, pikirannya masih belum tenang memikirkan nyawanya.

"Alea!" teriak Zayda, guna menyadarkan.

_Bukk_

Satu tendangan mendarat di dada Zayda, tubuhnya terpental cukup jauh menghantam tembok. Zayda meringis, matanya merem merasakan nyeri pada dadanya. Napas sesak membuatnya kehabisan oksigen.

Rais mulai bangun, dia berdiri walau sedikit sulit karena menahan nyeri pada perutnya. Netranya menatap fokus ke arah mereka. Kedua kaki direntangkan guna menahan bebannya. Tangan kiri menekan luka, dan tangan kanan mengangkat senjata. Satu pistol yang masih di punya setelah semua senjatanya dicuri oleh Zayden. Namun, baginya melumpuhkan dua siswa itu ... Mudah. Walau hanya dengan satu pistol.

Pistol sudah diangkat, melayang di udara yang tinggal menunggu dikendalikan. Satu kali tarikan pelatuk ... Peluru emas meluncur bebas ke arah Zayda atau Alea. Entah, siapa yang lebih dulu.

Tapi tangannya tertuju kepada Zayda. Alea mulai panik, dia mundur menghimpit tembok. Tapi netranya menatap cemas pada Zayda yang masih merunduk sambil memegang dadanya.

Sakit? Ya, rasanya begitu panas.

Alea, melirik ke arah Rais. Pria itu siap menembak, pelatuk sudah ditarik. Dengan sigap Alea berlari ke arah Zayda.

"Zayda awas!"

_DORR_

****

Menurut kalian Alea ketembak atau nggak?

Jangan lupa like dan komen ya, dukung author biar karya ini selalu muncul di beranda dan semakin banyak pembacanya 🤲.

Makasih juga buat kalian yang sudah nunggu update terbaru, subscribe & follow biar dapat notif terus. Insyaallah setiap hari update tapi belum bisa double up ya🙏

Salam author

Dini_ra ❤️

1
Syahwiyah Syahwiyah
harusnya Ardian bilang ke sikembar kalau mereka dalam bahaya,ya...supaya mereka hati hati dan waspada.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!