NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20: Perasaan Tersembunyi yang Terungkap

^^^Selasa, 18 September^^^

Pagi itu matahari muncul di balik awan untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir.

Azril berdiri di depan gerbang SMAN Tunas Bangsa. Bangunan yang dulu menjadi tempatnya bersembunyi. Tempatnya belajar bahwa diam lebih aman. Tempatnya menjadi korban. Dan sekarang—tempatnya kembali untuk menyelesaikan sesuatu yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Di tangannya, ia membawa salinan foto yang ia temukan kemarin sore. Foto lomba pidato. Foto yang membuat segalanya menjadi jelas.

Tono.

Nama itu masih asing di lidahnya. Mereka tidak pernah benar-benar berinteraksi. Hanya dua orang yang kebetulan pernah bersekolah di tempat yang sama, berjalan di koridor yang sama, mungkin pernah duduk di kantin yang sama tanpa saling menyapa. Tapi entah bagaimana, Tono tahu tentang dirinya dan Aini. Tono memilih untuk mengawasi dari jauh daripada berbicara langsung.

Azril dulu juga seperti itu.

Mungkin itu sebabnya ia tidak bisa marah.

Ia melangkah masuk. Sekolah masih sepi—terlalu pagi untuk siswa datang. Hanya satpam yang mengangguk malas dan beberapa petugas kebersihan yang menyapu halaman. Tapi ia tidak ke sini untuk masuk ke dalam. Ia ke sini untuk menunggu.

Ia duduk di bangku taman dekat gerbang. Bangku yang sama di mana ia dulu sering duduk sendirian saat jam istirahat. Menunggu. Menghitung waktu.

Tidak lama kemudian, seorang siswa berseragam putih abu-abu muncul dari arah parkiran. Rambut pendek. Kacamata tipis. Postur tubuh yang tidak terlalu tinggi. Persis seperti yang dideskripsikan Elang kemarin. Persis seperti yang ia lihat di foto.

"Tono."

Siswa itu berhenti. Matanya membesar di balik kacamata tipisnya. Ia mengenali Azril—tentu saja ia mengenalinya. Selama berminggu-minggu ia mengawasi Azril dari kejauhan. Tapi sekarang Azril berdiri di depannya, di sekolahnya sendiri, memanggil namanya dengan suara tenang.

"Lo ... lo ngapain di sini?" Suara Tono bergetar. Kaki kecilnya mundur selangkah.

"Gue cuma mau ngomong."

"Gue gak punya urusan sama lo."

"Tapi lo punya urusan sama Aini." Azril tetap tenang. "Dan itu termasuk urusan gue."

Tono membeku. Tangannya mencengkeram tali tasnya lebih erat. Di sekeliling mereka, sekolah masih sepi—hanya suara burung dan gemerisik daun yang menemani percakapan pagi itu.

"Gue tau lo yang ngirim pesan itu," Azril melanjutkan. "Tanggal 13 Agustus. 'Ai, lo tau kan gue suka sama lo dari lama. Tapi kok lo deket banget sama Azril? Apa lo suka sama dia? Jawab!' Gue inget semua kata-katanya."

Wajah Tono memucat. "Lu ... lu ngomong apa—"

"Lu gak usah bohong. Gue ke sini bukan buat marah-marah. Gue ke sini karena ... gue ngerti."

"Lu ngerti apa?" Suara Tono berubah. Ketakutan mulai bercampur dengan sesuatu yang lain—kemarahan yang ditahan. "Lu ngerti apa, Azril? Lu tiba-tiba pindah ke sekolah lain. Lu tiba-tiba deket sama Aini. Lu bahkan gak kenal dia sebelumnya! Terus lu datang ke sini, sok-sokan ngomong 'gue ngerti'?!"

"Gue ngerti karena gue juga pernah kayak lu."

Tono berhenti. Matanya menatap Azril dengan campuran bingung dan tidak percaya.

"Lu kira gue selalu kayak sekarang?" Azril duduk di bangku taman, memberi isyarat agar Tono ikut duduk. Tono tidak bergerak. "Dulu, pas gue masih di sini, gue gak punya siapa-siapa. Gue cuma anak pindahan yang culun. Yang di-bully setiap hari. Yang duduk di pojok belakang berharap gak ada yang ngeliat."

Tono tidak menjawab.

"Gue juga pernah suka sama seseorang. Diem-diem. Dari jauh. Gue pikir, kalo gue ngungkapin perasaan, semuanya bakal hancur. Gue pikir, lebih aman buat ngawasin dari jauh aja." Azril menatap Tono. "Tapi itu salah. Ngawasin dari jauh gak akan ngubah apa-apa. Lu cuma nyiksa diri sendiri. Dan lu bikin orang lain takut."

"Aini ... Aini takut?"

"Iya. Dia ngerasa diawasin, dan dia takut lo macem-macem ama dia."

Sesuatu berubah di wajah Tono. Kemarahan yang tadi mulai muncul perlahan memudar, digantikan oleh rasa bersalah. "Gue ... gue gak bermaksud bikin dia takut."

"Gue tau."

"Gue cuma ... gue cuma gak tau gimana caranya ngomong. Gue ketemu dia waktu acara OSIS gabungan. Dia beda. Dia ... dia ngomong sama gue kayak gue penting. Padahal gue bukan siapa-siapa. Gue cuma—"

"Lu gak seperti yang lu pikirin, Ton."

Tono mendongak.

"Lu sama kayak gue. Sama kayak semua orang. Lu cuma seseorang yang jatuh hati dan gak tau harus ngapain." Azril menatapnya. "Tapi nguntit, ngirim pesan anonim, bikin orang takut—itu bukan caranya."

Tono menunduk. Bahunya bergetar sedikit. "Gue ... gue minta maaf."

"Gue gak berhak nerima permintaan maaf lo. Yang harus lu mintai maaf adalah Aini, karena dia yang lu bikin gak nyaman dan ketakutan."

"Gue janji."

Azril mengangguk. Lega. "Satu hal lagi." Ia menatap Tono dengan tatapan yang tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya—sesuatu yang jujur, tanpa topeng. "Lo nanya ke Aini, apa dia suka sama gue. Lo penasaran. Dan gue akan jawab itu di depan lo sekarang."

Tono menatapnya, bingung. "Apa maksud lo?"

"Gue ..." Azril menarik napas panjang. "Gue juga suka sama Aini. Udah lama. Mungkin sejak pertama kali gue liat dia di koridor, dengan map OSIS di tangan, negur gue dan Bima karena telat upacara. Aini keras kepala, cerewet, suka ngatur. Tapi dia juga peduli. Dia liat gue bukan sebagai anak pindahan yang culun, tapi sebagai Azril. Dan dia ... dia bikin gue berani."

Hening.

Tono menatap Azril. Matanya yang tadi rapuh sekarang berubah. Ada sesuatu yang bergerak di sana—antara terkejut, sakit hati, dan sesuatu yang lebih gelap.

"Lo ... lo suka sama dia?"

"Iya."

"Dan lo ngomong ini di depan gue?"

"Karena lo berhak tau. Karena gue gak mau ada lagi rahasia. Karena gue—"

BRAK!

Tinju Tono mendarat di pipi Azril.

Azril terhuyung. Kacamatanya yang sudah retak di sudut kiri kini terlempar ke tanah. Rasa sakit menjalar dari tulang pipi ke seluruh wajahnya. Ia merasakan darah mengalir dari sudut bibirnya. Tapi ia tidak membalas.

Ia ingat semua yang sudah ia lewati bersama teman-temannya. Perkelahian di lapangan. Gudang yang pengap. Tawa di tengah kekalahan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan menjadi seperti dulu. Ia tidak akan membalas kekerasan dengan kekerasan.

"Lo ... lo gak ngelawan?" Suara Tono bergetar. Tangannya masih mengepal, tapi sekarang gemetar.

"Buat apa?" Azril menatapnya. Bibirnya berdarah, tapi suaranya tetap tenang. "Lo marah. Lo kecewa. Gue ngerti. Tapi mukul gue gak akan ngubah apa-apa. Aini tetep gak bakal balik ke lo dengan cara kayak gini. Dan lo ... lo cuma nambah masalah buat diri sendiri."

Tono menatap tinjunya sendiri. Lalu menatap Azril yang berdiri di depannya—pipi memar, bibir berdarah, kacamata di tanah. Tidak membalas. Tidak marah.

"Kenapa lo gak mukul gue balik?" Suaranya hampir seperti bisikan.

"Karena gue dulu juga pernah jadi orang yang gampang mukul orang yang bikin gue kesel. Tapi sekarang gue tau, ada cara lain."

Air mata akhirnya jatuh dari mata Tono. Bukan air mata kemarahan. Tapi air mata seseorang yang tersesat, yang tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya, yang memilih cara yang salah karena tidak pernah diajari cara yang benar.

"Gue ... gue minta maaf," katanya lagi. Kali ini suaranya pecah. "Gue gak seharusnya mukul lo. Gue gak seharusnya ngawasin Aini. Gue cuma ... gue cuma gak tau harus gimana."

Azril memungut kacamatanya. Lensanya sekarang retak di dua tempat—sudut kiri dan sudut kanan. Tapi masih bisa dipakai. Ia memakainya perlahan.

"Lo bisa mulai dengan berhenti ngikutin Aini. Lo bisa mulai dengan fokus sama diri sendiri. Lo bisa mulai dengan ... belajar ngomong langsung. Bukan lewat pesan anonim." Ia menatap Tono. "Lo bisa berubah, Ton. Gue dulu juga bukan siapa-siapa. Tapi sekarang gue punya temen yang nerima gue apa adanya. Lo juga bisa kayak gitu. Tapi lo harus mulai dari diri sendiri."

Tono menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia menatap Azril—benar-benar menatapnya, mungkin untuk pertama kalinya. Bukan sebagai saingan. Bukan sebagai ancaman. Tapi sebagai seseorang yang sama-sama pernah tersesat.

"Lo ... lo beneran gak marah sama gue?"

"Gue capek marah, Ton." Azril tersenyum kecil—senyum yang perih karena bibirnya terluka. "Gue capek. Lo tau rasanya capek?"

Tono tidak menjawab. Tapi tatapannya berubah. Sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang selama ini gelap dan bengkok—perlahan mulai meluruskan diri.

"Makasih," bisiknya. "Buat ... buat gak mukul gue balik."

"Mulai sekarang, lo berhenti ya."

"Gue janji."

Azril mengangguk. Ia berbalik, melangkah pergi. Tapi sebelum ia terlalu jauh, suara Tono memanggilnya.

"Azril."

Ia berhenti.

"Jaga Aini. Lo ... lo pantas dapetin dia."

Azril tidak menoleh. Tapi ia tersenyum. Sakit. Tapi tulus.

...~•~•~•~...

Di seberang jalan, Bima, Faris, dan Elang berdiri di samping motor Bima. Mereka sudah di sana sejak tadi—bersembunyi di balik warung kecil dekat sekolah. Bima yang ngotot ingin ikut, meskipun Azril sudah melarang.

"Gue gak bisa liatin lo sendirian, Zril. Kalo terjadi apa-apa—"

"Apa yang bakal terjadi? Dia cuma remaja kayak kita."

Tapi Bima tetap datang. Begitu juga Faris dan Elang.

Sekarang mereka bertiga melihat semuanya. Tinju yang mendarat di pipi Azril. Kacamata yang terlempar. Darah di sudut bibir. Dan Azril yang tidak membalas.

"Gila. Dia beneran gak ngelawan," bisik Bima.

"Dia udah berubah," Elang berkata pelan.

Faris tidak berkata apa-apa. Tapi di notebook-nya, ia menulis satu kalimat:

[Azril lebih kuat dari kita semua.]

Azril berjalan menghampiri mereka dengan langkah tenang. Bima langsung menyodorkan sebotol air mineral.

"Lo gapapa? Pipi lo—"

"Gapapa. Cuma lecet."

"Kacamata lo—"

"Masih bisa dipake."

Bima menghela napas panjang. "Lo gila, Zril. Tau bakal dipukul, tetep aja ngomong."

"Dia butuh seseorang yang ngomong sama dia. Bukan yang mukul dia balik."

Elang menatap Azril. "Lo ngomong apa sampe dia mukul lo?"

Azril terdiam sejenak. Ia teringat kata-katanya sendiri. Gue juga suka sama Aini.

Ia melirik Elang. Kakak Aini. Mantan anggota geng yang paling protektif pada adiknya. Dan Azril baru saja mengaku di depan orang asing—dan sekarang harus mengaku di depan Elang.

"Gue ... gue ngomong sesuatu ke Tono."

"Apa?"

Azril menarik napas. "Gue bilang ... gue suka sama Aini."

Bima tersedak air minumnya. Faris menghentikan gerakan pensilnya. Elang hanya menatap Azril dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Lo ngomong itu di depan dia? Di depan Tono?" Suara Bima melengking.

"Tadi dia nanya. Gue jawab aja—"

"Terus dia mukul lo?!"

"Dia kecewa. Wajar."

"WAJAR GIMANA, ZRIL?! LO DIPUKUL!"

"Bim, suara lo."

"INI BUKAN SAATNYA NGOMONG 'SUARA LO', LANG! AZRIL BARU AJA—"

"Bima." Azril memotong. Suaranya tenang, tapi tegas. "Gue gapapa. Bibir doang. Nanti juga sembuh."

Bima menghentikan ocehannya. Ia menatap Azril—benar-benar menatapnya. Temannya yang dulu culun, yang dulu gak bisa ngelawan, yang dulu nyimpen inhaler di balik tumpukan buku. Sekarang berdiri di depannya dengan bibir berdarah dan kacamata retak di kedua sisi.

"Lo beneran gak apa-apa?" Suara Bima melunak.

"Gue beneran gak apa-apa."

Elang melangkah maju. Tangannya terangkat, lalu mendarat di bahu Azril. Genggamannya kuat, tapi tidak kasar.

"Lo suka sama adik gue."

Azril menatap Elang. "Iya."

"Lo yakin?"

"Gue yakin."

Elang menatapnya lama. Mungkin mengingat percakapannya dengan Aini di perpustakaan. Mungkin mengingat kata-katanya sendiri: "Azril ... dia baik. Dia lebih kuat dari yang dia kira." Mungkin mengingat bahwa ia sudah memberi restunya—meskipun ia tidak mengatakannya secara langsung.

"Lo bilang tadi lo suka sama dia karena dia liat lo sebagai Azril. Bukan sebagai anak pindahan yang culun." Suara Elang datar, tapi ada sesuatu yang terselip di dalamnya. "Itu alasan yang bagus."

Azril menunggu.

"Tapi kalo lo nyakitin dia—"

"Lo pastiin gue berurusan sama lo. Gue tau." Azril tersenyum kecil.

Elang mengangguk pelan. "Bagus."

Ia melepaskan tangannya dari bahu Azril. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan menuju motor.

Bima menyenggol lengan Azril. "Zril, lo baru aja dapet restu dari Elang. Lo tau gak sih seberapa langka itu?"

Azril tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, ia merasa lega. Satu masalah selesai. Tono sudah berjanji untuk berhenti. Elang sudah tahu tentang perasaannya—dan tidak menentang.

Sekarang tinggal satu hal.

Aini.

...~•~•~•~...

Bel pulang berbunyi.

Koridor mulai ramai oleh siswa yang berhamburan keluar kelas. Tapi di kelas XII IPS 2, suasana sedikit berbeda. Sebagian besar siswa sudah pergi, tapi beberapa masih berkeliaran—Dika sedang membereskan buku di mejanya, dua orang siswi bercakap-cakap di dekat jendela, dan seorang siswa sibuk dengan ponselnya di barisan belakang. Suasana masih cukup ramai untuk disebut normal, tapi cukup sepi untuk mendengar percakapan dari sudut ruangan.

Azril duduk di bangku pojok dekat jendela. Bima di sampingnya, Faris di depan, Elang di belakang. Mereka berempat sedang membicarakan sesuatu yang ringan—Bima yang sedang bercerita tentang seleksi tim sepak bola kota yang akan dimulai minggu depan—ketika suara pintu kelas terbuka.

Aini berdiri di ambang pintu. Map OSIS di tangannya. Wajahnya sedikit tegang, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya—keteguhan yang mencoba menutupi kegugupan.

"Ai?" Elang menoleh, alisnya terangkat. "Ada apa?"

Aini tidak menjawab. Matanya mencari seseorang di ruangan itu. Dan ketika ia menemukannya—Azril, di pojok dekat jendela, dengan kacamata yang kini retak di dua tempat dan bibir yang masih sedikit bengkak—ia berjalan mendekat.

Bima menatap Elang. Elang menatap Bima. Faris menatap notebook-nya. Sebuah pemahaman diam-diam melintas di antara mereka bertiga.

"Wah, udah sore ya. Gue ... gue ada urusan." Bima tiba-tiba berdiri, meraih tasnya dengan gerakan yang terlalu cepat. "Ris, Lang, ikut gue yuk."

Faris langsung mengangguk, menutup notebook-nya. Elang berdiri lebih pelan, menatap adiknya sekilas. Ada percakapan tanpa kata di antara mereka—Aini menatap kakaknya, dan Elang hanya mengangguk kecil. Restu yang sudah diberikan pagi tadi.

Saat melewati Azril, Bima menepuk bahunya pelan dan mengedipkan sebelah matanya—gerakan yang begitu cepat dan canggung hingga Faris hampir tersandung kursi. Elang mengikuti di belakang, menutup pintu kelas dengan pelan.

Dua orang siswi yang masih di dekat jendela melihat pemandangan itu. Dika mendongak dari bukunya. Siswa yang sibuk dengan ponsel akhirnya menoleh.

Tapi Aini tidak peduli.

Ia duduk di kursi Bima—di samping Azril—dan meletakkan map OSIS-nya di atas meja.

"Zril."

"Ai."

"Aku ... aku mau ngomong sesuatu." Suara Aini bergetar sedikit, tapi ia melanjutkan. "Udah lama aku pendem. Sejak pertama kali kamu pindah ke sini."

Azril tidak memotong. Ia hanya menatap Aini, memberi ruang.

"Waktu itu kamu di koridor. Sendiri. Bawa tas yang talinya kayak mau copot. Aku liat kamu, dan aku ... aku ngerasa sesuatu yang aneh. Kamu beda. Kamu diem, kamu suka nyembunyiin diri, kamu kayak ... kayak gak mau diliat siapa-siapa. Tapi aku mau liat. Aku mau tau."

Azril menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang—lebih kencang dari saat ia berdiri di atas panggung lomba pidato.

"Aku terus merhatiin kamu. Dari jauh. Dari dekat. Waktu kamu pertama kali baca teks Bahasa Inggris di kelas, aku denger dari koridor. Waktu kamu main catur, aku sengaja lewat ruang OSIS biar bisa liat kamu dari kaca."

"Ai..."

"Dan waktu kamu bilang 'I have asthma' di atas panggung ... aku nangis. Bukan karena kasihan. Tapi karena aku bangga. Aku bangga sama kamu." Suara Aini mulai bergetar, tapi ia menahan air matanya. "Kamu berubah, Zril. Dari anak pendiem yang sembunyiin inhaler, jadi seseorang yang berdiri di panggung dan ngomong ke seluruh dunia. Dan aku ... aku suka sama kamu. Yang dulu maupun yang sekarang. Aku suka semuanya."

Hening.

Azril bisa merasakan tatapan beberapa siswa yang masih di kelas—Dika, dua siswi di dekat jendela, siswa dengan ponsel. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak peduli.

"Ai." Suaranya keluar lebih serak dari yang ia duga. "Lo ... lo serius?"

"Serius."

Azril menatap Aini. Gadis yang pertama kali menyapanya di koridor. Gadis yang menawarinya lomba pidato. Gadis yang berkata Lo pake inhaler bukan berarti lo lemah. Gadis yang menyukainya semua tentang dirinya. Baik yang dulu maupun yang sekarang.

"Gue..." Azril menarik napas. "Gue juga suka sama lo. Udah lama. Mungkin sejak lo negur gue dan Bima karena telat upacara. Lo berdiri di koridor, tangan di pinggang, muka serius. Gue mikir, 'Ini orang galak banget.' Tapi lo juga ... lo juga liat gue. Bukan sebagai anak pindahan yang culun. Tapi sebagai Azril."

Aini menatapnya. Matanya berkaca-kaca.

"Lo yang bikin gue berani, Ai. Lo yang rekomendasiin gue ke Bu Dina. Lo yang bikin gue percaya bahwa gue lebih dari penyakit gue." Azril tersenyum kecil—senyum yang perih karena bibirnya masih terluka. "Gue gak tau ini namanya apa. Tapi gue tau, tiap kali gue liat lo, gue ngerasa ... tenang. Kayak semuanya bakal baik-baik aja."

Air mata Aini akhirnya jatuh. Tapi kali ini ia tidak menyekanya. Ia membiarkannya mengalir, karena ia tahu itu bukan air mata sedih.

"Zril ... aku ..."

"Satu lagi." Azril menggenggam tangan Aini. "Gue tadi pagi dipukul sama Tono."

"Tono?"

"Anak OSIS dari sekolah lama gue. Dia yang ngirim pesan aneh ke lo. Dia yang ngawasin lo selama ini."

Mata Aini membulat. "Dia—"

"Dia suka sama lo, Ai. Udah lama. Dan dia gak terima lo deket sama gue."

Aini terdiam.

"Tadi pagi gue temuin dia. Gue bilang ... gue juga suka sama lo. Dan dia mukul gue." Azril tersenyum kecut. "Makanya bibir gue kayak gini."

"Zril ... kamu ... kamu bilang ke dia? Soal perasaan kamu? Ke aku?"

"Iya. Gue bilang ke dia sebelum gue bilang ke lo." Azril menatap Aini. "Maaf. Harusnya lo yang pertama tau."

Aini menggeleng. Air matanya masih mengalir, tapi sekarang ia tersenyum. "Kamu ... kamu aneh banget sih."

"Gue tau."

"Kenapa kamu gak ngelawan?"

"Karena gue capek marah, Ai. Gue capek."

Aini menatapnya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia memeluk Azril.

Pelukan itu hangat. Lebih hangat dari yang Azril bayangkan. Ia bisa merasakan jantung Aini berdebar—atau mungkin itu jantungnya sendiri. Tangannya, setelah ragu sejenak, membalas pelukan itu.

"Makasih," bisik Aini di bahunya. "Makasih udah ... udah jadi kamu."

"Makasih udah merhatiin gue," Azril membalas pelan. "Sekali lagi, makasih udah merhatiin gue selama ini."

Di dekat pintu kelas, Bima yang sedari tadi mengintip dari celah jendela bersama Faris dan Elang, hampir berteriak. Faris dengan sigap menutup mulutnya sendiri, sementara Elang hanya menggelengkan kepala dengan sudut bibir terangkat.

Di dalam kelas, Dika menatap pemandangan di depannya. Dua siswi di dekat jendela berbisik-bisik. Siswa dengan ponsel—entah sengaja atau tidak—mengambil foto.

Tapi Azril dan Aini tidak peduli.

Dunia boleh melihat. Dunia boleh tahu.

Karena hari ini, setelah berminggu-minggu menyimpan perasaan masing-masing, mereka akhirnya berani mengatakannya.

...~•~•~•~...

Malamnya, Azril duduk di kamarnya. Ponselnya bergetar puluhan kali—grup "Catur Mithra" meledak dengan pesan dari Bima yang isinya hanya "WOHOOOOO!" berulang-ulang. Bahkan Faris mengirimkan satu gambar: sketsa dua tangan yang saling menggenggam. Elang hanya mengirim satu pesan: "Jaga dia."

Tapi yang paling Azril tunggu adalah pesan dari Aini.

Aini: Makasih buat hari ini.

Azril: Makasih juga. Lo yang berani ngomong duluan.

Aini: Aku deg-degan banget tadi. Tapi aku udah gak mau sembunyi lagi.

Azril: Gue juga. Udah capek sembunyi.

Aini: Zril?

Azril: Ya?

Aini: Aku seneng. Aku seneng banget.

Azril menatap layar ponselnya. Dadanya terasa penuh—bukan karena asma, tapi karena sesuatu yang jauh lebih hangat.

Azril: Gue juga. Gue juga seneng, Ai.

Ia meletakkan ponselnya. Di atas meja belajar, inhaler biru, pion catur, dan kacamata retak di dua tempat berjajar rapi. Tiga benda yang telah menemaninya melewati semua ini. Tiga benda yang menjadi saksi dari perjalanan panjang yang akhirnya sampai di sini.

Pion itu masih di tempatnya. Tapi malam ini, Azril merasa bahwa pion itu sudah mendekati tujuannya.

Ia tersenyum. Mematikan lampu. Dan membiarkan malam membawanya tidur.

Di luar jendela, bintang-bintang bermunculan satu per satu. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, langit benar-benar cerah.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!