NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pertemuan di Bawah Bulan Purnama

Xiao Chen menghitung langkah kaki itu.

Sepuluh orang. Mungkin sebelas. Getaran di tulang punggungnya memberinya gambaran yang semakin jelas seiring mereka mendekat. Delapan langkah ringan—murid luar dengan kultivasi Pemurnian Qi tingkat lima hingga tujuh. Dua langkah sedang—murid inti dengan Fondasi Pendirian tingkat awal. Dan satu langkah berat yang membuat tanah seolah bergetar lebih dalam.

Tetua Ma.

Xiao Chen mengenali getaran itu. Ia sudah merasakannya berkali-kali saat menjadi pelayan—langkah kaki Tetua Ma yang selalu membuat para murid rendahan menyingkir. Dulu, getaran itu membuat lututnya gemetar. Sekarang... getaran itu hanya terasa seperti informasi. Data yang masuk ke tulang punggungnya, diolah, dan menghasilkan satu kesimpulan: musuh terkuat ada di depan, tapi dia tidak tahu apa yang sedang dia hadapi.

"Berapa banyak yang bisa kau kalahkan?" tanyanya pada Yue Que.

"Dengan kekuatanmu saat ini? Murid-murid biasa mungkin bisa kau tangani satu per satu. Tapi yang berfondasi pendirian... kau butuh lebih dari sekadar ayunan pedang."

"Apa saranmu?"

"Jangan hadapi mereka sekaligus. Pecah barisan mereka. Hutan ini adalah rumahmu sekarang—gunakan itu."

Xiao Chen mengangguk. Ia menoleh pada Hui. "Kau siap?"

Serigala hitam itu menggeram pelan, memperlihatkan taringnya yang putih kontras dengan bulu gelapnya. Ekornya bergoyang—bukan karena takut, tapi karena antisipasi.

"Bagus. Kita berburu."

---

Di sisi lain hutan, Tetua Ma memimpin rombongannya dengan hati-hati.

Ia membawa serta dua murid inti kepercayaannya—Zhou Yuan dan Fang Rui, keduanya berada di Alam Fondasi Pendirian tingkat awal. Delapan murid luar melengkapi rombongan, termasuk Luo Feng, Su Yan, dan Pang Wei yang masih gemetar di barisan belakang.

"Tetua," bisik Zhou Yuan, pemuda berwajah dingin dengan pedang ramping di pinggang. "Apakah kita benar-benar perlu membawa sebanyak ini orang hanya untuk satu orang? Kalau memang dia hanya pelayan sampah seperti yang dilaporkan..."

"Pelayan sampah tidak mungkin selamat dari Jurang Naga Pemakaman," potong Tetua Ma. "Pelayan sampah tidak mungkin menebang tiga pohon dengan satu ayunan pedang patah. Kalau kau meremehkan musuh, kau sudah setengah mati sebelum pertarungan dimulai."

Zhou Yuan menutup mulutnya. Fang Rui, murid inti kedua yang membawa sepasang belati di pinggang, hanya mengangguk setuju.

Mereka terus menyusuri Hutan Bisu. Bulan purnama di atas memberikan cukup cahaya untuk melihat sekitar, tapi bayangan pepohonan menciptakan sudut-sudut gelap yang sempurna untuk penyergapan.

Swoosh.

Suara sesuatu yang bergerak cepat di antara semak-semak.

"Berhenti," perintah Tetua Ma.

Semua murid membeku. Tangan mereka bergerak ke senjata masing-masing. Mata mereka menyapu sekitar, mencari sumber suara.

"Pisahkan diri menjadi tiga kelompok," bisik Tetua Ma. "Zhou Yuan, kau bawa tiga murid ke kiri. Fang Rui, tiga murid ke kanan. Sisanya ikut aku di tengah. Kita kepung sumber suara itu."

Mereka bergerak sesuai perintah. Formasi menyebar seperti kipas, menyisir semak-semak tempat suara tadi berasal.

Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.

Hanya sehelai bulu hitam yang tersangkut di ranting. Bulu serigala.

"Jebakan," desis Tetua Ma. "Kembali ke—"

AAAARGH!

Jeritan dari arah kiri. Kelompok Zhou Yuan.

Tetua Ma dan yang lainnya bergegas ke sana. Mereka menemukan Zhou Yuan berdiri dengan pedang terhunus, napas tersengal. Di kakinya, dua murid luar tergeletak—tidak terluka parah, tapi pingsan. Lengan mereka memar, seolah dipukul dengan benda tumpul yang sangat keras.

"Apa yang terjadi?!" bentak Tetua Ma.

"Saya... saya tidak melihatnya dengan jelas," Zhou Yuan tergagap. "Sesuatu menyerang dari atas. Cepat sekali. Sebelum saya bisa bereaksi, dua murid saya sudah jatuh."

Tetua Ma mendongak. Kanopi hutan di atas mereka bergoyang pelan. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.

"Tetua..." Su Yan, yang berada di kelompok Fang Rui, menunjuk ke arah selatan. "Di sana. Saya melihat sesuatu bergerak."

Mereka berbelok ke selatan. Kali ini lebih hati-hati. Formasi lebih rapat.

SWOOSH!

Kali ini dari belakang. Sebuah ayunan pedang—bukan pedang biasa, karena suaranya seperti angin yang disobek—menghantam bahu salah satu murid luar. Murid itu terpelanting, menabrak pohon, dan tidak bangkit lagi.

"SERANG BALIK!" teriak Fang Rui.

Ia melemparkan kedua belatinya ke arah sumber ayunan. Belati itu melesat cepat, berputar di udara, menuju bayangan di balik pohon besar.

TING! TING!

Dua bunyi logam. Belati Fang Rui terpental, jatuh ke tanah. Dan dari balik pohon, sebuah sosok melangkah keluar.

Telanjang dada. Simbol retak keemasan di dadanya berdenyut pelan. Di tangan kanannya, sebilah pedang patah yang memancarkan aura aneh—bukan Qi, tapi sesuatu yang lebih liar, lebih kuno. Di sampingnya, seekor serigala hitam berjalan dengan bulu tengkuk berdiri.

Xiao Chen.

"Ini..." Fang Rui mundur selangkah. "Ini dia? Pelayan sampah itu?"

Tatapan Xiao Chen bertemu dengan tatapan Tetua Ma. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Hutan Bisu seolah menahan napas.

"Xiao Chen," suara Tetua Ma keluar seperti desisan ular. "Jadi kau benar-benar masih hidup."

"Tetua Ma," balas Xiao Chen, suaranya tenang. "Aku sudah menyampaikan pesanku lewat ketiga muridmu. Kuduga kau tidak akan percaya sampai melihat sendiri."

"Pesanmu? Kau pikir kau bisa mengancamku, bocah? Kau hanya sampah yang beruntung selamat dari jurang. Tidak lebih."

"Kau benar. Aku hanya sampah yang beruntung." Xiao Chen mengangkat Yue Que, menunjuk ke arah Tetua Ma. "Tapi sampah ini sudah tidak lagi takut padamu."

Tetua Ma tertawa. Tawa yang dipaksakan. "Zhou Yuan, Fang Rui, tangkap dia. Hidup atau mati, aku tidak peduli."

Kedua murid inti itu saling pandang, lalu bergerak.

Zhou Yuan menyerang dari depan, pedangnya menusuk dengan kecepatan yang jauh di atas murid luar. Fang Rui mengambil posisi samping, belatinya siap dilempar kapan saja.

Xiao Chen menarik napas. Tulang dada dan tulang punggungnya bernapas bersama. Energi Chaos mengalir deras ke seluruh tubuhnya.

"Jangan hadapi dua sekaligus," suara Yue Que di benaknya. "Pecah perhatian mereka."

Xiao Chen melompat.

Bukan melompat tinggi—hanya setinggi dua meter. Tapi cukup untuk menghindari tusukan Zhou Yuan. Di udara, ia berputar, dan Yue Que diayunkan ke bawah.

SWOOSH!

Bukan ke Zhou Yuan. Tapi ke tanah di antara Zhou Yuan dan Fang Rui.

Energi Chaos yang terkumpul di bilah pedang patah itu menghantam tanah, menciptakan ledakan kecil yang menyemburkan debu dan kerikil ke segala arah. Zhou Yuan dan Fang Rui terpaksa menutup mata, mundur selangkah.

Saat itulah Xiao Chen mendarat dan bergerak lagi. Kali ini ke arah Fang Rui.

"DI BELAKANGMU!" teriak Zhou Yuan.

Tapi terlambat. Xiao Chen sudah berada di depan Fang Rui. Yue Que bukan diayunkan—hanya diketukkan ringan ke pelipis pemuda itu. Tapi di balik ketukan ringan itu, ada Energi Chaos yang cukup untuk membuat kepala Fang Rui berdentang seperti lonceng.

Duk.

Fang Rui terhuyung. Matanya berputar ke belakang. Lalu ia jatuh berlutut, lalu tersungkur. Pingsan.

"MAMPUS KAU!" Zhou Yuan menyerang dari belakang, pedangnya mengarah ke punggung Xiao Chen.

Xiao Chen tidak menoleh. Tapi tulang punggungnya sudah "melihat" serangan itu datang. Ia memiringkan tubuh sedikit, dan pedang Zhou Yuan meleset melewati bahunya.

"Balas," kata Yue Que.

Xiao Chen membalikkan tubuhnya, Yue Que diayunkan ke atas.

CRACK!

Gagang pedang patah itu menghantam dagu Zhou Yuan. Pemuda itu terangkat beberapa senti dari tanah sebelum jatuh telentang dengan rahang yang mungkin retak.

Semua terjadi dalam hitungan detik.

Delapan murid luar yang tersisa mundur dengan mata terbelalak. Dua murid inti Fondasi Pendirian—tingkat awal memang, tapi tetap saja Fondasi Pendirian—dikalahkan dalam sekejap.

Tetua Ma tidak bergerak. Wajah tuanya berubah antara marah, takut, dan tidak percaya.

"Akar spiritualmu retak," desisnya. "Kau tidak mungkin bisa melakukan ini. Dari mana kau mendapatkan kekuatan ini?!"

Xiao Chen menatapnya. Yue Que di tangannya bergetar pelan, seolah lapar untuk pertarungan berikutnya.

"Kau yang membuangku ke jurang itu, Tetua Ma. Kau pikir kau mengirimku ke kematian. Tapi yang kau lakukan adalah mengirimku pulang."

"Pulang? Apa maksudmu—"

"Jurang Naga Pemakaman bukan kuburan. Itu adalah tempat peristirahatan Ras Dewa Patah. Dan aku... adalah pewaris mereka."

Wajah Tetua Ma memucat. Legenda yang ia baca di perpustakaan rahasia—tentang Ras Dewa Patah yang dimusnahkan Surga—berputar di kepalanya. Itu bukan dongeng. Itu nyata. Dan sekarang, pewarisnya berdiri di hadapannya, menatapnya dengan mata yang dulu kosong tapi kini berisi api.

"Kau... kau monster," bisik Tetua Ma.

Xiao Chen menggeleng pelan. "Bukan. Aku hanya seseorang yang menolak mati."

Ia mengangkat Yue Que.

"Hari ini, aku tidak akan membunuhmu, Tetua Ma. Aku ingin kau kembali ke sekte dan menceritakan apa yang kau lihat. Katakan pada Zhao Ling'er. Katakan pada Wei Tianxing. Katakan pada semua orang." Matanya menyipit. "Xiao Chen yang dulu sudah mati di dasar jurang. Yang berdiri di hadapanmu sekarang adalah sesuatu yang lain. Dan aku akan datang. Bukan untuk membalas dendam—itu terlalu picik. Aku akan datang untuk menunjukkan pada kalian semua, bahwa 'sampah' yang kalian buang adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan dunia ini dari Surga yang busuk."

Tetua Ma mundur selangkah. Lalu dua langkah. Lalu ia berbalik dan berlari, meninggalkan murid-muridnya yang pingsan dan yang masih sadar tapi terlalu takut untuk bergerak.

Xiao Chen menatap kepergiannya. Hui melolong ke bulan purnama di atas.

"Kau melepaskannya," kata Yue Que. "Kenapa?"

"Karena aku butuh mereka takut. Ketakutan menyebar lebih cepat daripada api. Dan saat aku benar-benar datang nanti, mereka sudah setengah kalah sebelum pertarungan dimulai."

"Kau mulai berpikir seperti Leluhur Pertama."

Xiao Chen tidak tahu apakah itu pujian atau peringatan. Tapi ia tidak peduli.

Ia menoleh ke arah Sekte Langit Pedang yang berkilau di kejauhan.

"Bersiaplah, Sekte Langit Pedang. Aku akan segera pulang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!