Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi itu datang dengan penuh sindiran, langkah Adinda terhenti di ruang makan, pesanan gofood sudah datang wanita itu langsung menyantap tanpa peduli dengan suara-suara lain yang memekikkan telinga.
"Arya, kamu ini gimana jadi suami, punya istri kaya gak punya istri semuanya tentang kamu tidak pernah diurusi," cetus Sintia setengah menyindir.
Arya hanya terdiam tatapannya mulai berpindah ke arah Adinda yang dengan entengnya menyendok makanannya sendiri.
"Ndin," panggil Arya akhirnya.
Dinda menoleh sebentar. "Iya ada apa?"
"Kamu berubah Din, tidak seperti Adinda yang dulu, lagi. Bahkan kamu bisa melewatkan perut semua orang hanya karena kesalahanku," ucapnya pelan.
Adinda menaruh sendoknya pelan lalu mulai menatap dalam-dalam wajah suaminya itu.
"Bukannya aku sudah pernah bilang, mulai sekarang jangan pernah bergantung lagi padaku," tegas Adinda.
"Tapi aku masih suamimu Ndin," sela Arya dengan cepat.
"Bagimu, tapi bagiku tidak," cetus Adinda. "Tugasku sudah selesai Mas, sejak kamu memutuskan menikah lagi, tunggu saja surat cerai dari aku," ungkap Adinda.
Deg!
Arya mematung dadanya bergetar lebih cepat dari yang semestinya. Pria itu memejamkan matanya, entah kenapa beban yang di dalam hidupnya semakin bertambah saat pernikahan keduanya terjadi terlebih lagi istri pertamanya tidak mau menerima dan terus menerus menuntut untuk bercerai.
"Din, hubungan kita bukan satu tahun dua tahu, bahkan kita sudah melewati banyak ujian, apa salahnya kamu ngertiin aku yang ingin mempunyai anak laki-laki, dan kalau kamu ikhlas Axel pun juga bisa jadi anakmu," ucapnya memberanikan diri.
"Apa! Kau mau bawa-bawa aku tentang anak itu," potong Andin segera. "Tidak semudah itu Mas, aku tidak pernah membenci anak kecil, tapi jangan kau peralatan anak itu untuk membuat hatiku luluh, sampai kapan pun aku tidak bisa memaafkan pengkhianatan itu," tandas, Dinda lalu meninggalkan ruang makan yang penuh sesak.
Saat Adinda beranjak tiba-tiba Sintia langsung memberikan sindiran. "Tuh lihat mana mungkin dia bisa hamil sama anak kecil saja tidak suka, Tuhan tuh tahu mana yang dapat dipercaya sama tidak."
Adinda menghentikan langkahnya seketika. "Gak papa... setidaknya Tuhan tahu kalau wanita yang Ibu cap mandul ini yang menopang kehidupan kalian," pungkas Andin tanpa amarah. Ia pun fokus melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Arya dan Sintia yang belum selesai menggerutu.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sore harinya setelah lelah dengan rutinitas kantor yang cukup melelahkan, kali ini Adinda datang ke sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Adinda memilih duduk di sudut, tempat yang cukup tenang untuk menyembunyikan pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja.
Ia menatap kosong ke arah jendela. Jemarinya mengetuk pelan meja tanpa sadar. Pikirannya masih berputar pada banyak hal—rumah, Arya, dan… anak kecil itu.
“Alesia…” Nama itu kembali terlintas.
“Adinda?”
Suara itu membuatnya tersadar.
Ia menoleh.
Seorang wanita dengan penampilan rapi berdiri tak jauh darinya. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tegas, dengan aura profesional yang kuat.
“Naya,” ucap Adinda pelan.
Naya tersenyum tipis lalu duduk di hadapannya. “Maaf nunggu lama. Tadi ada klien yang agak alot.”
Adinda menggeleng. “Gak apa-apa. Aku juga baru sampai.”
Beberapa detik berlalu dengan canggung. Wajar. Hubungan mereka memang belum cukup lama untuk benar-benar tanpa jarak.
“Tumben ngajak ketemu di luar jam kerja,” ucap Naya sambil membuka tasnya.
Adinda tersenyum tipis. “Iya… ada yang pengin aku omongin.”
Naya mengangguk. Tatapannya langsung berubah fokus, seperti saat menghadapi klien.
“Kedengarannya serius.”
Adinda menarik napas dalam. “Arya nikah lagi.”
Seketika Naya terdiam. “Maaf… apa?” tanyanya, memastikan.
“Iya,” jawab Adinda tenang. “Diam-diam. Sama perempuan sekantor.”
Naya menghela napas pelan. Tangannya terlipat di atas meja. “Dan kamu baru tahu sekarang?”
Adinda mengangguk. “Dia juga sudah punya anak dari perempuan itu.”
Wajah Naya berubah serius. Bukan sekadar simpati, tapi seperti sedang menilai sesuatu.
“Secara hukum, kamu tahu ini bisa jadi masalah besar, kan?” ucapnya akhirnya.
Adinda tersenyum kecil. “Aku gak datang ke sini buat nuntut apa-apa, Nay.”
“Lalu?”
“Aku cuma… lagi bingung sama diriku sendiri.”
Kalimat itu membuat Naya mengernyit. “Maksudnya?”
Adinda terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Aku mimpi aneh.”
Naya tidak langsung memotong. Ia membiarkan Adinda bicara.
“Aku ada di ruang operasi… ada suara alat medis… orang-orang panik…” napasnya sedikit tertahan, “dan aku dengar… tangisan bayi.”
Naya masih diam, perempuan itu terlihat sangat serius meniti satu persatu kata dari lawan bicaranya itu.
“Mereka bilang… ‘selamatkan ibunya atau bayinya.’”
Beberapa detik suasana hening hingga pada akhirnya Naya menyandarkan tubuhnya, berpikir. “Mungkin itu efek stres.”
“Mungkin,” jawab Adinda cepat.
Tapi kemudian ia menambahkan. “Tapi aku juga ketemu anak kecil.”
Naya menatapnya lagi dengan seksama, entah kenapa dari cara Adinda bercerita ada sesuatu yang menarik untuk ia selidiki, meskipun ia masih belum sepenuhnya percaya.
“Dia nangis, terus lihat aku… dan langsung manggil aku…” suara Adinda melemah, “Mama.”
Alis Naya sedikit terangkat. “Anak kecil kadang memang begitu,” ucapnya netral. “Salah mengenali.”
“Iya…” Adinda mengangguk.
Namun tangannya perlahan masuk ke dalam tas, ia mengeluarkan, sesuatu berupa gelang kecil ukuran bayi, lalu dia meletakkannya diatas meja.
“Aku nemu ini di gudang samping kamarku.”
Naya menatap benda itu. Kali ini ekspresinya bukan kaget… tapi lebih ke heran. “Kamu yakin itu punya kamu?”
“Masalahnya…” suara Adinda pelan, “aku gak tahu.”
Naya mengambil posisi lebih serius. Tangannya menyentuh meja, matanya fokus ke Adinda.
“Dengar,” ucapnya tenang, “aku gak tahu ini kebetulan atau bukan. Tapi kalau kamu mulai merasa ada sesuatu yang janggal…”
Ia berhenti sejenak. “Kita bisa cari tahu.”
Adinda mengangkat wajahnya.
“Cari tahu?”
Naya mengangguk. “Aku kerja di bidang hukum, Din. Aku biasa urus data, dokumen, riwayat orang. Kalau memang ada sesuatu di masa lalu kamu yang gak jelas…”
Tatapannya tajam, profesional. “Itu bisa ditelusuri.”
Deg.
Untuk pertama kalinya, Adinda merasa ada arah, yang menghubungkan kejanggalannya ini. Bukan sekadar perasaan tapi kemungkinan nyata, Adinda menatap gelang itu sangat dalam, seolah pernah membelinya tapi di mana ia tidak mengingat sedikit pun bayangan itu.
Setelah memejamkan matanya sejenak kemudian wanita itu kembali ke arah Naya.
“Aku gak tahu harus mulai dari mana.”
Naya tersenyum tipis. “Mulai dari hal paling sederhana.”
“Seperti?”
“Rumah sakit. Data medis. Riwayat perawatan.” jawabnya singkat.
Adinda terdiam seketika pikirannya langsung melayang ke mimpi itu. “Aku takut,” bisiknya pelan.
Naya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Adinda dengan tenang. “Takut itu wajar,” ucapnya akhirnya. “Tapi gak tahu kebenaran… kadang lebih menakutkan.
Adinda menatap wajah Naya seolah membutuhkan dorongan untuk menguak kasus ini dan beberapa detik kemudian akhirnya ia mengangguk.
“Kalau aku minta bantuan kamu…”
Naya langsung menyela, “Aku bantu.”
Tanpa ragu dan banyak tanya perempuan di hadapannya itu langsung menyanggupi seolah ingin membantu Adinda sepenuhnya.
Dan di saat semuanya rumit satu persatu jalan mulai terbuka sedikit demi sedikit.
Bersambung .....