Karena di sukai oleh kakak ipar nya membuat Aulia hidup dalam kegelisahan.
Aulia yang masih berstatus anak kuliahan bingung dengan kehidupan nya saat ini,dia ingin pergi dari rumah kakak nya tapi dia tak memiliki tempat tinggal bahkan uang sepeser pun selama ini kakak ipar nya lah yang membiayai hidup Aulia hingga membuat kakak ipar nya semena-mena pada diri nya.
Aulia memutuskan untuk mengajak Rendy sang kekasih menikah tapi saat mendatangi apartemen kekasih nya ini justru dia melihat perselingkuhan Rendy dengan teman kampusnya sendiri membuat Aulia kecewa berat.
Bagaimana kisah hidup Aulia selanjutnya akan kah dia bisa lari dari kejaran kakak ipar brengseknya itu atau dia justru menjadi madu untuk kakak kandungnya sendiri?
Yuuk baca kisah nya hanya di Nt🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaro zian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
Langkah kakinya tegap dan berirama, memancarkan aura kepemimpinan yang kuat. Di samping kirinya, sang sekretaris terus berjalan sambil menjelaskan sesuatu dengan nada hormat, sesekali mencatat hal penting di tangannya.Arlan mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk lalu melontarkan pertanyaan singkat, menjaga sikapnya tetap dingin, tegas, dan sangat berwibawa di hadapan stafnya.
Arlan sempat menangkap bayangan sosok perempuan yang akhir-akhir ini masuk dalam pikiran nya sedang berdiri di depan meja resepsionis sembari memegang pergelangan tangan nya.
"Pasti sakit banget ya Lia,mau aku panggil tukang urut" tawar Vina dan di jawab gelengan oleh Aulia.
"Apa yang terjadi pada nya" batin Arlan memperhatikan Aulia,Serly melirik ke arah pandangan sang atasan.
"Siapa perempuan itu hingga pak Arlan lama sekali memperhatikan nya" ujar Serly membatin.
"Pak, untuk proyek kerja sama dengan Pt.Arpali sudah saya kirim kan email nya tapi bapak belum membuka nya" ucap Serly membuat fokus Arlan pada Aulia buyar.
"Nanti saya akan coba cek" jawab Arlan
"Pak maaf ada sesuatu yang menempel di jas bapak" ujar Sherly pelan dengan nada lembut. namun matanya berkilat jenaka.
Tanpa menunggu izin, ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal. Tangannya yang lentik terulur, perlahan menyapu bahu jas mahal itu seolah sedang membersihkan debu atau benang halus, padahal tak ada apa-apa di sana.
"Di mana?" tanya Arya sedikit bingung, namun tak menolak.
"Di sini pak, seperti nya sisa makanan tadi"jawabnya sambil tangannya terus bergerak pelan, sengaja membiarkan telapak tangannya menyentuh dada bidang lelaki itu sesaat.
Setelah puas membersihkan jas, tangannya tidak turun, Sherly justru mengangkat tangan, merapikan kerah kemeja yang sudah rapi, lalu turun ke dasi yang sebenarnya sudah pas. Jari-jarinya bermain lembut menyusuri kain dasi, menariknya sedikit agar posisinya sempurna, sekaligus membuat wajah mereka semakin dekat.
"Sudah selesai,bapak terlihat lebih tampan" puji Sherly mencoba memberanikan diri,dia tak ingin bersaing dengan siapapun juga dia ingin Arlan hanya melirik ke padanya.
Aulia yang sedang berdiri matanya memandang ke arah mereka. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena melihat ketampanannya, tapi karena melihat kedekatan Arlan dan sekretaris nya yang begitu Akrab,melihat lelaki itu begitu fokus dengan sekretaris nya membuat perasaan aneh menyelinap di dadanya,rasa itu mengganjal, dingin, dan sedikit menyakitkan. Bibirnya mengerucut pelan, tatapannya menjadi tajam penuh tanda tanya.
"Apa-apaan aku ini,kenapa malah jadi memperhatikan mereka" batin Aulia.
Tiba-tiba, Arlan menoleh dan pandangan mereka bersitatap. Waktu seolah berhenti sejenak. Kedua mata itu bertemu, menyadarkan mereka akan perasaan yang tersimpan. Namun, suasana langsung berubah canggung Aulia buru-buru membuang muka, memalingkan wajah ke arah lain seolah sedang memperhatikan sesuatu yang jauh lebih penting, dadanya berdebar kencang karena kedapatan sedang mengamati.
"Vin,aku ke toilet dulu" pamit Aulia dan diangguki Vina.
*****
Pintu depan terbuka dengan kasar, bunyi gedebuk keras bergema memecah keheningan rumah, Arya melangkah masuk dengan napas memburu, wajahnya memerah padam, sorot matanya menyala liar seolah menantang siapa saja yang berani menatap.
Tas kerja dilempar sembarangan ke sofa,Arya berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan perasaan kesal karena tak berhasil membawa Aulia pulang,menarik dasi dengan kasar hingga kancing kemejanya hampir lepas, seolah udara di rumah ini sendiri terasa menyesakkan baginya.
"Kenapa rumah ini sepi sekali?! Apa tidak ada orang di sini?!" bentaknya tanpa arah, suaranya menggelegar membuat dinding seolah ikut bergetar.
*Ada apa, Mas? Kenapa marah begitu?"tanya Erika yang baru keluar dari kamar Marsha.
"Jangan tanya apa-apa! Urus saja pekerjaanmu! Semuanya menyebalkan!"bentak Arya membuat Erika terkejut, apalagi yang membuat sag suami nya ini pulang dalam keadaan marah-marah.
Arya menendang meja kecil di sampingnya hingga bergeser, lalu duduk dengan membanting tubuh, menggerutu dan mengumpat pelan dengan kata-kata yang tak jelas, meluapkan emosi yang seolah tak punya ujung dan tak tahu sebabnya.
"Mas jika punya masalah cerita siapa tau aku bisa bantu kamu mas" ujar Erika hati-hati.
"Bantu! Kamu bisa bantu aku! Bantu apa?"bentak Arya lagi.
"Mas tenang dulu ada Marsha di kamar jika dia lihat kamu marah-marah begini justru dia akan takut pada mu mas" ingat Erika membuat Arya menarik nafas nya dalam lalu membuang nya.
"Kamu hubungi Aulia minta dia pulang"
"Aulia" gumam Erika tak mengerti.
"Kamu transfer Aulia uang minta dia berhenti dari pekerjaan nya"ujar Arya
"Tapi kenapa mas? Aku bisa minta Aulia pulang tapi kenapa harus berhenti dari pekerjaan nya?" tanya Erika semakin tak mengerti.
"Aulia bekerja di hotel,dia menjadi perempuan liar di luar sana" fitnah Arya membuat Erika menutup mulut nya tak percaya.
"Kamu bujuk dia pulang,aku yang akan membiayai semua kebutuhan nya nggak perlu bekerja" lanjut Arya, lelaki ini segera mengambil ponselnya lalu mentransfer sejumlah uang pada sang istri.
"Aku sudah transfer bonus ku pada mu,kamu transfer sebagian pada Aulia aku tidak ingin dia kenapa-kenapa di luar sana, bagaimana pun juga aku kakak ipar nya tidak ingin dia di cap perempuan murahan,cukup kuliah dan tenang di rumah" ucap Arya dan diangguki Erika patuh.