''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Malam semakin larut, namun cahaya dari layar monitor masih memantul di wajahku yang pucat. Suara detak jam dinding di ruang kerja terasa seperti palu yang menghantam kesunyian. Aku melirik tumpukan berkas yang berserakan, lalu beralih pada catatan kecil Farez di sudut dokumen tadi sore.
Tiba-tiba, rasa nyeri yang tajam menusuk ulu hatiku. Aku meringkuk, memegang perutku yang terasa kosong dan melilit. Aku baru sadar, sejak nasi goreng Ibu pagi tadi, tidak ada satu suap pun makanan yang masuk ke mulutku. Pekerjaan dan dendam ternyata adalah kombinasi yang paling ampuh untuk membunuh rasa lapar, tapi sekarang tubuhku mulai menagih haknya.
"Sial," umpatku lirih, mencoba mencari sesuatu di laci meja.
Hanya ada satu bungkus biskuit gandum yang sudah terbuka lama. Aku mengambilnya, namun nafsu makanku benar-benar hilang. Rasa perih di perutku kalah jauh dengan rasa sesak yang kembali naik ke tenggorokan saat aku mengingat kembali tatapan Ayah di ruang rapat kemarin.
Aku menyandarkan kepala di sandaran kursi, memejamkan mata sejenak. Di tengah kegelapan itu, bayangan Farez yang menyanyi di pinggir jalan kembali muncul. Kenapa di saat aku mencoba menjadi iblis, dia justru bersikeras menjadi malaikat penjagaku? Kenapa dia harus menawarkan diri untuk memegang ujung benang yang beracun ini?
Aku menghela napas panjang, mencoba berdiri meski kepalaku sedikit berputar karena kurang nutrisi. Aku harus pulang. Besok adalah hari besar. Besok adalah hari di mana aku akan berdiri di hadapan Pak Wira bukan sebagai anak yang meratapi kehilangan, tapi sebagai konsultan yang memegang nasib perusahaannya.
Aku meraih tas dan mematikan lampu ruangan. Mataku tertuju pada tumpukan berkas Wira Pratama. Di sana ada memo kecil dari Bagaskara yang ditinggalkan Maya tadi siang: "Ibu Rana, kami sangat menghargai standar ketat yang Anda berikan. Sampai bertemu di survei besok pagi."
Kalimat itu terasa seperti beban. Bagaskara benar-benar tidak tahu apa yang sedang ia hadapi.
Langkahku bergema di koridor kantor yang sudah sepi. Saat mencapai lobi bawah, udara dingin sisa hujan menyambutku. Aku berjalan menuju parkiran dengan langkah gontai, namun gerakanku terhenti saat melihat sebuah mobil hitam yang sangat kukenal masih terparkir di sana, tepat di samping mobil putihku.
Lampu depan mobil itu menyala singkat, memberikan kode.
Farez keluar dari sana, membawa sebuah kantong plastik putih yang masih mengeluarkan uap hangat. Dia tidak berkata apa-apa, hanya berjalan mendekat dan menyodorkan kantong itu tepat di depan dadaku.
"Bubur ayam dari depan komplek rumahmu. Masih hangat," ucapnya singkat, suaranya terdengar serak karena kelelahan yang sama.
Aku menatap kantong itu, lalu menatap wajahnya. "Kamu nungguin aku selarut ini cuma buat nganterin bubur, Rez?"
"Aku nungguin kamu karena aku tahu kamu nggak akan makan kalau nggak dipaksa," balasnya, matanya menatapku dengan tegas namun penuh kasih. "Makan di dalam mobilmu sekarang, atau aku yang akan menyuapimu di sini?"
Aku tertegun, menatap uap yang merembes dari plastik itu. Rasa lapar yang tadinya kutahan kini mendadak menyerang dengan hebat, berbarengan dengan rasa haru yang mencoba meruntuhkan tembok dingin yang kupasang sepanjang hari.
"Terima kasih," bisikku lirih, akhirnya menerima kantong itu.
Farez tidak langsung pergi. Dia menyandarkan punggungnya di pintu mobilku, menungguku masuk ke kursi kemudi. "Besok pagi, aku akan menjemputmu jam delapan. Jangan membantah. Kamu butuh energi penuh untuk menghadapi Pak Wira, dan aku nggak mau kamu pingsan di tengah-tengah survei hanya karena telat sarapan."
Aku terdiam di balik kemudi, memegang kantong bubur yang hangat. Di luar sana, Farez masih berdiri menjagaku, memastikan aku benar-benar aman sebelum ia menyalakan mesin mobilnya sendiri.
Malam itu, di dalam kesunyian parkiran, aku menyadari satu hal. Meskipun besok aku akan menghadapi "pencuri" yang merampas kebahagiaan masa kecilku, setidaknya malam ini aku tahu bahwa ada seseorang yang tidak akan membiarkan aku menghadapi badai itu sendirian.
Mobil putihku membelah jalanan komplek yang sudah sunyi. Begitu memarkirkan kendaraan, aku tidak langsung turun. Aku menatap kantong bubur di kursi penumpang yang kini hanya tinggal wadah kosong. Farez benar, aku butuh energi itu. Rasa perih di lambungku sedikit mereda, meski perih di hatiku masih belum menemukan obatnya.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan gerakan pelan, berharap Ibu sudah tidur sehingga aku tidak perlu berakting lagi. Namun, cahaya lampu dari ruang kerja di samping butik masih menerobos keluar.
Aku berjalan mendekat. Di sana, Ibu masih duduk di depan meja jahitnya. Bukan sedang menjahit, tapi beliau sedang memandangi sebuah pola baju baru di bawah lampu meja yang temaram. Begitu mendengar langkah kakiku, Ibu menoleh. Wajahnya yang tenang seketika dihiasi senyum tulus yang selalu mampu meluruhkan seluruh rasa lelahku.
"Baru pulang, Sayang?" tanya Ibu lembut. Beliau berdiri, menghampiriku dan mengusap pipiku dengan tangannya yang hangat.
"Iya, Bu. Tadi ada laporan yang harus diselesaikan dulu," jawabku sambil memeluknya sebentar.
Melihat senyum Ibu, dadaku terasa sesak oleh keharuan. Ibu adalah alasan kenapa aku rela menjadi wanita berhati es di kantor. Senyumnya adalah bukti bahwa kami berhasil berdiri di atas kaki kami sendiri. Ibu tidak perlu tahu bahwa di luar sana, aku sedang bertaruh dengan rasa sakit untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Wajahmu pucat sekali. Kamu sudah makan?"
"Tadi... sudah, Bu. Farez membelikan bubur," aku menjawab jujur, karena aku tahu Ibu akan langsung mengenali jika aku berbohong soal ini.
Mendengar nama Farez, binar mata Ibu sedikit berubah. Ada rasa syukur yang tidak terucap di sana. "Syukurlah. Farez anak yang baik. Dia selalu tahu kapan kamu sedang memaksakan diri."
Ibu menuntun aku untuk duduk di sofa ruang tengah. Beliau mengusap tanganku, telapak tangannya yang sedikit kasar karena ribuan tusukan jarum selama bertahun-tahun adalah pengingat bagiku tentang pengorbanan yang nyata.
"Rana, apa pun yang sedang kamu perjuangkan di luar sana, jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri," bisik Ibu, seolah bisa membaca kegelapan yang sedang kususun untuk Pak Wira. "Ibu sudah bahagia dengan butik ini. Ibu sudah cukup dengan melihatmu sukses. Jangan memikul dendam Ibu, Nak. Ibu sudah membuangnya jauh-jauh."
Aku hanya tersenyum tipis, menyandarkan kepalaku di bahu Ibu. Aku ingin mengangguk, tapi hatiku menolak. Aku tidak bisa membuang dendam itu semudah Ibu.
Malam itu, sebelum memejamkan mata, aku menatap langit-langit kamar dengan tekad yang semakin bulat. Senyum tenang Ibu malam ini adalah sumber kekuatanku. Jika Pak Wira pikir dia bisa hidup tenang setelah mencuri separuh hidup Ibu, dia salah besar.
Besok jam delapan, Farez akan menjemputku. Dan besok juga, aku akan berdiri di depan Pak Wira dengan satu tujuan pasti: membuat dia menyadari bahwa masa lalu yang dia buang, kini kembali untuk menuntut keadilan.