NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Perjanjian

“Eh, Sean. Menurutmu buat apa Tuan Wiyoto mengirim mata-mata untuk mengawasi kita nanti di Malang?” Christaly berbisik serendah mungkin persis di telinga Sean. “Aku jadi takut, deh. Jangan-jangan Tuan Wiyoto punya niatan buruk sama kita.”

“Hus! Jangan asal ngomong kamu,” sembur Sean. “Nggak mungkinlah Tuan Wiyoto punya maksud buruk ke kita, dia ngelakuin itu pasti cuma buat mastiin keselamatan kita. Udah, deh. Jangan mikir yang nggak-nggak.”

“Tapi, Sean ....”

“Cukup, Christaly! Nanti kamu paranoid sendiri kalau terus berpikkiran negatif,” potong Sean sambil mengeluarkan sebuah buku dari ransel yang dibawanya. “Ambil ini. Kamu baca sampai habis bagian yang aku lipat biar kamu paham.”

Christaly  mengambil buku yang diberikan Sean dengan agak bingung. “Buku apaan sih ini?”

“Udah,nggak usah banyak tanya. Kamu baca aja halaman yang aku lipat sampai habis. Nanti kamu juga ngerti,” sahut Sean tak mau menjelaskan apa pun.

“Huh! Padahalkan lebih gampang kalau kamu jelasin juga. Jadi aku nggak perlu repot-repot baca catatan yang tulisannya persis cakar ayam. Bikin sakit kepala, tahu!” kata Christaly yang seketika protes saat dia membuku buku catatan yang diberikan Sean kepada dirinya.

“Nggak usah banyak protes!” sergah Sean.“Baca aja sampai habis, kalau ada yang masih kurang paham baru tanya.”

“Iya, deh, iya. Aku baca dulu.”

Sambil cemberut Christaly mulai menekuni buku catatan itu. Meskipun agak sedikit kesulitan membaca tulisan Sean yang seperti cakar ayam, tapi, Christaly masih bisa membacanya pelan-pelan. Ternyata itu adalah catatan lengkap terkait data-data dari klien mereka, Tuan Wiyoko.

Saat Christaly tahu latar belakang dari kliennya itu, dia pun tanpa sadar ternganga. Tuan Wiyoko merupakan seorang miliuner yang sangat kaya raya. Dia memiliki banyak sekali perusahaan besar yang tidak hanya berada di Jakarta, melainkan di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Salah satu perusahaannya yang paling terkenal adalah perusahaannya yang bergerak di bidang transportasi sebagai penyedia layanan taksi. Tidak hanya itu, Tuan Wiyoko juga memiliki banyak perkebunan. Mulai dari perkebunan teh di Bogor, perkebunan kopi di Sukabumi, sampai perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.

Satu hal yang wajar kenapa pria itu bersedia membayar mahal Sean dengan harga setinggi langit, karena memang baginya uang sama sekali bukan masalah yang perlu dikhawatirkan.

Christaly menelan ludah. Fakta-fakta yang baru diketahuinya terkait Tuan Wiyoko itu membuat dia bersemangat sekaligus cemas.

Bersemangat karena dia akan mendapatkan imbalan besar, cemas karena dalam catatannya itu Sean juga menuliskan jika Tuan Wiyoko adalah orang yang sama sekali tidak mentoleransi kegagalan. Yang artinya, pria itu akan menghukum mereka berdua apabila mereka gagal dalam tugas yang diberikan.

Bulu tengkuk Christaly meremang seketika saat dia membaca catatan yang dilingkari yang mengatakan kalau Tuan Wiyoko akan meminta uangnya dikembalikan dua kali lipat kalau sampai mereka gagal. Dan itu semua sudah tercantum dalam perjanjian hitam di atas putih yang sudah Sean tanda tangani.

“Demi Tuhan, Sean. Bagian yang kamu lingkari ini nggak bener, kan?” gumam Christaly dengan suara yang parau dan bergetar menahan kengerian.

“Memangnya penting, ya, kamu harus tahu?” sahut Sean dengan acuh tidak acuh.

“Gila kamu, ya jelas pentinglah! Kalau begini namanya kamu jebak aku,” sembur Christaly. “Tunggu dulu, jangan bilang kalau kamu sejak awal  memang sengaja mau jebak aku. Makanya kamu nggak kasih tahu aku soal perjanjian itu.”

Sean menguap lalu meregangkan lehernya dengan malas. “Kalau aku kasih tahu kamu kebenaran yang ada dari pertama, aku yakin kamu bakalan lebih memilih untuk jadi seorang penjahat atau pembunuh, daripada bekerja denganku,” ujar Sean dengan entengnya. “Seharusnya kamu itu berterima kasih padaku, Chirstaly. Karena aku sudah menyelamatkan dirimu dari melakukan tindakan bodoh yang bisa mengancam jiwamu.”

Christaly mengertakkan gigi. Kemarahan di dadanya meletup-letup sampai ke ubun-ubun. Kalau ada cermin, pasti saat ini Christaly akan melihat pantulan dirinya dengan wajah yang merah padam karena marah. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan Sean yang seolah menganggap dirinya tidak penting.

Sehingga dia bisa dengan seenak hati mengambil keputusan secara sepihak tanpa berdiskusi dulu dengan Chirstaly dan menanyakan pendapatnya. Di atas segalanya, yang paling mencemaskan adalah rasa percaya diri Sean yang terlalu berlebihan.

Pria itu bertindak sangat santai seolah-olah yang mereka lakukan hanya sebuah permainan belaka. Bukan sesuatu yang serius, melainkan hanya sekadar untuk bersenang-senang. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu.

“Udah, deh. Nggak perlu marah-marah begitu. Nggak ada gunanya. Mendingan kamu nikmati saja semuanya, biarkan yang harus terjadi, terjadi. Nggak usah diambil pusing, oke?”

Christaly melemparkan buku yang sudah selesai dibacanya ke pangkuan Sean dengan cukup keras. “Keparat!” umpat Christaly. “Bisa-bisanya kamu suruh aku santai di situasi seperti sekarang ini. Apa kamu nggak mikir, gimana kalau kita ga— ”

“Tenang aja, itu nggak akan terjadi,” potong Sean cepat-cepat sebelum Christaly mengatakan hal yang tidak seharusnya. “Aku yang menjamin kalau kamu nggak akan sampai hamil. Sudah, serahkan saja semuanya sama aku. Biar aku yang mengurus. Kamu cuma perlu pikirin bagaimana caranya agar bisa memuaskan pria-pria yang akan jadi tamumu nanti.”

“Uh! Itu bukan hal yang sulit buat aku. Tapi, pertama-tama, sebelum aku melayani tamu mana pun, kamu harus bercinta denganku begitu kita sampai di Malang nanti. Pokoknya aku nggak mau tahu. Titik,” balas Christaly dengan sarkasme yang kasar sekali. Dia menatap Sean dengan tatapan kecewa berat dan menantang.

Sean tertawa kecil. Dia mengedipkan sebelah matanya dengan genit, menggoda Christaly dengan sangat menyebalkan. “Tanpa kamu minta pun, aku akan meminta jatahku. Karena itu bayaran yang harus kamu berikan padaku.”

Ingin sekali rasanya Christaly menampar mulut Sean yang menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Dia pasti akan melakukannya kalau saja mereka berada di tempat yang sepi.

Sambil mengepalkan tinjunya Christaly menyahut, “Aku benar-benar nggak sabar ingin segera bercinta denganmu di atas ranjang. Aku ingin tahu seberapa kuat dan perkasanya pria menyebalkan seperti dirimu.”

“Oh, kalau soal itu aku jamin kamu pasti nggak bakalan menyesal. Sebaliknya, kamu pasti akan ketagihan dan ingin bercinta lagi denganku,” sahut Sean sambil menggerak-gerakan alisnya naik turun dan menyisir rambut dengan jari jemari tanganya.

“Kita lihat saja nanti siapa yang akan merengek seperti bayi minta bercinta lagi. Aku atau kamu.” Christaly mendengus.

Pada saat dia membuka mulutnya untuk kembali melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba saja pria yang duduk di seberang kursinya bangkit berdiri. Sopir yang mengantar asisten pribadi Tuan Wiyoko yang sedang menyamar itu menghampiri Christaly.

Sontak dengan refleks Christaly menutup mulutnya lalu menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya itu.

“Boleh saya pinjam ponsel genggamnya sebentar? Saya harus menelepon istri saya tapi saya kehabisan batrei.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!