Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelah
“Sebentar.”
Salah satu kru yang memegang monitor mengerutkan dahi.
Ia menatap hasil take terakhir beberapa detik lebih lama.
Lalu tanpa sadar bergumam pelan.
“Yang di sebelah sana sebenarnya lebih cantik…”
Aku yang masih berdiri di sudut langsung menegang.
Hah?
Belum sempat siapa pun menanggapi, sutradara yang berdiri di sampingnya langsung menggeleng.
“Bukan itu fokusnya.”
Ia melipat tangan sambil menatap layar hologram.
“Pemeran utama di sini bukan manusianya.”
Telunjuknya menunjuk botol parfum kristal yang berputar di tengah frame.
“Produknya.”
Semua kru langsung mengangguk paham.
Benar juga.
Iklan ini bukan drama.
Bukan poster artis.
Yang dijual adalah kemewahan parfum itu sendiri.
Botol kaca transparan dengan ukiran perak dan partikel cahaya yang berkilauan di sekelilingnya.
Sutradara melanjutkan, nadanya seperti sedang menjelaskan teori yang sudah dipikirkannya sejak lama.
“Kalau modelnya terlalu cantik, mata penonton akan tertarik ke wajahnya.”
“Bukan ke produk.”
Ia menghela napas.
“Itulah kenapa sulit mencari pemeran yang pas.”
Aku sedikit memiringkan kepala.
Sulit?
Sutradara menatap model utama yang sedang berdiri di dekat air mancur.
“Parfumnya sudah cukup mewah.”
“Jadi orang yang membawanya tidak boleh mengalahkan kemewahan itu.”
“Harus cantik, tapi tidak sampai membanting fokus produk.”
Salah satu kru langsung menimpali.
“Makanya kemarin kita ganti tiga model, ya?”
Sutradara mengangguk.
“Yang terlalu cantik justru gagal.”
“Penonton jadi fokus ke wajah.”
“Yang terlalu biasa tidak bisa membawa aura mewah.”
Aku diam-diam mendengarkan.
Jadi ternyata dunia periklanan serumit ini.
Bahkan kecantikan pun harus dihitung tingkatannya.
Sampai aku hampir ingin tertawa pahit.
Di dunia ini, bahkan cantik pun bisa menjadi masalah.
Luna yang mendengar itu langsung tersenyum tipis.
Seolah lega.
Karena artinya bukan dirinya yang kurang.
Melainkan memang konsep iklannya seperti itu.
Namun tatapannya kembali melirik ke arahku.
Ada sedikit rasa tidak suka di sana.
Mungkin karena kru tadi sempat menyebut aku lebih menarik.
Meski hanya sekilas.
Sutradara kembali memberi instruksi.
“Yang di pojok tetap di sana.”
Tatapannya sekilas jatuh padaku.
“Wajahmu terlalu hidup untuk frame ini.”
Aku terdiam.
Itu pujian atau sindiran?
Sulit ditebak.
Namun sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, Luna sudah tertawa kecil.
“Tuh kan.”
Nada suaranya lembut.
“Memang lebih cocok di pojok.”
Dadaku sedikit panas.
Tetap saja…
aku memilih diam.
Karena aku tahu.
Diam ku hari ini bukan berarti aku akan selalu berada di bawah.
...****************...
Sutradara masih menatap monitor beberapa detik lebih lama.
Tatapannya lalu beralih ke arahku yang berdiri di ujung frame.
Ia sedikit mengernyit.
“Kalau dilihat dari visual…”
Ia bergumam pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Wajah yang itu sebenarnya cocok.”
Salah satu kru langsung menoleh.
“Yang di pojok, Pak?”
Ia mengangguk.
“Cocok dengan konsep parfumnya.”
“Wajahnya lembut, tapi ekspresinya hidup.”
“Kalau dibuat close-up, aura wanginya bisa terasa.”
Jantungku langsung berdegup.
Aku?
Cocok?
Untuk pertama kalinya sejak lama ada seseorang di industri ini yang melihatku bukan sebagai figuran semata.
Namun kalimat berikutnya membuatku kembali tersadar.
“Tapi sudah terlambat.”
Sutradara menghela napas sambil melihat daftar shooting di terminalnya.
“Talent utama sudah dikunci kontrak.”
“Shot list juga sudah dikirim ke pihak brand.”
Ia menggeleng.
“Kita tidak bisa mengubah pemeran seenaknya.”
Benar.
Ini bukan latihan kelas.
Ini proyek profesional.
Ada jadwal.
Ada pembayaran.
Ada persetujuan dari sponsor.
Tidak mungkin seseorang yang bahkan namanya tidak ada di call sheet utama tiba-tiba maju menggantikan model utama.
Apalagi di depan semua orang.
Bisa kacau.
Model utama pasti tersinggung.
Luna juga pasti marah.
Dan lebih buruknya lagi—
aku akan menjadi bahan kebencian seluruh agensi.
Sutradara melirikku lagi, kali ini dengan ekspresi yang sedikit lebih lembut.
“Kalau ada proyek lain nanti…”
kalimatnya menggantung.
Ia tidak melanjutkan.
Namun aku mengerti maksudnya.
Bukan janji.
Bukan harapan pasti.
Hanya sebuah kemungkinan kecil.
Sangat kecil.
Tapi cukup untuk membuat dadaku menghangat.
Di sisi lain, Luna yang mendengar percakapan itu langsung mengencangkan rahangnya.
Senyumnya masih ada.
Namun matanya dingin.
Sangat dingin.
“Pak, take selanjutnya siap.”
Ia memotong pembicaraan dengan suara manis.
Seolah mengingatkan semua orang siapa yang berada satu tingkat di atas figuran.
Sutradara mengangguk.
“Semua kembali ke posisi.”
Aku kembali ke sudut frame.
Namun kali ini rasanya sedikit berbeda.
Karena setidaknya…
ada seseorang yang melihatku.
Meski hanya sebentar.
...****************...
Setelah take pertama selesai, kru langsung bergerak cepat.
Beberapa staf masuk ke area taman sambil membawa tablet jadwal.
“Set kedua siap!”
“Semua talent ganti kostum!”
Aku menghela napas pelan.
Ternyata bukan satu video.
Brand ini rupanya mengambil dua konsep iklan sekaligus dalam satu hari.
Wajar saja.
Untuk merek semewah ini, satu hari sewa taman kaca saja pasti sudah menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
Lebih baik sekalian mengambil beberapa versi.
Aku segera menuju ruang ganti sementara.
Kali ini kostumku diganti menjadi gaun kasual berwarna krem lembut.
Lebih ringan.
Lebih cocok untuk adegan berjalan di luar ruangan.
Sedangkan pemeran utama kini mengenakan dress panjang satin dengan potongan elegan.
Di tangannya tetap botol parfum kristal yang sama.
Kali ini settingnya berpindah ke jalur pejalan kaki di sisi taman.
Hamparan bunga berada di kanan kiri jalan.
Cahaya pagi masuk dari kubah kaca dan memantul di lantai marmer putih.
Semuanya terlihat sangat mahal.
Sutradara menjelaskan konsep adegannya.
“Video kedua lebih hidup.”
Ia menunjuk storyboard hologram.
“Talent utama berjalan sambil memakai parfum.”
“Lalu orang-orang di sekitar mulai mencium aromanya.”
Salah satu kru menambahkan sambil tertawa kecil.
“Kayak ketarik aroma.”
Aku langsung paham.
Oh… jadi konsepnya orang-orang seperti tidak sadar mengikuti wanginya.
Lucu juga.
Semacam aroma yang terlalu memikat.
Sutradara lanjut memberi instruksi.
“Luna dan dua talent lain ada di barisan tengah.”
“Kalian terlihat penasaran dan mulai mengikuti.”
Ia lalu menunjuk ke arah kami para figuran.
“Untuk grup belakang, buat gerakan seolah ingin melihat apa yang terjadi.”
“Sedikit menjulurkan tangan, naik-naik, berusaha mengintip.”
Aku mengangguk.
Jadi kali ini aku bukan yang jatuh.
Syukurlah.
Kami mulai mengambil posisi.
Pemeran utama berada di depan.
Luna di barisan kedua.
Sedikit lebih dekat kamera.
Tentu saja.
Dan aku…
di gerombolan paling belakang.
Hampir tertutup badan orang lain.
Aku sedikit menjinjit.
Tanganku ikut terangkat.
Seolah mencoba melihat dari celah kerumunan.
Parfum apa sih yang wanginya sampai bikin semua orang ikut jalan?
“Action!”
Pemeran utama berjalan perlahan.
Rambutnya tertiup efek angin buatan.
Lalu—
psssttt
ia menyemprotkan parfum di leher.
Partikel cahaya lembut menyebar.
Efek sihir teknologi membuat aroma divisualkan seperti pita tipis berwarna emas.
Semua talent mulai bereaksi.
Luna menoleh lebih dulu.
Ekspresinya dibuat penasaran.
“Hmm?”
Talent lain ikut mendekat.
Lalu mulai berjalan mengikuti.
Aku dan para figuran di belakang ikut bergerak.
Aku mengangkat sedikit tangan.
Menjulur ke atas.
Berusaha melihat.
Ekspresi penasaran.
Setengah kagum.
Setengah bingung.
“Parfum apa sih…?”
gumamku pelan, hampir spontan.
Meski mungkin tidak akan masuk audio.
Gerombolan di belakang makin ramai.
Semua seperti tertarik aroma.
Sampai tanpa sadar membentuk iring-iringan kecil di belakang pemeran utama.
Lucu.
Tapi justru memorable.
Kalau aku jadi penonton, aku pasti ingat iklan seperti ini.
...****************...
Kali ini Luna tidak mengatakan apa-apa.
Tidak ada tatapan sinis.
Tidak ada komentar manis yang menusuk.
Karena memang…
yang terlihat di video hanya tanganku.
Sedikit jemari yang terangkat di antara kerumunan.
Mungkin ujung rambutku.
Paling hanya puncak kepala.
Itu pun kalau kamera benar-benar menangkapnya.
Tidak ada wajah.
Tidak ada ekspresi.
Tidak ada sesuatu yang bisa membuatku “terlihat”.
Dan rupanya itu sudah cukup membuat Luna tenang.
Ia hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada monitor kecil di tangan asistennya.
Seolah aku bahkan tidak layak menjadi ancaman.
Aku sendiri hanya bisa menahan tawa kecil dalam hati.
Ya sudahlah.
Tangan juga tangan.
Setidaknya aku tetap dibayar.
“Cut! Bagus!”
Suara sutradara terdengar lebih lega dari sebelumnya.
“Ambil satu safety take lagi, habis itu selesai.”
Satu.
Dua.
Tiga langkah.
Semprot parfum.
Kerumunan mengikuti.
Tangan-tangan terangkat.
Aku kembali menjinjit di barisan paling belakang.
Take terakhir selesai.
“Wrap for today!”
Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa kru.
Aku menghela napas panjang.
Rasanya seperti baru sadar tubuhku pegal semua.
Padahal kalau dilihat, adegannya cuma sebentar.
Beberapa detik.
Mungkin bahkan tidak sampai satu menit kalau sudah diedit.
Namun kenyataannya… hari sudah hampir sore.
Cahaya matahari di balik kubah kaca mulai berubah lebih keemasan.
Bayangan bunga-bunga di lantai marmer memanjang.
Aku melirik jam di terminal kecilku.
Hampir pukul lima.
Astaga.
Satu hari habis hanya untuk video yang mungkin durasinya kurang dari tiga puluh detik.
Dunia hiburan memang aneh.
Yang terlihat singkat di layar… sering kali memakan tenaga seharian.
Aku mengusap tengkukku yang terasa pegal.
Bajuku sudah beberapa kali diganti.
Rambutku pun mulai terasa lengket oleh hairspray.
Di sekitar, kru mulai membereskan kamera, lighting, dan perangkat efek aroma.
Talent utama sudah dibawa asistennya untuk pelepasan makeup.
Luna pun berjalan melewati ku.
Tumit sepatunya berdetak pelan di lantai.
Kali ini ia hanya melirik sekilas.
Tatapannya datar.
Lalu tersenyum kecil.
“Lumayan.”
Ia berhenti sebentar.
“Setidaknya hari ini kamu dapat peran tangan.”
Aku mematung.
Lalu dia terkekeh pelan dan pergi.
Sungguh.
Mulut perempuan itu tidak pernah bisa diam.
Namun entah kenapa…
aku terlalu lelah untuk marah.
Aku hanya ingin pulang.
Atau…
tidak.
Tatapanku jatuh pada kartu hitam di dalam tas.
Menara Ardevar.
Mungkin…
setelah ini aku harus ke sana.
...****************...
Aku menghela napas pelan sambil memandang kartu hitam di dalam tasku.
Menara Ardevar.
Nama itu masih terasa begitu jauh.
Begitu tinggi.
Begitu mustahil untuk ku sentuh.
Namun untuk saat ini…
aku belum siap datang ke sana.
Pria itu sudah memberiku pilihan.
Bukan memaksa.
Bukan mengejar.
Hanya menunggu.
Dan entah kenapa, itu justru membuatku semakin sadar betapa berbeda dunianya denganku.
Kalau aku ingin jawaban…
akulah yang harus mendatanginya.
Aku menutup tasku rapat.
Bukan hari ini.
Hari ini ada tempat lain yang lebih ingin ku datangi.
Rumah sakit.
Langkahku berbalik menuju halte transportasi umum.
Langit sore di atas kubah kaca mulai berubah jingga keemasan.
Pantulannya membuat jalanan sekitar taman terlihat berkilau.
Kendaraan-kendaraan udara melintas di jalur atas, sementara kendaraan darat mewah sesekali meluncur tenang di jalur eksklusif.
Aku berdiri di antara orang-orang yang pulang kerja.
Lelah.
Diam.
Sibuk dengan hidup masing-masing.
Kurang lebih sama sepertiku.
Perjalanan menuju rumah sakit tidak terlalu lama, tapi cukup membuat kakiku semakin pegal.
Begitu sampai, aroma antiseptik langsung menyambut.
Dingin.
Terlalu bersih.
Dan entah kenapa selalu membuat dadaku sesak.
Aku sudah hafal lorong ini.
Lift ke lantai perawatan.
Koridor putih.
Lampu yang terlalu terang.
Suara langkah perawat.
Sampai akhirnya aku berdiri di depan pintu kamar ibu.
Tanganku terdiam sesaat di gagang pintu.
Lalu perlahan membukanya.
Di sana ibu masih diam.
Tubuhnya tampak lebih kurus dari minggu lalu.
Wajahnya pucat.
Salah satu alat monitor masih menyala pelan di samping tempat tidur.
Aku tersenyum kecil, meski hati rasanya mencelos.
“Aku pulang…”
gumamku lirih.
Kalimat yang terdengar lucu.
Karena rumah yang sesungguhnya terasa ada di tempat ini.
Aku meletakkan tas di kursi samping ranjang.
Lalu duduk.
Jemari tanganku perlahan menggenggam tangan ibu yang terasa dingin.
“Hari ini aku syuting lagi.”
Aku mulai bercerita pelan.
Tentang taman bunga mewah.
Tentang iklan parfum aneh yang membuat orang jatuh.
Tentang bagaimana aku hanya jadi tangan di kerumunan.
Aku bahkan tertawa kecil saat menceritakannya.
“Lucu ya, Bu.”
“Aku kerja seharian…”
“tapi yang kelihatan mungkin cuma tanganku doang.”
Senyumku perlahan memudar.
Tatapanku jatuh pada wajah ibu.
“Bu…”
Aku menggigit bibir.
Tentang Zevran.
Tentang kontrak.
Tentang kesempatan untuk menyembuhkan ibu.
Aku belum berani mengatakannya.
Belum.
Namun untuk pertama kalinya, aku mulai berpikir…
mungkin aku memang harus datang ke Menara Ardevar.
Demi ibu.