Lina, putri asli keluarga kaya Ardiansyah yang hilang selama 19 tahun, tampak seperti gadis bangsawan yang lembut dan butuh perlindungan. Siapa sangka, dia sebenarnya seorang bos mafia dengan kekuatan tempur luar biasa! Semua anggota keluarga sangat menyayanginya tanpa syarat. Tak hanya itu, Junaedi Pratama, pria berwibawa dan berstatus tinggi, bahkan menunjukkan perhatian istimewa yang tak terbatas padanya. Di balik penampilannya yang polos, Lina menyimpan rahasia besar yang akan membuat semua orang terkejut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Di tengah makan yang hampir selesai, setelah percakapan ringan tentang kuliah lama dan bisnis kecil-kecilan, Zhouko akhirnya membuka topik yang sejak tadi jelas ia tahan.
Dengan nada seolah santai, ia bertanya,
“Ngomong-ngomong, kemarin kamu masuk Pasar Gelap pakai kartu yang kuberi, kan? Masuknya lancar tidak? Aku sempat khawatir… soalnya kartu itu aku dapat dari teman. Takutnya tidak valid.”
Kalimat itu terdengar seperti perhatian biasa.
Namun Lina yang duduk di samping Galih langsung menangkap satu hal—Zhouko yang mengangkat topik itu sendiri.
Orang yang benar-benar tidak bersalah tidak akan mengulang topik sensitif tanpa alasan.
Galih, sebaliknya, menjawab tanpa sedikit pun kecurigaan. Bahkan tersenyum.
“Iya, pakai kartumu. Masuknya lancar kok. Cuma di dalam ketemu beberapa orang tidak sopan yang ganggu aku dan Lina. Tapi tidak apa-apa, semua berakhir baik.”
Zhouko menahan napas sepersekian detik.
Lalu tersenyum lega.
“Oh begitu ya… syukurlah. Maaf kalau kamu bertemu orang seperti itu. Aku sudah bilang ke temanku yang kerja di sana, kalau kamu masuk lagi nanti, tidak akan ada yang berani mengganggu.”
Lina menyendok sedikit es campur durian, perlahan memasukkannya ke mulut.
Manis. Dingin.
Sama seperti senyumnya sekarang.
Zhouko berbohong lagi.
Dia jelas tahu kartu itu bermasalah. Dan sekarang dia memastikan apakah keluarga Ardiansyah sudah menyadarinya atau belum.
Berarti… dia belum tahu bahwa keluarga Ardiansyah sudah mengirim orang menyelidiki Pasar Gelap.
Belum tahu bahwa namanya sudah masuk dalam daftar yang akan “diperhatikan” malam ini.
Matanya yang tadinya hangat kini terasa sedingin es.
Namun wajahnya tetap lembut.
Setelah makan selesai, mereka berdiri.
Zhouko bersikeras mengantar sampai lift, seolah enggan membiarkan Lina pergi.
Di depan pintu lift, sebelum tombol ditekan, Lina tiba-tiba menoleh dengan mata berbinar.
“Tuan Zhouko,” katanya lembut, hampir seperti gadis yang penuh harap. “Malam ini ada pesta pengenalan keluarga saya di villa Ardiansyah. Semua orang penting Surabaya akan datang. Kamu datang, kan?”
Zhouko tidak ragu sedikit pun.
“Tentu saja, Nona Lina! Aku pasti datang. Aku bahkan akan membawa hadiah yang cocok dengan kecantikanmu. Jam berapa dimulai?”
“Lima sore sampai malam,” jawab Lina manis. “Villa Ardiansyah di kawasan elite Gubeng. Kamu pasti tahu.”
“Tentu.”
Lift berbunyi pelan.
Sebelum melangkah masuk, Lina menambahkan, dengan suara yang sangat lembut—
“Aku menunggu kamu ya, Tuan Zhouko. Jangan terlambat.”
Kata-kata itu terdengar manis.
Penuh harapan.
Galih yang berdiri di sampingnya merasa dadanya sesak.
Apakah adiknya… masih tertarik pada Zhouko?
Sementara Zhouko justru merasa puas.
Masuk ke pesta keluarga Ardiansyah berarti masuk ke lingkaran elite Surabaya. Itu kesempatan emas. Entah untuk memperluas relasi—atau menghancurkan reputasi seseorang dari dalam.
Lift tertutup.
Dan senyum Lina perlahan memudar.
Di dalam hatinya, kalimat tadi memiliki makna yang sama sekali berbeda.
Aku menunggu kamu…
Untuk menjatuhkanmu di depan semua orang.
Untuk memastikan seluruh Surabaya tahu siapa dirimu sebenarnya.
Keluarga Ardiansyah mungkin rendah hati.
Tapi bukan keluarga yang bisa dipermainkan.
Di parkiran, mereka berjalan menuju Ferrari merah milik Galih.
Begitu pintu mobil tertutup, Galih langsung bertanya, tak tahan lagi.
“Adik… kenapa kamu undang Zhouko ke pesta? Kamu masih suka sama dia? Aku sudah bilang kan, dia bukan orang baik.”
Lina memiringkan kepala, tersenyum manja.
“Cuma undang teman kakak saja kok. Pesta itu kan untuk mengenalkan aku ke semua orang. Teman-teman kakak juga harus datang, ya kan?”
Tangannya menyentuh jepit rambut di sisi kanan.
Jepit yang diberikan Zhouko.
Simbol kebodohannya sendiri.
“Jangan marah ya, kakak.”
Galih menghela napas panjang.
Ia ingin percaya. Ingin yakin adiknya hanya naif.
Dia tidak tahu bahwa Lina justru yang paling sadar di antara mereka.
Dia juga tidak tahu bahwa Lina sudah menyiapkan sesuatu untuk malam ini.
Sesuatu yang akan membuat seluruh Surabaya gemetar.
Saat mereka hampir keluar dari parkiran, ponsel Galih berdering keras.
Nama yang muncul di layar: Ibu Maya.
Galih langsung mengangkat.
“Galih!” Suara Maya terdengar tegas dari ujung sana. “Kamu dan Lina segera pulang sekarang! Persiapan pesta sudah tahap akhir. Mama butuh kalian di villa. Jangan keluyuran lagi!”
“Baik, Bu! Kami langsung pulang!”
Telepon ditutup.
Galih langsung menginjak gas, Ferrari melaju cepat menuju kawasan elite Gubeng.
Sepanjang perjalanan, Lina menatap keluar jendela.
Surabaya siang itu tampak sibuk. Gedung-gedung tinggi, kendaraan lalu-lalang, orang-orang dengan kehidupan masing-masing.
Tak ada yang tahu…
Bahwa malam ini, di villa Ardiansyah, sesuatu akan terjadi.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Ia berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar oleh siapa pun—
“Zhouko… malam ini akan menjadi malam terakhirmu di Surabaya.”
Bukan karena darah.
Bukan karena kematian fisik.
Tapi karena setelah malam ini—
Nama Zhouko akan mati.
Reputasinya akan hancur.
Dan tidak akan ada satu pun orang di Surabaya yang berani berdiri di sisinya.
Ferrari melaju memasuki gerbang besar villa Ardiansyah.
Lampu-lampu kristal sudah dipasang di seluruh taman. Karpet merah terbentang dari pintu gerbang hingga aula utama. Bunga-bunga segar memenuhi udara dengan aroma mewah.
Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia Lina…
Akan berubah menjadi panggung eksekusi sosial.
Dan Lina—
Dengan gaun putihnya nanti malam—
Akan menjadi hakimnya.