Perempuan adalah permata hati dan berlian yang sungguh sangat indah, menawan. Aku adalah laki-laki sederhana yang tidak memiliki paras sempurna atau harta melimpah, yang kupunya hanya segenggam hati yang terpatri dan hanya tertulis satu nama Risna Anzalea Farizal, berlatar keluarga sempurna kalangan aparat. Apalah dayaku yang bukan siapa-siapa dengan perbandingan jauh dibawahnya, kekasih hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang Berpikir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TA23 Ajakan bisnis
Hantaman berulang itu masih terdengar namun tidak lagi terlalu keras seperti hantaman pertama tadi diakibatkan burung itu bagai mengetuk, memintanya izin masuk ke dalam rumah.
Belum juga Fariz menguasai diriya sepenuhnya akibat ketakutan dan juga kesalahan yang diciptakan sendiri malah kali ini Fariz kembali terkejut dengan suara gema teleponnya yang full volume.
“Kurang ajar, hp sialan, bunyi tanpa ada pemberitahuan!” bergumam kecil, beranjak mendekati hp yang masih tergelatak di ujung pembatas kasur, tidak jauh dari posisi kepalanya tidur tadi.
Sayang 23! Nama itulah yang tertera di layar hp Fariz yang menyala.
"Tidak untuk saat ini,” ucapnya pada layar hp nya yang menyala, selain tulisan sayang 21, ada juga wallpaper perempuan berpakaian kaos putih lengan pendek dengan stelan rambut membelit bagai rantai di kepalanya.
Lagi untuk dua kalinya Fariz merebahkan kasar tubuhnya di atas kasur “bagaimana aku mengatasi masalahku? Bagaimana kalau mama tahu? Bagaimana kalau aku tidak bisa membayarnya?” Ucap tanyanya berulang pada dirinya sendiri.
Pandangannya kembali melihat loteng kertas kamarnya itu yang berpusat pada bola lampu yang sedang memberikan cahaya itu namun dibalik itu pandangan Fariz jauh melihat ke lain hal, bagaikan mereka ulang apa yang dilakukannya tepat setahun yang lalu.
Meja panjang dengan susunaan deretan belasan kursi yang berserak dan juga kulit ampas kacang, abu, putung roko berserakan di atas meja. Di atas meja keramik putih itu masih terhias cetakan bulat bekas kopi dari gelas yang sudah berpindah tempat sekarang.
Tangan Fariz masih sibuk mengupas kacang yang masih tersisa banyak yang belum di makan.
Di meja yang seluas itu hanya tersisa Fariz dan juga Prasetiya Kafar yang sering di sapa dengan nama Pras yang saat ini sedang bertugas mengantar para siswa yang sedang pkl di bengkel milik Bram.
“Fariz,” Panggilnya.
“Iya bang. Kenapa?” Tanya Fariz mendongakkan sedikit kepalanya melihat Pras yang duduk berhadapan dengannya. Kepulan asap menengahi mereka.
“Bagaimana kalau kita buat bisnis bareng, kita buat bengkel atas nama kita berdua dan modalnya juga kita patungan berdua!”
“Ide bagus itu bang!” Jawab Fariz bersemangat “tapi aku tidak punya uang!” Sambung Fariz tidak kalah semangat.
Senyuman singkat dan sangat meyakinkan Pras lakukan sesaat “kamu gadaikan saja surat-surat motormu,” mengalihkan pandangan pada hondanya Fariz yang terparkir tidak jauh dari mobil Pras yang juga sedang terparkir “lagiankan kamu tetap akan bisa memakai hondamu itu,” menghembuskan napas panjang beriringan dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya.
“Gadai!” Ulang Fariz tersenyum mengejek Honda yang dimilikinya itu, seraya pandangannya melihat hondanya itu, bentukannya jauh dibawah rata-rata honda-honda yang lainnya dan juga, di bagian harga tentulah harga dari hondanya itu jauh dibawah rata-rata sedangkan untuk modal yang diperlukan menyentuh ratusan.
“Gak mungkin!” Masih tersenyum mengejek, logikanya masih saja tidak menerima sepenuhnya saran dari Pras itu.
“Mungkin saja. Kalau kamu mau,” menatap dalam.
Satu titik dari dalam diri Fariz terkecoh, logikanya masih menolak, lain halnya dari dalam dirinya mulai mengiyakan tertanda dari kepala Fariz yang mengangguk mengerti.
“Selain dari menggadaikan surat motormu itu, kamu bisa sajakan meminta bantuan dari beberapa kawan terdekatmu. Katakan saja salah satu orang terdekatmu ada yang sakit atau apalah!”
Jauh padangan Fariz melihat kejadian silam “astagfirullah,” istiqfar Fariz mengusap kasar wajahnya.
...###...
Siulan-siulan merdu dari burung-burung yang beterbangan bergerombolan di langit, awan sana. Memberikan kesan indah pada langit biru yang sebagaiannya tertutupi awan putih. Sangat indah bila dipandang.
Fariz menatap kosong pada dinding setengah beton rumahnya itu.
Sajadah yang seharusnya menjadi alat menuju ketenangan malah menjadi kehampaan. Sholat shubuh yang Fariz lakukan hanya sebagai kewajiban yang berfungsi sebagai olahraga jenis yoga bukan meditasi, bukan pula menguasai diri, tidak juga bertemu penguasa dzat penguasa alam apalagi mendapatkan ketenangan dari kesadaran atas ketakutannya untuk menyelesaikan.
“Aaaa!” Teriak Fariz seorang diri yang kemudian ia melempari peci yang dipakai di kepalanya dan melipat sajadah dengan kakinya yang kemudian menendangnya, setelahnya badannya itu kembali ia hempaskan lagi dengan kasar.
Risna, monolog panggil Fariz kala tanpa sengaja melihat contact Risna terpampang.
Lain sisinya, udara sejuk nan bersih menusuk kulit dan menyegarkan pernapasan yang masuk ke rongga dadanya itu. Helaan napas dalam Risna lakukan “tenang sekali,” lirih Risna, tersenyum sendiri, mulai hendak berlari pagi.
Udara sejuk ketenangan tergantikan dengan keringat yang membasahi dan jantung yang bagai menari ingin hendak pamit pergi. Langkah cepat yang Risna lakukan perlahan mulai memelan seiring waktu timer yang Risna pasang sudah menyentuh angka di sembilan belas menit berjalan dengan jarak tempuh hampir tiga kilo meter.
Cuplikan Bab Selanjutnya -->
“Olahraga apa sampai ngos-ngosan gitu?”
Ini urusanku, bukan urasanmu. Jangan ikut campur yang bukan hakmu!
sehat selalu untuk kakak thor yaang cantik and maniss😘😘😘🤗🤗🤗
masuk banget sama realnyaa
terbaik thor....semangat teruss🥰🥰🥰😘😘😘
update lagi...
thanks thoor🥳🥳🥳🥳🥰🥰🥰
Penasaran nih, kelanjutannya