Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran yang Robek
Kalimat pasrah dari ayahnya meninggalkan gaung yang aneh di telinga Melanie. Pria tua itu melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Melanie sendirian di lorong tengah yang luas. Rumah megah ini tak lagi terasa seperti tempat perlindungan, melainkan sebuah museum yang menyimpan rahasia-rahasia berdebu yang tak sengaja ia buka kuncinya. Melanie tahu, berdiam diri di sini hanya akan membuatnya tercekik oleh rasa bersalah yang bukan miliknya.
Dengan tekad yang bulat, ia mengambil tas selempangnya dan melangkah keluar menuju garasi, mengabaikan sapaan bingung dari salah seorang pelayan rumah. Ia butuh udara segar. Lebih dari itu, ia butuh ruang di mana ia tidak dikelilingi oleh pilar-pilar berlapis emas.
Di saat yang sama, Glen menghentikan sepeda motornya di sebuah warung kopi pinggiran jalan yang sepi, tak jauh dari perbatasan Sleman. Jaket denimnya yang basah oleh embun pagi ia biarkan tersampir di stang motor. Ia duduk di sudut warung, menatap cangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis. Pikirannya masih tertambat pada suara tangisan Melanie di telepon semalam. Suara itu terdengar begitu nyata, merobek naskah fiksi yang selama ini ia gunakan untuk mematirasakan hatinya.
"Glen?"
Glen menoleh sedikit, mendapati Thone yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mejanya dengan napas agak terengah. Sahabatnya itu rupanya berhasil melacak keberadaannya dari aplikasi berbagi lokasi yang lupa Glen matikan.
"Kamu benar-benar keras kepala," ujar Thone sembari menarik kursi kayu di hadapan Glen dan duduk tanpa permisi. "Bik Sisi meneleponku lagi tadi pagi. Beliau cemas karena kamu tidak pulang ke rumah besar, dan kamu juga tidak ada di kost-ku waktu beliau mengantar makanan."
"Aku hanya ingin sendiri, Thone," jawab Glen datar, jemarinya memutar-mutar cangkir kopi yang mulai menghangat.
"Sendiri untuk meratapi naskahmu yang robek?" Thone mendengus, menatap Glen dengan pandangan lurus. "Aku baru saja mendapat kabar dari anak-anak teater. Melanie terlihat pergi dari rumahnya pagi ini. Diandra bilang wajahnya sangat kacau saat mereka bertukar pesan tadi. Glen, kalau kamu terus-menerus menggunakan tameng dendam ini, kamu bukan hanya menghancurkan Melanie, tapi kamu sedang membunuh dirimu sendiri secara perlahan."
Glen terdiam. Keheningan di antara mereka berdua terasa menekan, bersaing dengan suara deru kendaraan yang sesekali melintas di jalan raya.
"Dia menawarkan untuk melepaskan semuanya, Thone," bisik Glen akhirnya, suaranya terdengar sangat parau, seolah-olah kata-kata itu begitu berat untuk diucapkan. "Dia rela kehilangan takhtanya yang megah demi menghapus dendamku. Sialan... kenapa dia harus melakukan itu? Seharusnya dia membenciku! Seharusnya dia membalas makianku!"
"Karena dia bukan orang tuanya, Glen!" Thone memajukan tubuhnya, menepuk meja kayu dengan penekanan yang dalam. "Dia adalah Melanie. Gadis yang selama ini menghargaimu di kelas teater, gadis yang menatap luka di matamu dengan rasa tulus. Kamu takut, kan? Kamu takut karena sekarang kamu sadar bahwa mawar yang ingin kamu layukan itu... justru adalah satu-satunya hal yang bisa menyembuhkan hatimu yang mati."
Glen memejamkan matanya rapat-rapat. Kata-kata Thone menghantam bagian terdalam dari egonya.
Sisi kemanusiaannya yang selama belasan tahun ini ia penjarakan di balik jeruji kebencian, kini mendobrak keluar dengan paksa. Ia tidak bisa lagi berbohong. Ketakutan terbesar sang penyulam aksara telah menjadi kenyataan sempurna: ia telah jatuh terlalu dalam pada pesona sang mawar, justru di saat ia seharusnya menarik pelatuk untuk menghancurkannya.
Sore harinya, rintik gerimis kembali turun membasahi bumi Jogja, seolah langit ikut merasakan pergolakan batin dua anak manusia tersebut. Melanie berjalan lambat di sepanjang selasar tamansari yang sepi pengunjung karena cuaca buruk. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah sosok tinggi yang sangat ia kenal sedang berdiri diam di bawah peneduh bangunan tua, menatap rintik air dengan pandangan kosong.
Glen ada di sana. Tanpa rencana, takdir kembali mempertemukan mereka di tempat yang sunyi ini.
Melanie melangkah mendekat, membiarkan ujung sepatunya basah oleh cipratan air.
"Glen..."
Glen membalikkan badannya perlahan. Sepasang mata elangnya tidak lagi memancarkan amarah yang meledak-ledak seperti kemarin, melainkan sebuah kelelahan batin yang teramat sangat. Topeng marmer pangeran sastra itu telah sepenuhnya hilang, menyisakan seorang pria bernama Glen yang jiwanya tengah berdarah karena perang pikiran.
"Kenapa kamu masih di sini, Melanie?" suara Glen terdengar sangat lirih, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan. "Aku sudah menyuruhmu untuk tidak mencariku lagi."
"Karena aku tahu kamu sedang berbohong pada dirimu sendiri, Glen," jawab Melanie, melangkah satu langkah lebih dekat, menatap langsung ke dalam manik mata hitam pria di hadapannya dengan ketulusan yang murni. "Kamu mengirimiku pesan kejam, tapi suaramu di telepon semalam terdengar seperti orang yang sedang meminta pertolongan. Katakan padaku yang sebenarnya, Glen... apakah kamu benar-benar masih membenciku?"
Glen terpaku. Pertanyaan Melanie menggantung di udara malam yang dingin. Ia menatap wajah suci gadis di hadapannya, merasakan kehangatan yang menguar dari presensi Melanie yang menolak untuk menyerah pada dendamnya. Lembaran cerita tragedi yang ia tulis di dalam kepalanya kini telah robek sepenuhnya, menyisakan sebuah akhir yang tak lagi bisa ia kendalikan dengan kata benci.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...