NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Ketakutan Pertama

Udara malam masih menyimpan bau darah yang menyengat. Hutan bambu itu kini sunyi, hanya menyisakan desir angin yang membawa aroma kematian. Bulan yang tadinya tertutup kabut mulai menampakkan wajah pucatnya, memantulkan cahaya redup ke tanah yang penuh bercak merah.

Lin Feng berdiri kaku di tempatnya. Pedang di tangannya meneteskan darah, menodai tanah basah. Jemarinya bergetar hebat, seakan pedang itu tiba-tiba berubah menjadi beban ratusan kati. Matanya menatap kosong ke arah mayat bandit yang tadi ia tebas. Kepala yang sudah terlepas masih menatap dengan mata terbelalak, seolah kematian itu terlalu tiba-tiba.

Suara tawa kasar, jeritan terakhir, dan semburan darah masih berputar di kepalanya. Setiap kali ia mengedipkan mata, wajah bandit itu kembali muncul. Ia merasa seakan-akan darah masih mengalir di telapak tangannya, meski kenyataannya hanya dingin malam yang menyentuh kulitnya.

“Lin Feng…” suara lirih memanggil.

Ia menoleh. Mei Xue terduduk di tanah dengan wajah pucat pasi, air mata menetes deras. Pedang di tangannya tergeletak begitu saja. Gadis itu menggigil, seperti seekor burung kecil yang sayapnya patah.

Di sisi lain, Zhao Liang terduduk dengan punggung menempel pada batang bambu. Nafasnya terengah, dadanya naik turun cepat. Matanya tak fokus, seolah masih mencoba meyakinkan diri bahwa ia selamat. Sementara tiga murid lainnya jatuh terduduk di tanah, wajah mereka sama pucatnya. Salah satu bahkan muntah, menumpahkan isi perutnya ke tanah bercampur darah.

Semua murid terlihat hancur.

Dan Yunhai?

Pria itu berdiri tenang. Jubahnya berkibar pelan ditiup angin. Pandangannya tajam, dingin, seperti batu karang yang tidak tergoyahkan meski ombak menghantam. Ia memandangi murid-muridnya satu per satu, menilai mereka dengan tatapan yang sulit ditebak.

“Aku tidak ingin mendengar tangisan,” suaranya datar, namun menekan hati. “Apa yang kalian lihat malam ini bukanlah mimpi buruk, melainkan kenyataan. Dunia ini kejam. Jika kalian tidak sanggup menerima kenyataan, maka kalian akan menjadi mayat seperti mereka.”

Suasana kembali hening. Hanya suara daun bambu beradu satu sama lain yang terdengar.

Lin Feng menunduk, menggenggam pedangnya lebih erat. Dadanya bergemuruh. Ada rasa muak, ada rasa takut, namun di balik itu muncul juga sesuatu yang lain—rasa tidak rela. Ia tidak rela dirinya hanya menjadi boneka yang gemetar di tengah pertarungan. Tidak rela hanya menunggu untuk diselamatkan oleh gurunya.

Tapi rasa takut itu… terlalu nyata.

Tangannya masih bergetar. Hatinya masih menolak kenyataan bahwa ia baru saja membunuh manusia lain.

Yunhai mendekat, langkahnya berat namun mantap. Ia berhenti tepat di depan Lin Feng. “Kau,” katanya dingin. “Apa yang kau rasakan sekarang?”

Lin Feng terdiam. Suaranya tercekat di tenggorokan.

“Aku… aku…” bibirnya bergetar. Kata-kata tak bisa keluar.

“Ketakutan?” Yunhai bertanya lagi, kali ini lebih tajam.

Lin Feng menggigit bibirnya, darah terasa di lidahnya. Ia tidak sanggup menjawab, namun matanya yang gemetar sudah memberi jawaban.

Yunhai menatapnya lama, lalu berkata lirih namun menusuk, “Bagus. Ketakutan itu nyata. Tapi ingat, hanya ada dua pilihan bagi orang yang takut. Tenggelam di dalamnya, atau menggunakannya sebagai alasan untuk bertahan hidup. Kau akan jadi yang mana?”

Lin Feng terdiam. Dadanya sesak, pikirannya kacau.

Yunhai berbalik, menatap murid-murid lainnya. “Kalian semua—lihat tangan kalian. Itu darah manusia. Ingatlah baik-baik. Jalan kultivasi bukanlah jalan suci. Setiap langkah penuh dengan darah dan kematian. Jika kalian tidak siap… maka berhentilah di sini. Lebih baik pulang ke desa, menikah, bertani, dan mati sebagai orang biasa.”

Tak ada yang berani menjawab.

Mata Lin Feng kembali jatuh pada pedang di tangannya. Cahaya bulan memantul di atas bilah yang masih basah merah. Hatinya bergemuruh. Ia merasa seolah ada jurang yang terbuka di dalam dirinya—jurang yang bisa menelan dirinya bulat-bulat jika ia tak berhati-hati.

Itulah ketakutan pertamanya.

***

Malam itu, rombongan murid hanya bisa beristirahat di pinggir hutan. Mereka terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh. Api unggun kecil dinyalakan, namun cahaya hangat itu tidak mampu mengusir bayangan hitam dalam hati mereka.

Mei Xue duduk dengan lutut terlipat, wajahnya ditutupi lengan. Sesekali tubuhnya bergetar menahan tangis. Zhao Liang hanya menatap api tanpa bicara. Tiga murid lainnya juga tak jauh berbeda: satu menatap kosong ke tanah, satu lagi masih muntah-muntah, dan yang terakhir memeluk lutut sambil menggigil.

Yunhai duduk agak jauh dari mereka, bersila dengan mata setengah terpejam. Namun sebenarnya ia tidak beristirahat. Pandangannya tajam memperhatikan reaksi murid-muridnya satu per satu.

Dalam hati, ia menilai:

Mei Xue, lembut hatinya, tapi punya keteguhan untuk tetap bertahan. Tangisannya tidak berarti kelemahan, melainkan masih ada hati nurani yang belum terbiasa dengan kekejaman dunia.

Zhao Liang, keberaniannya hampir runtuh. Tapi matanya masih menyimpan api kecil, menandakan ia bisa bangkit jika diarahkan.

Lin Feng, yang paling ia perhatikan. Anak ini ketakutannya besar, tapi justru di balik itu ada tekad yang mulai tumbuh. Yunhai tahu, mereka yang benar-benar merasa takut kadang justru bisa berkembang paling jauh, karena mereka tahu betapa berharganya hidup.

Tiga murid lain, hampir tak menyisakan harapan. Ketakutan mereka terlalu dalam, sampai-sampai mata mereka kosong. Yunhai tahu, kemungkinan besar mereka tidak akan bertahan lama di jalan kultivasi.

“Ketakutan adalah ujian pertama,” batin Yunhai. “Siapa yang bisa melewatinya, akan tumbuh. Siapa yang tenggelam, hanya akan menjadi debu di jalan.”

***

Malam berjalan lambat. Api unggun menyala redup, sesekali berderak memecah kesunyian.

Lin Feng mencoba memejamkan mata, tapi bayangan bandit yang ia bunuh terus muncul. Ia melihat darah memercik, wajah pucat bandit itu, mata kosong yang menatapnya. Ia terbangun lagi dan lagi, napasnya memburu.

Mei Xue juga tak bisa tidur. Setiap kali ia menutup mata, ia mendengar jeritan. Air matanya mengalir pelan, membasahi lengan yang ia jadikan bantal.

Zhao Liang berusaha tidur, tapi tubuhnya gelisah. Dalam mimpinya, ia terus melihat pedang menebas lehernya. Ia terbangun dengan teriakan tertahan, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menoleh, dan melihat Lin Feng juga terbangun. Keduanya saling bertukar tatap, tak ada kata-kata, hanya rasa takut yang sama.

Sementara itu, salah satu dari tiga murid lain bahkan tidak berani menutup mata. Ia duduk bersandar pada batang bambu, matanya merah, tubuhnya gemetar sepanjang malam. Sesekali ia menoleh ke sekeliling, seakan takut bayangan bandit akan muncul kembali dari kegelapan.

Yunhai tetap terjaga. Ia tahu malam ini adalah malam penting—malam di mana ketakutan pertama mereka benar-benar akan mengakar. Ia tidak menenangkan, tidak memberi kata lembut. Ia tahu, hanya dengan melalui rasa takut itu mereka bisa tumbuh.

***

Ketika matahari pagi perlahan muncul, murid-murid terlihat lebih lelah dibanding sebelumnya. Wajah mereka sembab, mata merah, tubuh gemetar karena kurang tidur.

Yunhai berdiri, menatap mereka dengan sorot tajam. “Bangun. Hari ini kita bergerak lebih jauh ke dalam hutan. Ada sesuatu yang harus kalian pelajari.”

Murid-murid menatapnya dengan cemas. Luka-luka mereka masih terasa, tubuh mereka masih gemetar. Tapi Yunhai tidak memberi pilihan.

Lin Feng menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Rasa takut itu masih ada, menusuk di dadanya. Namun entah mengapa, di balik rasa takut itu, ada secercah tekad kecil yang tumbuh.

Ia menggenggam pedangnya erat.

“Aku tidak boleh jatuh di sini,” gumamnya pelan. “Aku harus terus maju… meskipun aku sangat takut.”

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!