Yuki, gadis belia yang terjebak dalam masalah hutang piutang keluarga, yang membuat dirinya di paksa harus menikah dengan saudagar kaya di Kampung halamannya. Saudagar yang sudah berumur, dan sudah mempunyai banyak istri.
Tak mau masa depannya berakhir menjadi istri seseorang yang tak dicintainya, terlebih dia punya impian untuk melanjutkan pendidikan, Yuki memutuskan untuk kabur dari rumah. Di sini masalah baru muncul!
Alih-alih ingin bekerja supaya bisa membatu orang tuanya melunasi hutang, tapi dia malah dihadapkan masalah baru, yaitu harus berhadapan dengan seorang BOS BESAR di tempat dia bekerja. Bos yang cuek, dingin, dan benar-benar menyebalkan, menurut Yuki.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Yuki akan berhasil lolos dari Sang Saudagar? Atau malah terjebak di dalam lingkaran pesona Bos Besar?
Silahkan dibaca ya temen-temen, semoga kalian suka ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23 TOLONG
Malam hari Yuki tidak bisa tidur, dia terus saja teringat akan kejadian tadi siang. Ditambah lagi dengan Sari yang melihat kejadian itu.
"Haduh! Lagian Tuan Elzel selalu saja begitu, apa sih mau dia?" Yuki semakin pusing,
Yuki memutuskan untuk keluar rumah mencari angin segar. Dia berjalan mengendap-endap takut yang ada yang melihat, tapi sepertinya mustahil karena sekarang ini sudah menunjukan pukul Sebelas malam, Tuan Elzel dan para Pegawai tentu saja sudah tertidur lelap, begitu di benak Yuki.
Hingga sampailah dia di halaman samping rumah, di sana terdapat sebuah kolam renang yang sangat luas, Tuan Elzel sering berenang di sana kalau sedang tidak ada kegiatan.
Yuki berjalan mendekati kolam, melihat pantulan cahaya rembulan di sana. Sesaat bayangan Emak dan Bapaknya kembali muncul. Tidak bisa dipungkiri saat ini dia sangat merindukan Emak dan Bapaknya.
"Rindu, Emak... Bapak... Gimana kabar Emak sama Bapak?" Lirih Yuki, tak terasa kakinya terus saja melangkah mendekati kolam renang.
BYURRR!!!
Yuki terpeleset masuk ke dalam kolam.
"Akh!"
Sialnya dia tidak bisa berenang.
"Akh! To... Tolong!!!" Suara Yuki terputus-putus karena tubuhnya seperti tertarik ke bawah..
"To...long!!" Sebisa mungkin Yuki berteriak, berharap ada seseorang yang mendengarkannya.
Pak Karman dan Pak Dirga asik bermain catur sambil ngopi, tapi tidak mungkin mereka mendengar teriakan Yuki, karena jarak antara Pos penjagaan dan kolam renang lumayan jauh.
Yuki seperti kehabisan napas. Biasa mandi di sungai tak menjamin kalau dia bakal pandai berenang, nyatanya tidak. Kolam air yang dalam berhasil membawa tubuhnya terseret ke dasar kolam.
"Tuhan... Saat ini aku pasrah."
Grep!
Sebuah tangan menarik Yuki keluar dari kolam. Seseorang!
Lalu orang itu menggendong tubuh Yuki ke tepi, dan membaringkannya.
Tuan Elzel.
Orang itu adalah Tuan Elzel.
Tuan Elzel menekan-nekan dada Yuki, Hingga Yuki tersadar.
"Uhuk! Uhuk!"
Yuki membuka mata.
"Huaaaaaa!!!!" Yuki memeluk Tuan Elzel, dengan sangat erat.
"Hei! Tenanglah!" Tuan Elzel kelagapan atas sikap Yuki.
"Huaaaa!!! Aku kira aku sudah mati!" Yuki terus saja menangis seperti anak kecil.
"Kau masih hidup!"
"Huaaaa!!!"
"Ya ampun anak ini, suaranya bisa membangunkan orang sekomplek." Tuan Elzel memijat keningnya.
Mendengar kegaduhan, Mery dan Pegawai lainnya jadi terbangun dan segera menuju TKP diikuti oleh Pak Karman dan Pak Dirga yang penasaran kenapa Mery dan yang lainnya pada ke samping rumah.
Saat mereka semua tiba didekat kolam, mereka semua kaget melihat adegan pelukan basah-basahan Tuan Elzel dan Yuki,
"Tuan? Yuki?" Sebut mereka serentak.
Yuki yang dari tadi memeluk Tuan Elzel segera melepaskan pelukannya.
"Haaaaaa??!!! Jangan salah paham semuanyaaaa..." Teriak Yuki yang memerah wajahnya.
"Kenapa kalian semua di sini? Sana kembali ke kamar kalian masing-masing!" Perintah Tuan Elzel.
"Maaf, Tuan."
Semuanya bubar, diikuti Yuki.
"Hei kau!" Panggil Tuan Elzel, yang lain pada saling senggol, tapi sepertinya mereka semua tau yang dipanggil Tuan Elzel adalah Yuki.
"Saya, Tuan?" Tanya Yuki sambil menunjuk dirinya
"Em!"
Mery dan Pegawai lainnya meninggalkan tempat itu, menyisakan hanya Tuan Elzel dan Yuki di sana.
"Maaf, Tuan. Kenapa aku tidak boleh pergi? Aku... Kedinginan." Yuki sambil menggosok-gosokan kedua tangannya.
"Kau sudah aku selamatkan, apa kau tidak mau berterimakasih? Lancang sekali!", ucapan Tuan Elzel membuat Yuki jadi salah tingkah.
"Kalau begitu terimakasih, Tuan."
"Cuma itu?"
"Lalu saya harus bagaimana, Tuan?" Yuki semakin salah tingkah.
"Cih! pegawai macam apa kau ini? Sudah membuat saya basah, langsung pergi begitu saja."
"Gak jelas banget orang satu ini, astaga!" Batin Yuki berteriak
"Saya harus apa, Tuan?"
Grep!
Tuan Elzel yang tiba-tiba menggendong Yuki ala Bridge style, membuat Yuki seperti terkunci, tidak bisa bergerak dan tidak bisa berkata-kata.
"Tu-tuan?!" Hanya itu yang mampu dia ucapkan.
"Diam lah!"
__________
Tuan Elzel menurunkan Yuki, ketika mereka tiba di kamar. Tepatnya di kamar Tuan Elzel.
"Kenapa Tuan membawaku ke sini?" Yuki sedikit gemetar,
"Bukalah bajumu!"
"APA?! GAK MAU!!!"
Tuan Elzel hanya bisa menggelengkan kepala,
"Tidak mungkin kan, semalaman kau mau memakai baju basah?" Tuan Elzel memberikan piyama kepada Yuki.
"Iya juga ya, bisa masuk angin aku" Yuki berpikir sejenak.
"Maaf, Tuan... Aku pikir, Tuan..."
"Pakailah!"
"Iya, Tuan."
Yuki meninggalkan Tuan Elzel ke kamar mandi untuk mengganti bajunya yang basah. Setelah itu, bergantian Tuan Elzel yang mengganti bajunya.
Tuan Elzel keluar dari kamar mandi, Yuki hanya berdiri di sisi ranjang.
"Tuan, aku boleh kembali ke kamar ku kan? Ini sudah lewat tengah malam, aku sudah mengantuk, Tuan." Tanya Yuki polos.
"Kalau begitu, tidurlah!" Tuan Elzel sembari membaringkan tubuhnya ke kasur.
"Yes! Bisa pergi!"
Tampak raut wajah Yuki yang gembira, tanpa menunggu lama lagi, dia segera melangkahkan kaki hendak meninggalkan kamar Tuan Elzel.
"Hei! Siapa suruh kau keluar dari kamarku?" Teriakan Tuan Elzel menghentikan langkah kaki Yuki.
"Hah? Tadi Tuan suruh aku tidur."
"Tapi tidak tidur di kamarmu!"
"Apa? Apa-apaan ini, Tuan?" Yuki protes
Tuan Elzel mendekat, mendorong Yuki hingga menjatuhkannya ke kasur.
"Tuan..."
"Setidaknya... Beri sesuatu sebagai ucapan terimakasihmu, karena aku sudah menyelamatkan mu!" Bisik Tuan Elzel pelan ditelinga Yuki.
"Tuan.... Jangan...." Yuki yang selalu saja berontak.
.
.
.
.
Sesaat kemudian, Tuan Elzel merebahkan kembali tubuhnya ke kasur, membiarkan Yuki yang menutup wajahnya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku juga tidak akan macam-macam padamu! Sudah, tidurlah! Besok kau akan kembali bekerja!" Ucap Tuan Elzel yang membuat Yuki menjadi kikuk, Salah tingkah, malu, semua campur aduk menjadi satu. Bingung dengan sikap majikannya itu, misterius.
Yuki senang karena Tuan Elzel tidak akan macam-macam pada dirinya, tapi tidur satu ranjang tanpa ikatan pun salah, kan? Hingga Yuki memutuskan untuk tidur di sofa, yang kemarin pernah dia pakai untuk tidur.
ternyata Khanza sahabatmu itu
nyatanya menusukmu dari belakang Yuki🙁
baik diluar tapii ruwet didalam hatinya 🙁
walau tidak dipungkiri semua butuh uang""hehe apa si bahasanya ini😁😁✌️""