Follow IG : renitaria7796
Zivana adalah seorang pelayan di Rumah besar keluarga Pradipta. Karena memiliki wajah yang sangat cantik, Zivana sengaja menyembunyikan kecantikan wajahnya. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian laki-laki.
Suatu hari karena sebuah insiden, Zivana di kejar oleh seorang penjahat. Zivana di tolong oleh pemuda tampan bernama Sean Pradipta. Zivana tidak mengetahui jika Sean adalah majikannya.
Sean Pradipta mempunyai calon istri bernama Rissa. karena suatu insiden Rissa tidak hadir di acara pernikahannya bersama Sean. Untuk membantu agar reputasi Sean tidak hancur, Ziva lalu mengantikan Rissa menjadi istri dari Sean.
Namun Zivana tidak mengetahui ada rahasia besar yang telah di sembunyikan oleh Sean. Lalu bagaimana nasib pernikahan Sean dan Zivana di saat kehidupan masa lalu Sean dan Ziva muncul menghadang?
Season 2
Menceritakan kisah Angel anak dari Sean Pradipta. Angel menyukai Jimi sang asisten orangtuanya. Namun Jimi mempunyai kekasih dan akan segera menikah.
Bagaimana cara Angel menaklukkan hati Jimi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Mobil sampai di kediaman rumah besar. Jimi keluar dan membukakan Ziva pintu mobil. Ziva masuk ke dalam rumah bersama dengan Jimi.
Terlihat Rissa dan Sean tengah duduk di sofa ruang tamu. Rissa tersenyum sinis melihat Ziva.
"Sudah punya suami, masih saja keluyuran," ucap Rissa.
Sean menatap tajam istrinya. "Naik ke atas lalu bersihkan dirimu."
Ziva mengangguk lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sean menatap istrinya itu sampai Ziva tidak terlihat lagi dari pandangannya.
Sean beralih menatap tajam Rissa. "Jangan menganggu istriku. Kamu hanya tamu di sini."
"Sean ... kenapa kamu tidak memperlakukan diriku dengan baik. Aku ini calon ibu dari anakmu," lirih Rissa.
Sean berdecih. "Cih ... selama belum ada bukti. Anak itu bukanlah anakku."
Sean beranjak pergi dari hadapan Rissa. Dia melangkah menaiki anak tangga menyusul Ziva. Sedang Rissa sangat kesal akan sikap acuh Sean.
Sean benar-benar sudah berubah. Dia sudah tidak memperdulikan keadaan Rissa. Pada hal Rissa tengah mengandung anaknya.
Ziva sudah selesai membersihkan dirinya. Dia masih mengunakan handuk kimono dan handuk yang melilit di kepalanya. Sean membuka pintu kamar dan masuk.
Ziva menoleh pada Sean. "Hubby ... maaf, aku pulangnya telat."
Sean memberi tatapan nyalang. "Kenapa kamu bisa bersama Richard?"
Ziva menelan saliva. "Kami tidak sengaja bertemu."
Sean mencengkram pinggang Ziva. "Apa kamu menggodanya?"
Ziva mengeleng. "Tidak ... aku hanya berteduh saja di mobilnya."
Sean melepas handuk kimono Ziva. Dia memeriksa setiap jengkal dari tubuh istrinya. Mungkin saja ada tanda kepemilikkan dari Richard di tubuh Ziva.
"Hubby ... apa yang kamu lakukan. Aku tidak berbuat apa pun. Wajahku saja tadi jelek," kata Ziva.
Sean merasa trauma akan perselingkuhan. Dia hanya takut jika Ziva juga sama seperti Eve dan Rissa. Maka dari itu Sean memeriksa tubuh Ziva.
"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Ziva.
Sean menatap wajah cantik Ziva. "Apakah harus ... aku percaya. Dalam keadaan hujan kamu dan Richard berduaan di dalam mobil. Mana aku tahu, mungkin saja kamu berciuman denganya."
Ziva mengeleng. "Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya duduk saja, percaya padaku."
Sean membuka handuk di kepala Ziva. "Aku percaya tetapi kamu telah membuatku menunggu dan aku sangat kesal.
Ziva mengengam tangan Sean. "Hubby ... maafkan aku."
Sean membawa Ziva duduk di sofa. "Kamu tahu apa yang aku inginkan?"
Sean menarik salah satu sudut bibirnya. Dia mengusap bibir kemerahan istrinya. Ziva menelan ludahnya. Dia tahu apa yang di inginkan Sean.
"A-a-aku tahu ... akan aku lakukan," ucap Ziva.
Ziva melepas tali pinggang Sean. Dia mulai menikmati permen panjang itu. Sean mengelus rambut basah Ziva. Dia sungguh menikmati permainan ini.
"Lebih dalam lagi, sayang," kata Sean.
Sean menengadahkan kepala ke atas saat sudah mencapai puncaknya. Sean meraih wajah Ziva lalu mengecup keningnya.
"Aku tidak ingin lagi kejadian ini terulang," kata Sean.
Ziva mengangguk. "Baik ...."
"Bersihkan mulutmu, aku menunggumu di bawah untuk makan malam," kata Sean.
Sean keluar dari kamar menuruni anak tangga. Dia menunggu Ziva di ruang makan. Ken, Jimi dan Rissa juga sudah duduk di kursi makan.
Setelah membersihkan diri kembali, Ziva turun dari atas menyusul Sean. Kali ini Ziva absen memasak untuk suaminya.
"Malam semua," sapa Ziva.
"Malam juga Ziva cantik," sahut Ken.
Sean memberi tatapan tajam pada Ken. Dia terlihat tidak senang akan pujian yang di lontarkan oleh adiknya. Ken malah semakin menggoda Ziva. Dia ingin membuat Sean meradang.
Ziva mengambilkan makanan untuk suaminya. Melihat itu, Ken juga ingin minta di layani.
"Ziva ... ambilkan aku juga dong," melas Ken.
Ziva tersenyum lalu mengambil piring Ken. Dia lalu mengambilkan Ken makanan. Sean semakin kesal. Aura membunuh sudah terpancar jelas dari tubuhnya. Sean mengambil sendok lalu melemparnya ke wajah Ken.
"Aduh!" Ken mengusap keningnya yang terkena sendok. "Sean ... sakit nih."
Ken bangkit dari duduknya lalu mendekat pada Ziva. Dia meraih tangan Ziva dan menempelkan tangan Ziva ke keningnya.
"Ziva ... keningku sakit. Tolong di elus, biar sakitnya hilang," ujar Ken lemah lembut.
Sean mengepal geram. "Kennnnnn ... duduk kembali ke tempatmu. Kalau kamu masih menggoda Ziva, aku akan potong uang bulananmu."
Ken mendelik dan langsung duduk di tempatnya semula. Ziva hanya mengeleng akan kelakuan Sean dan Ken. Jimi berusaha untuk menahan tawanya. Sedang Rissa sangat kesal dan cemburu pada Ziva.
Selesai makan malam Sean mengajak istrinya menuju taman belakang rumah. Mereka berdua menikmati lampu taman dan juga kebun mawar.
Sean memetik bunga mawar putih untuk Ziva. "Sayang ... ini untukmu."
Ziva tersenyum lalu mengambil bunga itu. Dia menghirup aroma mawar yang di berikan Sean. Kadang Ziva tidak mengerti akan sikap Sean. Suaminya itu kadang bersikap manis. Kadang juga begitu menakutkan.
Sean sangat tidak suka jika di bantah. Dia juga punya sikap posesif dan cemburu. Sean tipe pria yang tidak mudah untuk menyatakan perasaan dalam hatinya.
Sean tipe pria yang melakukan sesuatu dengan tindakan. Seperti saat ini, dia bersikap manis dengan memberi Ziva bunga. Tiada kata cinta yang keluar dari bibirnya. Ziva sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Sean terhadap dirinya.
Sean hanya menyatakan kepemilikkan saja. Belum pernah, terucap kata aku mencintai kamu dari bibir Sean.
Sean merebahkan kepala Ziva di pundaknya. Dia mengelus lalu mengecup kening istrinya. Ziva memejamkan mata menikmati setiap kecupan dari bibir Sean.
"Sayang ... aku tidak suka kamu mendekati Ken," ucap Sean.
"Hubby ... kenapa kamu cemburuan sekali. Ken itu adikmu," kata Ziva.
"Ken juga seorang pria. Kalau dia naksir kamu bagaimana?"
Ziva terkekeh geli. "Pikiran kamu itu kejauhan."
"Sayang ... aku tidak mau kamu keluar rumah lagi. Aku tidak ingin kejadian tadi terulang," ucap Sean.
"Apa kamu ingin mengurungku?" tanya Ziva.
"Itu ... demi kamu juga. Siapa suruh punya wajah cantik. Biar kamu tutupi juga masih kelihatan cantik," ucap Sean.
"Dasar posesif!"
Sean menarik hidung Ziva. "Apa kamu bilang ... aku posesif."
Sean mengelitik perut Ziva. Istrinya tertawa karena merasa geli. "Sean ... hentikan."
"Kamu bilang apa tadi?"
Ziva terengah-engah karena tertawa. "Maaf ... hentikan, ini geli."
Sean membawa tubuh Ziva ke dalam dekapannya. Dia juga mengecup seluruh wajah istrinya. Ziva tertawa karena merasa geli. Sean tiada henti memberi kecupan di wajah istrinya.
Sean membenamkan bibirnya di bibir Ziva. Mereka saling berciuman mesra. Mata Sean melirik seseorang yang tengah merekam adegan mesra mereka. Sean hanya terkekeh di dalam hati.
Sean semakin memberi ciuman hangat pada Ziva. Dia sengaja berbuat hal seperti itu demi sang mata-mata istri pertamanya. Sean akan lihat bagaimana reaksi Eve saat melihat video Sean bersama Ziva.
TBC
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.