Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 23
Sesampainya di rumah kontrakannya, Rivaldo mendudukan dirinya di atas sofa. Atas permintaan gadis itu, ia pergi ke dapur, untuk mengambil air.
Rivaldo menghela nafas panjang, deruan nafasnya memburu. Ia menatap sekitar, tiada satupun foto gadis itu tengah berselfie. Ia sedikit mulai penasaran dengan Nisa.
Kini, kedua bola mata Rivaldo, menatap Denisa yang ada di sampingnya dengan membawa sebuah air dan satu botol mini anti septik. Denisa mengambil sebuah kapas, lalu menaruhnya ke air. Ia mulai membersihkan luka di wajah pria itu, Nisa sama sekali tidak merasa jijik ataupun lainnya.
Ia membersihkan dengan teliti. Setelah membersihkan dengan air, wanita itu meraih anti septik, dan segera memoleskannya ke wajah pria itu.
Rivaldo merasa, gadis ini adalah gadis yang begitu penyayang dan baik hati. Ia rela merawat seseorang yang tidak ia kenal. Apakah gadis itu tidak takut, jika seandainya ia adalah orang jahat? Pikirnya.
Ia menatap wajah Nisa, yang kini lebih dekat dengan wajahnya, kulit tangan wanita itu sangat lembut dan halus, terasa di wajahnya.
“Semuanya sudah selesai dibersihkan, Mas. Apakah Mas sudah makan siang?” tanyanya seraya sambil meletakkan antis itu ke atas meja.
“Terima kasih banyak, Nisa. A ... Aku, belum makan,” jawab Rivaldo jujur, bahwa ia belum makan dari kemarin.
“Ya sudah, Mas tunggu di sini, yah. Nisa mau ambil makanan di dapur dulu,” ujar Nisa dengan pelan, ia tersenyum menatap Rivaldo.
“Eh, tunggu, Nis!” sahut Rivaldo tiba-tiba. Ia merasa kurang nyaman atas apa yang dilakukan wanita itu, pada dirinya.
“Eh? Kenapa, Mas? Ada yang bisa Nisa bantu?” Nisa menghentikan langkahnya, berbalik menatap Rivaldo dengan penuh tanda tanya.
“Niss ... Apa kamu tidak takut, kalau aku ini adalah orang jahat? Kenapa kamu mau merawat orang yang tidak kamu kenal?” Rivaldo menatap bola mata Nisa, ia ingin tahu jawaban apa yang akan didengarnya.
“Mas, kita itu harus saling tolong menolong, urusan orangnya baik atau jahat, biarlah urusan belakangan. Mas tahu? Orang yang berbuat baik, pastinya akan dibalas dengan kebaikan,” ujar Nisa dengan serius. Raut wajahnya kini tengah tersenyum lebar.
“Kamu tidak takut, kalau saya akan melakukan hal yang tidak diinginkan sama kamu?” Rivaldo bertanya dengan serius.
“Mas tahu? Tidak ada orang yang berbuat baik dibalas dengan kejahatan. Terkecuali, kalau hati mereka telah mati.” Nisa meninggalkan Rivaldo yang kini belum selesai berbicara, gadis itu sangat unik.
Tanpa disadari, semua pertanyaan Rivaldo, dijawab dengan tegas oleh Denisa. Membuat Rivaldo semakin penasaran, dengan sikap sesungguhnya. Akankah ia sama dengan mantan kekasihnya, Viona? Pria itu masih takut, kalau nanti, Denisa sama seperti mantan kekasihnya itu. Besikap manis di depan, dan busuk di belakang.
Ia termenung, mengingat kembali kisah lalu bersama Viona. Begitu banyak kenangan manisnya bersama Viona. Namun itu semua, hanyalah sebatas kenangan saja. Tidak lebih dari itu. Seandainya Viona tidak melakukan pengkhianatan di belakangnya. Mungkin ia akan segera menikah bersama wanita itu.
Waktu tak bisa diulang. Biarkan kepedihan ini, menjadi luka yang akan segera sembuh. Ia percaya, suatu saat akan ada wanita yang mampu bersama dengannya. Mungkin nanti, Viona menyesal dikemudian hari, karena telah meninggalkannya, demi laki-laki lain. Yang hanya ingin menikmati tubuhnya saja.
“Mas ... Hei! Ayo makan!” Nisa membuyarkan semua lamunannya. Ia menatap Nisa dengan tatapan tidak biasa.
“Ini, kamu yang masak?” tanya Rivaldo, menatap sebuah makanan di atas meja.
“Ya, ayo makan!” Nisa mengambilkan makanan untuk pria itu, dan memberikannya kepada Rivaldo.
“Terima kasih.” Rivaldo menerima makanan itu, ia mulai memakan, karena perutnya telah terasa sangat kosong, sejak kemarin.
****
Nathan dan Max, telah berada di dalam sebuah ruangan rahasia. Mereka mendudukan diri di atas sofa. Sambil menunggu seseorang datang. Tidak lama kemudian, seorang pria bertubuh kekar, dengan hidung mancung, bulu mata lentik, dagunya sedikit runcing, dan netranya berwarna hitam sedikit kecokelatan. Ia melangkah lebar masuk ke dalam ruangan, pria itu mendudukan dirinya di atas sofa, di hadapan Nathan dan Max.
“Siapa kau?” tanyanya dengan langsung, Nathan mengerutkan dahinya heran, apakah orang ini, tengah berbicara padanya? Pikirnya.
“Sa ... Saya? Saya Nathan,” jawabnya sedikit gugup. Entah mengapa, melihat wajahnya begitu sangar, membuat Nathan menjadi takut.
“Kenapa kau bisa terdampar di sini? Ini adalah Pulau terpencil, dan sangat jarang ditemui oleh Manusia,” ujar Morgan bertanya dengan serius. Sesuai perkataannya, bahwa ia akan mengintrogasi pria ini.
“Begitu panjang jalan ceritanya,” jawabnya jujur, menundukan wajahnya. Ia kembali teringat akan Rivaldo.
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi padamu. Aku akan membantumu sebisaku nanti,” ujar Morgan dengan serius. Membuat bola mata Nathan berbinar merasa senang.
“Serius?” tanya Nathan dengan tidak percaya.
“Ya, katakan dengan sebenarnya!” perintah Morgan dengan kata-kata tegas.
Nathan telah kembali ke Indonesia bersama seorang Pilot pribadi keluarga Xendrick, ia bergegas menuju rumah utama untuk menemui Bossnya—Rivaldo.
Tok-tok-tok!
Pintu itu diketuk oleh Nathan, terlihat seorang wanita paruh baya membuka pintu.
"Bik, Tuan ada di rumah?" Nathan bertanya dengan nafas tersengal-sengal. Karena ia berjalan dengan cepat menuju rumah utama ini.
"Tuan muda Rivaldo?" tanya balik Bi Tuti, haruskah ia menjawab dengan jujur?
"Iya, Bik. Tuan ada di rumah? Semenjak saya tidak bersama Tuan, firasat buruk selalu menghantui saya, Bik," ungkap Nathan dengan cemas, apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu.
"Maafin Bibi, yah, Den. Tapi Tuan muda sudah tidak tinggal di sini lagi." jujur Bi Tuti dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Deg!
Jantung pria itu seakan berhenti, nafasnya terasa sangat sesak. Jadi, firasat buruk yang selalu menghantuinya itu ternyata adalah ini.
"Kenapa tidak tinggal di sini lagi, Bi? Di mana Tuan muda? Ke mana perginya? kenapa bisa tidak tinggal di sini lagi, Bi?" tanya Nathan dengan khawatir yang kuat. Bi Tuti bisa melihat jelas kekhawatiran di netra indah milik Nathan.
"Karena wajahnya yang cacat membuat saya muak, saya tidak butuh seorang anak yang berwajah cacat!" jawab Rohan dari arah pintu tiba-tiba menjawab apa yang ditanyakan Nathan.
"Ca ... Cacat? Apa maksud yang Anda katakan, Pak?" tanya Nathan dengan gugup. Kecemasannya kini kian meningkat dengan banyak.
"Ya, dia sudah mengalami cacat fisik di wajahnya, bahkan wajahnya saja sudah hancur seperti monster yang menakutkan," jelas Rohan dengan menghina anaknya sendiri. Tiada belas kasih dari pria paruh baya itu.
"Kenapa bisa? Terus, apakah kalian mengusir Tuan muda Rivaldo dari rumahnya ini?" tanya Nathan sedikit bernada tinggi, suaranya menggema terdengar jelas di telinga Rohan, dan Raynand.
"Kamu tidak usah banyak bicara, Nathan! Saya akan menghapus berita tentang ini dan menganggap bahwa Rivaldo telah meninggal dunia akibat kecelakaan kalian di Roma!" tutur Rohan dengan rahang mengeras, menahan emosi.
"Ray, lanjutkan rencanamu, yang akan membuang pria brengsek ini ke pulau terpencil, sehingga tak ada orang yang menemukannya!" perintah Rohan pada anaknya.
Nathan menatap tak percaya, kedua bola matanya membulat dengan sempurna, bagaimana bisa keluarga terpandang ini, melakukan hal sebrengsek ini.
Raynand dan beberapa pria bertubuh kekar segera menahan Nathan yang hendak pergi, kedua tangan dan kaki pria itu diikat dengan sebuah tali yang cukup tebal.
"Lepaskan aku brengsek!" Nathan mencoba melawan beberapa pria bertubuh kekar itu. Namun, saat ia berbicara, mulutnya di tutup oleh Raynand.
Sebuah helikopter telah mendarat di halaman depan rumah besar. Raynand membawa Nathan dan beberapa pria bertubuh kekar. Mereka semua akan segera membuang Nathan ke sebuah Pulau terpencil, sehingga tidak ada orang yang menemukannya.
“Jadi, seperti itulah ceritanya. Keluarga Xendrick memang sudah keterlaluan, dia mengusir dan mencampakkan anak kandungnya sendiri. Hanya karena kecacatan fisik. Dan aku, dibuang dan dianiaya sebelum dibuang ke sini. Kalian bisa lihat sendiri, ini luka di perut dan kakiku, itu adalah bekas tusukan pisau dari Raynand Xendrick, putra kedua keluarga Xendrick,” jelas Nathan dengan panjang kali lebar. Mengingat kembali dengan apa yang telah terjadi.
Morgan menatap tak percaya, Keluarga Xendrick adalah salah satu orang terpandang di Asia. Tapi, melakukan hal menjijikkan ini? Morgan menggertakan giginya marah, rahangnya mengeras menahan emosi. Sebetulnya, Xendrick adalah musuh terbesarnya. Namun saat ini, ia harus membantu Nathan dan pria itu untuk membalaskan dendam. Agar dendam mereka sama-sama terbalaskan.
Dendam apa yang dikatakan oleh Morgan? Coba tebak!
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...