NovelToon NovelToon
Oppa Korea Suamiku

Oppa Korea Suamiku

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:128.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: rishalin

"Aku mohon jadilah Mamaku Ra!!" Pinta Hannah temannya sejak pertama kali masuk SMA.
"Jika dalam waktu satu minggu, orang tua mu tak bisa membayar sisa hutangnya, kamu harus menikah denganku manis." Ucap pria lintah darat yang terkenal didaerah itu.

Danira Grisela,
Seorang gadis polos yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMA, harus terjerat ancaman seorang lintah darat yang akan menikahinya jika orang tuanya tak bisa melunasi sisa hutangnya.
Namun, ia juga dihadapkan dengan permintaan sahabatnya yang memintanya untuk dengan Ayahnya dan berjanji akan melunasi semua hutang orang tuanya dan menanggung semua kebutuhan keluarganya.

Pilihan manakah yang akan Danira pilih?
Yuk langsung baca ceritanya!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rishalin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 23

Pagi itu Danira menggeliat dalam pelukan Hajun. Matanya yang baru saja terbuka menatap wajah Hajun yang sangat dekat dengan wajahnya.

Tangannya terulur membelai rahang Hajun dengan lembut lalu bibirnya mencium bibir Hajun sekilas.

Hajun mengerjapkan matanya saat merasa nafas panas Danira menggelitik diwajahnya. Hajun menyambut ciuman Danira dan menarik tubuh Danira sampai terduduk di atas perutnya.

Danira langsung menundukan wajahnya karena malu. Dan itu berhasil membuat Hajun tertawa kecil.

"Masa masih malu sih? Kan udah mau ada hasilnya olah raga malam kita." goda Hajun sambil mengelus perut Danira yang sudah hamil 2 bulan.

Perut Danira memang belum terlalu kelihatan besar.

Hajun mengganti posisinya menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang.

Membuat Danira turun posisinya, menjadi duduk di atas pangkuan Hajun.

Hajun menegakkan duduknya lalu satu tangannya meraih kepala Danira dan yang satu lagi menarik punggung Danira.

Hajun mencium bibir Danira lembut, membuat Danira langsung menyusupkan jarinya ke sela rambut Hajun.

Sejak tahu Danira hamil, Hajun berusaha sehati-hati mungkin saat mereka berhubungan badan.

Setelah cukup puas melumat bibir mungil itu, Hajun melepas ciumannya.

"Singanya sekarang udah jinak ya, Om, gak ganas lagi." goda Danira.

Hajun tersenyum. "Pawang singanya hebat, jadi singanya cepet jinak." jawab Hajun balik menggoda.

"Masa aku dibilang pawang sih!" ucap Danira seraya memukul bahu Hajun pelan.

Hajun terkekeh senang. "Sayang, jangan panggil Om terus dong. Nanti anak kita bingung. Dikiranya aku bukan ayahnya nanti!" rengek Hajun.

"Terus aku harus manggil apa dong?" tanya Danira manja.

"Panggil apa ya?" Hajun nampak berpikir sejenak. "Hmmm... ayang deh, mau ya?" pinta Hajun.

"Ayang? Ayang beb... hihihi, lucu juga. Bisa-bisa, Hannah bisa-bisa nggak berhenti ketawa nanti, kalau denger aku manggil Ayang beb... hihihihi" Danira terkikik geli.

Tawa kecil Danira terhenti saat Hajun menenggelamkan kepala Danira di dadanya.

"Om ...." panggil Danira.

"Ayang... Sayang...." protes Hajun.

"Yaaaang...." ralat Danira.

***

"Mam, kita ke kantor Papa yuk, sesekali kita makan siang sama Papa." ajak Hannah.

"Apa gak marah Papa kamu, kalau kita ganggu, Han?" tanya Danira.

"Ya enggaklah, masa putri sama istrinya datang, dia marah sih!." jawab Hannah seraya mengibaskan tangannya.

"Dia masih kerja di kantor, Han. Siapa tau Papa kamu merasa terganggu, kalau kita ke sana." ucap Danira ragu.

"Enggak mungkin lah, Mam!"

"Kita telpon dulu aja gimana?" tanya Danira

"Enggak usah, biar nanti jadi kejutan." jawab Hannah dengan senyum penuh arti.

Mereka berdua akhirnya berangkat ke kantor Hajun. Namun, saat sampai di kantor, sekertaris Hajun melarang mereka masuk, tapi Hannah tetap memaksa.

Saat mereka tiba didepan pintu ruangan Hajun, mereka mendengar suara pertengkaran di dalam ruangan itu.

"Aku kan udah bilang sejak awal, jangan berharap apa pun sama hubungan kita. Karena aku, gak bisa nganggap kamu lebih dari teman, Dona!" dari dalam Hajun terdengar emosi.

"Tapi sikapmu dulu manis banget Jun, gak kaya belakangan ini. Kamu terus saja menolakku!" Kali ini terdengar suara Dona yang marah.

Tanpa aba-aba Hannah menarik Danira masuk ke dalam. Membuat Hajun dan Dona sama-sama kejutnya saat melihat mereka.

"Hannah! Danira!" ucap Hajun kaget.

"Dengar ya Tante, Dona. Papa udah bilang, anda gak lebih dari sekedar teman. Jadi tolong jangan berharap apa pun dari Papa!"Hannah menatap Dona dengan tatapan sengit.

"Hmmm... ini sepertinya permainan kamu, Han. Kamu sengaja masukin gadis kampung ini ke rumah kamu, buat ngerayu Papa kamu! Sejak kehadiran gadis kampung ini, Papa kamu berubah! Dasar gadis kampung, murahan, matre! Kamu pasti mengincar harta Hajun, iya kan? Atau mungkin, kamu dapat bayaran besar dari Hannah buat goda Papanya. Biar Papanya menjauhiku! Ciih, gak tau malu!" ucap Dona seraya menatap Danira tanpa berusaha menyembunyikan kebenciannya pada Danira.

Danira hanya bisa diam membeku di tempatnya. Entah kenapa ia merasa kalau yang diucapkan Dona memang benar adanya.

"Cukup Dona! Jangan bersikap kasar sama putriku. Apa lagi sama istriku!" sentak Hajun.

Ia kini berdiri di antara Hannah dan Danira, ia merangkul bahu keduanya

Ucapan terakhir Hajun, tentu saja membuat Dona tercengang, begitu juga Hannah dan Danira, mereka terkejut mendengar pengakuan Hajun.

Hannah dan Danira langsung mendongak menatap wajah Hajun yang terlihat penuh amarah.

"Gak mungkin! Kamu bohong kan, Jun? Ini gak mungkin, aku gak percaya!" Dona terus menggelengkan kepalanya.

"Aku gak bohong, Danira emang benar istriku dan kami udah cukup lama menikah!"

"Aku gak percaya!" pekik Dona dengan raut wajah penuh amarah.

"Terserah kamu mau percaya atau enggak, Dona. Tapi itu emang kenyataannya. Jadi sebaiknya, kamu ke luar dari sini." ucap Hajun seraya menunjuk pintu keluar.

Dona menatap sengit tiga orang yang berdiri di hadapannya. Danira merasa, kalau pandangan Dona seakan hendak membunuhnya.

Dengan kasar Dona mengambil tasnya di atas meja, lalu kembali berdiri dihadapan mereka.

"Baiklah, sekarang aku bakal pergi, tapi urusan kita belum selesai!" ucap Dona seraya melangkah ke luar dan pergi meninggalkan tempat itu.

Hannah beranjak duduk di sofa lalu melipat kedua tangannya didepan dada.

Sementara Hajun memeluk erat Danira yang terlihat masih syok setelah mendengar ucapan Dona.

Hajun mengecup puncak kepala istrinya lalu ia menuntun Danira untuk ikut duduk di sofa.

Hajun merasakan tubuh Danira gemetar dalam pelukannya dengan air mata Danira yang mengalir di pipinya.

"Maafin aku, Mam. Seharusnya kita gak usah masuk ke sini tadi. Maafin aku ya." ucap Hannah penuh sesal seraya menggenggam tangan Danira.

Tapi, Danira tetap diam seribu bahasa. Sepertinya ata-kata Dona benar-benar sudah melukai hatinya.

"Apa benar aku wanita murahan? Apa benar aku wanita matre? Apa benar aku gak tau malu? Benar! Yang dikatakan Tante Dona semuanya benar! Aku emang murahan, menjual harga diri buat bayar utang. Aku emang matre, menjual harga diri demi materi. Aku emang gak tau malu, jatuh cinta sama orang yang udah nolong Aku. Aku emang...." Danira hanya bisa membatin pilu.

Kini Danira mulai merasa dadanya sesak, diiringi dengan matanya berkunang-kunang.

***

Danira membuka matanya pelan, entah sudah berapa lama matanya terpejam.

Dan kini Danira merasakan ada tangan yang memeluk pinggangnya.

Ia mendongakan kepalanya lalu menatap wajah Hajun yang tertidur dengan tenang tepat didepan wajahnya.

"Om, salah ya kalau gadis kampungan ini jatuh cinta sama, Om? Om, menurut Om, apa gadis kampungan ini murahan, matre, sama gak tau malu? Om, apa gadis kampungan ini gak pantes dapetin cintanya Om?"

Banyak sekali pertanyaan yang memenuhi isi kepala Danira, membuat air matanya kembali jatuh berderai.

Danira berusaha sekuat mungkin menahan isak tangisnya, agar tak membangunkan Hajun.

"Kamu udah bangun, Sayang?" tanya Hajun seraya mengangkat kepalanya dari bantal, ia berusaha menatap wajah Danira.

Tapi Danira membalikan badannya, berusaha agar Hajun tak melihat tangisannya.

"Aku mohon jangan nangis lagi, Sayang. Kasihan anak kita, pasti ikut nangis juga di dalam sini." ucap Hajun sambil mengelus perut Danira lembut.

Namun, ucapan Hajun bukannya meredakan tangis Danira, tapi justru membuat tangisnya semakin kencang.

Hajun membalikan tubuh Danira lalu membawa kepala Danira ke dalam pelukan di dadanya.

"Baiklah, sekarang menangislah, sepuas kamu, tapi setelah itu kamu gak boleh nangis lagi." ucap Hajun pelan. Ia mengecup kepala Danira lalu mengusap punggungnya pelan.

"Yaaang....!!" ucap Danira setelah tangisnya sedikit mereda.

"Ya!"

"Apa benar aku ini murahan? Aku ini kamp...."

Hajun tiba-tiba menyambar bibir Danira, sebelum Danira menyelesaikan kalimatnya.

"Kamu itu istimewa. Kamu itu gak ada duanya. Kamu yang udah bikin aku jatuh cinta. Kamu yang udah berhasil bikin aku rindu merana.Cuma kamu yang bisa bikin aku cemburu buta. Kamu ...."

Kali ini Danira yang menyambar bibir Hajun. Danira seolah lupa dengan kesedihannya setelah mendengar ucapan Hajun.

Hajun melepaskan ciuman mereka, ciumannya kini beralih ke leher Danira lalu memberikan kecupan di sana.

"I love yu, Sayang!" ucap Hajun di setiap kecupannya.

Danira membenamkan bibirnya di atas bahu Hajun, ia berusaha menahan suara yang ingin ke luar dari mulutnya.

Mereka seakan lupa, kalau kini mereka bukan sedang berada di ranjang kamar mereka, tapi diatas ranjang rumah sakit, padahal ada infus terpasang di tangan Danira

"Ehmm! Eehmmm!" Suara deheman seketika menyadarkan mereka berdua.

Danira meringis, ia merasa malu saat memandang ke arah Hannah, yang sudah bangun dari tidurnya di sofa. Danira mengira kalau Hannah tak ikut menunggunya di rumah sakit.

"Ganggu aja kamu, Han." omel Hajun.

Dengan enggan, Hajun melepaskan ciumannya, lalu Hajun kembali memasang kancing baju Danira yang sempat dibukanya.

Hannah terkikik geli. "Mending aku yang mergokin, coba kalau orang lain, kalian pasti malu berat!" ucap

Hannah seraya mendekati Danira.

"Maafin aku ya, Ma. Harusnya ...."

"Udah, nggak usah dibahas lagi ya, Han." Danira menyela ucapan Hannah.

Hannah mengangguk pelan lalu ia memeluk Danira dengan erat.

"I love you so much, Mam. Jangan pernah berpikir buat ninggalin aku sama Papa ya. Kamu itu mutiara buat kami."

Air mata Hannah kini menetes tanpa bisa dibendung lagi. Hajun yang melihat itu kini memeluk keduanya.

"Kalian berdua, mutiara hatiku." ucap Hajun sambil berusaha menyembunyikan air mata haru yang hendak jatuh dari matanya.

"Cuma dua, Sayang? Yang di sini nggak diitung?" tanya Danira, sambil menunjuk perutnya, membuat Hannah dan Hajun tertawa.

"Iya... kalian bertiga, mutiara dihatiku." Hajun mengoreksi ucapannya.

"Kalau kembar gimana?" tanya Hannah menggoda.

"Bagus juga, kembar dua... tiga... Atau empat ...."

Danira langsung memukul lengan Hajun kesal kerena ucapannya.

"Banyak amat kembarnya, Ay? Kalau yang ngomong emang enak, tapi yang hamil sama melahirkan itu aku!" protes Danira.

"Papa mulai sekarang harus lebih sabar. Kata orang, ibu hamil itu suka sering sensi. Selera makannya juga bertambah. Ehmmm... itu, gairah juga bertambah!" goda Hannah sambil melirik muka Danira yang kini memerah.

**********

**********

1
슈가
Lumayan
Hafin lubi
suka banget ceritanya....aq juga mw punya suami oppa oppa
Rosita💖
Ceritanya keren alurnya ga muter2 jadi asik bacanya...
Makasih banyak untukmu Othor tersayang...
Semoga selalu semangat menghasilkan karya2 terbaik....🤗👍
Diana Resnawati
makasih thor.cetitanya bagus bangeut👍
Diana Resnawati
dasar sidona😡
Diana Resnawati
udh ga sabar aja si oppa🤭
Diana Resnawati
romantis sekali mereka🥰
Diana Resnawati
kadian danira😥
Diana Resnawati
tp kamu tetep dihati hajun danira🥰
Diana Resnawati
kadian deh hajun🤭
Diana Resnawati
danira sehar trs sm kandungannya ya...
Diana Resnawati
Luar biasa
Diana Resnawati
ngaku aja kl kamu udh cinta sm danira
Diana Resnawati
hajun mulai suka sm danira.moga bucin
Diana Resnawati
hajun baik bangeut👍
Diana Resnawati
mampir thor
N Wage
nah betul kan othornya keceplosan "TIARA"
N Wage
kalau di novel satu lagi,ketika anaknya sdh dewasa si suami dipanggil TUHAN lebih dahulu.dan sang tokoh wanita dipertemukan kembali dgn sosok sang laki2 (arvin)yg tidak pernah bisa move on.sehingga msh melajang diusia matang.mereka dipersatukan lagi.
N Wage
bacanya suka ketukar jadi 'hujan'
N Wage
udah ganti ya namanya,kemarin aurora sekarang amira.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!