"Aku bukan anak haram.. hiks.. hiks''
teriak seorang gadis kecil seraya mengusap air matanya yang terus mengalir.
" Tata anak haram..anaak haram.. gak punya ayah.''
ledek beberapa anak-anak terus meneriaki gadis kecil itu dengan kata-kata anak haram.
'' aku punya ayah..hiks..hiks,'' gadis kecil itu terus menangis.
" Dimana coba ? kau itu tak punya ayah, ibu kamu kan pe*l**r,"
teriak seorang gadis memakai baju berwarna biru.
Tata Dwi Lestari seorang gadis yang harus mengalami kehidupan yang pahit akibat profesi ibunya sebagai wanita penghibur. Dimana hal itu membuat dirinya dicap anak haram oleh orang-orang disekitarnya dan mengalami kehidupan pahit serta psikis yang tidak mudah percaya pada orang lain.
Bagaimana perjuangan Tata dalam menghadapi semua cobaan hidupnya ??
apa dia akan ikut masuk dunia gelap seperti ibunya, atau dia akan mengubah pandangan setiap orang tentang dirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasib yang Sial
Tata terlihat gelisah, ia tak yakin bahwa keputusannya kali ini telah benar. Dia duduk sendiri di kursi disebuah restoran yang telah dipilih oleh Adhit melalui sambungan seluler samalam. Dia ingin membayar hutang itu dengan segera namun hutang sebanyak itu sungguh membuat orang yang memikirkannya saja akan menjadi kurus ditambah pada masa pandemi saat ini amatlah sulit untuk sebuah pekerjaan dan kembali di cafe milik Chandra juga rasanya tidak mungkin karena menurut yang ia ketahui dari Lisa bahwa Chandra sudah menerima staf baru.
" Cewek tarzan." Panggil seorang Adhit yang telah duduk dihadapan Tata tanpa disadari olehnya. " Sepertinya lo kangen banget ya? bahkan lo datang lebih awal dari waktu yang udah ditentukan." Celetuk Adhit kembali.
Tata menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan untuk merileks kan tubuhnya. " Gue udah putusin mau kerja di tempat lo, tapi dengan satu syarat!" Adhit mengernyitkan dahinya merasa bahwa syarat yang diberikan Tata akan membuatnya berat untuk di terima.
" Katakanlah." Ucap Adhit.
" Hmmmm, gue mau kerja disana tapi dengan syarat saat disana kita pura-pura gak saling kenal." Adhit terkejut bukan main mendengar perkataan Tata.
" Bagaimana bisa kita pura-pura gak saling kenal, gue gak mau! Gue gak bisa nerima syarat lo." Kedua tangan Adhit tersilang pada dadanya dengan matanya yang menatap tajam Tata.
Tata sadar Adhit tidak akan mudah untuk menerima syarat darinya, namun ia harus membuat Adhit menerimanya bagaimanapun caranya, karena ia merasa bahwa sosok Adhit masih banyak yang tidak ia ketahui dan membuatnya harus sedikit menjauh darinya.
" Dhit, gue gak mau saat gue kerja disana banyak karyawan yang akan berfikir kalo gue menggunakan cara kotor supaya bisa kerja disana, gue mau semuanya berjalan dengan normal." Ujar Tata tertunduk.
" Tapi nyatanya lo kan gak main kotor." Ucap Adhit kembali. Tata menunduk dan berkata dengan lirih. " Tolong Dhit".
Melihat Tata yang terlihat begitu berharap membuat Adhit frustasi untuk menolak permintaannya.
" Baiklah gue terima syarat lo." Lirih Adhit, dan langsung disambut dengan Tata yang sumringah dan berkata, " Makasih Dhit, sekarang gue bisa tenang dengan ini semua, dan juga masalah hutang gue, pasti gue bayar tapi lo harus sabar mungkin lama buat gue bayar." Tata menyeringai memperlihatkan jajaran gigi miliknya.
" Kalo gitu besok datanglah ke alamat ini pukul 9 pagi, jangan sampai terlambat" Setelah menyodorkan selembar kertas itu Adhit segera beranjak melangkah pergi.
Tata berteriak, " langsung pergi, gak mau makan dulu." Perkataan Tata tak digubris oleh Adhit, ia hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh.
" Apa lo sungguh gak suka adanya gue Ta? Asal lo tau uang yang lo anggap hutang itu cuma sebagai alternatif supaya lo tetap disamping gue, tapi sekarang lo justru minta gue berpura-pura gak kenal lo, sudahlah asal lo merasa nyaman gue bakal ikuti mau lo" Gumam Adhit dalam hatinya.
" Tuan kita langsung ke kantor." Ucap Danu saat Adhit sudah dalam posisi duduk yang sempurna pada kursi mobil.
" Langsung ke kantor, Oiya Danu.."
" Iya tuan, apa ada hal yang tuan inginkan?" Tanya Danu dengan sopan.
" Besok Tata akan ke kantor tolong permudah segala urusannya dan jangan sampai membuat sedikit rasa curiga darinya." Ujar Adhit yang di angguki oleh Danu.
" Tuan terlihat sangat sedih setelah menemui nona Tata, apa ada hal yang membuatnya tidak nyaman." Batin Danu dan langsung melajukan mobil itu dan membelah jalanan metropolitan yang padat.
***
Ratih berencana untuk memasakan sup ayam kesukaan Tata. " Mungkin harus secepatnya mencari kerjaan." Celetuk Ratih saat melihat isi dompetnya yang ia sadari sudah mulai menipis. Setelah dirasa sudah siap dan ojek online yang dia pesan pun telah tiba di depan kontrakannya Ratih berangkat menuju pasar tradisional terdekat.
" Mas ini uangnya, terimakasih." Ucap Ratih kepada tukang ojek online itu saat ia telah sampai di pasar tradisional.
" Iya mbk, terimakasih kembali." Balas pria ojek itu dan mengambil uang yang di sodorkan oleh Ratih.
" Saya sudah tua mas dan sudah punya anak yang usianya 20 tahunan panggil ibu." Celetuk Ratih yang membuat si mas ojol merasa tertohok. " Eh maaf bu! saya pikir masih muda soalnya masih terlihat masih muda bu." Ucap ojol itu. Ratih berdehem dan melangkah ke dalam pasar.
Ratih membeli sayur sop serta kebutuhan dapur lainnya yang ia rasa sangat di butuhkan dan stok di dapur kontrakannya tidak ada, dan saat ini ia sedang berada disebuah kios untuk membeli ayam.
Entah nasib sial macam apa yang menimpa Ratih, tanpa ia sadari ternyata Gendis wanita yang kebetulan tinggal didekat kontrakan Ratih juga berbelanja di kios yang sama dengan Ratih.
" Looh bukannya ini Ratih si kupu-kupu malam." Celetuk Gendis yang disengaja dengan nada sedikit keras dan menimbulkan bisikan-bisikan tidak suka dan menatap Ratih dengan tatapan mengejek.
" Pak ayam setengah kilo aja." Ucap Ratih pada penjual di kios ayam potong itu tanpa menggubris perkataan wanita itu.
" Hey! Jangan pura-pura tidak kenal Ratih, ibu-ibu semua lihat wanita ini baik-baik dia namanya Ratih dan dia ini seorang p*la**r hati-hati suami kalian bakal di goda sama wanita ini." Kali ini Gendis teriak dengan sangat keras yang membuat kegaduhan di pasar terasa jelas dan perkataan Gendis ini disahuti oleh para pengunjung pasar lainnya.
" Apa benar dia itu pel***r, amit-amit dah semoga keluarga saya dijauhkan sama wanita macam dia." Celetuk wanita lainnya.
Remuk rasanya hati Ratih saat mendengar cemoohan para wanita di pasar itu, namun melawan pun tidak mungkin diam adalah pilihan yang ia pilih.
" Terimakasih pak, ini uangnya." Ucap Ratih menyodorkan uang lima puluh ribuan dan langsung beranjak untuk meninggalkan pasar itu.
Sungguh sial sekali nasib Ratih. Gendis tidak membiarkannya lolos begitu saja, dengan sengaja Gendis mendorong Ratih yang langsung terjerembab persis dihadapan seorang bapak-bapak, dan hal itu membuat para pengunjung lainnya naik pitam dan melempar Ratih dengan sayur-sayuran disana.
" Dasar wanita ******.. wanita murahan, pergi dari pasar ini, dan jangan pernah datang kemari lagi." Teriak para ibu-ibu disana dengan tangan yang masih melempari Ratih dengan sayuran seperti tomat dan semacamnya. Sedangkan Gendis tersenyum lebar. Ratih melangkah setengah berlari terseok-seok air matanya tak hentinya keluat begitu deras, hingga ia hampir terjatuh kembali namun nasib baik masih memihak kepadanya sampai seorang pria memapah tubuh Ratih dan membantunya untuk berjalan.
" Hati-hati saat melangkah." Ucap pria itu yang langsung membuat Ratih tersentak dan menoleh.
" Ka..kamu bu..bukannya orang yang membantuku saat di angkutan umum?" Ucap Ratih terbata.
" Iya benar, sudahlah yang terpenting adalah mengantarmu pulang dengan aman." Ucap pria itu dan membimbing Ratih agar berjalan ke arah sebuah mobil.
****
**Bersambung.....
--------------
Terimakasih para readers yang budiman jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, vote, dan rate pada karya ini.
😊😊**
mentang2 byk duit, seolah2..........
hehehe
bukannya Tata udah rau kalau Adit itu CEO dan juga kan Tata juga dah sempat jadi karyawannya Adit?
Kok jadi kesannya di bab ini Tata masih nyangka Adit fotografer?