NovelToon NovelToon
Nasib Gadis Peramal Miskin

Nasib Gadis Peramal Miskin

Status: tamat
Genre:Duda / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Karena hutang pada mantan kekasihnya dan biaya kuliah yang nunggak, Fahira terpaksa mencari sampingan dengan menyamar sebagai peramal.


Akhirnya lapak jasa ramalnya didatangi pelanggan pertama, dia seorang duda ganteng yang kaya raya. Sudah lima tahun menduda. Ternyata duda itu merupakan tetangga sebelah rumah kos-kosan Fahira yang sudah lama Fahira taksir.

Fahira akhirnya merencanakan sesuatu. Dengan menyamar sebagai peramal, dia menjerat duda itu.

Apa yang dilakukan Fahira sebagai Peramal palsu pada sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Faheera Yang Bingung

  Faheera masih di dalam Mesjid itu, sedangkan Gelora sudah keluar dari dalam tempat ibadah itu. Tekadnya akan terus mencari Faheera sampai ketemu, terlebih setelah membaca semua isi surat Faheera yang sangat menyentuh hati sekaligus menyadarkan Gelora.

  Faheera melanjutkan langkah kakinya, kini dia memburu tukang becak sekitaran Mesjid sana. Faheera memberikan alamat saudara jauh dari sang ibu yang berada di sekitar Malioboro ini. Katanya saudara jauh ibunya, membuka kafe di sekitar wilayah itu.

  Tukang becak itu tahu alamat itu, karena sehari-hari dia melewati rute itu.

 "Saya tahu alamat ini, Mbak. Mari saya antar," ujar tukang becak seraya mempersilahkan Faheera menaiki becaknya.

 "Ongkosnya berapa, Pak?" tanya Faheera seraya merogoh kembali dompetnya. Uang di dalam dompet itu hanya tinggal 300 ribu saja ditambah sisa-sia receh, untung saja receh itu jumlahnya lebih dari 20 ribu, sehingga Faheera tidak perlu memberikan uang 100 ribu untuk dipakai membayar ongkos becaknya.

  Becak mulai berjalan, menuju alamat yang Faheera berikan tadi. Hanya sepuluh menit, becak itu sampai pada alamat yang dituju. Dan alamat itu sesuai dengan yang diberikan Faheera.

  "Di sini, Mbak." Bapak becak itu menghentikan becaknya. Faheera bersiap turun, lalu memberikan ongkosnya pada tukang becak.

  "Terimakasih, Pak," ucapnya seraya berjalan menghampiri sebuah kafe yang alamatnya sesuai dengan Faheera cari.

  Faheera melihat seorang perempuan muda seusianya, lalu ia menghampiri dan bertanya.

  "Maaf, Mbak. Mau numpang tanya," sapanya ramah.

  "Tanya apa, Mbak?" sahut perempuan itu.

  "Mbok Nilemnya ada?" Sejenak perempuan yang ditanya oleh Faheera itu tertegun, tidak lama kemudian dia berbicara.

  "Ohhh, Mbok Nilem yang dulunya pemilik kafe ini, ya? Beliau sudah meninggal dan sekarang kafenya dijual pada pemilik baru," ujarnya menjelaskan.

  Faheera tersentak mendengar hal itu, dia begitu sedih dan terpukul, lantas ke mana ia harus mencari tempat berteduh malam ini? Sementara uang di dompetnya hanya tiga ratus ribu saja.

  "Meninggal, Mbak?" kejutnya.

  "Ia. Kafe inipun telah dijual oleh anak-anaknya," ujar perempuan itu lagi.

  Faheera semakin terkejut dan kesedihan dalam hatinya begitu mendalam. Lantas harus ke mana ia sekarang? Untuk mencari tempat tinggal saja saat ini begitu sulit, seandainya ia memiliki uang di dompetnya minimal satu juga, bisa jadi hari ini dia mencari kontrakan dan menyewanya.

  Faheera menyesal, kenapa uang di dalam ATMnya yang masih ada sisa dua juta itu tidak sekalian ia ambil saja saat membayarkan hutang pada Faris kala itu.

  Saat itu Faheera begitu buntu dan tidak ada solusi yang membuat dirinya bisa membuktikan bahwa uang kiriman Gelora sama sekali tidak dipakainya, dan dipakai untuk membayar hutang pada Faris seperti dugaan ibu mertua dan Wisna adiknya Gelora. Jalan satu-satunya hanyalah meninggalkan ATM nya di sana, supaya Gelora membuktikan bahwa uang kirimannya memang tidak dipakai Faheera.

  "Bagaimana ini, apakah aku harus tetap di sini dan mencari pekerjaan dengan membuat orang berbelas kasihan?" bisik Faheera bingung.

  Akhirnya Faheera memutuskan kembali ke tempat tadi, di mana ia duduk di teras Mesjid di kawasan Malioboro. Tiba di sana, perutnya tiba-tiba mual kembali dan rasanya ingin muntah. Faheera menduga, rasa mual yang ia rasakan karena sejak pagi perutnya belum diisi makanan. Faheera hanya makan wedang jahe satu mangkok tadi saja di depan Mesjid.

  Faheera segera ke kamar mandi di Mesjid itu, lalu menumpahkan rasa mual itu di sana. Setelah puas menumpahkan rasa mual, Faheera kembali lagi ke teras mesjid. Dia kini sangat bingung, belum lagi Hp nya yang menghilang, sama sekali tidak ada yang bisa ia hubungi.

  Ternyata pergi menjauh dari tempat tinggalnya, tidak membuat Faheera bisa lebih baik, ia justru terlunta dan sengsara. Tadinya datang ke Yogyakarta ini, ingin mendatangi saudara jauh ibunya yang buka usaha di kota gudeg ini, tapi kenyataan pahit yang ia terima.

  Faheera berpikir keras, dia harus ke mana.

  "Uduk uduk uduk." Seorang Mbok bakul gendong menawarkan jualannya. Faheera tersentak dan merasa membutuhkan makanan itu karena perutnya kosong.

  "Mbok, jual nasi uduk?" Faheera bertanya sembari mendongak.

  "Iya, Mbak. Mau nasi uduknya?"

  "Iya, Mbok. Berapa satu bungkusnya?"

  "Lima ribu."

  Tanpa berpikir lagi, Faheera membeli satu nasi uduk dan membayar dengan uang pas. Untung saja uang receh itu masih ada sisa lima ribu.

  Faheera segera mmbuka bungkus nasi uduk, ternyata dalamnya ada telur dan bihun. Lumayan untuk mengganjel perutnya yang lapar. Faheera makan dengan lahap, tanpa memikirkan sekitarnya.

  Perut Faheera kini sudah tidak keroncongan lagi, sakit di kepalanya sedikit reda. Sejenak ia mengistirahatkan tubuhnya sebelum kembali berpikir.

  Beberapa menit berpikir akhirnya Faheera bulat memutuskan akan kembali ke kampung halamannya. Ia akan menumpang beberapa saat di rumah Wak Hasan yang kemarin menikahkannya dengan Gelora.

  Sayangnya kereta untuk ke Jakarta hanya berangkat malam hari sekitar jam 20.00 Wib. Terpaksa Faheera harus menunggu beberapa, jam sampai kereta itu berangkat.

  Ketika Faheera menaiki ojek menuju stasion kereta, Faheera seakan melihat bayangan Gelora yang begitu nyata.

  "Mas Lora, benarkah itu Mas Lora? Dia benar-benar Mas Lora. Ada apa dia sampai berada di kota ini, apakah Mas Lora sengaja menyusulku?" batin Faheera terkejut dengan penampakan Gelora yang dia lihat barusan.

  Namun Faheera segera menepis dugaannya, dia menduga bahwa dirinya salah melihat. Karena Gelora tidak mungkin menyusulnya sampai sini.

  Becak yang ditumpangi Faheera sampai di stasion kereta. Waktu masih menunjukkan jam tiga sore, oleh karena itu Faheera harus menunggu kereta berangkat beberapa jam lagi. Ia kini segera menuju pembelian tiket untuk membeli tiket hari ini.

  Jam delapan malam tiba, suara kereta api yang akan berangkat ke Jakarta sudah terdengar. Latifa bersiap dan menaiki kereta, lalu mencari gerbong tempat ia duduk. Bersyukur, Latifa mendapati nomer kursi sesuai tiketnya di pinggir jendela.

  Tidak lama dari itu, kereta pun bulai berjalan menyusuri rel kereta api yang terbentang dari timur ke barat.

***

  Sementara itu, Gelora yang sejak pagi mencari Faheera baik lewat teman maupun informasi orang-orang sekitar, masih bertahan di sana. Bahkann saat salah satu marbot Mesjid di wilayah Malioboro ditanya perihal perempuan yang ciri-cirinya sama dengan Faheera, marbot itu memberi keterangan yang mencengangkan.

  "Dari sejak pagi sampai sekitar jam 10 pagi, ada seorang perempuan muda duduk di teras mesjid ini. Dia ciri-cirinya sama persis dengan apa yang Mas sebutkan," jelas marbot itu yakin.

 "Dia menggunakan tas warna merah marun tersampir di bahunya. Sepertinya ia kelihatan bingung," lanjut marbot itu memberi penjelasan yang sedikit spesifik.

  Gelora sejenak tercenung, saat marbot itu menyebutkan tas merah marun yang disampir perempuan yang diduga mirip Faheera.

  "Lalu dia ke mana, apakah tadi Masnya melihat dia pergi?" tanya Gelora lagi penasaran.

  "Iya dia pergi dengan menaiki becak yang biasanya mengantarkan penumpang ke stasion kereta," jawab marbot itu membuat Gelora semakin bingung.

1
Evy
Itu tandanya istri mu hamil Pak ..
Evy
Sedihnya...
Evy
Hanya salah paham saja...
Evy
Ternyata ada juga ya orang yang butuh di ramal...bukan hanya ramalan cuaca.Ramalan jodoh juga banyak peminatnya...
Nasir: Hehehehehh😄😄😄
total 1 replies
Suyatno Galih
Bki Pokal lagi km heera/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Suyatno Galih
pintar km lora, km iket heera dg anak dan waktu good
Suyatno Galih
faheera hamil ya
Nasir: Wahhh, mksh Kak udah mampir di karya lama sy. Love seIndonesia Raya buat Kakak.
total 1 replies
Suyatno Galih
sedih/Sob/, tinggal tnggu waktu km lora akan menyesal
Suyatno Galih
nah kan nah kan nah kan, jd perkoro,
Suyatno Galih
faheera cari perkoro rumit, knp nggak mt temani suami mlh lebih aman, jd msh nangis lagi
Suyatno Galih
bkan malah pesan di hp sj yg jd prasangka buruk faheera, km km nemui Faris wl cm byr utang tp km tdk ijin suami jg jd hal buruk oon/CoolGuy//CoolGuy/ce mslh dak mau ijin
Suyatno Galih
nyinyir ember rusak temen faheera ini, pake nanya praktek sgl
falea sezi
minggat iku gowo duwek. lah. tolol mikir harga diri heleh pret
Nyakti Usman
terharu
Nasir: Makasih Kak....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!