Setelah menjadi Yatim Piatu, aku disingkirkan dari Rumah Nenekku yang awalnya tempat tinggal saya dan ibu, 5 bulan RS, Ibuku meninggal.
Adik ibuku mengambil alih rumah itu tanpa bisa ku bantah, setelah acara 40 hari ibuku, bibi mengusirku, padahal umurku baru 14 tahun.
Aku ingat, kalau kami masih punya kebun, dan ada Gubuk disana, jaraknya 4 km dari kampung, yang aku takutkan nanti ada yang memperkosa ku.
Dengan berbekal parang dan cangkul aku berangkat, karena ultimatum bibi 3 hari batasnya.
Selama 3 hari aku bolak balik ke kebun itu, hingga hari ini adalah yang terakhir, besok pagi aku harus mulai tinggal disana.
Beruntung uang sumbangan kematian ibuku, diberikan langsung oleh Pengurus Desa,
Dan di sinilah aku tinggal dan takdir ku di mulai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jhon Dhoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Mentari dan Mathew
Tapi tanda tangan nenek asli, dalam surat itu jelas, dimana saja lokasi kebun milik ibuku, dan tentunya sesuai sertifikat yang kamu curi.
Asal kamu tahu, sertifikat itu di buat, setahun lebih sebelum nenek meninggal, dan ada tanda tangan nenek sebagai persetujuan dalam pembuatan sertifikat itu.
Maya sang bibi yak bisa berkata apa-apa, Andris suaminya juga tak bisa berkutik, karena dia tidak berhak atas warisan ibunya Selina, walau dia adalah Suami dari Maya.
"Sekarang saya capek berurusan dengan kalian, jadi saya tanya, kalian mau keluar dari tanah ibu saya secara pribadi, atau saya laporkan ke polisi, tegas Selina.
"Apa hak kamu mengusir ku dari tanah milik orangtua saya, emosi maya yang tak sadar juga.
"Baiklah, jika dalam 3 hari kalian tidak menyerahkan secara sukarela milik ibuku, jangan salahkan saya, ketika Polisi bertindak, kalau kalian ingin mencoba, silahkan ! Ucap Selina.
"Baik, kalau kamu mau ambil seluruh milik ibumu, silahkan bayar 5 milyar, sekarang juga, ujar Maya.
"Kalian yang harusnya memberikan saya kompensasi, karena selama ladang dan sawah ibu saya, kalian gunakan, apakah kalian membagikan nya untuk saya, baiklah, berarti kalian memang tidak bisa di ajak bicara baik-baik, ucap Selina dan langsung mengambil handphonenya.
"Halo selamat siang, Saya Selina, ingin melaporkan kasus penipuan yang menimpa kepada saya, ucap Selina sambil menjelaskan secara singkat persolan yang dia hadapi.
"Baik Nona, tolong anda datang ke Kantor Polisi, dan bawa bukti-bukti nya serta siapa yang pelakunya, jawab Seorang petugas di seberang telpon.
"Baik saat ini juga saya berangkat, jawab Selina dan langsung meninggalkan Paman dan Bibinya, hendak mengambil mobilnya.
"Selina mau Kemana kamu? teriak Maya panik.
"Mau kekantor polisi, kenapa apa saya juga tidak berhak ke kantor Polisi, jangan harap saya berbelas kasih kepada kalian, pergi kalian dari rumahku, nanti kalian bilang, tanah ini milik kalian juga, bentak Selina.
"Kurang ajar kamu, ucap Maya dan hendak menarik rambut Selina, tapi sayang dia di tahan oleh warga yang sudah berkumpul.
"Kalian lihat lah, keponakan macam apa dia, tidak ada rasa hormatnya kepada saya sebagai bibinya, teriak Maya seolah minta dukungan.
"Dia kurang ajar karena kalian yang tidak mendidik nya,justru apa yang dia lakukan saat ini, adalah ajaran kalian secara tidak langsung, kalian pikir kami buta, melihat kamu mengusir nya dan membiarkan dia tinggal di kebun, jadi saatnya dia harus mencari keadilan, dan kami akan menjadi saksi untuknya, jawab seorang warga.
"Oh jadi kamu membelanya, apa bagusnya dia, apa dia bisa memberikan kamu uang, teriak Maya.
"Hidup itu bukan hanya masalah uang, tapi hati, jika kamu tidak suka dengannya, jangan juga kamu menyiksa nya, sekarang Selina sudah besar, dan apa yang kalian lakukan di masa lalu, ya silahkan terima akibatnya, jawab warga itu.
Sementara mereka berdebat, Selina sudah meluncur dengan mobilnya, dia sudah bertekad akan membuat bibinya jera.
"Maya, saya sebagai RT, hanya bisa mengatakan, bersiaplah masuk Penjara, kasus kalian lumayan berat, penipuan kepada anak di bawah umur, menelantarkan dia, padahal harta yang kamu gunakan adalah milik Ibunya, secara hukum negara dan agama, kamu sangatlah salah, dan juga keras kepala.
Kamu lihat saudara ayahnya Selina, mereka sadar akan kesalahannya, dan lihatlah, Selina memaafkan, dan seluruh lahan warisan Ayahnya, tetap mereka yang kelola, hanya sertifikat saja, yang sudah mereka serahkan ke Selina.
Bahkan tanpa mereka meminta, Selina dengan ikhlas memberikan bantuan modal, dan seluruh sepupunya, di jamin pendidikan hingga universitas atau perguruan tinggi keahlian seperti Farel yang mengambil perkapalan.
Bahkan biaya hidup selama pendidikan, Selina yang nanggung, ucap Pak RT.
"Mereka saja yang bodoh, masa harus takut dengan anak kecil seperti Selina, jawab Maya dengan angkuh.
"Kami memang bodoh karena telah salah memperlakukan Putri kakak kami, tapi beruntung, warga memberikan kami nasehat, dan akhirnya kami mengakui kesalahan kami, dan kamu bisa lihat, saya baru pulang dari jalan-jalan ke Jakarta.
Dan asal kamu tahu, Selina di Jakarta begitu di hormati oleh ratusan orang karyawannya, apartemennya saja seharga 35 milyar dan ada pembantu, lantas kamu bilang dia hanya anak kecil, lihatlah nanti, jangan teriak saat polisi datang membawamu, ucap ibunya Aurora.
Seketika wajah Maya langsung pucat, tubuhnya gemetaran, karena rasa takut mulai menderanya.
"Pak RT, harap anda menjadi saksi untuk Selina, ucap ibunya Aurora.
"Saya bersedia menjadi saksinya, jawab Pak RT, dan di sambut suara warga yang bersedia membantu Selina.
Setelah lebih 2 jam kepergian Selina, terlihatlah 2 mobil polisi dan langsung menuju ke rumah warisan neneknya, yang di tempati secara paksa oleh Maya.
Maya tersentak, saat dia sedang duduk, di temani beberapa ibu-ibu yang betah bergosip.
"Selamat sore, kami dari Polsek, ingin memberikan surat perintah penahanan kepada ibu Maya, sebagaimana yang di laporkan oleh Nona Selina Natasya.
Maya langsung mematung tidak bisa bersuara, ibu-ibu teman ngobrol nya, juga terdiam sesaat.
"Ada apa ini pak Polisi, tanya Andris Pura-pura.
"Ini surat Perintah penahanan atas nama Nyonya Maya, yang telah di laporkan atas tindakan penipuan dan merebut lahan orang lain secara sepihak, ucap Polisi itu.
"Begini Pak, bisa gak kita bicarakan dengan secara kekeluargaan dengan pihak pelapor, ucap Andris.
"Tidak masalah, tapi karena ada laporan ke kami, maka, silahkan datang ke kantor Polisi, jawab Polisi itu.
"Papah, tolong mamah, ucap Maya memohon kepada Andris.
"Ia pasti papa akan berusaha membebaskan Mama,jawab Andris.
Mentari dan Mathew tidak terima, Selina melaporkan ibunya, kemudian mereka mendatangi rumah Selina sambil membawa batu, dan ketika sampai, kedua kakak beradik itu langsung melempar rumah Selina, hingga kaca jendela pecah.
Mathew menghancurkan Pintu Rumah dengan balok kayu, hingga Aurora semakin kencang teriakan nya.
Warga langsung menahan kedua anaknya Maya, bahkan Linmas yang mencoba menghentikan Mathew, di pukul oleh Mathew.
"Biadab kamu, orangtuamu yang jelas salah, sekarang kamu tambah buat masalah, ku laporkan kamu ke polisi karena memukul petugas keamanan, ucap Linmas.
Bukannya sadar, Mathew makin membabi buta menghajar Linmas itu, walau pukulan nya tidak tepat sasaran.
Selina yang melihat dari kejauhan, tidak berupaya menghentikan, Mathew dan Mentari menghancurkan rumahnya.
Pihak Kepolisian, langsung menerima laporan warga dan juga Pak RT, segera mendatangi TKP, dan langsung menciduk kedua kakak beradik itu yang sedang mengangkat TV dan membanting nya tepat di depan Polisi.
"Berhenti ! Teriak polisi itu.
"Dibayar berapa kalian sama wanita murahan itu, hingga kalian bekerjasama untuk menangkap ibuku, teriak Mathew.
"Silahkan anda pertanggung jawabkan omongan anda, ucap Polisi.
"Sudah hebat kalian berdua, hingga rumah saya kalian hancur kan, sekarang, tinggallah kalian di penjara, ucap Selina dan langsung membereskan kekacauan yang terjadi.