NovelToon NovelToon
TIRAKAT 4

TIRAKAT 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.

Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.

Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?

Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!

Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 "PASTI ADA YANG GAK BERES"

Mas Anto terpaku beberapa saat, ketika sekilas ia melihat dua buah tangan pucat berkuku hitam tajam yang ada di pundak Gendis.

Dan segera ia mengacuhkannya sebentar, untuk menyapa Gendis lagi yang barusan sempat tertahan.

"Assalamu'alaikum... Gendis..." ucap Mas Anto sambil tersenyum.

"Wa-wa'alaikumsalam... Humm... Humm..." jawab Gendis sambil menggigil tubuhnya.

Melihat Gendis yang menggigil itu, Mas Anto sampai bergumam dalam hatinya, "Ya Alloh, tega banget sih anak sakit ditinggal sendirian begini?"

"Ma-maaf, ini siapa ya?" tanya Gendis kemudian.

"Coba tebaaak, ini siapa yaaa?" jawab Mas Anto dengan nada suara yang teduh.

"Emm... Si-siapa?"

"Ini Pakde Anto, Gendiiis..."

Sontak, raut wajah Gendis sedikit sumringah saat nama itu disebut.

"Pakde Anto?! Beneran ini Pakde Anto?!"

"Hehehe... Iya dong, emang siapa lagi? Kamu lupa ya sama suara Pakde?" canda Mas Anto sedikit.

Gendis akhirnya maju beberapa langkah, dan langsung memeluk tubuh Pakde nya itu.

"Pakde dari kapan datengnya? Aku gak tauuu..." ucap Gendis sambil melepas pelukannya itu.

"Hehehe... Pakde baru aja sampe Gendis. Maaf ya kalau Pakde dateng gak kasih kabar dulu ke kamu." jawab Mas Anto.

"Oh gituuu... Oh ya, ayo masuk Pakde... Humm... Humm..." ajak Gendis, masih dengan menggigil.

"Iya Gendis... Terima kasih..."

Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah. Dan langsung terlihat seisi ruang tamu rumah baru keluarga adiknya itu oleh Mas Anto. Tampak beberapa barang serta perabotan yang lengkap, dan juga terlihat cukup mahal.

"Gendis, kamu mau kemana?" tanya Mas Anto saat Gendis berlalu meninggalkannya.

"Aku mau bikin minum buat Pakde..." jawab Gendis.

"Loh, gak usah Gendis... Biar Pakde sendiri aja yang bikin minum." ucap Mas Anto sambil menaruh kantong-kantong yang ia bawa di atas meja ruang tamu, dan langsung bergegas menyusul Gendis.

"Udah, kamu duduk istirahat aja dulu di ruang tamu. Biar Pakde aja yang bikin minumnya ya..." ucap Mas Anto sekali lagi, sambil memegang dua pipi Gendis yang terasa sangat demam itu.

"Humm... Humm... Iya Pakde..." jawab Gendis.

Mau tak mau, meskipun dengan perasaan yang tak enak hati karena tak bisa membuatkan minum untuk Pakde nya itu, akhirnya Gendis kembali ke ruang tamu. Dan dengan lemasnya ia langsung tiduran di atas sofa panjang. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang dia bawa tadi.

Mas Anto pun berjalan menuju dapur. Ia segera membuatkan dua gelas teh hangat manis. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Gendis.

 Beberapa saat sambil mengaduk teh yang sudah bercampur gula itu, Mas Anto kembali berpikir sendiri.

"Tadi apa yang kulihat ya? Kenapa tiba-tiba ada penampakan sepasang tangan di pundak Gendis? Astaghfirulloh... Ya Alloh... Semoga bukan pertanda hal-hal buruk." pikirnya.

Ketika sudah kembali dari dapur, Mas Anto langsung menaruh gelas di atas meja, dan duduk di sebelah Gendis yang menggigil sambil berselimut.

Sejenak, ia memegang lagi pipi dan dahi Gendis. Dan memang terasa sangat demam anak itu.

"Gendis, kamu udah makan belom?" tanya Mas Anto penuh kasih sayang.

Gendis hanya menggeleng pelan...

"Ya Alloh... Berarti kamu juga pasti belom minum obat ya?" tanya Mas Anto lagi.

Dan Gendis pun mengangguk pelan...

"Astaghfirulloh... Ya udah, sebentar ya. Pakde ambilin kamu makan sama obat dulu."

Mas Anto pun kembali ke dapur, mengambil piring. Dan segera mencari rice cooker. Dia ambil beberapa centong nasi, dan langsung membuka tutup saji di atas meja makan, bermaksud ingin mengambilkan lauk yang ada.

Akan tetapi...

Keanehan yang membuat Mas Anto terkejut, terjadi lagi...

Saat ia membuka tutup saji di atas meja makan itu, sekilas ia melihat beberapa piring lauk dan sayur yang tersedia. Namun, ada belatung-belatung yang bergerak pelan di atasnya!

"Allohu Akbar!" ucap Mas Anto seketika.

Dengan cepat ia mengedipkan matanya, dan anehnya belatung-belatung itu menghilang seketika.

Kali ini, Mas Anto tak bisa lagi menganggap semua keanehan yang terjadi hanya sebuah kebetulan belaka...

"Pasti ada yang gak beres..." gumamnya dalam hati.

1
🔵🌹Widian,🧕🧕🌹
ini 2 anak yang berbeda kah ?
Deni Komarullah: Tokoh Gendisnya sama Kak... Korbannya yang berbeda...
total 1 replies
SecretS
Merinding juga, kepala sampai hancur. Lanjut kak, memang sampai berapa tumbal? Kalau dihitung pasti lebih dari 5 sebab bertahun tahun loh sebelum ketemu nisa?
Deni Komarullah: Iya Kak...
total 1 replies
SecretS
😰😰menegangkan kak pas gendis mojokin sinta 😆😆, lanjut kak gimana cerita nya gendis kok bisa di pondok dan ketemu nisa 😃
SecretS
Ini kisah pesugihan ya
😆😆 lanjut kak👍👍👍
Yeni Yeni: lanjut dah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!