Narko tak mengira jika kebahagiaan keluarganya di raih dengan cara yang tidak wajar, ia baru sadar setelah satu persatu saudaranya meninggal sebagai wadal pesugihan sang ayah. Apakah dia bisa melepaskan diri sebagai wadal berikutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa selanjutnya
Setibanya di rumah aku langsung berlari menuju ke kamar Rere.
"Rere!" seruku saat membuka pintu kamarnya
Jantungku berdegup kencang saat tak menemukan Rere di kamarnya.
"Rere!" aku berteriak sambil mencari keberadaannya
Tubuhku terasa lemas saat itu, hingga tiba-tiba Anggi datang menghampiriku.
"Kamu lagi ngapain Mas?" sapanya
Aku terkesiap dan segera menghampirinya.
"Dimana Rere, apa kamu melihatnya?" tanyaku dengan nada panik
"Rere tidur di kamarku mas, ada apa emang?" tanya Anggi dengan wajah penasaran
Aku buru-buru meninggalkan Anggi dan menuju ke kamar Anggi.
Aku segera masuk ke kamar Anggi untuk memastikan keadaan Rere.
Ku lihat ia tertidur pulas di kamar Anggi. Aku begitu lega melihat ia masih hidup.
"Syukurlah,"
Aku segera memeluk Rere yang meringkuk memeluk bantal guling.
Rere pun menggeliat dan menyingkirkan tanganku.
"Tadi dia ketakutan dan tidak mau tidur di kamarnya, makanya aku ajak dia tidur di sini?" ucap Anggi
"Lalu suamimu kemana?" tanyaku
"Belum pulang mas, masih di toko," jawab Anggi
Aku segera duduk dan meneguk air untuk meredam rasa panik ku.
"Apa ada kejadian aneh yang terjadi hari ini?" selidik ku
"Tidak ada Mas, hanya saja Rere terus memanggil Ibu, dia bilang kangen sama ibu," sahut Anggi yang tampak gusar saat menceritakan kejadian itu
Aku tahu dia pasti juga sedih saat mengingat ibu. Bagaimanapun juga kami sangat merindukan ibu.
"Aku juga merindukan ibu, tapi bagaimanapun juga ibu sudah bahagia di sana, jadi kita hanya bisa mendoakannya jika kita merindukan ibu," jawabku berusaha untuk menenangkan Anggi yang mulai terlihat sedih
"Siapa bilang aku bahagia, aku menderita Narto, tolong selamatkan ibu!"
*Deg!!
Tiba-tiba ku lihat wajah Anggi memucat, bola matanya berubah putih semua. Ia berbicara seperti ibu.
Aku mundur beberapa langkah, saat ia menatapku dengan tatapan menakutkan. Aku yakin Anggi kerasukan.
"Ibu???"
"Selamatkan Ibu Narto?" ucap Anggi lagi
Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat kearah ku, membuat aku menjadi ketakutan.
*Dep, dep, dep!!
Lampu di kamar tampak berkedip-kedip. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kuda diiringi suara gamelan jawa.
"Dia datang!" seru Anggi dengan mimik ketakutan
Anggi tiba-tiba mencekik lehernya. Aku segera mendekat kearahnya untuk menyelamatkannya.
"Anggi sadar Nggi!" seruku
Anggi mendorong tubuhku hingga aku terhempas menghantam meja rias.
*Brakkk!
"Argghhh!!" rasanya tubuhku remuk hingga aku sulit untuk bangun
Namun melihat kondisi Anggi, membuat aku harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkannya.
Ku lihat tubuh Anggi melayang ke atas seolah ada yang menggerakkannya. Aku segera bangun dan berusaha untuk menariknya turun.
Namun sekuat apapun usahaku untuk menyelamatkannya semuanya sia-sia. Sebuah kekuatan besar menyeret Anggi hingga tubuhnya membentuk dinding kamar.
*Dugg!!
Darah segar menyembur dari kepalanya yang remuk.
*Bruughhh!!
"Anggi!"
Aku segera berlari menghampirinya.
"Bawa Rere pergi dari sini Mas, selamatkan diri kalian," ucap Anggi sebelum menghembuskan nafas terakhirnya
"Anggi!" Aku menangis meraung-raung memeluk jenazah Anggi
"Kalian semua bangs*t!"
Tiba-tiba lampu kamar pun kembali normal. Saat itu ku lihat Rere terbangun. Ia menggosok-gosok matanya dan tampak kebingungan melihatku menangis tersedu-sedu.
"Mamas kenapa, kenapa mas nangis?" ucapnya dengan nada bingung
Ia pun segera turun dari ranjangnya dan menghampiriku.
"Mbak Anggi kenapa Mas??" tanyanya
Aku segera menghapus air mataku, dan mengusap kepalanya.
"Mbak Anggi jatuh dek," ucapku berusaha menutupi kejadian menyeramkan yang menimpa Anggi.
Aku tidak mau Rere ketakutan saat ia tahu Anggi meninggal seperti Dewi. Aku tidak mau ia tahu kalau Anggi telah menjadi wadal pesugihan bapak.
Tangis Rere pun pecah, ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk Anggi.
"Mbak Anggi!"
Aku berusaha menenangkan Rere yang mulai kehilangan kendali. Sepertinya ia sangat terpukul karena melihat langsung jenazah Anggi yang begitu mengerikan.
"Ikhlasin mbak ya, biar mbak Anggi bahagia di Surga," ucapku berusaha menenangkannya
Tidak lama aku lihat bapak dan Pak Urip masuk ke kamar.
"Apa yang terjadi?" tanya Bapak dengan wajah cemas
Aku hanya menunjuk kearah jenazah Anggi yang tergeletak di kamar.
"Innalilahi wa inna Ilaihi Raji'un," ucap Pak Urip kemudian menghampiri mayat Anggi
Bapak buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi ambulans.
Tidak lama terdengar suara sirine mobil ambulance membuat semua orang langsung menyingkir dan memberikan jalan.
Semua orang tampak berbisik-bisik curiga saat melihat tim medis membawa jenazah Anggi kedalam mobil tersebut.
"Wah kasian ya, padahal dia baru saja menikah tapi sudah dijadikan wadal. Benar-benar pak Mulyono itu seperti iblis!"
Meskipun hari sudah larut entah kenapa tiba-tiba warga bermunculan ke rumah kami . Mungkin karena suara ambulance atau karena rasa penasaran mereka.
Ku lihat seorang wanita tampak begitu kesal saat menceritakan tentang ayahku yang melakukan ritual pesugihan. Ia terus mengeluarkan makian dan sumpah serapan kepadanya.
Mereka bukan hanya menghujat, mencibir, mereka bahkan menyumpahi bapak dengan kata-kata kasarnya.
Aku hanya bisa diam, aku tidak mau menambah suasana menjadi panas karena meladeni ucapan mereka.
Ku genggam jemari Rere saat berada di dalam ambulance. Saat ini hanya dia yang tersisa. Tinggal menunggu waktu saja siapa dari kami yang akan menjadi wadal selanjutnya.
Ku lihat Rere menatap sendu kearah ku.
"Jangan sedih mas, kamu pasti selamat kok," ucapnya seolah ingin menghibur ku
"Aamiin, semoga kamu juga selamat dek!" jawabku
*Deg!
Seketika aku menoleh kearah Rere yang terlihat berbeda saat itu.
Aku mengusap lembut kepalanya. Tapi Rere tak merespon. Ia masih menatap tajam kearah ku seperti menghakimi ku.
"Kamu kenapa dek?"
ang sekaya apa tumbalnya koq begitu sering,udah kayak orang nyemil/ makan cemilan aja