Sita adalah gadis yang sangat menjauhi percintaan. Kenangan masa lalu yang meninggalkan noda dalam hatinya.
Erick datang menyelamatkan Sita dari kekangan sang ayah yang ingin menjualnya. Untuk mengajak menjadi istri hanya untuk membuktikan kalau ia bisa melupakan mantan kekasihnya.
Sebuah kepura-puraan membawa luka pada hidup Sita. Lelaki yang ia harapkan bisa membawanya dalam kebahagiaan justru menyakitinya.
"Kamu sangat indah Sherena ...."
Seketika hati Sita seperti di iris-iris. Bagaimana tidak, di saat Erick sedang menikmati tubuhnya justru menyebut nama orang lain yang telah pergi darinya.
Saat Erick menyadarkan semua telah terlambat. Sita telah pergi dari hidupnya. Akankah dengan seiring berjalannya waktu mereka akan dipertemukan lagi oleh takdir?
Folow Ig author @Samar_Jenny1
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Bersama
Acara pun berakhir hanya tersisa Zia, Raka dan Rio juga Vita. Kini mereka berenam dengan gandengan masing-masing di bawah sinar rembulan yang cerah mereka bercanda di taman rumah Erick.
Zia hanya tertawa mengikuti alur pembicaraan suaminya yang sangat lucu. Sambil memegangi perut menahan gelinya yang menggelitik karena menertawakan Rio yang sedang dihujani pertanyaan oleh Raka.
Sedangkan Vita duduk di sebelah Rio bergelendotan di bahu lelaki yang sangat ia cintai itu.
Berbeda dengan Zia dan Vita. Sita justru duduk berseberangan dengan Erick hanya diam. Memaku seperti kehabisan kata-kata.
“Sita, nanti setelah kalian menikah mau bulan madu ke mana?” tanya Zia.
“Bulan madu palamu,” batin Sita.
“Kamu ini bertanya apa, Zia. Tentu saja aku akan mengajak istriku nanti ke tempat yang indah untuk merajut cinta kami,” sahut Erick. Sita menendang kakinya dari bawah meja dan matanya memicing.
“Kalian kenapa?” tanya Zia yang melihat Sita dan Erick saling bertatap mata.
“Itu si Sita biasa ... kalau aku duduk jauh dengannya begitu. Dia enggak rela kalau aku jauh-jauh darinya dan memberi isyarat supaya aku mendekat.” Erick segera berdiri dan duduk di dekat Sita, meletakan tangan di atas pundak.
Sita yang merasa risi segera menyingkirkan tangan Erick dari pundaknya. Tapi setelah ia meletakan, tangan lelaki itu kembali naik ke atas lagi.
“Lepaskan ....” Desisnya di dekat telinga Erick.
“Kamu enggak, lihat. Di sana ada Mama melihat kita.”
Sita melihat ke arah pintu rumah. Ternyata benar saja Mama Lisa sedang berdiri di sana menyaksikan kebersamaan putra dan teman-temanya.
Tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau Sita harus diam di dalam dekapan Erick. Ini demi status pura-pura ini demi biaya adiknya. Tapi di balik itu Sita merasa senang saat ini, setidaknya ia bisa berkumpul dengan Zia. Karena sudah lama semenjak hamil Raka tidak membiarkan Zia keluar rumah atau bertemu seseorang terlalu sering. Ya, maklum Raka yang sebelumnya adalah suami posesif sekarang berubah menjadi super posesif.
“Sayang, kita pulang yuk!” seru Raka.
“Tapi aku belum mau pulang, sayang ....” tolak Zia mengerucutkan bibir. Ini adalah kesempatan bertemu Sita ia tidak mau cepat pulang karena masih ingin berbincang dengan temannya itu.
“Tapi ini sudah malam, Zia. Kasihan anak kita kedinginan.” Raka mengusap perut Zia lembut.
“Kalian pasti bahagia banget, ya, sebentar lagi mau punya anak?” tanya Rio yang mengusap-usap rambut Vita.
“Apa kamu tau, Rio? Kamu sebentar lagi juga akan mempunyai seorang anak,” sahut Sita.
Mereka berlima seketika membulatkan mata dan bibir melongo. Rio sebentar lagi punya anak? Anak siapa? Bagaimana bisa? Pertanyaan di dalam benak mereka berlima sama.
Eh, Sita memutar bola mata melihat ekspresi mereka berlima sangat-sangat syok. Sedangkan Raka terlihat tangannya mengepal, rahangnya mengeras ia siap untuk berdiri. Sedangkan Vita menutup mulutnya dengan tangan seperti hampir-hampir pingsan.
Melihat ekspresi mereka membuat Sita menghentikan kata-katanya. Lagi pula dia juga ingat dengan pesan Arini supaya tidak memberitahukan tentang anak yang dikandung. Oke, Sita kali ini akan menuruti permintaan Arini walau berat.
“Maksudnya sebentar lagi mau punya anak. Kan, sebentar lagi akan menikah dengan Vita. Otomatis kalian akan mempunyai anak dong ....”
O bibir mereka berlima serentak menyerukan kata o. Lega akhirnya Sita mengucapkan berbeda dari dugaan mereka semua.
“Ternyata hanya itu, Sukurlah.” Raka mengela napas pendek. “Aku peringatkan kamu lagi Rio. Jangan sampai kamu mempunyai hubungan lain di luar sana tanpa sepengetahuan kami. Kalau sampai kamu melakukan itu, atau menyakiti Vita. Aku tidak akan pernah ragu membuat hidupmu menderita dari apa pun.” Sorot mata Raka tajam bagai sebilah pisau.
“Sudah ah, Kak. Kenapa jadi seram begini,” sahut Vita. “Rio adalah playboy dulu. Tapi aku yakin sekarang dia adalah lelaki berbeda. Dia sudah berubah, Kak.” Vita mendongak menatap wajah Rio begitu pun sebaliknya, sehingga tatapan mereka saling bertemu.
“Maafkan, aku. Gara-gara aku salah berucap suasana menjadi tegang.” Sita menggigit bibirnya merasa bersalah.
“Kenapa minta maaf, sayang. Mereka aja yang berpikiran buruk,” balas Erick menyeringai.
“Sudah, sudah ... enggak usah bahas itu lagi. Lagi pula malam ini tujuan kita kan untuk bersenang-senang merayakan pertunangan kalian,” sahut Zia melerai pembicaraan mereka.
“Tapi di sayangkan kita harus pulang, sayang ... Mama sudah menelepon. Dia enggak mau kalau menantu dan cucunya pulang terlalu larut malam.” Raka menggandeng tangan Zia.
“Yah ....” Zia memasang raut wajah kecewa. “Tiga puluh menit lagi, oke?”
Raka kekeh menggeleng. “Kita harus pulang, oke?”
“Raka benar, Zia. Kamu harus pulang. Kasihan anakmu kalau pulang larut malam,” sahut Sita. “Lagi pula aku juga akan pulang ini.”
“Baiklah, ayo kita pulang.” Zia berdiri terlebih dahulu menarik tangan Raka. Mereka berdua sama-sama berdiri akan pulang.
Setelah berpamitan dengan mama Lisa di dalam rumah Zia dan Raka meninggalkan tempat itu. Dan begitu juga Vita dan Rio. Mereka semua pergi dari rumah Erick.
Dari kejauhan Arini di dalam mobil melihat kebersamaan mereka semua. Ia tersenyum akhirnya teman-temanya bisa bahagia, Zia yang terutama. Rasa bersalah sampai saat ini masih menyelimuti dirinya. Seraya mengusap-perut ia berkata, “Sayang, kamu sehat-sehat di dalam ya. Setelah lahir ke dunia ini mama janji tidak akan membuat kamu kekurangan kasih sayang walau enggak ada seorang Ayah menemanimu.”
Di saat mobil Raka dan Rio keluar dari gerbang rumah Erick. Arini pun ikut pergi dari sana. Ia saat ini tidak ingin menuntut apa pun. Satu yang ia pinta, yaitu kebahagiaan anaknya saat lahir walau tanpa seorang ayah. Apa pun yang terjadi ia sudah bertekat tidak akan menuntut pertanggung jawaban dari Rio.
Setelah semua menghilang kini hanya tinggal Sita dan Erick berduaan duduk di taman. Sedangkan mama Lisa karena kelelahan memutuskan untuk tidur di kamarnya.
“Senang ya, bisa melihat mereka bisa bersama. Enggak menyangka kalau mereka akan menjadi sepasang suami istri yang sangat romantis.” Sita berkata menatap halaman rumah yang kosong tidak ada mobil Raka lagi.
“Kamu mau enggak seperti itu, Sita?” Erick menatap wajah Sita yang berada di sampingnya.
Sita pun tersenyum tipis menaikkan pandangannya untuk menatap Erick. “Siapa sih, di dunia ini yang tidak ingin mendapat kebahagiaan?” Ia kembali menatap lurus ke depan lagi. “Setiap perempuan menginginkan hal itu. Keluarga harmonis, utuh saling meringankan beban satu sama lain, itu semua adalah impian setiap perempuan. Tapi disayangkan aku enggak pernah merasakan hal itu dalam rumah tangga ayah dan ibuku,” lirih Sita merunduk sedih.
Jangan Lupa share Novel ini dan Like komen apa gitu biar author gak lempeng😅
sukses
semangat
mksh
keren