"Apa aku memakai pengaman?" Satu kalimat dari seorang kapten mengacak-acak rambutnya frustasi.
Yang ada diingatan terakhirnya hanya menghabiskan satu malam dengan seorang wanita yang cantiknya bak bidadari. Wanita yang meminta bayaran untuk menjual keperawanannya.
"Apa aku pada akhirnya harus menikahi seorang bocah!?" Teriaknya frustasi.
***
Di tempat berbeda, seorang siswi SMU tidak sabar rasanya menunggu jam pulang sekolah hanya untuk mendapatkan bayarannya.
Seperti kata salah seorang temannya, memiliki Sugar Daddy yang dapat membelikan apapun.
"Sugar Daddy-ku yang tampan, aku ingin smart phone, aku ingin laptop dan biaya kuliah, aku juga ingin sepatu baru, juga membayar hutang ke kang cilok 25.000..." Batin si cupu membayangkan 35 juta yang akan didapatkannya.
Tapi bagaimana jika hidup tidak sesuai anggapannya? Bukannya uang, Sugar Daddy-nya memberi cincin untuk melamarnya?
Cinderella termalang abad ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersangka
Tidak dapat berbuat apapun lagi, anak bau kencur ini dari labil, dalam 2 bulan menjadi terlalu idealis. Pemuda yang pada akhirnya mengeluarkan semua uang cash dalam dompetnya.
Kemudian meraih tangan Driella. Bukan hanya rupiah tapi juga terdapat pecahan mata uang asing disana, dari beberapa negara. Dirinya tidak dapat membiarkan istri dan anaknya hidup dalam keadaan buruk.
"Aku tidak perlu!" Kala Driella hendak melempar uang tersebut, Satya menatap tajam padanya.
"Aku memberikan ini pada anakku. Jika kamu membuang atau melemparnya, itu artinya kamu menghancurkan barang milik anakmu sendiri. Bagaimana kamu dapat menjadi ibu yang baik jika seperti ini." Kata demi kata penuh senyuman. Namun mengenai hati.
"Bawa uangnya! Anakku..." Tito yang ingin bersuara tiba-tiba terdiam, mendengar putrinya menangis.
"Om Satya pergi! Aku ingin hidup dengan benar. Aku ingin membesarkan anakku sendiri, aku tidak ingin dia mengenal ayahnya. Ayahnya membencinya. Jadi pergi...aku mohon..." Kondisi mental yang tidak stabil pengaruh hormon kehamilan penyebabnya. Putrinya berlutut sembari menangis di hadapan pemuda ini.
"Sebaiknya anda pergi." Tito menegaskan lagi, memeluk Driella yang tertunduk.
"Maaf, karena aku terlalu emosional. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang salah. Tapi aku benar-benar tidak ingin lari dari tanggung jawab. Hanya saja karena ada keperluan bisnis, dua bulan ini aku harus tinggal di luar negeri. Dan 150 juta itu tidak pernah aku anggap sebagai uang menjual diri. Hanya bekal untuk kekasih yang aku tinggalkan selama 2 bulan." Pada akhirnya Satya mengalah, mengambil benda di sakunya.
Kemudian berlutut mensejajarkan diri dengan Driella. Cincin yang diletakkannya di lantai, tepat di hadapan Driella."Aku salah, maaf jangan menangis lagi. Anak kita akan sedih karenanya. Aku pulang, tapi akan kembali."
Satya bangkit kemudian menunduk di hadapan Tito dan Dipta."Sekali lagi maaf. Aku undur diri."
Mata Dipta menatap ke arah pemuda yang meninggalkan rumah. Berlari menggunakan blazer basah sebagai payung. Ada rasa tidak mengerti dan iba tersendiri.
Wajah? Karier? Status keluarga? Apa yang tidak dimilikinya? Pada umumnya orang kalangan atas sepertinya akan memilih tidak bertanggung jawab. Kecuali kepepet, misal dipaksa dijodohkan, diincar stalker atau dibully karena menjadi bujang lapuk.
"Tidak mungkin dia dibully karena menjadi bujang lapuk kan..." Gumam Dipta menghela napas kasar mencoret pemikiran gilanya.
Tapi memang benar ada bayi dalam kandungan adiknya. Itu kenyataan! Real! Dan jalan tercepat keluar dari masalah ini adalah menikah. Jalan lainnya? Akan sulit dan begitu terjal. Bagaimana jika di kampung nanti Driella kembali diusir?
Hutangnya juga belum lunas. Itu artinya hanya Tito dan Driella yang akan tinggal berdua di kampung. Satu pertanyaan lagi, uangnya dari mana? Apa akan menerima tawaran Eri untuk menolongnya?
Tapi setelahnya, sekitar dua tahun Driella tidak akan dapat bekerja atau kuliah karena anaknya. Pertanyaan yang sama, uangnya dari mana untuk hidup? Apa harus meminjam pada orang lagi?
Bekerja di kampung, hidup saja susah, ditambah dengan ayah mereka yang sakit-sakitan. Karena itu, dirinya harus berfikiran lebih positif. Menenangkan fikiran, menghela napas dan berkata."Ngeteh yuk?" Sebuah ajakan penuh senyuman ramah.
*
Dan benar saja, segalanya lebih tenang. Air mata adiknya juga berhenti mengalir, wanita yang mengupas ubi manis rebus dengan cepat kemudian memakannya. Sungguh gila napsu makan ibu-ibu hamil satu ini, apa dia tidak takut gemuk?
Batuk Tito kembali kambuh, mungkin karena cuaca dingin saat ini. Dari raut wajahnya sang ayah terlihat tidak senang, padahal awal-awal memuji Satya mati-matian."Labil!" batinnya, menghujat sang ayah.
Tapi semua harus dilihat dari berbagai sisi bukan? Mengapa adiknya menolak lamaran sang kapten.
"Aku tidak ingin menyalahkan. Jujur saja mie ayam yang aku beli untuk makan malam sudah mengembang sudah mirip seperti bubur ayam benyek. Karena itu, aku ingin bertanya, hanya benar-benar ingin tau, kenapa kamu tidak ingin Satya bertanggung jawab? Toh ini kesalahan kalian berdua, harus kalian yang memperbaikinya dan bertanggung jawab sama rata." Pendapat sang kakak yang katanya netral. Tapi sebenarnya diam-diam menghanyutkan, bagaikan silent majority.
"Se... sebenarnya. Aku pernah datang ke rumahnya meminta pertanggungjawaban. Tapi...tapi..." Kalimat Driella disela.
"Tapi?" Dipta menelan ludahnya, benar-benar ingin tau apa yang terjadi.
"Sudahlah adikmu mungkin memiliki..."
"Sttt... dengarkan dulu cerita Driella. Jangan berat sebelah." Celetuk Dipta menghentikan ayahnya bicara.
"Aku datang ke rumahnya, bersama Eri dan Alba. Tapi ART mengusir kami. A... aku sudah mengatakan aku mengandung anak Satya. Hanya ingin bertemu dengannya. Tapi wanita itu mengatakan Satya tidak ingin bertemu denganku. A...aku... dia mengatakan bahkan ibu kami wanita bayaran. Saat aku memanggil Satya dari luar, aku didorong hingga perutku sakit." Tangisan yang memilukan dari adiknya. Tapi harus ada celah dari berfikir positif bukan?
"Apa begitu buruk?" Tanya Dipta.
"Aku sempat disiram air dengan bau kotoran berbagai hewan." Jawaban sang adik, kembali menangis semakin kencang.
Namun parahnya hanya Tito yang menenangkan putrinya. Dipta malah tertawa kencang, membayangkan betapa busuknya bau adiknya. Tapi itu memang pantas bukan, untuk bocah bau kencur yang sembarangan menjual diri.
Namun, sejenak tawanya menghilang. Dirinya memang pernah mabuk karena narkoba. Tapi tidak lama, bimbingan ayah dan semangat dari adiknya lah yang menyelamatkan hidupnya. Setiap manusia pernah berbuat salah, sama seperti Satya. Tapi kesalahan Satya bukannya sedikit aneh.
Pria itu terlihat berambisi untuk menikahi adiknya. Apalagi juga protektif terhadap calon anaknya. Hanya kecil kemungkinan membiarkan janin itu terancam.
Matanya melirik ke arah lembaran uang yang bertaburan di atas lantai. Apa benar Satya menolak bertanggung jawab?
"Kapan kamu datang ke rumahnya?" Tanya Dipta pada Driella.
"Se... segera setelah mengetahui aku hamil." Jawaban polos sang adik.
"Memang usia kandunganmu berapa?" Dipta kembali bertanya.
"8 Minggu, aku..." Driella masih menunduk.
Pintar? Dipta sejatinya lebih pintar dari adiknya. Namun salah pergaulan membuatnya iseng mencoba narkotika. Walaupun hanya menjadi pecandu selama 5 bulan. Jurang terdalam di hidupnya, dari awalnya barang gratis menjadi mahal. Tapi itulah trik bandar narkoba untuk menarik konsumen.
Sang kakak terdiam sejenak, ingin mengetahui siapa yang berbohong."Apa kamu sempat bertemu dengan Satya secara langsung?" Pertanyaan yang kali ini dijawab dengan gelengan oleh adiknya.
"Ada mobil di tempat parkir?" Lagi-lagi Dipta bertanya, membuat Driella menatap ke arah kakaknya.
"Ada," Jawaban sang adik tidak mengerti arah pembicaraan kakaknya.
"Apa mobilnya berdebu?" Pertanyaan yang lebih spesifik.
"A...aku...mana aku ingat. Sudah lama. Lagipula aku hanya sampai pagar depan. Tapi om Satya sudah pasti di rumah. Mobilnya ada di tempat parkir." Itulah anggapan Driella dan teman-temannya saat itu.
Namun, Dipta menghela napas."Kamu tidak mengerti. Biaya parkir di bandara lumayan mahal. Jadi sebagai orang yang sering bepergian ke luar negeri, dia akan lebih memilih menaiki taksi ke bandara."
"Om Satya kan...ARTnya---" Kalimat Driella disela.
"Orang kaya, penampilannya aku beri nilai A+, profesi menjanjikan masa depan. Pasti banyak wanita yang mengaku-ngaku pacarnya. Atau mungkin ART yang bekerja di tempatnya menyukainya? Ada banyak alasan, tapi yang pasti jika Satya bisa menunjukkan bukti dia berada di luar negeri. Dia bukan tersangkanya!" Tegas Dipta bagaikan detektif cilik berkacamata.