Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8_Awal kehidupan baru
"Kenapa aku harus bertemu dengan kakak?" tanya Elvara sambil menatap layar ponselnya yang terus bergetar.
Pesan demi pesan masuk tanpa henti.
Sebagian dari rekan bisnis yang mengucapkan selamat atas keberhasilannya, sebagian lagi dari teman-teman lama yang baru mengetahui bahwa hidupnya kini berubah drastis.
Satu bulan.
Hanya satu bulan sejak perceraian dengan Arsenio. Namun dalam waktu sesingkat itu, kehidupan Elvara berubah seratus delapan puluh derajat.
Wanita yang dulu sering diremehkan karena dianggap hanya menumpang nama suaminya kini berhasil membuktikan dirinya. Usaha yang selama ini ia bangun diam-diam berkembang pesat. Cabangnya bertambah. Pendapatannya meningkat berkali-kali lipat.
Banyak orang mengira Elvara akan hancur setelah perceraian.
Mereka salah.
Justru setelah berpisah, Elvara menemukan kembali dirinya yang selama ini hilang. Ia tidak lagi hidup dalam bayang-bayang siapa pun. Namun keberhasilan itu ternyata membawa masalah baru.
Pagi itu, sekretarisnya masuk ke ruangan dengan wajah ragu.
"Bu Elvara..." ucap Rina dengan ragu.
"Ada apa, Rina?" tanya Elvara menatap heran, alisnya terangkat.
"Seseorang menunggu di ruang tamu." lanjutnya
Elvara mengangkat kepala.
"Siapa?" tanya Elvara alis berkerut, tatapan penasaran.
Rina menelan ludah.
"Pak Edgar." Ucap Rina menelan ludah, wajah tegang.
Wajah Elvara langsung berubah.
Kakaknya. Orang yang selama ini tinggal di luar negeri dan jarang pulang. Orang yang paling protektif terhadap dirinya. Orang yang belum mengetahui secara langsung alasan sebenarnya di balik perceraian itu.
Elvara mengembuskan napas panjang.
"Kenapa dia datang ke sini?" tanya Elvara dengan wajah khawatir.
"Katanya ingin bertemu Ibu sekarang juga." jawab Rina tersenyum kaku.
Elvara memejamkan mata beberapa saat.
Ia sudah menduga hari itu akan datang. Cepat atau lambat, keluarganya pasti mengetahui semuanya.
"Baiklah. Suruh dia masuk." jawab Elvara menghela nafas pasrah, mencoba tenang.
Rina mengangguk lalu keluar.
Tak sampai satu menit kemudian, pintu ruangan terbuka.
Seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam masuk dengan langkah cepat. Tatapan matanya tajam. Rahangnya mengeras.
Elvara langsung tahu. Edgar sedang marah besar.
"Kau menyembunyikan semuanya tanpa memberitahuku, Mommy dan Daddy?" tanya Edgar dengan tatapan penuh amarah.
Suasana ruangan langsung menjadi tegang. Elvara berdiri dari kursinya.
"Kak..." panggil Elvara gugup.
"Jangan panggil aku kakak dulu!" balas Edgar wajah menahan emosi.
Suara Edgar menggema.
"Apa kau tahu bagaimana perasaan kami saat mendengar kabar perceraianmu dari orang lain?" ucap Edgar dengan tatapan kecewa.
Elvara terdiam.
"Apa kau tahu Mommy menangis semalaman?" tanya Edgar memberi tahu kebenaran.
"Maaf..." Ucap Elvara menunduk penuh penyesalan.
"Maaf?" Ulang Edgar.
Pria itu berjalan mendekat.
"Selama ini kau selalu meneleponku untuk hal-hal kecil. Saat kau sakit, kau meneleponku. Saat kau sedih, kau meneleponku. Tapi saat rumah tanggamu hancur, kau memilih diam?" jelas Edgar dengan mata memerah, ekspresi terluka.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Elvara.
"Aku tidak ingin membuat kalian khawatir." Jawab Elvara dengan mata berkaca_kaca.
Edgar tertawa pahit.
"Dan menurutmu sekarang kami tidak khawatir?" tanya Edgar menggeleng kesal, dengan tatapan kecewa.
Elvara menunduk.
Ia tahu kakaknya benar. Selama ini ia memang sengaja menyembunyikan semuanya.
Bukan karena tidak percaya kepada keluarganya. Melainkan karena ia terlalu lelah.
Terlalu lelah menjelaskan bahwa pernikahannya tidak seindah yang terlihat. Terlalu lelah berpura-pura bahagia.
"Kak..." ucap Elvara lirih, memohon pengertian.
"Jawab aku satu hal." kata Edgar serius.
Edgar menatapnya dalam-dalam.
"Apakah Arsenio menyakitimu?" tanya Edgar penasaran
Jantung Elvara berdegup kencang.
Ia terdiam cukup lama. Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan. Wajah Edgar langsung berubah gelap.
"Jadi benar." Lanjutnya.
"Dia tidak pernah memukulku." jawab Elvara menelan ludah dengan wajah gelisah.
"Itu bukan jawabannya." sahut Edgar.
Elvara menggigit bibirnya.
"Dia menghancurkan hatiku." lanjut Elvara lagi.
Ruangan kembali sunyi. Untuk pertama kalinya sejak datang, Edgar tidak berkata apa-apa.
Elvara menarik napas panjang.
"Selama bertahun-tahun aku berusaha mempertahankan pernikahan itu." ucap Elvara dengan tatapan kosong.
"Kenapa?" tanya Edgar penasaran.
"Karena aku mencintainya." lanjutnya
"Tapi dia tidak mencintaimu?" tanya Edgar dengan prihatin, rahangnya mengeras.
Elvara tersenyum pahit.
"Aku tidak tahu. Mungkin pernah. Mungkin juga tidak." jawab Elvara tersenyum pahit, mata menerawang kedepan.
Edgar mengepalkan tangannya.
"Kenapa kau tidak memberitahu kami?" tanya Edgar dengan suara yang mulai melunak.
"Karena aku malu." jawab Elvara dengan kepala menunduk penuh penyesalan.
"Malu?" ulang Edgar.
"Aku selalu membela pernikahanku di depan semua orang. Aku selalu bilang aku bahagia. Aku selalu bilang semuanya baik-baik saja. Lalu bagaimana aku harus menjelaskan bahwa semua itu hanya kebohongan?" jelas Elvara dengan suara bergetar, air mata menetes perlahan.
Suara Elvara mulai bergetar.
"Aku merasa gagal." kata Elvara dengan bahu bergetar.
Edgar menatap adiknya tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya, ia melihat luka yang selama ini disembunyikan Elvara.
Bukan luka di tubuh. Melainkan luka di hati. Luka yang sudah terlalu lama dipendam sendirian.
"Kau tidak gagal," kata Edgar pelan.
Elvara mengangkat kepala.
"Kau dengar aku?" tanya Edgar penuh keyakinan.
Air mata mulai jatuh dari mata Edgar sendiri.
"Kau tidak gagal." kata Edgar menggeleng tegas.
"Tapi pernikahanku hancur." balas Elvara dengan isak tertahan.
"Yang hancur adalah pernikahanmu, bukan dirimu." kata Edgar senyum hangat, penuh kasih sayang.
Kalimat itu membuat pertahanan Elvara runtuh. Air mata mengalir deras di pipinya.
Selama satu bulan terakhir, semua orang memuji kesuksesannya. Semua orang membicarakan pencapaiannya. Namun tidak ada yang benar-benar bertanya bagaimana perasaannya.
Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Hanya Edgar. Kakaknya. Orang yang sejak kecil selalu melindunginya.
"Tidak adil rasanya, Kak," isak Elvara.
"Apa yang tidak adil?" tanya Edgar dengan tatapan penuh prihatin.
"Aku sudah memberikan segalanya." kata Elvara dengan wajah putus asa.
"Untuk Arsenio?" tanya Edgar.
Elvara mengangguk.
"Aku mendukung kariernya. Aku mendampinginya saat sulit. Aku mengorbankan banyak hal. Tapi pada akhirnya aku tetap ditinggalkan." jelas Elvara, air mata yang masih membasahi pipinya.
Edgar berjalan mendekat lalu memeluk adiknya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Elvara menangis dalam pelukan kakaknya seperti anak kecil.
"Kau tahu sesuatu?" tanya Edgar.
"Apa?" tanya Elvara penasaran
"Kadang kehilangan bukan hukuman." lanjutnya
Elvara terdiam.
"Kadang kehilangan adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak pantas kita pertahankan." jelas Edgar dengan senyum hangat.
Tangisan Elvara semakin pecah. Ia melepaskan semua rasa sakit yang selama ini terkunci rapat.
Setelah beberapa menit, suasana mulai tenang. Edgar menarik kursi lalu duduk di hadapan adiknya. Kini nada suaranya jauh lebih lembut.
"Aku melihat berita tentang perusahaanmu." ucap Edgar dengan senyum bangga.
Elvara mengusap air matanya.
"Ya." jawab Elvara mulai tenang.
"Kau hebat." puji Edgar bangga.
Elvara tersenyum tipis.
"Aku hanya berusaha bangkit." Kata Elvara berusaha kuat.
"Tidak." balas edgar menggeleng tegas.
Edgar menggeleng.
"Kau melakukan lebih dari itu." ujar Edgar tersenyum bangga.
"Maksud Kakak?" tanya Elvaea bingung.
"Kau berhasil membangun kehidupan baru saat banyak orang memilih menyerah." jelas Edgar mata berbinar penuh kekaguman.
Elvara menatap kakaknya. Ada kebanggaan yang jelas terlihat di mata pria itu.
"Kami semua bangga padamu." ucap Edgar dengan senyum haru.
Mata Elvara kembali berkaca-kaca.
"Mommy dan Daddy juga?" tanya Elvara penuh harap.
"Tentu saja." sahut Edgar tertawa kecil, senyum meyakinkan.
"Tapi aku mengecewakan mereka." kata Elvara menunduk sedih.
Edgar menggeleng tegas.
"Tidak. Yang membuat kami sedih bukan perceraianmu." balas Edgar menggeleng lembut.
"Lalu?" tanya Elvara bingung.
"Karena kau memilih menanggung semuanya sendirian." jawab Edgar berusaha menguatkan Elvara.
Air mata kembali mengalir di pipi Elvara.
Selama ini ia berpikir keluarganya akan kecewa. Ternyata yang mereka rasakan hanyalah rasa khawatir.
Malam itu, setelah berbicara berjam-jam, Edgar akhirnya berdiri.
"Ayo pulang." ajak Edgar tersenyum hangat, tangan terulur mengajak.
"Pulang?" tanya Elvara dengan mata membesar dengan wajah terkejut.
"Mommy sudah memasak makanan favoritmu." lanjutnya
Elvara tertawa kecil.
"Dia masih mengingatnya?" tanya Elvara dengan senyum haru, mata berbinar.
"Mommy selalu mengingat semuanya tentangmu." lanjutnya dengan senyum lembut penuh kasih sayang.
Hati Elvara terasa hangat.
Untuk pertama kalinya setelah perceraian, ia merasa benar-benar memiliki tempat untuk kembali.
Bukan rumah mewah. Bukan kantor megah. Bukan perusahaan yang sukses. Melainkan keluarga.
Saat mereka berjalan keluar dari kantor, matahari senja mulai tenggelam di ufuk barat.
Elvara menatap langit yang berwarna keemasan.
Satu bulan lalu ia merasa hidupnya berakhir. Namun sekarang ia menyadari sesuatu.
Perceraian bukanlah akhir. Itu hanyalah awal dari babak baru. Babak yang mungkin tidak mudah.
Namun kali ini, ia tidak akan menjalaninya sendirian. Di sampingnya ada keluarga yang selalu mencintainya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Elvara tersenyum dengan tulus.
Bukan karena kesuksesan. Bukan karena kekayaan. Melainkan karena ia akhirnya menemukan kembali dirinya sendiri.