NovelToon NovelToon
Laki-laki Pilihan Suamiku.

Laki-laki Pilihan Suamiku.

Status: tamat
Genre:Janda / Cerai / Cinta Seiring Waktu / Keluarga & Kasih Sayang / Kontras Takdir / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:135.4k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Sakit tak berdarah dirasakan perempuan bernama Ananta Gayatri Rumi ketika laki-laki yang menjadi suaminya justru mendorongnya pergi. Tidak hanya itu Ananta Gayatri Rumi di ceraikan hanya karena masalah sepele, Laki-laki yang menjadi suaminya kecewa karena saat pulang kerja tidak menemukan istrinya di rumah.

Hanya perihal sepele yang menjadi alasannya.

Saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Suaminya itu menyesal, tapi semua tak lagi sama. Talak sudah jatuh.

Tak habis akal, anak kepala desa itu memanfaatkan kedudukannya untuk menjerat istrinya yang sudah terlanjur dijatuhi talak tiga.

Dia memaksa Ananta Gayatri Rumi menikah dengan laki-laki pilihannya, laki-laki yang kerap perempuan itu ajak bicara.

Laki-laki tak sempurna yang akan dijadikan tumbal supaya dia bisa kembali rujuk dengan Ananta Gayatri Rumi.

Lantas siapa sebenarnya laki-laki pilihannya itu?
Benarkah rencananya sesuai dengan keinginannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan sulit.

"Aku hamil, Mas." Rumi menyerahkan testpack dengan garis dua pada pria dihadapannya, ia tersenyum penuh kebahagiaan menyampaikan berita tersebut.

Namun sang suami tak mengatakan apapun, wajahnya tetap datar meskipun jemarinya terulur menyambut benda pipih yang di ulurkan padanya.

"Mas, aku hamil." Rumi kembali memberitahu, masih dengan senyum penuh harap.

Tapi, reaksi Jaya tak berubah, lelaki yang sudah empat bulan menikahinya itu tetap bungkam.

Seketika itu, senyum Rumi memudar, dengan pelan ia membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan menjauh.

Rumi pikir Jaya akan bahagia, tapi anggapannya salah. Rumi terus melangkah hingga menuju kamar mereka.

Wanita itu menghela napas. "Gak papa, gak papa, kamu pasti bahagia dengan kehadiran buah hati kita." Rumi berusaha berpikir positif, mengusap perutnya yang masih datar.

"Ayah kamu cuma lagi sibuk, Sayang. Jangan sedih ya. Dia sayang kok sama kamu." Mencoba tegar, ia berbicara pada janin di perutnya.

Ia tersenyum simpul dengan segala keadaan yang terjadi saat ini.

Pertanyaannya mengapa Jaya mempertahankannya jika sikapnya akan berubah abai seperti ini. Kejadian menyakitkan itu bahkan sudah berlalu sejak dua bulan yang lalu, lantas mengapa Jaya masih beku.

Sekelebat bayangan menakutkan itu kembali menghantam, dan yang bisa Rumi lakukan hanya menutup matanya rapat-rapat.

Wajah cantik itu kini sendu, mungkinkah Jaya tak suka mendengar kabar ini karena meragukan anak yang berada di rahimnya?

Astaghfirullah!

Rumi beristighfar berkali-kali.

Wajah Rumi memucat, kesedihan terpancar sekaligus rasa takut, terlebih ketika dia sendiri tidak mengingat apa yang sebenarnya terjadi.

Laki-laki yang menjadi penyebab hubungan mereka merenggang seperti ini menghilang bak ditelan bumi. Terakhir kali Rumi mendengar Harsa sedang berobat di Surabaya.

Entah!

Berusaha mengendalikan perasaannya, Rumi mulai berjalan keluar menuju dapur. Ia mulai memasak makan siang untuk dia dan suaminya yang sejak tadi bahkan masih berada di ruang keluarga. Setelah semua masakan selesai, ia tata tapi di meja makan, dengan memaksakan senyum manisnya ia berjalan ke depan, menghampiri suami yang masih duduk memejamkan mata di sofa.

"Mas, ayo makan siang dulu." ajak Rumi. Tak ada sahutan. "Mas?"

"Ah, apa?" ternyata lelaki itu ketiduran.

"Maaf," Rumi juga tidak sadar jika suaminya benar-benar terlelap. Sudah dua hari ini Jaya tidak bekerja karena rencananya minggu depan mereka akan pindah.

"Nggak, aku hanya kaget. Kenapa?" lelaki itu mendongak.

"Mari makan." ajak Rumi hangat.

"Oh, kirain ada apa. Kamu makan duluan saja, aku belum lapar. Aku jadi pusing karena kaget kamu bangunin."

Faktanya Rumi tidak sengaja.

"Maaf, Mas." Hanya itu yang bisa Rumi katakan,ia menunduk semakin sendu, matanya berkaca-kaca menahan perih di dadanya.

Jaya menghela napas gusar, ia lalu berdiri dari duduknya.

"Ma-Mas_"

"Aku mau pergi ke Lamongan, besok hari ulangtahun Zahra, malam ini aku tidak pulang." Mendengar ucapan itu, istri mana yang tidak sakit hati, sudah memasak susah payah, sekedar mencicipi saja suaminya tak sudi. Rumi hanya bisa mengangkat tangan sejenak, dan menurunkannya lagi, tak bisa menghentikan Jaya yang berjalan pergi, mengambil jaket serta kunci motornya dan beranjak meninggalkan rumah.

Meninggalkan Rumi sendirian yang akhirnya menangis tak bisa menahan kesedihannya.

Rumi hendak mengunci pintu ketika satu tangan pria mendorong pintu agar kembali terbuka.

"Mas_"

"Aku nanti beri tahu Zahra alasan kamu tak bisa datang. Kamu hamil, dan tidak boleh terlalu capek." Rumi terdiam mendengar kalimat yang diutarakan Jaya, ada rasa bahagia mendengarnya. Jaya perduli dengan mereka. "Takutnya nanti dia nelpon kamu dan jawaban kita berbeda, dia akan berpikir yang tidak-tidak."

Hati Rumi terasa ter cubit.

Jaya hanya menatap sejenak, tangannya terkepal tanpa melakukan pergerakan apapun, akhirnya dia benar-benar pergi dan kali ini tak lagi kembali untuk sekedar memberi pesan.

Rumi hanya bisa tersenyum kecut seraya berdoa, penuh harap, dengan semua yang terjadi Jaya bisa kembali hangat padanya, seperti dulu. Satu minggu sebelum Harsa merusak kehangatan mereka. Rumi memegang perutnya kemudian. Ia berharap banyak pada bayi yang dikandungnya.

******

Sesampainya Jaya di rumah Abah dan Uminya, seperti biasa dia akan mencari keberadaan sang Abah. Untuk sekedar bertukar kabar.

Setelah saling berbicara dan bercerita mengenai kabar dan pekerjaan mereka istirahat.

Lalu, di kala makan malam.

"Bah, Umi, bisa minta tolong bantu carikan ART terbaik untuk kami?"

Mendengarnya, kedua orang tuanya merespon baik, mereka tersenyum hangat. "Sudah dari lama, Umi usulkan ke kalian, kasian Rumi yang kerepotan ngurus rumah sendirian."

Tidak sendirian. Selama ini Jaya membantu wanita itu sebenarnya. Hanya saja...

"Masalahnya, Rumi sedang mengandung!"

Seperti mimpi kabar itu di sambut tangis haru oleh Umi Zalianty.

Akhirnya, rumah tangga sang putra berjalan pada semestinya. Terakhir melihat keadaan sang menantu rasanya sulit melewati rumah tangga dengan sang putra yang masih terikat kuat oleh masa lalu. Tapi bukankah Allah maha mengetahui? Rumi wanita baik, dan pantas mendapatkan Jaya. Umi Zalianty sudah benar-benar mengikhlaskan kepergian sang putri. Mengingat setiap yang bernyawa pasti akan kembali pada-Nya.

Menjadi orang tua angkat sekaligus mertua untuk Jaya, membuat Kiai Ahmad Sulaiman dan Umi Zalianty tidak bisa terlalu ikut campur urusan Jaya.

Apalagi setelah lelaki itu sendiri mengatakan bahwa bukan dirinya yang menjadi penerus sang Abah untuk mengurus ponpes, tapi itu sudah menjadi hak Zahra.

Itulah sebabnya Zahra tidak ikut dengannya, melainkan di titipkan kepada mereka.

Sementara di rumah Rumi sedang menanti kabar dari sang suami.

Sudah pukul 8 malam tapi Jaya belum juga memberinya kabar.

Sebagai seorang istri rasanya wajar khawatir ketika suaminya berpergian dan tidak tahu pasti sudah sampai tujuan atau belum.

Jaya tengah berbaring menatap langit-langit kamar sejak sepuluh menit yang lalu.

Kamar tidur ini yang ditempatinya bersama dengan Rumi.

Hatinya tidak bisa dikatakan tenang, ada rasa khawatirnya serta rasa bersalah sebab sikapnya belakangan ini. Matanya terpejam mengingat wajah sendu yang belakangan ini ia tatap.

Rumi.

Sedang apa wanita itu?

Jaya meraih ponselnya, saat membuka aplikasi hijau itu dia menemukan istrinya masih online.

Jaya gegas melirik jam di ponsel. Jam 22:35

Gegas. Tangan itu mengetik satu pesan untuk Rumi.

[Tidur!]

Di sebrang sana Rumi sedikit terkesiap karena pesan tiba-tiba.

Segera Rumi keluar dari aplikasi dan membuka pesan tersebut, dan benar itu dari suaminya.

Rumi tersenyum, Jaya ternyata perhatian.

[Tidurlah! Wanita hamil tidak baik begadang.]

Setidaknya Rumi bisa tidur nyenyak malam ini, meski dari tadi memikirkan pemikiran buruk Jaya yang akhir-akhir ini lebih dingin dari hari sebelumnya.

[Iya, Mas]

Tangannya juga cepat membalas pesan Jaya. Ke khawatirannya setidaknya sedikit berkurang.

Kini Rumi memejamkan mata, dan mulai masuk ke alam mimpi, sementara di tempat yang berbeda Jaya berharap bisa mendengar suara Rumi atau bahkan bisa melihat wajah Rumi yang tersenyum.

######

Bagaimana?

Rumi harus bertahan?

Atau harus pergi mencari kebahagiaannya sendiri?

1
.
⭐ ⭐ ⭐ ⭐ ⭐
.
Terima Kasih, cerita nya Bagus
Saya sungguh terharu,

Karya Anda sungguh berkesan 🤍
Sinta Harianto
Bagus
Rahmi Mamimima
Wkwkk jebakan yg mmbuat klian terjebak sendiri 🤣
Rahmi Mamimima
Gede bgt ujian rumi😭 kasian
Rahmi Mamimima
😭Nangis dg kata2 ini
Rahmi Mamimima
Bagus ceritanyaaa😍😍😍
Rahmi Mamimima
Oalah.. Hasan suami dinar
Gnti nama jadi jaya?
Lia Afriani
happy ending n bikin aku terharu
Lia Afriani
apa ya
Lia Afriani
Deg degan bcax
Lia Afriani
crtax bgus,gk kyk kebnyakan novel
Lia Afriani
sepertinya Jaya ingin mrasa jd orng lain untuknutupi knytaan yg tk bs diterimax
Hera sasuwe
👍
Riza Umi Nurjannah
pergi kalau sikap jaya masih dingin
Ranny
akh ternyata ini cerita lanjutan tentang Hassan yg di tinggal wafat dang istri kasihan banget ya hidupnya sampai depresi gitu /Sob/
Ulin Dadi
ternyata ini sambungan kisah Dinar n Hasan sangat bagusssss n apakah da lanjutan u kisah Rumi n Hasan (jaya)?
Batriani
keren... bravo.... 👍👍👍👏🙌🙌🙌
Batriani
kemakan fitnah....
Batriani
pergi..,. kala tak tampak dimata baru akan kerasa ternyataa.... dia sangat berarti.... epeti harsa . sidah diceraikan baru tergila 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!