Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 – Kabut yang Tak Seharusnya Ada
Hutan Ilusi kembali diselimuti keheningan setelah tubuh serigala bayangan itu hancur menjadi ribuan partikel cahaya. Kilauan putih yang tadi memenuhi udara perlahan memudar berganti dengan desiran angin yang berhembus pelan di sela-sela pepohonan raksasa,
Kabut tipis masih menggantung di antara akar-akar pohon yang menjulang, membuat pandangan hanya mampu menembus beberapa meter ke depan. Aurelia menghembuskan napas panjang seraya menurunkan tongkat Astralisnya dan cahaya pada kristal di ujung tongkatnya mulai perlahan meredup meski masih meninggalkan jejak lembut yang terasa hangat di telapak tangannya.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanyanya sembari berjongkok di samping Lyra.
Lyra masih terduduk di tanah dengan napas memburu, ia mengusap keningnya yang mulai dipenuhi butiran keringat, lalu tertawa kecil meski terdengar sedikit lelah.
“Aku baik-baik saja, hanya saja aku mulai mempertanyakan diriku sendiri, kenapa aku mau mengikuti seleksi ini.” Ucap Lyra dan membuat Aurelia terkekeh mendengarnya.
“Dan ini baru satu serigala.”
“Itu dia masalahnya,” sahut Lyra seraya menunjuk ke arah hutan yang tampak tak berujung. “Kalau yang pertama saja sudah seperti itu, aku tidak ingin membayangkan apa yang tengah menunggu kita didalam sana.” Tambahnya lagi.
Candaan kecil itu setidaknya bisa membuat ketegangan mulai mencair. Namun jauh dilubuk hati Aurelia, ada perasaan yang belum juga menghilang. Menurutnya serigala yang menyerangnya tadi itu terlalu nyata baginya.
Sebelum memasuki hutan, professor Cedric sendiri memang sudah mengatakan bahwa makhluk didalam Hutan Ilusi hanya ilusi yang mampu melukai. Akan tetapi, ketika mata merah makhluk itu menatapnya, Aurelia merasakan sesuatu yang berbeda.
Menurut Aurelia, tatapan yang diberikan oleh serigala bayangan itu bukanlah tatapan sekedar haus akan kemenangan seperti makhluk ujian pada umumnya, melainkan tatapan kebencian yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduknya berdiri, seolah makhluk itu benar-benar hidup.
“Ayo.” Lyra berdiri seraya merapikan jubah akademinya. “Kalau kita terus diam disini, tim lain bisa lebih dulu mencapai garis akhir.” Aurelia mengangguk setuju.
Keduanya mulai kembali melangkah menyusuri jalan setapak yang dipenuhi oleh akar-akar pohon besar. Cahaya matahari nyaris tak mampu menembus rimbunnya dedaunan di atas kepala, sehingga satu-satunya penerangan hanya berasal dari kristal-kristal kecil alami di batang pohon.
Di luar arena, para professor pun tak lepas tangan begitu saja, mereka mengawasi setiap peserta melalui puluhan cermin sihir yang melayang di udara, masing-masing cermin memperlihatkan kondisi tim yang berbeda-beda.
Professor Cedric berdiri dengan kedua tangan yang bersekap dada, sesekali ia akan mengangguk puas saat melihat kerja sama dari beberapa peserta senior yang mengikuti ujian tersebut.
“Kelompok Kaelen bergerak sangat cepat, dan Tim Elric juga sudah mulai menemukan jalur utara,” begitulah kata Cedric. Sedangkan professor Elowen mengamati cermin lain sebelum akhirnya sebuah senyum simpul terlukis di bibirnya.
“Anak-anak tahun pertama ternyata tidak buruk.” Tatapan Cedric pun beralih ke cermin yang memperlihatkan Aurelia dan Lyra. “Terutama dua gadis itu.” Elowen menambahkan tanpa melepaskan pandangannya dari Aurelia dan Lyra.
“Ilusi Lyra cukup rapi.” Elowen mengangguk setuju dengan ucapan Cedric.
“Dan Aurelia…” ucapan Elowen menggantung di udara. “… aku masih belum bisa membaca batas kekuatannya.” Lanjutnya dan Cedric tidak bisa menjawab.
Pandangannya justru kini tertuju pada kristal Astralis yang berada di ujung tongkat Aurelia, kristal itu kembali bersinar, padahal gadis itu sedang tidak menggunakan sihir. Sementara itu, jauh didalam hutan, Lyra tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Tunggu.” Aurelia menghentikan langkahnya.
“Ada apa?” Tanya Aurelia dan Lyra langsung menutup kedua matanya. Tangannya perlahan menyentuh udara kosong di depannya. Benang-benang cahaya berwarna keperakan mulai muncul dari ujung jarinya membentuk lingkaran tipis yang melayang di sekitar mereka.
Aurelia memperhatikan Lyra dengan kagum, ia sudah beberapa kali melihat kemampuan Lyra, tetapi setiap kali gadis itu menggunakan sihir ilusinya, pemandangan yang tercipta selalu terasa menakjubkan.
Benang-benang cahaya itu bergerak perlahan di antara pepohonan, seolah sedang mencari sesuatu yang tersembunyi, dan beberapa detik kemudian, salah satu benangnya tiba-tiba terputus lalu hal itu pun langsung membuka kedua matanya.
“Waspada. Ada seseorang.” Belum sempat Aurelia bereaksi, suara langkah kaki terdengar dari balik semak.
Dua orang murid tingkat tiga muncul dihadapan mereka dengan napas yang tersengal. Salah satu dari mereka memegangi bahunya yang sudah dipenuhi oleh luka gores. “Kalian.” Seru salah seorang dari mereka.
“Syukurlah, akhirnya bertemu peserta lain.” Seru satunya lagi dan Aurelia segera menghampiri mereka.
“Apa yang terjadi?” Tanya Aurelia.
“Kami diserang.” Pungkas pemuda itu seraya menelan air liurnya.
“Dengan serigala bayangan?” Kedua pemuda itu menggelang dan jawaban mereka justru membuat suasana mendadak menjadi hening. “Lalu diserang dengan siapa?” Sambung Lyra.
“Aku tidak tahu. Kami bahkan tidak sempat melihat wujudnya.” Tutur salah satu pemuda yang terluka.
“Yang kami lihat hanya…” satu pemuda lainnya berhenti sejenak, dan wajahnya pun berubah menjadi pucat. “… sepasang mata merah didalam kabut.” Lanjutnya yang membuat Aurelia dan Lyra saling beradu pandang satu sama lain.
Mendengar kata ‘mata merah’ entah kenapa membuat bayangan Caelum terlintas dibenak Aurelia. Namun dengan cepat ia mengusir pikiran jeleknya itu, karena itu sama sekali tidak mungkin, bagaimana pun Caelum juga berada di ujian yang sama dengan mereka.
“Boleh kami ikut bersama kalian?” Tanya murid yang tengah terluka. Lyra menatap Aurelia, seolah tengah meminta persetujuan darinya, namun dengan cepat Aurelia mengangguk.
Semakin banyak orang, seharusnya akan semakin aman, begitulah pikir Aurelia. Namun tanpa mereka sadari, seseorang justru mengamati mereka dari kejauhan—Caelum Velrath. Ia berdiri di salah satu pohon tinggi disana seraya memandang kelompok kecil yang berada dibawahnya dengan ekspresi datar.
“Empat orang. Itu justru akan membuat semuanya semakin sulit.” Ia mengalihkan pandangan ke arah langit. Di balik dedaunan yang rimbun, langit biru mulai tertutup awan kelabu. “Rupanya sudah mulai, ya?” Pungkasnya lagi.
Beberapa ratus meter dari mereka, Orion tengah berdiri sendirian. Berbeda dengan Caelum yang memilih mengamati dari kejauhan, Orion justru tengah memandangi tanah yang sedang ia pijak. Disana terdapat jejak-jejak hitam yang membentuk pola aneh dan itu membuatnya curiga.
Orion berjongkok dan tangannya langsung menyentuh bekas jejak tersebut, dalam sekejap ekspresinya pun berubah. “Mustahil..” Ucapnya dengan agak panik, karena bekas jejak itu bukan berasal dari makhluk ilusi Akademi.
Orion mengenali jejak tersebut, jejak yang sudah bertahun-tahun tidak muncul dan seharusnya itu sudah punah. Pria bermata abu-abu itu langsung berdiri, tatapannya pun langung mengarah ke tempat Aurelia berada.
“Kau tidak boleh menemukannya,” gumamnya lirih. “… belum sekarang.” Sambungnya lagi.
Tanpa membuang waktu, Orion melesat di antara pepohonan, ia bergerak dengan sangat cepat yang bahkan bisa dikatakan melebihi kecepatan yang dimiliki manusia biasa. Sementara itu, jauh di pusat Hutan Ilusi, kabut yang semula putih perlahan berubah warna sedikit demi sedikit.
Kabut itu berubah menjadi hitam, namun tidak ada satu pun peserta yang menyadari perubahan tersebut, termasuk professor yang padahal mereka masih mengawasi jalannya ujian melalui cermin sihir.
Perubahan itu terjadi ditempat yang tidak terjangkau oleh pengawasan akademi. Disanalah sesuatu yang telah tertidur selama puluhan tahun perlahan membuka matanya, dan ketika mata itu terbuka, seluruh Hutan Ilusi bergetar pelan, seolah sedang menyambut kebangkitan pemiliknya.