Millie Peterson.
Seorang pelukis muda berbakat, baru saja membuka galeri di pusat kota New York. Kehidupannya selalu teratur dan berjalan sewajarnya. Namun, semuanya berubah setelah malam peresmian pembukaan galerinya.
Orion Alano.
Seorang pria kaku dan kejam, ditakuti oleh siapa saja yang mengenalnya. Tidak pernah mengenal yang namanya cinta, sampai suatu malam dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya merasa tertantang. Pada akhirnya, rasa penasaran semakin mendekatkan wanita itu padanya.
Siapakah Millie? Dan, takdir macam apa yang mengaitkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dignity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Aku masih berumur delapan tahun saat itu, tapi kenanganku masih sangat jelas. Dikarenakan ayahku merupakan orang kepercayaan Alonzo, keluarga kami hampir bisa dibilang tumbuh bersama keluarganya. Alessandro, Armano, dan aku selalu bersama sampai kami terjun ke dalam mafia bersama Javer dan Damien. Anak perempuan Alonzo sangat pendiam, tapi penuh semangat, mereka selalu menyibukkannya dengan les piano dan melukis, bahkan saat usianya baru menginjak angka lima. Alonzo memiliki istri yang cantik dan merupakan tulang punggung seluruh organisasi kami. Dia menjaga Alonzo tetap berada di garisnya dan mempedulikan semua anak buahnya. Dia selalu menyanyikan lagu-lagu pengantar tidur untuk ketiga anaknya, dan aku pun terlelap karena menguping dari kamarku.
Peristiwa itu terjadi pada malam dingin di bulan April, saat Alonzo dan Eloisa memboyong anak-anak mereka untuk liburan singkat di rumah pantai. Alonzo dan kedua putranya pulang lebih dulu karena Eloisa dan Alessandra merencanakan kunjungan ke rumah keluarga Eloisa. Ibu dan anak itu menginap semalam lagi di rumah pantai, dan baru akan pergi keesokan paginya. Ingatanku sangat jelas, saat itu jam tiga pagi ketika tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara teriakan yang terdengar tepat di depan pintu kamarku. Dengan waspada aku beringsut turun dan sedikit membuka pintu kamar. Aku kaget mendengar teriakan itu datang dari Alonzo. Pria yang tidak pernah kulihat meneteskan air mata itu sedang berdiri di lorong, terisak-isak pilu. Ayahku memeluknya erat, hampir terlihat menopang seluruh bobotnya.
Kemudian ibuku mendatangiku dengan wajah penuh air mata. Dia duduk di atas kasur, memeluk dan menciumi kepalaku, dan meski belum tahu apa yang sedang terjadi, aku menyadari segalanya akan berubah.
Ternyata rumah pantai mereka meledak, sementara Eloisa dan anak perempuannya terjebak di dalam, di duga sedang tertidur pulas. Mereka tak punya waktu untuk menyelamatkan diri. Tim kepolisian bekerja sama dengan pemadam kebakaran untuk mencari tahu penyebabnya, yang pada akhirnya menuntun Alonzo kepada Ernesto.
Insiden itu menjadi titik balik keseluruhan organisasi kami, membuat Alonzo berubah total dan menjadi dirinya yang sekarang. Dia kehilangan sebagian besar dirinya akibat kejadian itu, putus asa seakan hidupnya tak lagi berguna. Luka itu tak pernah sembuh walaupun dia masih memiliki dua anak laki-laki. Hari ini, tidak seorangpun berani menyebut namanya dengan lantang. Aku tidak menyalahkan Alonzo sepenuhnya dalam hal ini, aku sendiri tidak bisa membayangkan rasa sakit yang harus dia tanggung. Itu kenapa sejak awal aku tidak pernah mengijinkan seseorang terlalu dekat denganku, setidaknya sampai Millie datang. Aku tidak bisa, dan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Setelah pembunuhan itu, kami memusuhi semua grup mafia di seluruh dunia. Dalam dunia mafia sendiri ada etika tertentu yang harus di junjung tinggi, dan Ernesto melanggar itu.
"Oh, sesuatu memang sedang terjadi." Damien terkekeh dari kursi belakang.
"Damien." Aku memberinya peringatan. Sebaiknya dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia memang sahabatku, tapi aku tidak ragu mematahkan seluruh giginya seandainya dia berbicara soal Millie. Untuk saat ini aku ingin hanya kami yang tahu tentang Millie.
"Apa?" desak Alessandro, menyadari ketidaksukaanku.
"Orion sedang mabuk cinta." Ledek Damien. Aku menahan diri dari menarik pistol dan meledakkan kepalanya.
"Oh, sial! Kau pasti bercanda." Jeritan Alessandro hampir membalikkan mobil.
"Damien mengucapkan sesuatu diluar bagiannya." Aku mengerang, mengusap dahi. "Aku mengencani seorang gadis, kalau kau mau menyebutnya begitu. Kami berkencan beberapa kali. Tetapi, yang menjadi masalah besar adalah Ernesto juga menguntitnya. Entah kenapa dia menginginkan gadis ini."
"Dan menurutmu dad tahu sesuatu?" tanya Alessandro, pada waktu yang bersamaan masuk ke gerbang rumahnya.
"Aku tidak tahu. Kami benar-benar putus asa saat ini. Kami tidak tahu siapa dia sebenarnya dan kenapa Ernesto sangat menginginkannya."
"Menarik." kata Alessandro, mengerutkan dahi. Aku memelototi Damien yang duduk dengan raut geli, tahu benar dia akan selamat karena Alonzo yang memegang kendali disini, bukan aku.
Alessandro memarkirkan mobil dan kami keluar.
"Dad ada di kantornya." gumamnya, menekan kode pintu.
"Bagus. Kami harus bicara dengannya sebelum..."
"Orion!" Ibuku memekik begitu kami masuk ke dalam rumah.
"Hai, ma." Aku tersenyum, menghampiri dan memeluknya. Dia tampak persis seperti yang kuingat, namun tanpa duka menyelimuti rautnya. Dia sangat hancur ketika ayahku didiagnosa menderita kanker, lalu tak lama kemudian meninggal, dan aku tidak yakin akan melihat senyumnya lagi. Ayahku suami yang mengerikan, tapi Ma tidak bisa hidup sendiri.
"Apa yang kau lakukan disini? Senang sekali bisa melihatmu, figlio." Air mata menggenangi matanya. Datanglah rasa bersalah sialan itu lagi.
"Hanya untuk kunjungan singkat." Aku mencium pipinya. "Ma terlihat sangat baik."
"Terima kasih." Dia tersenyum lembut. "Oh, Tuhan, aku sangat merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu, Ma. Maaf aku belum bisa mengunjungimu akhir-akhir ini." gumamku jujur. Aku selalu mencintai Italia. Dan fakta bahwa ibuku tinggal disini membuatnya jauh lebih baik. Aku harus mulai mengatur kembali jadwal kunjungan, bukan hanya untuk urusan pekerjaan.
"Yang penting kau disini sekarang." Dia mencium pipiku dengan keras. "Aku akan menyiapkan santap malam khusus untuk kalian, anak-anak." katanya, lalu mencium pipi Damien juga. "Aku juga senang bisa melihatmu, Damien."
"Aku lebih bahagia, Flo." Damien balas memeluknya.
"Boleh kami mengobrol dengan Alonzo selagi Ma masak?" tanyaku sembari menggulung lengan kemeja. Suhu di dalam rumah bahkan lebih panas dibandingkan di luar.
"Tidak, dia pasti senang melihatmu. Tapi, kembali kesini setelah kalian selesai. Aku ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama kalian."
Aku mengangguk, tersenyum, dan mengikuti Damien. Ruang kerja Alonzo sudah tampak dari tempat kami berdiri. Aku mengetuk pintu, menunggu jawaban sebelum masuk.
"Ya?" sahutnya dari dalam. Ada sesuatu pada nadanya yang membuatku merinding. Alonzo bisa sangat menakutkan jika dia menginginkannya, dan kami sering melihat itu. Alessandro, Armano, Javer, Damien, dan aku tak terpisahkan dan kami selalu mencoba mencari masalah. Setiap kali berada di dekat Alonzo, aku merasa seperti anak kecil yang sedang dimarahi.
"Hai, bos." sapaku, mengintip dari daun pintu.
Alonzo duduk di kursi kayu mahoni besar, puluhan map tertumpuk di hadapannya dan rautnya terlihat beku dengan eskpresi cemberut, yang kemudian cerah sekilas saat melihat kami.
"Orion, Damien! Senang melihat kalian!" Dia berdiri dan mengancing jasnya, kemudian mengulurkan tangan padaku dan Damien. Gerakan itu mendekati sifat ramah yang dimiliki Alonzo.
"Kami juga senang melihatmu. Maaf karena tidak memberitahu kedatangan kami, rencananya sangat mendadak." balasku sementara kami duduk di sisi lain meja Alonzo.
"Kau tahu kedatanganmu disini selalu disambut, nak. Tidak perlu menelepon segala." Dia tersenyum sebelum kembali duduk. Alonzo juga terlihat persis seperti yang kuingat. Rambutnya sedikit lebih abu-abu, tapi yang lainnya masih sama. "Aku yakin ibumu pun sangat gembira dengan kedatanganmu."
"Ya, tidak diragukan lagi." Aku tertawa. "Namun, aku tidak yakin Ma akan mengijinkanku pergi lagi."
"Dia hanya merindukanmu. Seharusnya kau lebih sering meneleponnya." Alonzo menyarankan. Tetapi berdasarkan pengalaman di masa lalu, ketika dia menyarankan sesuatu, itu bukan permintaan, melainkan perintah.
"Pasti. Aku sendiri berencana sering-sering kesini. Pekerjaan di New York terlalu menyita waktuku, seakan tidak pernah ada waktu yang pas."
"Lho, kalau begitu bisnis lancar, dong?" Alonzo melipat kedua tangan dan menyandarkan punggung ke belakang, tak mau membuang waktu untuk basa-basi.
"Bisnis sedang melejit." jawab Damien. "Kami sedang mengurus transaksi jual-beli senjata minggu ini dan berencana membuka lokasi baru di Miami dalam beberapa minggu ke depan."
"Oh, persis seperti yang ingin kudengar." ucap Alonzo sambil mengangguk. "Namun, kalian tidak mungkin datang sementara bisnis sedang berkembang pesat."
"Tidak." Aku menarik napas. "Kami punya beberapa masalah." Aku terdiam, berpikir memulai dari mana. Aku harus segera bicara sebelum Damien berceramah.
"Masalah semacam apa?" desak Alonzo.
"Masalah dengan rambut cokelat panjang, bergelombang, dan bokong yang seksi." Damien menyeringai, spontan aku memelototinya. Dasar tolol!
"Astaga, itu masalah terburuk." Alonzo terkekeh.
Aku mendorong foto yang kubawa ke atas meja, foto Millie yang sempat kuambil beberapa minggu lalu. Sejujurnya Tom yang memotretnya saat aku menyuruhnya mengikuti Millie. Sekarang aku membawa foto itu kemanapun aku pergi. "Apa kau mengenal gadis ini?"
Gelombang kaget menyelimuti Alonzo. Dia mengangkat alis dan mengamati foto itu. "Ini... Inikah gadis yang memberi begitu banyak masalah bagi kalian?"
"Ya." jawabku tegas. "Namanya..."
"Millie. Aku tahu." Alonzo seketika menyela.
"Kau mengenalnya." Sekarang giliran aku yang kaget. Kami akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan selama ini.
"Pertama-tama, ceritakan padaku bagaimana kau bertemu dengannya." seru Alonzo, meraih segelas minuman dan menaikkan ke bibirnya. Aroma Scotch menyengat sontak merebak.
"Well," kataku memulai. "Aku membeli lukisannya, yah... sebenarnya beberapa lukisan untuk kutaruh di klub Miami. Dia sangat berbakat." Alonzo mengangguk singkat. Semakin lama aku semakin gugup. "Dia diserang pada malam saat kami disana. Anak buah Ernesto hendak menculiknya, mencoba melecehkannya, tetapi Damien, Tom, dan Javer tiba tepat waktu. Tom menembak salah satu dari mereka."
"Ernesto," gumam Alonzo, merapatkan bibir. Kemarahannya kian memuncak sementara aku berbicara.
"Ya. Awalnya, kupikir Millie salah satu gadis peliharaannya. Namun, kami mendapati fakta dia sudah mengawasinya selama berbulan-bulan, datang ke galeri dan berpura-pura tertarik dengan karyanya. Dia punya banyak kesempatan, tetapi tidak mengganggunya sampai malam itu."
Alonzo meringis. Kenapa dia bereaksi seperti itu? Seolah dia ikut terluka mendengar berita ini.
"Kami melacak ponselnya untuk mencari sesuatu yang menghubungkannya dengan Ernesto, dari situlah kami tahu kau juga mengawasinya." Damien menimpali.
Alonzo membisu, aku bisa melihat otaknya sedang jungkir balik. Alonzo kenal Millie. Dia bahkan tidak ragu saat aku menunjukkan fotonya. Tapi, apa yang dia inginkan darinya?
"Ya, aku mengawasinya untuk waktu yang cukup lama. Lebih tepatnya hampir dua belas tahun." Dia menghela napas, raut gelisah menyelimuti wajahnya. "Ikut aku sebentar, ada sesuatu yang perlu kalian lihat."
Alonzo berdiri, lalu berjalan ke pintu yang mengarah ke perpustakaannya sementara kami mengikutinya dengan patuh. Kami memasuki ruangan besar yang hampir setiap sudut dindingnya dipenuhi buku. Sewaktu kecil dulu, kami sering bermain disini, saling dorong di atas pegangan tangga. Namun, setelah Eloisa dan Alessandra meninggal, Alonzo tak lagi mengijinkan kami masuk ke perpustakaan. Ini tempat favorit mereka berdua dan dia tidak sanggup membukanya. Mereka tahan duduk berjam-jam, membaca dan bercerita, hanya berdua saja. Aku masih ingat gelak tawa mereka yang menggema sampai ke lantai bawah, dan aku tidak percaya sekarang kami berdiri di tempat sakral ini.
Damien dan aku saling menatap bingung.
Alonzo menuntun kami ke sudut ruangan dan mengambil sebuah foto dari rak. Dia memperhatikannya selama beberapa saat kemudian sebaris senyum melengkung di sudut mulutnya. Lalu, dia mengulurkan foto itu padaku. Foto Eloisa dan Alessandra tak lama sebelum mereka dibunuh.
Aku menerimanya dan mengamatinya lekat-lekat. Mereka tersenyum dengan bibir merah merekah, Alessandra tampak sangat bahagia sementara Eloisa yang selalu cantik memeluknya dari belakang. Aku melirik Damien, dia juga tersenyum.
"Ini foto favoritku dari mereka." Sekarang raut Alonzo berubah serius. "Apa kau mengenal gadis kecil itu, Orion?"
"Tentu saja. Ini Alessandra." jawabku dengan nada agak bergetar. Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatnya. Semua orang mengaguminya dan Alessandra merupakan satu-satunya anak perempuan yang sangat dinanti-nantikan.
"Benar. Tapi, hanya itukah yang kau lihat?" tanyanya. "Lihat matanya. Mata yang begitu cantik." Alonzo hampir tersedak dan buru-buru menelan ludah. "Apakah itu hanya mata Alessandra, atau sekaligus mata Millie-mu?"
Nafasku tersekat di tenggorokan ketika menyadari tepat pada saat yang sama Alonzo mengucapkannya. Aku menatap kembali foto yang kubawa dan foto milik Alonzo. Yah, bentuk mata bulat yang persis dengan kilat jenaka.
Tidak. Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Alessandra sudah mati. Mereka bukan orang yang sama. Ayah Millie pergi meninggalkannya dengan ibunya. Lalu mereka tewas karena kecelakaan. Ayah dan kedua kakak laki-lakinya...
Astaga! Alessandro dan Armano adalah kakak laki-lakinya...
Millie anak perempuan Alonzo Gasparo!