Novel lanjutan dari Istri Rahasia Sang Aktor
Pria yang Aya kira sudah menjadi mantan suaminya, kembali hadir dan mengatakan mereka masih terikat hubungan sebagai sepasang suami istri.
Berbagai upaya Darren lakukan agar sang istri memaafkannya bahkan mencintainya, mengingat pernikahan mereka 5 tahun silam merupakan buah dari perbuatannya merenggut kehormatan seorang gadis.
Bahkan akhirnya dihadapan media, Darren mendeklarasikan, bahwa Aya adalah istrinya, bagaimana lika-liku perjalanan mereka selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
#23
Mobil mewah Darren berhenti di Polda Metro Jaya, hari ini adalah jadwal Darren dan Aya memberikan kesaksian terkait kasus hukum yang melibatkan mereka berdua, dengan Clara dan Baldi sebagai tersangkanya.
Kedatangan keduanya menarik perhatian dari pewarta media yang sudah standby di lokasi sejak beberapa jam yang lalu, mengingat kasus hukum kali ini melibatkan keluarga aktor senior kawakan, serta sepasang suami istri yang juga berkecimpung di dunia Entertainment.
Darren turun terlebih dahulu, disusul kemudian Aya, keduanya memakai pakaian semi formal lengkap dengan kacamata hitam, berhenti sejenak di depan mobil karena jalan mereka terhalang para wartawan yang sedang berburu berita.
“Darren tolong komentarnya sedikit,”
“Darren apa kabar?”
“Darren … bla bla bla.”
“Darren … bla bla bla.”
Entah pertanyaan apa lagi yang para wartawan tanyakan padanya, Darren bahkan tak menyimak satu persatu, tapi akhirnya ia berhenti di pelataran Polda Metro Jaya, dan sedikit berbicara menghormati para wartawan yang sudah menunggunya beserta sang istri.
“Kami datang, berusaha kooperatif dengan pihak yang berwajib, karena bagaimanapun, kami juga yang mengajukan laporan dengan tuduhan percobaan pembu*nuhan, entah nanti seperti apa hasilnya, dan apa saja yang hendak pihak kepolisian tanyakan pada kami, kami belum tahu.”
Darren mengangguk memberi hormat, kemudian bergerak maju.
“Darren apa nanti kamu juga tak akan memberi Clara sedikit kelonggaran, mengingat kalian sudah cukup lama berteman.” Tanya salah seorang wartawan lagi, membuat langkah Darren terhenti, tanpa sadar ia mengeratkan genggaman tangannya pada Aya, kentara sekali ia memendam amarah pada Clara dan Baldi.
“Justru karena kami sudah sangat lama berteman, aku tidak menyangka dia tega berbuat seperti itu pada istriku, dulu dia mendorong istriku yang sedang hamil muda, kemudian memutar balikkan fakta seolah olah dia yang terluka, aku memaafkannya dan hanya memberinya somasi. tapi sekarang dia mencoba melakukan percobaan pembunuhan pada istriku, maaf-maaf saja, karena kali ini aku tak bisa lagi mentolerir sikapnya, ini tantangan terbuka untuk Clara dan keluarga nya, mari kita bertarung di meja hijau.”
Darren mengakhiri kalimatnya, kemudian merangkul pundak Aya ketika mereka melanjutkan perjalanan ke ruang pemeriksaan. Tim kuasa hukum keluarga Geraldy mereka sudah menanti di sana, agaknya kali ini Alexander Geraldy benar benar menerima tantangan dari keluarga Rocky morgan, terbukti dengan kesediaannya menurunkan tim kuasa hukum yang selama ini dipercaya sang Tuan Besar Pemilik Geraldy Kingdom tersebut.
“Selamat pagi Pak Rifky.” Sapa Darren pada pengacaranya tersebut.
“Oh Darren, Aya … kalian sudah datang.” balas Pak Rifky, “Kenalkan ini pak Agung, dan Pak Indra, tim kuasa hukum tambahan untuk mengawal kasus kalian nanti,”
Darren dan Aya berjabat tangan dengan kedua pengacara kondang tersebut, setelah semua berkumpul, mereka dibawa ke sebuah ruangan tertutup serupa dengan ruang konferensi. Para penyidik segera memulai Berita Acara Pemeriksaan, dengan beberapa pertanyaan pembukaan.
.
.
5 jam lamanya waktu yang mereka habiskan di ruang pemeriksaan, rasanya kepala Darren dan Aya sudah mengepulkan asap, padahal mereka hanya bercerita tentang yang sebenar benarnya-benarnya terjadi.
Usai semua pemeriksaan menjemukan tersebut, keduanya langsung berlalu, tak lupa mengucapkan terima kasih pada para wartawan, yang sedang di temui oleh tim kuasa hukum mereka.
Di dalam mobil, Aya kembali berusaha menetralkan pikirannya, syukurlah hari ini Darren meminta pak Joko mengantar, karena Darren tak yakin apakah ia cukup kuat untuk mengemudi seorang diri setelah semua yang terjadi di ruang pemeriksaan.
“Minum dulu Ay … wajahmu terlihat lelah,” Bisik Darren seraya menyodorkan air mineral yang telah ia buka kemasannya.
Wajah tampan yang kini senantiasa Aya tatap setiap waktu itu tampak khawatir, “Kamu gak memasukkan obat yang aneh-aneh kedalamnya kan?” tanya Aya dengan wajah serius.
Darren melongo mendengar pertanyaan tersebut, otaknya yang sedang eror, atau Aya memang mulai tertular virus jahil nya?
Sreeeett … Darren menarik tirai pembatas, kini pak Joko tak bisa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, Darren segera mengikis jarak, kemudian menarik Aya ke pangkuannya, kedua tangannya memeluk erat pinggang Aya, “Iya … aku memasukkan obat surga.” Bisik Darren di telinga sang istri, disertai dengan gigitan nakal yang terus menjalar sampai tengkuk Aya.
Aya terkikik geli, namun menikmati momen manis tersebut, bisikan nakal, termasuk segala macam tingkah nakal lain yang super mesum, kini tak lagi asing dalam keseharian Aya semenjak kembali bergelar istri.
“Dare … ish … aku … ge … li …” ringis Aya yang tak kuasa menahan de*sahanya, karena kedua tangan Darren mulai tak terkondisi.
“Panggil aku dengan sebutan sayang, kalau tidak aku akan melanjutkan hukumanmu sampai besok pagi.”
“Panggilan apa lagi?”
“Maybe Honey, Hubby, Sayang, Beibe?”
“Harus banget yah?”
“Katanya cinta, apa nanti jika anak-anak kita lahir, kamu masih akan tetap memanggil namaku saja, tanpa embel embel sayang di belakangnya.”
“Nanti ku pikirkan lagi.”
Darren gemas dengan berbagai macam alasan penolakan Aya, kini mulai menggelitik pinggang dan mera*ba bagian tubuh Aya yang paling sensitif.
“Hentikan … pak Joko mendengar suara kita.” protes Aya.
“Oh iya, coba aku tanya Pak Joko. Pak Joko, apa pak Joko Dengar apa yang kami bicarakan?”
Aya tercengang, rupanya Darren benar-benar mewujudkan kalimatnya. Habislah sudah, kini ia tak kuasa lagi menyembunyikan rasa malu di hadapan Pak Joko.
“Tidak Mas … santai saja, bapak mengerti, silahkan di lanjutkan, anggap Pak Joko tidak ada.” Jawab Pak Joko terus terang, dan hal itu membuat Aya semakin merona malu.
“Apa kubilang, pak Joko tak dengar apa-apa.” bisik Darren dengan kilatan wajah bahagia penuh kemenangan, tak membuang waktu lagi ia menarik tengkuk Aya kemudian mulai menjelajahi bibir manis sang istri, sungguh pekerjaan menyenangkan, dan Darren rasa ia tak akan pernah bosan, karena kini Aya pun semakin lihai mengimbangi dirinya.
“Pintar, tak sia-sia aku melatihmu setiap waktu.” Ujar Darren sambil mengusap sisa ludah yang membasahi bibir Aya.
Ayaa tersipu malu, “Sekarang merasa lebih rileks?” tanya Darren, rupanya tadi ia berusaha meredakan ketegangan Aya, karena Aya terlihat tak banyak bicara selama ada di ruang pemeriksaan, kecuali jika ia ditanya.
Darren cukup lega ketika Aya tersenyum dan merangsek ke pelukannya, diusapnya kepala dan punggung sang istri, Darren bahkan sengaja menurunkan sandaran kursinya agar posisi Aya menjadi lebih nyaman. “Tidurlah … aku akan menjagamu dengan segenap hatiku,” gumam Darren.
Aya tersenyum mendengar perkataan suaminya, “Apa kamu merasa nyaman jika aku tidur di pelukanmu begini?” gumam Aya dengan mata sudah nyaris terpejam.
“Bahkan aku berpikir, mungkin suatu saat kita layak mencoba melakukannya ketika sedang di mobil seperti sekarang.”
Secara reflek, jemari Aya mencubit pinggang suaminya, “Apa tak cukup jika di apartemen saja.”
“Cukup?? hahaha tentu kalau urusan yang satu itu, tak akan pernah cukup Ayank ku ...” Jawab Darren dengan seringai jahil di wajah nya.
Aya menangkup kedua pipi suaminya, “hiiih gemes … untuk sudah terlanjur cinta, kalo nggak, aku turunin di perempatan lampu merah.”
“Tega amat yank … mau ngapain aku di perempatan lampu merah?”
“Ngamen sambil nunggu saweran.”
“Etdah … rupanya kamu tak secinta itu padaku,”
“Siapa bilang?”
“Barusan kamu mengatakannya.” sungut Darren, dengan wajah cemberut.
“Bercanda bapak suamiiii.” jawab Aya menoel hidung Darren kemudian mengacak rambut pria tersebut.
“Mana buktinya kamu bercanda?”
“Mau bukti apa?”
“Cium sini.” Darren menunjuk keningnya.
Dan dengan senang hati Aya menuruti keinginan Darren.
Tak berhenti sampai disana, Darren kembali menunjuk bibirnya, sekali lagi pula Aya tersenyum bahagia sebelum mel*umat bibir sang suami, cukup lama pergulatan lidah itu terjadi, sebelum akhirnya terpaksa terlepas karena keduanya sudah kehabisan nafas, “Istriku memang pintar, jika begini aku semakin yakin kalau istriku sudah benar benar jatuh cinta padaku.”
“Kesimpulan konyol, aku sungguh-sungguh mencintaimu.” Kekeh Aya.
“Apa boleh buat Ay, aku selalu takut kamu hanya kasihan padaku, sementara aku kini terlalu mencintaimu.” Balas Darren.
.
.
Hahaha … Darren Darren … kamu semakin bucin tapi juga semakin menggemaskan.
terima kasih sudah mampir dan kasih atensi🥰
hati2 y/Sneer//Sneer/