NovelToon NovelToon
Halal Tapi Asing

Halal Tapi Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dorongan Umi dan Hangatnya Dustasila

Langkah kaki Humaira terasa begitu berat menyusuri lorong panjang ndalem sepuh. Udara subuh yang kian dingin menusuk pori-pori tak sebanding dengan kekosongan yang kini bersarang di dadanya. Setelah merapikan mukena dan menaruh mushaf di tempatnya, ia berniat menuju dapur, membenamkan diri dalam tumpukan pekerjaan domestik agar otaknya berhenti memutar ulang sebaris pesan singkat dari wanita bernama Evelyn di ponsel suaminya tadi.

Namun, baru saja ia mencapai ujung lorong yang membatasi area privasi mereka dengan ruang tengah, langkahnya terhenti. Umi Khadijah, dengan gamis tidurnya yang bersahaja namun memancarkan keibuan yang teduh, tampak sedang berjalan ke arah kamarnya sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat yang masih ngepul.

"Eh, Humaira?" Umi Khadijah terkejut pelan, lalu tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit hangat. "Umi baru mau mengetuk pintumu, Nak. Ini Umi buatkan teh jahe hangat untuk kamu sama Arsalan. Lho, kamu sudah rapi begini?"

Humaira memaksakan sebuah senyuman terbaik yang ia miliki. Refleks, ia mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim. "Enggeh, Umi. Matur nuwun sanget. Kulo sampun rumaos seger, milanipun badhe wonten pawon, tetulung Umi masak kagem sarapan," jawab Humaira menggunakan bahasa Jawa Krama Alus yang teramat santun dan tertata, wujud didikan luhur dari abahnya. *(Iya, Umi. Terima kasih banyak. Saya sudah merasa segar, makanya mau ke dapur, membantu Umi masak untuk sarapan).*

Umi Khadijah justru terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menatap menantunya dengan pandangan penuh selidik yang jenaka. "Masak sarapan? Halah, urusan dapur itu sudah ada Mbak-Mbak santri yang bantu, Nak. Kamu itu pengantin baru, tugas utamamu ya menemani suamimu."

Mata sepuh Umi Khadijah melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. "Lha terus, Arsalan di mana? Kok kamu malah sudah berkeliaran di luar jam segini?"

"Gus Arsalan saweg siram, Umi. Nembe kemawon mlebet jedhing," tutur Humaira lembut, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap stabil tanpa ada riak kepedihan. (Gus Arsalan sedang mandi, Umi. Baru saja masuk kamar mandi).

Mendengar kata 'mandi' di jam sepertiga malam menjelang subuh bagi sepasang pengantin baru, senyum Umi Khadijah seketika berubah menjadi senyuman penuh arti yang sarat akan godaan. Beliau menaruh nampan teh di atas meja kecil di selasar, lalu menepuk-nepuk bahu Humaira dengan gemas.

"Oalah, Le... Arsalan jam segini sudah mandi?" goda Umi Khadijah dengan mata berbinar-binar gembira. "Kamu itu gimana toh, Nak? Suami mandi jam segini, mbok ya ikut masuk juga. Ikut mandi bareng suami itu pahalanya besar banget lho di dalam agama, batinnya dapat, berkahnya luar biasa. Biar Umi sama Abi ini cepat dapat momongan, cepat menimang cucu!"

Deg.

Kalimat 'mandi bareng' dan 'momongan' yang terlontar dari lisan Umi Khadijah bagaikan hantaman godam yang tak kasat mata di ulu hati Humaira. Rasa perih kembali menganga di dadanya. Bagaimana ia bisa mandi bersama, sementara suaminya saja lari ketakutan masuk ke kamar mandi hanya karena hampir terbuai oleh kecantikan istrinya sendiri? Bagaimana bisa ada momongan, jika di atas ranjang itu saja Arsalan tak sudi membagi hatinya?

Namun, di hadapan wanita sepuh yang teramat menyayanginya ini, Humaira harus tetap menjadi Ning Humaira yang anggun dan tanpa cela. Ia menyembunyikan jemarinya yang gemetar di balik lipatan gamisnya.

"Kulo... kulo sampun siram rumiyin, Umi. Sakderengipun Tahajud wau," kilat Humaira, wajah manisnya memerah pias karena harus berbohong demi menutupi fakta bahwa suaminya mandi untuk membasuh hawa nafsu yang salah alamat. (Saya... saya sudah mandi duluan, Umi. Sebelum Tahajud tadi).

Umi Khadijah justru tertawa renyah, tawa khas seorang ibu yang gemas melihat kepolosan menantunya. Tanpa diduga, tangan hangat Umi Khadijah meraih pundak Humaira, memutar tubuh gadis itu, lalu mendorong punggungnya dengan pelan namun pasti ke arah pintu kamar.

"Mandi kok cuma sekali? Ya mandi dua kali dong, ndak apa-apa! Malah makin bagus!" canda Umi Khadijah sambil terus mendorong pelan tubuh Humaira agar kembali mendekati knop pintu kamar pengantinnya. "Sudah, sudah, jangan ke dapur dulu. Masuk sana, temani suamimu yang lagi mandi itu. Goda sedikit ndak apa-apa, toh sudah halal!"

Humaira tidak bisa memberontak. Tubuhnya terdorong pasrah hingga tepat berdiri di depan pintu kamarnya sendiri. Umi Khadijah mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka sebelum berbalik meninggalkan lorong dengan langkah kaki yang riang, menyisakan Humaira yang kini berdiri mematung menatap pintu kayu di depannya dengan perasaan campur aduk yang menyesakkan dada.

Sementara itu, Umi Khadijah berjalan kembali menuju ndalem utama dengan hati yang membuncah penuh bunga. Langkah kakinya terasa begitu ringan. Begitu memasuki kamar pribadinya, ia mendapati suaminya, Kiai Ahmad, baru saja mendudukkan tubuh di tepi ranjang, bersiap untuk mengambil air wudu guna mengimami salat Subuh di masjid pesantren.

Kiai Ahmad menoleh, menatap istrinya yang masuk dengan wajah yang begitu berseri-seri, kontras dengan hawa dingin subuh yang biasanya membuat orang enggan tersenyum lebar.

"Ada apa toh, Umi? Subuh-subuh kok wajahnya sudah matang merona begitu, kayak habis dapat durian runtuh," tanya Kiai Ahmad dengan suara baritonnya yang tenang dan berwibawa.

Umi Khadijah langsung mendekat, duduk di samping suaminya, lalu menyenggol lengan Kiai Ahmad dengan sikutnya, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya yang meletup-letup.

"Bi... itu lho, anakmu, si Arsalan," bisik Umi Khadijah dengan nada gemas yang tertahan.

Kiai Ahmad mengernyitkan alisnya, menatap sang istri dengan penuh selidik. "Arsalan kenapa? Dia bikin ulah lagi? Atau belum bangun Subuh?"

"Bukan, Abi! Justru anakmu itu rajin banget!" Umi Khadijah terkekeh pelan, wajah keibuannya dipenuhi rona bahagia. "Tadi Umi mau antar teh hangat ke kamar mereka. Eh, di lorong ketemu Humaira sudah rapi. Umi tanya Arsalan di mana, katanya baru saja masuk kamar mandi, mau mandi subuh. Padahal Humaira sendiri juga sudah mandi sebelum Tahajud!"

Kiai Ahmad terdiam sesaat, mencoba mencerna maksud ucapan istrinya, sebelum sebuah senyuman tipis namun penuh arti perlahan terukir di wajah sepuhnya yang berwibawa. Sebagai seorang kiai dan seorang ayah, beliau tentu paham ke mana arah pembicaraan ini jika menyangkut sepasang pengantin baru.

"Oalah... jadi begitu," gumam Kiai Ahmad, mengangguk-angguk pelan sembari mengelus janggutnya yang mulai memutih.

"Iya, Abi! Arsalan itu kan lama di London, Umi sempat khawatir dia bakal kaku atau dingin sama Humaira karena pernikahan jodoh begini. Tapi alhamdulillah, ternyata anak kita itu pintar juga menjemput takdirnya," ucap Umi Khadijah sembari merapatkan kedua tangannya di depan dada, matanya berbinar haru. "Sebentar lagi kita bakal jadi kakek dan nenek, Bi. Ndak lama lagi, rumah ini bakal ramai sama suara tangis bayi. Umi sudah ndak sabar pengen gendong cucu dari jalur Arsalan dan Humaira."

Kiai Ahmad tersenyum teduh, menepuk pelan tangan istrinya yang berada di atas lututnya. "Alhamdulillah kalau begitu, Umi. Doakan terus anak-anak kita. Pernikahan yang diawali dengan rida orang tua, insyaAllah jalannya akan selalu dimudahkan oleh Allah, penuh berkah, dan sakinah."

"Amin, Abi. Amin ya Rabbal alamin," sahut Umi Khadijah dengan penuh kesungguhan.

Kedua orang tua itu melepas senyum bahagia, membayangkan masa depan yang indah bagi putra-putri mereka. Mereka sama sekali tidak pernah tahu, bahwa di balik dinding kamar yang berjarak beberapa meter dari sana, jalinan 'mandi subuh' yang mereka anggap sebagai bukti rajutan cinta, justru merupakan simbol dari sebuah penolakan yang teramat kejam dan dingin. Sandiwara yang dibangun oleh Arsalan dan Humaira telah berhasil menipu dunia, namun di dalam kamar itu, luka baru justru sedang bersiap untuk menganga lebih lebar.

1
Ilfa Yarni
tp aku tetap sedih arsalan sendirian
Ilfa Yarni
Thor knp alhamdulillahnya beda bukan Alhamdulillahirrabbil 'alamiiin'
Akasia Rembulan
begitu jalan takdir Gus Arsalan.. harus melalui cobaanutk sampai dititik ini..
Ilfa Yarni
setiap Ku baCa kisah arsalan skr aku nangis krn dia tidak mau memikirkan dunia lg dan tidak mau menikah yg ada difikirannya cuma tentang akhirat huhuhu sedih deh
Ilfa Yarni
aaaa sedih banget aku su km gus arsalan hiks hiks nangis aku bacanya
Akasia Rembulan
Gus Arsalan 😍
Ilfa Yarni
walaupun humaira udah dpat suami yg jauh lbh baik dr arsalan entah knp aku sedih krn arsalan udah bertaubat a dan benar2 berubah knp ga ada kesempatan kedua buat dia
Akasia Rembulan
gus gus ngerti agama kok zholim
Akasia Rembulan
iya ning.. masih banyak lelaki lain
Akasia Rembulan
kuat ning💪
Akasia Rembulan
ayo ning.. kobarkan semangatmu
Akasia Rembulan
gus... gus.. knapa ngga menikahi orang yg dicintai.. malah mengorbankan orang lain
Ilfa Yarni
haira udah bahagia bagaimana dgn arsalan
Ilfa Yarni
kok aku yg sedih humaira mau nikah dgn gus Reyhan sedih aku lihat arsalan dia udah berubah total tawadu' 'siapa jodohnya nanti ya
Ilfa Yarni
setelah b pertobatan arsalan aku malah jadi sedih krn mereka ga bisa bersatu lagi
falea sezi
🤣🤣 kapok lu makanya jd suami jangan dzalim kelamaan tinggal di luar jd kayak budaya luar sifat lu. menjijikkan
falea sezi
uda nikah aja ma reyhan biar si bangsatt gigit jari🤣
falea sezi
🤣🤣 katanya anak kiyai masak arti talak 3 aj lu kagak paham. bro😒😒 bloon sukurin lu abis ne liat humaira di nikahin reyhan🤣
falea sezi
🤣🤣 goblok malah ngucap. talak 3🤣🤣 ya g bs balik. lah goblok😒
Ilfa Yarni
entah knp aku pengen humaira balik dgn arsalan yoh arsalan udah berubah tp sayangnya mrk idak talak tiga itu ga mgkn lg humaira hrs menikah dulu dgn laki2 lain dan bercerai lg bar arsalan bisa balik lg hadeeh sedih aku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!