Silahkan promo asal jangan SPAM
Sesama Author saling membantu ya Kak
Langit telah memilihku untuk mengemban tugas menghentikan turunnya utusan iblis dan menghabisi mereka semuanya, namun aku gagal.
Di saat semua sudah terasa sirna dan hancur, rupanya langit masih memberi kesempatan kedua untuknya.
Aku kembali saat berusia 10 tahun berkat pola prasasti aneh yang mengurung diriku saat jatuh dan hancur...
Di kehidupan keduaku kali ini, akan tuntaskan kehendak langit - Widura.
Terinsipirasi dari Novel Talles Of Demon, Pedang Naga Api (Karya Ricky Wicaksono), Pendekar Dewa Matahari (A. Lubis).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL Divo Febriansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 23. Belajar Ilmu Kanurgan
Ilustarasi Sukma Ayu.
Widura mendapati seorang perempuan yang berdiri di balik pohon. Widura jelas mengenali perempuan itu karena dia adalah tunangannya, Sukma Ayu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Widura kepada Sukma Ayu.
"Aku hanya sedang berjalan-jalan saja dan tidak sengaja melihatmu sedang berlatih," jawab Sukma Ayu. Sukma Ayu tidak sepenuhnya bohong, ia memang tidak sengaja melihat Widura sedang latihan, tapi tujuan awalnya memang untuk menemui Widura.
"Kau tidak sedang berusaha membohongiku bukan?" tanya Widura penuh selidik.
"A..a..aku tidak sedang membohongimu," jawab Sukma Ayu dengan terbata-bata.
Widura tidak berkomentar lebih jauh. Ia memilih berjalan kembali ke tempatnya semula, meninggalkan Sukma Ayu yang masih berdiri dengan kaku.
Widura melihat Sukma Ayu berjalan menuju ke arah dirinya. Widura memilih kembali bermeditasi, sebelum sebuah suara membuyarkan konsentrasinya.
"Apa aku tidak salah dengar?" Widura mengubah posisi duduknya mengarah kepada Sukma Ayu.
Sukma Ayu menggeleng pelan, lalu berkata, "Aku ingin menjadi pendekar, sama sepertimu,"
Widura cukup tertegun dan terkejut mendengar permintaan dari Sukma Ayu. Ia benar-benar tidak menduga jika gadis mungil dan polos seperti Sukma Ayu tertarik terhadap bela diri.
"Apa kau tidak bersedia mengajariku? Jika begitu aku akan mencari yang lain saja untuk mengajariku," ucap Sukma Ayu sambil melangkah berjalan meninggalkan Widura yang masih berdiri kaku.
"Tunggu!!" ucap Widura yang mengentikan langkah kaki Sukma Ayu, "Aku akan mengajarimu ilmu kanuragan," lanjut Widura.
"Kau bersungguh-sungguh bukan?" tanya Sukma Ayu memastikan jika ia sedang tidak di permainkan oleh Widura.
"Ya, aku bersungguh-sungguh, tapi sebelumnya aku ingin tahu apa alasanmu memilih menjadi seorang pendekar?" Widura balik bertanya kepada Sukma Ayu.
Sukma Ayu nampak berpikir keras, sebelum mulai membuka suara, "Aku ingin menjadi seorang yang pantas berada di sampingmu, bukan semata-mata karena memenuhi titah dari Ayahanda dan paman Anas, aku ingin menjadi pendekar yang hebat yang mampu melindungi semua orang yang ku sayangi dan ku cintai.."
"Tujuanmu sungguh mulia Ayu..." Widura merasa cukup terkejut mendengar jawaban dari Sukma Ayu. Ia benar-benar tidak menduga jika Sukma Ayu memiliki pemikiran sejauh itu.
"Jadi kapan kita akan memulai latihannya?" tanya Sukma Ayu yang cukup antusias.
"Hmm baiklah kita akan memulainya sekarang juga,"
Sukma Ayu mengaguk antusias. Ia mulai berdiri dengan tegap di hadapan Widura.
Widura hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah dari Sukma Ayu. Widura memulai dengan memberikan pemahaman tentang kuda-kuda kepada Sukma Ayu. Kuda-kuda sebenarnya memiliki variasi yang sangat banyak, tapi yang paling di kenal adalah istilah kuda-kuda tarung.
Widura juga tidak lupa menjelaskan tentang kuda-kuda dasar yang terdiri dari 20 bagian. Sukma Ayu cukup cepat mempelajari semuanya. Ketika matahari tepat berada di atas kepala, Sukma Ayu sudah berhasil menguasai kuda-kuda dasar. Sukma Ayu langsung melanjutkan mempelajari kuda-kuda tarung. Sukma Ayu cukup mengalami banyak hambatan dalam menguasai kuda-kuda tarung. Sampai matahari sudah hampir tebenam, Widura memilih menghantikan latihan mereka hari ini dan akan kembali di lanjutkan besok pagi.
"Kau memiliki bakat yang hebat untuk menjadi pendekar Ayu," Widura cukup terkejut mendapati jika Sukma Ayu terlahir dengan Kristal Jingga.
Ketika hari sudah benar-benar gelap, Widura segera menghantarkan Sukma Ayu kembali ke rumah milik Pramesti. Seperti sebelumnya, Widura kembali bertemu Pramesti yang sudah menghunuskan pedang di depan wajahnya sebagai peringatan untuknya, agar tidak melakukan hal-hal bodoh yang membahayakan Sukma Ayu.
***
Setelah mengantar Sukma Ayu kembali ke kediaman Pramesti, Widura memilih mencari tahu tentang keberadaan Dirga yang bertugas mengamati kediaman dari Pramesti.
Namun Widura tidak kunjung menemukan laki-laki itu,"Aku rasa hari ini mungkin tetua Dirga sedang tidak ada di sini, mungkin ini adalah jeda libur yang diambilnya," pikir Widura seorang diri.
Widura menyisir seluruh hutan yang masuk dalam kategori hutan keluarga Lentera. Setelah dua dari kali menyisir hutan, Widura dapat memastikan jika Dirga memang sedang tidak memata-matai keluarga Lentera hari ini.
"Tunggu dulu, bisa jadi malam ini dia akan datang kembali, supaya tidak meninggalkan kecurigaan..." pikir Widura.
***
Siang sudah berganti malam, Widura terus mengamati kediaman milik Pramesti. Ia benar-benar tidak dapat tenang, jika belum memastikan jika keluarga Komet tidak ada yang sedang berada di desa Pasmah dan mempelajari situasi dan kondisi desa untuk menyusun rencana mereka.
"Mereka benar-benar licik, tapi sayangnya kali ini kalian tidak akan berhasil..."
Beberapa saat kemudian Widura dapat melihat seorang laki-laki baru saja tiba dan berdiri di sebuah pohon besar.
Widura tidak dapat melihat laki-laki itu dengan jelas, tapi Widura dapat menyimpulkan jika laki-laki itu adalah Dirga, tetua dari keluarga Komet.
Widura juga menyadari jika kali ini Dirga tidak datang sendirian, tapi bersama dengan seorang laki-laki mudah, mungkin usia tidak terpaut jauh dari dirinya.
Widura terus memperhatikan gerak-gerik dua orang itu dari jarak aman. Widura tentu menyadari jika dua orang itu tidak mungkin nekad menyerang keluarga Lentera dengan hanya bedua saja. Mereka barang tentu sedang mempersiapkan strategi penyerangan yang efektif, tanpa harus melakukan pertarungan dan memastikan dapat membunuh Sukma Ayu.
"Haha akan aku siapkan permainan yang besar untuk kalian, kalian mungkin akan terkejut," guman Widura seorang diri.
Widura tidak pernah beranjak dari tempatnya, ia terus mengamati dua orang itu. Widura tidak pernah lengah sedikitpun. Ia tentu fokus dan fokus.
***
Dirga dan Panca saat ini terus mengamati kediaman milik Pramesti. Mereka terus mencari celah, agar dapat memberikan serangan dan menghabisi Sukma Ayu tanpa menciptakan kegaduhan. Mereka ingin bermain dengan cantik.
"Panca, kau akan bertugas membunuh Sukma Ayu, sementara aku akan mengawasi bilik milik Pramesti," ucap Dirga, "Kita akan masuk melalu pintu belakang di dekat taman bunga milik Pramesti," Dirga menunjuk sebuah pintu kecil di balik taman bunga.
"Jangan ada gerakan yang mencurigakan nantinya, kau harus benar-benar tenang, nanti aku akan membawa pendekar raja yang akan mengawasi kita dari jauh. Apakah kau mengerti?" seru Dirga kepada Panca.
"Tentu saja aku mengerti tetua, aku akan menjalankan semuanya dengan lancar dan setelah ini aku dapat membayangkan wajah Widura si sampah itu akan merah dan ketakutan karena tunangannya sudah tewas bersimbah darah," ucap Panca sambil tersenyum licik.
"Pelankan suaramu, apa kau mau kita ketahuan sedang menyusup. Sekarang ayo kita kembali, dan besok malam kita akan bergerak dengan senyap dan ketika pagi menyingsing seluruh desa Pasmah akan di buat gempar dengan kematian Sukma Ayu,"
kamu di bab sebelumnya mengatakan bahwa ki joko budoyo MAHA TAHU atas segala yang terjadi.
gantinama aja thor. .. jadi JOKOBODO wkwkwk
sungguh menyedihkan