Vano dan Nindy menentang hubungan putranya dengan Kila, dengan alasan tak mau sejarah lama terulang kembali yang terjadi pada mereka di masa lalu. Namun keduanya luluh juga setelah melalui beberapa konflik yang menegangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Ahza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Kabar gembira tengah menaungi keluarga kecil Ari. Betapa tidak. Karena sekian tahun hidup berumah tangga dengan Kristal, Tuhan baru mempercayai mereka dengan menitipkan janin di rahim Kristal. Hari itu setelah pagi-pagi Kristal mual dan muntah berkali-kali, dan atas saran dari ibunya Ari, dibawalah segera Kristal ke rumah sakit untuk berobat. Dalam hati Ari ingin istrinya cepat dapet obat untuk kesembuhanya. Namun Tuhan sudah menyiapkan rencana indah di balik sakitnya Kristal.
"Sayank, terima kasih ya..." ucap Ari berkaca-kaca ketika keduanya selesai dari dokter dan berada di dalam mobil. Tak beda dengan Kristal, ia sangat bahagia hingga tak terasa air matanya mengalir membasahi pipi.
"Tuhan maha pengasih, dan memberikan kepercayaan kepada kita sayank..." lanjut Ari berucap dan memeluk Kristal. Tak hentinya bibir Ari menghujani kecupan sayang ke kepala Kristal. Ia masih belum percaya, ia akan menjadi ayah dari jabang bayi yang tengah bersemayam di rahim wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang telah ia pilih untuk mendampingi hidupnya mengarungi bahtera rumah tangga.
"Nak, sehat-sehatyach di perut mama, kamiakan sabar menntimu mengisi hari-hari kami, cewek atau cowok, papa sama mama akan selalu sabar dan senang menanti kehadiran kamu nak..." ucap Ari sambil mengelus dan mengecup perut Kristal.
Begitu bahagianya kedua pasangan itu. Hingga Ari berinisiatif mengajak Kristal lanjut jalan-jalan sebagai bentuk bahagianya Ari.
"Hari ini nyonya Ari mau apa dan ke mana, atuan Ari siap antarin..." kata Ari dengan raut wajah yang berbinar-binar. Kristal tersenyum tipis, untuk sejenak rasa mualnya tidak muncul kembali. Kata dokter yang memeriksa Kristal, usia kandunganya sudah menginjak 4 minggu. Dokter berpesan agar jangan beraktifitas yang ekstrim-ekstrim dulu. Karena di usia hamil muda rentan dengan keguguran. Jadi ya momynya harus bisa mengontrol aktifitasnya sendiri.
"Sayank, maues Krim...." ucap Kristal.
Mendengar permintaan istrinya, Ari tersenyum, lalu berkata, "Cuma itu yank..? Apa lagi selain es krim...?" suara Ari lembut sekali. Sudah kayak bapak-bapak yeng ngemong anaknya. Kristal mengangguk sambil memandang suaminya yang tengah menyetir mobil di sisinya.
Ari segera meluncur ke resto terdekat. Karena ia ingin menjadi suami siaga untuk istrinya yang sedang hamil dan apa yang ia mau sebisa mungkin dan secepatnya bisa memenuhinya.
"Gimana urusanya tadi, Xel..? Udah kelar....?" Masih terengah-engah Angga bertanya.
"Sudah..." Axel tak bergeming dari bukunya. Lalu sesaat kemudian menutupnya.
"Lu anterin tadi mbaknya...?" cecar Angga lagi karena penasaran.
"Iya, gua anterin ke rumah sakit abis itu gua anterin ke kosnya..." jelas Axel yang di ikuti dengan menyeruput esnya yang sebagian es batunya sudah mencair. Tak lama pesanan Angga juga datang. Dengan cepat ia menyambar es coffe mixnya.
"Terus lo minta nomor hp nya nggak...?" masih dengan memegang gelas di tanganya, Angga antusias menanti jawaban Axel.
"Engga...." jawaban dari Axel singkat padat dan jelas.
Tiiiingggggggg
Suara notif pesan menghentikan percakapan kedua sahabat itu. Masing-masing menengok ponsel. Rupanya pesan itu masuk ke ponsel Axel.
Ia mengerutkan Dahi. Karena nomor yang muncul di layar hp nya tidak ia kenal. Lalu ia membuka dan membaca pesan tersebut.
"Siang Xel, ini Tasya, sebelumnya maaf karene aku telah lancang memaksa Angga untuk memberi tahu nomor kamu, jangan marah ya...?" isi pesan itu membuat Axel menatap sahabatnya dengan tatapan yang sangat tajam. Melihat Axel seperti itu, Angga sudah sangat paham.
"Iya iya Xel, aku minta maaf, aku salah, abisnya aku kasian sama Tasya, dia mohon-mohon sama aku, coba kamu di posisiku, pasti juga kasian..."
Axel menghembuskan nafsnya dengan kasar. Ia sedang menahan amarah. Kalau bukan Angga adalah sahabatnya, pastilah sudah di maki-makinya.
"Sudahlah, udah lo kasih juga nomornya, palingan juga engga aku balas..." ucap Axel dengan raut wajah dingin.
"Suer lo gak marah...?" tandas Angga.
"Enggak."
Tiiingggggg
Notif pesan masuk ke ponsel Axel lagi. Kali ini dari bengkel yang ia hubungi pagi tadi.
"Mas, harap segera ke bengkel, karena ada hal yang ingin saya bicarakan dengan mas..." Lgsg saja Axel menjawabnya.
"Oke mas, saya segera ke sana..."
Axel mengajak Angga ke bengkel. Pastilah urusan motor Kila. Dengan kecepatan sedang mereka mengendarai motor Axel. Selang beberapa menit kemudian, Axel sudah sampai di bengkel yang sangat besar, karena itu adalah bengkel langgananya. Setelah berada di dalam, Axeldi hampiri mas-mas bengkelnya dan langsung di ajak melihat motor Kila.
"Mas Axel, karena motor ini rusaknya lumayan parah, maka ini harus di ganti, ini juga, dan ini juga iya, gimana mas...?" ucap masnya yang jongkok dan menunjukan bagian-bagian yang harus di ganti. Axel yang mengamati dan mendengarkan perkataan mas bengkelnya, manggut-manggut sambik jarinya memegang dagunya sendiri.
"Ngikut mas aja, sekiranya ada yang harus di ganti, ganti aja, gimana baiknya..." tukas Axel.
"Wel wel wel, ada apa nih, kok mpe segitune..." bisik Angga yang jongkok di sisi Axel.
Axel melihat Angga sekilas namun tak menaggapi kata-katanya. Fokus lagi kepada mas bengkelnya.
Setelah berdiskusi panjang lebar, Axel sekalian membayar biaya benerin motor Kila. Angga sampai heran, dengan mudahnya Axel mengeluarkan biaya untuk orang yang baru di kenalnya. Secara, dulu setelah putus dari Tasya, sampai sekarang Axel bersikap dingin jika sama cewek. Angga masih tak habis pikir saja. Namun semua itu ia tepis, jika Axel mulai menyukai cewek dan itu adalah Kila, Angga seneng-seneng aja, bahkan mendukung setelah sekian lama gunung es tidak mencair-cair.
Setelah menyelesaikan administrasinya, keduanya segera pergi dari bengkel tersebut. Hari juga sudah menjelang sore, Axel terlebih dahulu mengantarkan Angga pulang, barulah ia pulang ke rumahnya.
Sore itu Axel di sambut oleh mamanya ketika memasuki rumah. Wajah Nindy berbinar. Seperti baru saja menang lomba dan dapet hadiah.
"Sore Mama..." sapa Axel yang menenteng helmnya dan memeluk Nindy.
"Sore juga sayang, baru pulang....?" balas Nindy yang di sun oleh putranya.
"Iya Mah, sepertinya Mama lagi bahagia banget, bagi-bagi dong Mah bahagianya..." ucap Axel sambil membuka jaket dan sepatunya karena kegerahan. Memang udara sore itu masih cukup panas karena matahari masih bersinar dengan agak teriknya.
"Emmmm, ayo coba tebak...?" ucap Nindy dengan senyum-senyum dan duduk di sebelah Axel.
"Emmm, mama dapaet kado dari papa...?" tebak Axel.
"Bukan Xel, Mama kamu sebentar lagi mau jadi Bude...." jawab Vano langsung menyahut ketika keluar dari kamar, karena hari ini Vano sengaja libur.
"Bude...?" kening Axel mengerut bingung.
"Iya, Bude. Kan tante Kristal hamil, tadi om Ari sama tante Kristal kemari, katanya tante Kristal hamil 1 bulan..." jelas Nindy.
"Akhirnya, Axel ikut seneng Mah, terus kapan kita ke rumah Kakek sama Nenek Mah.." dengan wajah berbinar Axel bertanya.
"Nanti malam saja, sekalian kita jalan-jalan beli kado buat tante sama om Ari...."
"Setuju pake banget Pah..."
"Hayo..., lagi ngobrolin apa nih...?" sahut Zia.
Bersambung.....