Takdir mengubah semuanya ketika Brixzia Agatha William tak sengaja membantu seorang wanita paruh baya ketika wanita itu sedang dalam butuh bantuan seseorang. Tanpa dia sangka, wanita tersebut adalah orang yang cukup terkenal dikota itu. Setelah menerima bantuan dari Brixzia wanita paruh baya itu meminta sesuatu yang membuat Brixzia atau kita panggil saja Zia terdiam ditempat, dengan lantang wanita itu berkata "Menikahlah dengan putraku". Menikah? Tak pernah sedetikpun dia berpikir untuk menikah dan entah angin apa dia bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang memintanya untuk menikah dengan putranya yang sama sekali tidak dia kenal.
Aaron Jay Alexander seorang Presdir terkenal dikota itu dikenal dengan ketampanan, keangkuhan, kekejaman dan kesombongannya. Pria dengan seribu pintu es ini dengan tiba-tiba menerima permintaan sang ibunda untuk menikahi wanita yang bertemu dengan ibunya "Menikahlah dengan wanita pilihan mama Aaron".
(Belum Revisi)
Bagaimanakah kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AGK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Love and affection
Zia duduk disisi kasur tempat dimana Aaron berbaring, Zia menatap ketiga orang itu "Biar aku saja yang mengurusnya, papa dan mama bisa istirahat. Aku titip Axel dulu ya?"?
Bella dan Alyssa sama-sama mengangguk paham "Baiklah, masalah Axel biarkan kami yang mengurusnya. Kamu fokus saja dengan kesembuhan Aaron".
Zia pun hanya mengangguk tanpa membalas, setelahnya mereka pun pamit dari sana. Dokter sudah memeriksa kondisi Aaron dan benar saja jika Aaron sedang demam tinggi.
Zia menatap lelaki itu dalam diam, satu tangannya kini terulur untuk mengelus pipi Aaron yang sudah berkumis. "Maafkan aku Aaron, kali ini aku berjanji akan tetap setia disampingmu dan aku harap kau juga begitu".
Aaron, lelaki itu kini tertidur dengan gelisah. Mungkin pengaruh demam, itulah mengapa dari tadi dia mengigau tak jelas.
"Zia, jangan tinggalkan aku! Aku sangat mencintaimu Zia! Dan aku sangat menyesal!" Ucap Aaron mengigau.
Zia tersenyum, elusannya sudah berpindah ke kepala Aaron "Aku tidak akan meninggalkanmu Aaron. Maka dari itu, cepatlah sembuh agar kau bisa bertemu dengan anakmu".
"Jangan!" Aaron terus mengigau, bertepatan dengan itu jemarinya dengan cepat menangkap jemari Zia. Ia menggenggam jemari Zia dengan begitu erat. Bahkan Zia dapat merasakan bagaimana jemari Aaron terasa dingin berkeringat.
"Jangan tinggalkan aku...hiks...jangan...".
"Aaron, ini aku...aku tidak akan meninggalkanmu Aaron" ucap Zia berusaha menenangkan lelaki itu. Namun bagaimana? Lelaki itu saja sedang tertidur! Bagaimana dia mendengar ucapan Zia? Ada-ada saja! Haha!.
Genggamannya kini semakin erat dan sia juga semakin merasakan betapa basah dan dinginnya tangan itu. Zia berusaha melepaskan tangan itu walaupun awalnya sedikit sulit, akan tetapi dia berhasil melepaskan jemari itu. Bersamaan dengan Aaron yang terbangun dan langsung terduduk ditempat.
"TIDAK!" teriak lelaki itu. Nafasnya kini memburu, entah apa yang dimimpikan oleh Aaron. Setiap dia demam, dia terus mendapatkan mimpi yang sangat buruk.
Zia yang melihat itu jelas saja panik "Aaron?! Apa kau baik-baik saja?".
Lelaki itu diam sembari mengatur nafasnya, dia tak sadar akan kehadiran seseorang di sampingnya. Bahkan dia tidak sadar jika wanita itu tengah merangkul bahunya.
"Aaron?" panggil Zia guna menyadarkan lelaki itu.
[Bukankah ini adalah suara Zia?] batin Aaron.
Zia mengerut "Kau kenapa?".
Aaron masih belum menatapnya, tapi lelaki itu menggeleng seolah ada yang salah disini. "Tidak Aaron! Kau pasti sedang berkhayal! Mana mungkin dia ada disini!...Sadar Aaron! Sadar..." gumamnya.
Kedua tangan Zia kini berpindah ke sisi lengan Aaron "Kau sedang tidak berkhayal Aaron, aku ini nyata! Coba kau menatapku sekarang ".
Aaron tergugu ditempatnya ketika menyadari bahwa suara itu benar-benar ada, dia melirik kedua tangan yang melingkar dilengannya. Lalu mengangkat kepalanya secara pelan untuk mencari tahu apakah benar bahwa yang bercerita dengan saat ini adalah istrinya?.
Aaron menelan salivanya dengan kasar setelah melihat orang yang paling ia rindukan kini sedang duduk disampingnya. Wanita cantik yang selalu membuat Aaron tergila-gila, wanita cantik yang seorang Aaron Alexander bisa menundukkan kepalanya demi dia, dan wanita cantik yang sudah menjadi istri dan ibu dari anaknya.
Zia menarik satu tangannya, lalu ia lambaikan dihadapan wajah Aaron "Apa kau baik-baik saja?". Aaron masih dalam diamnya, dia masih terkejut dan tidak menyangka jika saat ini dia benar-benar melihat wanita yang paling dia cinta dan rindukan!.
"Aku akan memanggil dok-..." niat Zia untuk berdiri terhenti ketika dengan tiba-tiba Aaron langsung menyambarnya dengan pelukan yang begitu erat. Tak lupa dengan isakan lelaki itu.
"Aku benar-benar minta maaf Zia...tolong ampunilah aku...aku menyesali perbuatanku padamu dulu...maafkan aku Zia...maaf..."Isaknya dalam pelukan sang istri.
Zia tentu membalas pelukan itu, walau dia sendiri terkejut. Kemana Aaron yang menggunakan kata saya itu? Kemana Aaron yang selalu selalu berucap dingin? Dan kemana Aaron yang selalu memperlihatkan kedataran dirinya? Apakah semua itu sudah hilang? Pikir Zia.
Tiba-tiba Aaron melepaskan pelukan itu, ia mundur sedikit dengan kepala yang tertunduk "Maaf, aku sudah begitu lancang memelukmu...".
Zia masih diam, dia terus menatap Aaron dengan penuh kerinduan. Dari lubuk hatinya paling dalam sudah tak ada kata benci untuk Aaron! Tak ada! Melainkan hanya ada cinta! Ya! Cintanya kepada Aaron.
Aaron masih menunduk dan masih juga terisak "Jika...jika kau ingin kita berc-...".
Dengan tiba-tiba Zia langsung memeluk tubuh kekar itu sembari terisak "Jangan berkata seperti itu. Aku sudah memaafkan mu Aaron, aku memaafkanmu jauh dari dalam hatiku yang paling dalam".
Perlahan kedua tangan Aaron mulai bergerak melingkar di pinggang ramping milik Zia "Sekali lagi aku benar-benar minta maaf, jika ada kesem-...".
"Aku memberikanmu kesempatan kedua itu, maka dari itu jangan sia-siakan kesempatan ini" potong Zia. Lalu ia mendongak ke atas untuk menatap Aaron. "Aku juga minta maaf karena aku sud-...".
"Susstt. Tidak Zia, kau tidak salah dalam semua ini! Akulah yang salah! Karena aku adalah biangnya disini" potong Aaron.
Zia tersenyum, kini ia mengubah posisi mereka menjadi duduk berhadapan. Lalu kedua tangan Zia terulur untuk menghapus air mata suaminya itu "Apakah kau ingin mendengar ceritaku? Cerita tentang siapa yang membantuku?".
Aaron tersenyum kecil sembari menggeleng "Aku tidak perduli tentang itu, yang jelas..." Aaron mengambil kedua tangan Zia lalu menggenggamnya dengan erat, ia menatap Zia dengan begitu dalam "Kau sudah kembali padaku, aku sudah sangat bersyukur akan itu".
Cupp!
Aaron mengecup tangan itu lalu kembali berkata "Terimakasih Zia! Terimakasih! Sangat terimakasih! Aku sangat beruntung memiliki istri seperti dirimu!" Ia menjedanya, kemudian satu tangannya kini sedang menyelipkan surau rambut panjang Zia ke belakang telinga "Aku tidak akan berjanji, tetapi aku akan membuktikan bahwa aku akan menebus semuanya! Aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin!".
Cupp!
Kini kecupan itu mendarat dikening Zia, kecupan yang Aaron berikan cukup lama "Aku sangat mencintaimu Zia! Sangat! I love you more than myself and everything! Because you are my life and my soulmate! Really! I really, really, really love you Zia!".
Zia tersenyum "Aku juga mencintaimu Aaron...".
Keduanya pun berpelukan saling mencurahkan rasa cinta dan kerinduan masing-masing. Kini mereka sudah kembali bersatu! Cinta keduanya bahkan sangat erat. Keduanya sama-sama bahagia atas semua ini, terlebih Aaron. Lelaki itu sangat, dan sangat-sangat bahagia karena Zia kembali kepadanya! Bahkan Zia memberikannya kesempatan untuk memperbaiki semuanya! Dan tentunya Aaron tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu! Dimana usaha dan penyesalannya selama empat tahun terakhir tidaklah sia-sia! Dia mendapatkan apa yang sudah dia perjuangkan! Takdir saja mendukung mereka sehingga mereka juga menyatu! Dan tentu saja itu terjadi karena kuasa dan pengampunan pencipta alam semesta ini.
"Panas" Zia pun melepaskan pelukan itu, saking panasnya tubuh Aaron sehingga Zia sendiri dapat merasakan panasnya.
Aaron terkekeh kecil "Sekali lagi terimakasih!".
Walau sedikit kesal, akan tetapi Zia berusaha memperlihatkan senyumannya 'Jangan membahas itu lagi Aaron! Dan jangan untuk melihat ke belakang masa lalu! Kini kita hanya perlu melihat ke masa depan kita!".
Ketika ingin berucap, Zia sudah mendorong pelan tubuhnya agar kembali tidur "Kau harus memperbanyak istirahat agar anakmu senang melihat Daddynya sudah sehat".
Mendengar kata anak, membuat Aaron sadar. Oh iya! Dia dan Zia kan memiliki seorang anak! Ahh! Saking senang dan bahagianya sampai-sampai membuatnya lupa jika mereka memiliki anak! Ada-ada saja Aaron ini.
"Lalu? Kemana dia? Aku sangat ingin untuk bertemu dan melihatnya" ucap Aaron penuh harap.
Zia kembali tersenyum, tangannya kini membalas genggaman tangan Aaron "Ada, tapi aku tidak mengizinkannya untuk masuk kesini. Nanti dia bisa tertular darimu! Maka dari itu cepatlah sembuh".
Aaron membalas senyumannya, ia menggeser tubuhnya memberi ruang agar Zia bisa tidur disampingnya "Bisakah kau tidur disampingku?".
"Kenapa tidak?".
Aaron semakin melebarkan senyumannya, walaupun wajahnya masih terlihat pucat "Kemarilah!" Ia menepuk-nepuk tempat untuk Zia tidur.
Dengan senang hati Zia langsung berbaring disamping Aaron sembari memeluk tubuh lelaki itu. Lalu Zia mendongak ke arah Aaron yang juga sedang menatapnya "Anakmu ad-...".
"Anak kita!" ralat Aaron protes.
Zia terkekeh dan mengangguk "Baiklah, anak kita dia laki-laki! Nama dia, Damian Axel Alexander. Panggil dia Axel".
"Axel.." ucap Aaron murung.
"Kenapa?".
Perlahan Aaron tersenyum hambar "Apakah aku pantas disebut sebagai ayahnya? Dan apakah aku pan-...".
"Sudah sejak tadi aku katakan untuk tidak mengatakan hal seperti itu! Kau itu sangat pantas lebih dari apapun! Axel bahkan sangat antusias saat aku akan membawanya kepadamu!" potong Zia.
Aaron pun terkekeh kecil "Baiklah! Aku harus sembuh! Aku sangat tak sabar untuk bertemu dengannya!".
Cupp!
Satu kecupan ia berikan di kening sang istri "Sekali lagi aku sangat mencintaimu Zia! Sangat!".
Zia tersenyum lalu mengeratkan pelukannya dengan kepalanya yang bersandar di dada bidang Aaron "Aku juga mencintaimu, Aaron! Suamiku!".
Bahagianya hidup ini! Tak disangka setelah empat tahun saling tersiksa, kini keduanya kembali dipersatukan dengan cinta dan kasih sayang. Lengkap sudah kebahagiaan Aaron! Sekarang sudah tak ada lagi yang dia cari, karena pada dasarnya adalah kebahagiaannya kini ada di istri dan anaknya.
To be continued...