PERINGATAN DIBWAH 17TH JAGAN BACA YA!
(Revisi!)
Cerita ini di mulai dari seorang gadis bernama Venezia zerlyn shaqueena yang mempunyai segudang masalah.
Hidupnya berjalan seperti biasa,sebelum dia mengetahui kekasihnya yang bernama Davin berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Dalam perjalanan pulang,dia di pertemukan oleh seorang pria bernama Gabriel lysander zeus.Pria dingin yang ternyata adalah seorang mafia.
Bertemu dengan Gabriel adalah masalah besar baginya,namun dia tidak pernah bisa menyesalinya.
Lalu,bagaimana perasaan Zia setelah dia mengetahui kebenaran yang selama ini dia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitriana putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twenty three chapter
Cahaya matahari menyinari wajah cantik Zia melalui ventilasi kamar.Zia membuka kedua matanya dan menghela napas kasar.
Zia mengambil ponselnya yang berada di atas meja,kemudian dia menghidupkan ponselnya yang sebelumnya Zia matikan.
Zia melihat jam yang menunjukkan pukul tujuh pagi,itu berarti,Zia baru tidur sekitar satu jam.
Zia mengusap wajahnya kasar sembari melihat notif panggilan yang masuk,dari Gabriel.
"Dasar brengsek!"umpat Zia kembali mematikan ponselnya,dan menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Tok tok tok
"Zia,ini sudah pagi!"
"Kamu tidak ingin sarapan?!"sentak Jeffan mengetuk pintu kamar Zia.
...𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔...
Gabriel duduk menyender di tembok sambil melipat kedua tangannya di depan dada.Dia melihat sekitaran kamarnya yang sudah acak acakan seperti kapal pecah.
Gabriel menunggu Zia di depan rumah dengan derasnya hujan,dia menangis sesegukan dan kembali kedalam rumah dengan membawa beberapa botol whine.
Dia menghabiskan semua whine nya dan membuang botolnya kesembarang arah.
Kedua tangannya berdarah akibat terkena pecahan kaca.
Gabriel membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Zia,namun dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban darinya.
Gabriel berdiri dan melempar ponselnya,kemudian dia mengepalkan tangannya dan menonjok tembok berkali kali.
Drtt drtt drtt
Ponsel Gabriel berbunyi,dia bergegas mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai.
"Sha-?!.
"Gabriel,kamu dimana?!"tanya Lili dari sambungan telfon.
Mendengar suara tersebut,raut wajah Gabriel berubah menjadi dingin.
Gabriel membaca nama yang tertera pada panggilan tersebut,dia pikir yang menghubunginya adalah Zia.
"Gabriel,kamu mendengarku kan?"lanjut Lili.
"Gab-!"
Tut tut
Gabriel mematikan ponselnya secara sepihak.
...𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔...
Zia termenung di kamarnya sembari menatap jendela,dia tidak mempunyai tenaga untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.
Zia duduk di atas ranjang dan melipat kedua tangannya di atas dada,"Hiks hiks".
Air mata Zia kembali mengalir seperti derasnya hujan,dia merasakan hatinya seperti ditusuk tusuk oleh benda tajam.
Zia tidak tahu bahwa Gabriel bisa melakukan hal itu kepadanya.
"Jadi,cuma gue doang yang cinta sama dia?".
Flash back on
Gabriel meremas pa***t Zia dan membuat Zia membuka mulutnya.Gabriel memasukkan lidahnya kedalam mulut Zia dan mengabsen satu persatu giginya.
Zia hendak membalas ciuman tersebut,namun hal tersebut dia urungkan karena melihat sebuah tanda lipstik merah yang menempel pada leher Gabriel.
Zia berpikir mungkin itu lipstik miliknya,tetapi setelah dia melihatnya lebih detail,dia tidak mempunyai lipstik dengan warna merah cerah semacam itu.
Zia menatap Gabriel dengan sorot mata sendu,dan membuat Gabriel melepaskan ciumannya.
"Why?".
Zia menggeleng gelengkan kepala dan merapikan bajunya,"Gue capek,mau tidur dulu"putus Zia turun dari atas meja dan berlari kecil menaiki tangga.
Flash back off
brak!
Jeffan mendobrak pintu kamar Zia dengan keras,sebab Zia tidak ingin keluar dari kamarnya seharian.
"JEFFAN!"sentak Zia,sambil menghapus air matanya.
Jeffan menyugar rambutnya ke belakang,dan menatap Zia,"ADA APA?!".
"APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!"lanjut Jeffan berkacak pinggang.
"Bukan apa-apa"sahut Zia.
Jeffan mendengus kesal,"Jika kamu menutupi semua masalahmu,bagaimana aku bisa menjagamu?".
"Kamu tidak percaya padaku?".
"Ini privasi gue,nggak semua masalah lo harus tahu!".
"Bagaimana kamu bisa menyelesaikannya,jika tanpa bantuanku?!"lanjut Jeffan.
"GUE NGGAK MINTA BANTUAN SAMA LO!".
"Baiklah,aku tidak akan mencampuri urusanmu.Namun,sebelum kamu menghadapi masalahmu itu,isilah energimu terlebih dahulu".
"Jika kamu menghadapi masalah itu tanpa energi,bagaimana bisa kamu menghadapinya?"
tanya Jeffan.
"Makanlah terlebih dahulu".
"Kamu tahu siapa yang akan memarahiku,jika aku tidak bisa menjagamu?".
Zia menghela napas kasar dan turun dari atas ranjang,"Yaudah ayo makan,tapi gue mau makan diluar!".
"Baiklah!"
...𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔...
Gabriel menatap arloji di ponselnya,kemudian dia buru buru masuk kedalam toilet untuk mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama,Gabriel keluar dari kamar mandi menggenakan setelan jas hitam.
Gabriel melajukan mobil sport nya dengan kecepatan di atas rata rata.Lalu,dia memberhentikan mobilnya di gerbang kampus,tempat dimana Zia bersekolah.
Gabriel keluar dari mobil dan melihat kesekitar mahasiswa yang keluar masuk dari kampus.
"Loh cowoknya Zia?"celetuk Caca menghampiri Gabriel.
"Lo kenapa disini?"tanya Caca.
"Dimana Shaqueen?"sambung Gabriel.
"Bukannya,dia nggak ada kelas hari ini"balas Caca.
"Dia tidak menginap di rumahmu?"lanjut Gabriel.
"Memangnya Zia nggak pulang?!"sentak Caca terkejut,"Zia nggak bilang apapun sama gue dan gue juga baru tahu kalau Zia nggak pulang!".
"Saya harus mencairmu dimana lagi"gumam Gabriel,yang masih bisa didengar oleh Caca.
"Sebentar,gue tanya sama temen-temen cowok Zia,mungkin aja mereka tahu"kata Caca.
"Hampir semua teman Zia itu cowok,dia lebih dekat sama teman-teman cowoknya,dan mereka lebih tahu Zia daripada gue"lanjutnya.
...𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔𖥔...
Jeffan menuruti Zia untuk makan diluar,saat ini mereka berada di restoran yang tidak jauh dari rumah Jeffan.
Jeffan duduk berhadapan dengan Zia,"Ingin makan apa?"tanya Jeffan memberikan buku menu pada Zia.
"Gue mau steak sama pasta"celetuk Zia,"Minumnya jus melon".
"Tuan?".
"Samakan saja"balas Jeffan.
"Baik,tunggu sebentar"putus pelayan tersebut.
"Arlon!"panggil Jeffan melambaikan tangannya dan menatap Arlon.
Arlon mengangguk dan menghampiri meja Jeffan.
"Duduk"pinta Jeffan.
"Ada yang ingin aku tanyakan padanya"ucap Jeffan mengetahui raut wajah Zia yang kebinggungan.
Zia mengangguk paham,"Gimana keadaan anggota draxlionz?"tanya Zia menatap Arlon.
"Kalian bisa mengobrol terlebih dahulu,aku ingin ke toilet"celetuk Jeffan berdiri.
"Ya!"
"Mereka sudah pulih"jawab Arlon.
"Apa sudah ada perkembangan?"tanya Zia penasaran.
"Gue nggak tahu apa yang sebenarnya kalian rencanakan,cuma karena ucapan Jeffan waktu itu,itu buat semua anggota jadi terpecah belah"ujar Arlon menatap lurus kedepan.
"Maaf,gue nggak tahu kalau Jeffan akan seperti itu".
"Davin juga tahu tentang itu".
"Tetapi dia bukan ketua kalian lagi,Arlon?!".
Arlon tersenyum tipis,"Siapa bilang dia bukan ketua draxlionz?".
"Lo-?!".
BRAK!
Arlon berdiri dan mengebrak meja,membuat Zia terkejut.
"INI SEMUA TERJADI KARENA KALIAN BERDUA TAHU NGGAK?!,DIKIRA GUE BEGO?!"
"Lo lihat sekarang,karena ucapan kalian itu,anggota gue jadi sering berantem.Supaya apa?,supaya mereka bisa gabung sama perusahaan Jeffan!".
"Kalian sudah memanfaatkan keadaan ini dengan sangat baik,seakan semuanya sudah ter-rencana".
"Maksud lo?"tanya Zia berdiri.
Arlon mendekatkan wajahnya,menatap Zia,"Perselingkuhan? Kematian Melodi? Dan Pencarian seseorang?".
"Bagaimana menurut lo?"tanya Arlon sambil tersenyum tipis.
Arlon memegang pipi Zia,"Gue akan tutup mulut,tetapi sebagai gantinya,lo harus jadi milik gue".
BUG!