Kimora seorang gadis penyakitan yang jiwanya terjebak ditubuh seseorang setelah meninggal akibat penyakitnya. Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup, tapi Tuhan juga memberinya ujian yang sangat berat.
Kimora harus terjebak dalam tubuh seorang gadis antagonis, ia sangat suka membuli dan itu sangat kebalikannya dari sifat asli Kimora. Tapi entah kenapa dari sifat Rivera yang buruk ini, Kimora merasa banyak sekali rahasia yang Rivera simpan sendirian.
"Jauhi Alastar atau gua bikin hidup lo gak tenang?."
"Lo cuma sampah, gak usah belagu jadi berlian."
"Hidup lo hidup gua."
"Jika takdir tidak membiarkan aku bahagia, kumohon biarkan takdir membuat ku tenang."
"Jika takdir ku dan takdirmu bukan diriku, akan aku pastikan lo dimiliki orang yang tepat."
"jangankan mencintai lo, mencintai diri sendiri aja susah."
"lo gak usah sok drama baik dihadapan aki aki itu bangsat."
"Gua minta maaf ra. Maafin gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sungai yang tenang
Bel sekolah telah berbunyi, seluruh murid sma cendrawasih berbondong bondong untuk pulang kerumah masing masing. Hari ini langit terlihat mendung walaupun tak turun hujan.
Sejak kejadian dihukum hingga di perpustakaan tadi, Rivera enggan untuk masuk kedalam kelasnya. Ia lebih memilih bolos saja walaupun masih berada didalam lingkungan sekolah, pikirannya sedang kacau, ia butuh waktu untuk mencerna semuanya, semuanya terlihat kacau.
Tepat di halte bus, Rivera sedang duduk sendirian. Semua murid sudah pulang, ia hanya sendirian di halte bus tersebut tanpa ada niatan untuk menghubungi supirnya untuk dijemput pulang.
"Gue harus gimana." Ucapnya dengan lesu, sedari tadi ia melamun. Pikirannya sedang kacau, ia juga tak tahu harus minta tolong kepada siapa. Dalam kehidupannya sebagai Rivera, ia tak mempunyai siapa siapa. Bahkan keluarga yang awalnya Rivera anggap baik baik saja, ternyata terdapat banyak sisi gelap yang bahkan Rivera tidak ketahui.
"Lo kenapa bunuh diri Rivera." Ia menghembuskan nafas kasarnya, keputusan nya sudah bulat. Untuk hari ini ia tidak ingin pulang lebih awal, ia memutuskan untuk pergi jalan jalan, entah kemanapun itu yang terpenting ia ingin menenangkan pikirannya untuk sejenak saja.
...----------------...
Seorang gadis dengan seragam dan rambut yang terurai sedang berjalan diatas trotoar tanpa arah. Ia berjalan dengan memakai earphone ditelinga nya, tatapannya sangat kosong tapi otaknya sangat berisik.
"Apa benar mamah kandung gua selingkuh dan ninggalin gue?." Tanyanya pada dirinya sendiri, ia berhenti di jembatan yang berada disamping trotoar itu. Matanya setia mengawasi kearah sungai yang sangat tenang dan dalam.
"Evelyn saudara gue, tapi kenapa abang gue bahkan kembaran gue sendiri benci sama gue ya. Sampai sampai tadi nampar."
"Rivera, mamah tiri lo baik kan. Tapi dimata gua dia baik ra."
"Gue juga kangen sama ibu, ayah, dan abang gue."
"Gimana kabar mereka ya."
"Bu, yah. Aku cape harus ngertiin mereka."
"Aku juga bingung sama semuanya."
Rivera terus terusan bermonolog pada dirinya sendiri, matanya terus terusan menatap air sungai itu bahkan sesekali ia menatap kearah langit. Matanya sangat sendu, ini baru pertama kali baginya menghadapi sesuatu yang sangat berat seperti ini.
"Bintang nya indah." Ucapnya sambil tersenyum.
"Papahnya Rivera kayaknya juga benci sama Rivera." Tiba tiba ia teringat bagaimana sang papah bereaksi terhadap Rivera saat dimeja makan. Awalanya ia merasa bodo amat karena ia mengira mungkin semua ayah orang kayak sifatnya dingin dan cuek, tapi semakin diperhatikan ekspresi papahnya seperti lebih dari kata dingin ataupun cuek.
"Semoga aja mamah Auretta baik, hanya mamah yang bisa aku andalkan dan percaya di keluarga ini."
Sudah tak terhitung berapa banyak Rivera menghembuskan nafas beratnya, ia harus mengatur ulang agar semuanya benar benar berbanding terbalik dari sebelumnya.
"Seperti kata maaf dan sifat baik tidak bisa merubah semuanya." Ucapnya sambil tersenyum getir.
"Mau ga mau, gua harus ngerubah sifat gua 100%." Rivera sudah memutuskan, ia akan berubah lagi. Mungkin sifatnya yang sekarang tidak cukup untuk membuat semua orang percaya bahwa Rivera benar benar berubah, mangkanya ia harus mengubah sifatnya lagi agar semua orang benar benar percaya bahwa Rivera berubah.
Lamunan Rivera buyar ketika ia mendengar sebuah deringan yang berasal dari ponselnya, deringan itu menandakan bahwa ada sebuah notifikasi pesan dari seseorang.
Ia langsung saja membuka ponselnya, benar saja terdapat satu pesan yang muncul pada lock screen nya.
"Ngapain disitu? Pulang." Isi pesan tersebut dengan nama Areksa sebagai pengirim pesan itu.
'Abang?.' Seusai membaca pesan dari Areksa, Rivera langsung clingak clingukan kesana kemarin untuk mencari keberadaan sang abangnya itu.
"Nanti, aku mau jalan jalan dulu." Ia segera mengirim pesan tersebut untuk menjawab pesan dari Areksa.
Diseberang sana, seseorang yang sedari tadi memperhatikan Rivera dari kejauhan sedikit memicingkan matanya dikarenakan membaca satu pesan yang dikirimkan oleh Rivera. 'Aku?.' Tanya nya dalan hati, sebelumnya ia tak pernah melihat Rivera berbicara dengan kata "Aku." Bahkan dari kecil pun, dengan sifat Rivera yang bebal, ingin menang sendiri dan keras kepala, ia sangat jijik jika harus berbicara menggunakan kata kata aku walaupun itu kepada orangtuanya ataupun gurunya sendiri.
'Mungkin salah ketik.' Areksa seberusaha mungkin untuk menepis pikirannya, sifat Rivera yang berubah sudah cukup membuat nya kebingungan, jangan sampai Rivera berubah lagi.
Tanpa basa basi lagi, Areksa langsung beranjak dari duduknya. Ia langsung menghampiri Rivera yang masih setia menempel pada pagar jembatan itu.
"Pulang." Titahnya sambil memegang tangan Rivera secara tiba tiba hingga membuat sang empu sangat terkejut.
"Kaget tau!." Rivera sangat membenci jika ia dikagetkan, walaupun niat orang tersebut bukan untuk mengagetkan nya tapi tetap saja Rivera kaget.
"Ga mau!." Tolak Rivera, ia juga menghentakkan tangan Areksa agar terlepas darinya.
"Lo kemarin udah pulang telat, sekarang lo juga mau pulang telat?. Pulang sekarang, nanti papah marah."
"Bodo amat."
"Pulang Rivera." Areksa kembali memegang tangan Rivera, ia hendak menarik tangan Rivera menujuk kearah mobilnya.
"Apasih, ga mau ya ga mau. Bebal banget." Sahut Rivera cuek, ia kembali menempel pada pagar jembatan.
"Ra-"
"Sini deh bang." Ajak Rivera sambil menarik lengan baju Areksa agar sedikit lebih dekat dengannya.
"Bintangnya indah ya." Ucapnya sambil melihat kearah bintang bintang.
Areksa yang ada disampingnya hanya bisa diam saja melihat secara inci wajah Rivera yang penuh dengan rasa sendu. Entah kenapa ada rasa yang mengganjal dalam hati Areksa, rasanya ia kasihan kepada Rivera tapi ia terlalu gengsi dan udah terlalu benci kepada adiknya itu. Tapi mau bagaimanapun perasaannya tidak pernah bohong, ia kangen canda ria bersama dengan Rivera seperti dahulu kala sebelum adanya seseorang yang merubah seluruh kehidupan itu menjadi terbalik.
"Udah, pulang sekarang. Nanti papah marah!." Titahnya, kali ini ia sedikit menekankan disetiap katanya agar Rivera mau pulang.
"Aku gak mau pulang, dan aku gak peduli jika papah marah."
"Lagian kalau marah pasti cuma dimarahi kan, atau ga uang saku dikurangi. Ah gampil, aku masih punya banyak uang." Ucap Rivera sambil tersenyum sangat lebar kearah Areksa.
'Lo bener bener lupa semuanya ra? Bahkan sekarang sifat lo berubah lagi, lo bener bener sakit hati kah gara gara kejadian di lapangan tadi?.' Bahkan untuk sesaat Areksa baru menyadari, ini untuk pertama kalinya ia melihat Rivera tersenyum selebar itu.
"Ga, pulang." Kali ini tanpa penolakan lagi, ia dengan cepat menggeret tangan Rivera walaupun sesekali Rivera memberontak agar bisa dilepaskan.
"Masuk." Titahnya, Rivera menurutinya begitu saja, ia sudah sangat kesal dengan abangnya karena digeret dengan paksa.
"Apa banget abang, sakit tau!." Ucap Rivera sambil mengerucutkan mulutnya dan memegang pergelangan tangan yang tadi digeret oleh Areksa.
"Ga usah manja." Areksa sedikit terkejut melihat Rivera merengek seperti anak kecil, ini seperti pemandangan langka bagi dirinya.
"Jahat." Rivera marah terhadap Areksa, ia langsung membalikkan badanya menghadap kesamping, ia lebih memilih kelihatan kearah jendela dibanding harus melihat abangnya yang sangat tidak peka itu.
Ada senyuman tipis yang tanpa sadar muncul pada bibir Areksa, didalam lubuk hatinya ia merasa senang. Akhirnya setelah sekian lama, ia melihat Rivera bertingkah layaknya anak bungsu yang sangat manja, sejak lama setelah kejadian itu ia sangat ingin sekali melihat Rivera bertingkah seperti ini lagi. Walaupun ia yang lebih dahulu merasa bodo amat dengan Rivera, dan menjauhinya. Itupun karena sifat baru Rivera yang membuatnya menjauhinya dan membencinya, sifat yang menjadi awal mula Rivera dibenci oleh semua orang.
"Pakai sabuk pengamannya." Perintah Areksa sambil melajukan mobilnya.
Rivera yang merasa diperintah tersebut hanya bisa menuruti tapi sambil ngedumel tidak jelas dan melakukannya dengan kasar, ciri khas orang yang sedang ngambek.
'Gua juga bisa bertingkah sok polos seperti lo.'
nanti up 2 bab sekaligus ye thor
maaf tu hnya pendapatku sja, aku gemes klo peran utamanya kurng maximal, klo bisa rivera mndri aja kluar dr rmh & bls dendam dgn cara yg cantik gtu
anak pungut dipuji2,anak kandung berasa anak pungut...
kalau q digituin,tinggal pergi trus hapus nama marga keluarga.
anggap aja mereka mati
up lagi yaaaa
Aku tunggu lanjutannya