Ini adalah kisah dari seorang dewa yang memiliki julukan Dewa Pelahap. Dia yang merasa bosan karena telah berada di puncak kultivasi dan tidak mampu naik ke alam primordial, akhirnya berbuat nekat dengan memasuki siklus reinkarnasi menggunakan teknik tertentu dan menyegel ingatannya agar tidak menghilang saat bereinkarnasi.
Entah sebuah takdir atau kesialan yang menimpa Dewa Pelahap, sehingga dia bereinkarnasi menjadi menjadi manusia fana dengan dantian tersegel.
Namun ketika dia sedang dalam titik terendahnya, dia menemukan sebuah benda aneh yang mampu mengikis segel dalam dantiannya secara perlahan. Dan awal kisah Reinkarnasi Dewa Pelahap pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arlingga Panega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengejaran
Yu Jireu sama sekali tidak memperdulikan harga dirinya, karena nyawa lebih berarti dari apapun. Dia masih sadar dan belum terlalu percaya diri untuk melawan entitas Tingkat Kaisar Tahap Menengah untuk saat ini. Terlebih ada banyak aura kuat lainnya yang juga sedang melesat ke tempatnya berada saat ini.
Lagi pula, menurutnya melarikan diri dalam posisi seperti sekarang ini merupakan sebuah pilihan yang paling tepat. Dengan dirinya terus hidup, maka dia bisa meningkatkan kekuatan setinggi mungkin kemudian membalaskan dendamnya suatu hari nanti.
Persetan dengan harga diri seorang kultivator. Bagi Yu Jireu hanya orang bodoh saja yang memiliki harga diri seperti itu, karena mempertaruhkan nyawa yang tidak memiliki suku cadang atau gantinya.
Jenderal Elang Putih hanya bisa melihat kepergian dari Yu Jireu tanpa sedikitpun memiliki daya untuk dapat mencegahnya. Saat ini lukanya benar-benar sangat parah sehingga tidak memungkinkan untuknya bergerak banyak. Dia tidak menyangka bahwa bocah berumur 11-an tahun itu lain daripada kultivator lain, yang mana mereka sangat memegang teguh pendirian serta harga dirinya agar tidak kabur atau melarikan diri dari pertarungan.
Sekitar 5 menit setelah kepergian dari Yu Jireu, Raja Ular Berkepala Tiga serta puluhan bawahannya pun tiba di tempat Jenderal Elang Putih. Wajah mereka terlihat sangat masam khususnya untuk Raja Ular Berkepala Tiga karena mengetahui bahwa musuhnya telah melarikan diri tanpa diberitahukan oleh Jenderal Elang Putih sekalipun.
"Bajingan! Manusia itu benar-benar cerdik dan sangat licin seperti belut!" teriak Raja Ular Berkepala Tiga dengan marah. Niat membunuhnya benar-benar tidak bisa dia hilangkan, sehingga membuat semua bawahan yang ada di sekitarnya khususnya Jenderal Elang putih yang sedang dalam kondisi terluka menjadi sangat tertekan.
"Yang Mulia, tolong sabar dan kendalikan amarahmu! Jenderal Elang Putih bisa mati, jika Yang Mulia terus memancarkan niat membunuh sepekat ini!" ujar salah satu bawahan Raja Ular Berkepala Tiga memberanikan diri.
"Sabar matamu, sabar! Kau Jenderal Elang Putih benar-benar tidak berguna! Hanya menahan kultivator tingkat Raja tahap menengah saja tidak bisa!" kata Raja Ular Berkepala Tiga dengan amarahnya yang semakin memuncak. Dia telah mengetahui bahwa manusia yang membuat onar di Jurang Kematian hanyalah kultivator tingkat Raja tahap menengah saja, karena terdapat bekas aura yang ditinggalkan sebelum menghilang sepenuhnya.
"Ke mana dia melarikan diri?" lanjutnya bertanya kepada Jenderal Elang Putih.
"Ke arah barat, Yang Mulia!" jawab Jenderal Elang putih dengan terbata-bata.
"Kalian semua cepat kejar manusia itu! Aku tidak mau tahu dan tidak mau dengar jika sampai kalian gagal lagi menangkapnya!" seru Raja Ular Berkepala Tiga memberikan perintah kepada semua bawahannya.
"Baik, Yang Mulia!" dengan terpaksa semua bawahan Raja Ular Berkepala Tiga mematuhi perintah pemimpin mereka.
Setelah kepergian dari semua bawahannya, kini di tempat itu hanya tersisa Raja Ular Berkepala Tiga dan Jenderal Elang Putih. Raja Ular Berkepala Tiga menatap tajam ke arah jenderalnya itu lalu berkata, "Kau cepat pulihkan diri lalu kembali mengikuti pengejaran terhadap manusia bangsat itu!"
"Baik, Yang Mulia!" patuh Jenderal Elang Putih, namun tidak segera beranjak dari tempatnya sehingga membuat Raja Ular Berkepala Tiga mengerutkan keningnya.
"Ada apa?" tanya Raja Ular Berkepala Tiga.
"Sebenarnya orang yang sedang kita kejar itu hanyalah bocah berumur belasan tahun saja, Yang Mulia!" ungkap Jenderal Elang Putih.
"Apaaa!" Raja Ular Berkepala Tiga sangat terkejut dibuatnya.
"Benar, Yang Mulia! Akan tetapi kekuatan bocah itu benar-benar sangat di luar nalar dan memiliki elemen angin yang lebih tinggi daripada milik hamba!" kata Jenderal Elang Putih menjelaskan.
Raja Ular Berkepala Tiga tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Matanya terlihat kosong dan mulutnya sedikit terbuka, karena tidak menyangka bahwa kultivator yang membuat onar di Jurang Kematian hanyalah seorang bocah berumur belasan tahun saja.
Melihat rajanya hanya terdiam membisu setelah beberapa saat lamanya, Jenderal Elang Putih kemudian pergi dan memulihkan diri tanpa berkata apa-apa lagi.
***
Di sisi lain atau lebih tepatnya di pusat Jurang Kematian, sosok pria sepuh yang sedang bertapa dan memiliki aura agung dan terus terpancar membuka matanya untuk beberapa saat lamanya. Senyuman tipis dapat terlihat dari sudut bibirnya menandakan dirinya telah mengalami sebuah ketertarikan.
"Seperti yang diharapkan dari Sang Dewa Pelahap yang pernah menduduki puncak rantai makanan di Alam Dewa sekaligus pemimpin tertinggi ras binatang suci! Dia tidak mungkin bertindak bodoh dan ceroboh hanya karena alasan harga diri seorang kultivator saja! Dia pasti lebih mementingkan nyawanya daripada yang lainnya." ucap pria sepuh itu merasa semakin tidak sabar untuk menemui bocah berumur 11 tahun yang merupakan reinkarnasi dari Sang Dewa Pelahap atau Yu Jireu.
Ya, pertapa sepuh itu mengetahui dengan jelas semua gerak-gerik yang dilakukan oleh Yu Jireu selama di Jurang Kematian. Hal itu dikarenakan kekuatannya yang sudah berada di tingkat tidak diketahui, sehingga persepsinya sangat mengerikan dan dapat mendeteksi apapun atau di manapun yang diinginkannya.
"Jika dalam waktu 100 hari kamu belum bisa menemuiku, maka aku menarik kembali kata-kataku sebelumnya dan kamu masih lah belum layak untuk dapat naik ke Alam Primordial!" ujar pertapa sepuh itu sembari tersenyum penuh arti, lalu kembali menutup matanya.
Pertapa sepuh itu pernah mengatakan kepada dirinya sendiri, bahwa dia akan mengangkat Yu Jireu menjadi muridnya dan mengajarkan semua pengetahuan yang diketahui supaya Yu Jireu dapat melangkah ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak ada yang mengetahui siapa sebenarnya pertapa sepuh ini dan berapa umur yang dimilikinya.
Di alam semesta ini, mungkin hanya dirinya seorang saja yang mengetahui tentang cara bagaimana seseorang bisa naik ke Alam Primordial dari Alam Dewa. Dari hal ini saja sudah bisa ditarik kesimpulan, bahwa betapa mengerikannya pertapa sepuh ini dalam hal kemisteriusan, kekuatan sekaligus pengetahuan.
***
Yu Jireu terus terbang dengan kecepatan tinggi ke arah barat tanpa menengok ke belakang. Dia juga berusaha mengaburkan auranya menggunakan elemen pelahap sehingga akan membuat hewan buas atau binatang spiritual yang sedang mengejarnya akan sangat kesulitan untuk mendeteksinya.
Yu Jireu juga bergerak secara zigzag sembari mencari tempat yang aman untuknya bersembunyi. Kekuatannya saat ini sebenarnya masihlah cukup prima dan bisa bertarung dengan hewan buas atau binatang spiritual yang memiliki tingkatan sama dengannya. Namun dirinya lebih memilih untuk menghindari saja sembari terus mencari sumber daya dan meningkatkan kekuatannya agar semakin memaksimalkan kesempatannya untuk menang dalam bertarung.
"Huh! Jika saja kekuatan darahku telah sepenuhnya bangkit, maka aku hanya perlu menggunakannya saja tanpa bekerja lebih banyak seperti ini untuk menaklukkan semua hewan buas atau binatang seperti itu!" Yu Jireu sedikit mengeluh akan dirinya sendiri yang begitu lemah dan juga tidak berdaya.
seru soalnya
tetap semangat berkarya thorr.. semoga sehat selalu amin