" Ayo kita cerai....!!! " ucap Laras dengan lantang kepada Erlangga
" Ada apa kenapa tiba tiba kamu ingin bercerai..? " tanya Erlangga yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Aku rasa kamu sudah tau kenapa saya ingin bercerai Mas, aku ini Istri kamu tapi sejak menikah aku belum mendapatkan hak ku sebagai istri mas " jawab Laras dengan suara bergetar
Erlangga bankit dari duduknya dan menghadap Laras.
" Jangan pergi demi Nathan dan Nala Laras " ucap Erlangga
Saat mereka tengah berbicara Nathan masuk dan menghampiri keduanya.
" Bunda.. bunda jangan pergi jangan tinggalin Nathan " ucap Nathan yang mendengar ucapan kedua orangtuanya
" Nathan, ayo ikut bunda kita ke taman belakang " ucap Laras menghibur anaknya
Entah mengapa Laras tak pernah tega untuk meninggalkan Nathan dan Laras, walaupun ia sendiri tau jika kedua anak itu bukan anak kandung Laras dan Erlangga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Resti tertawa bahagia melihat raut wajah Erlangga saat ini, inilah hal yang paling Resti nanti nantikan.
" Resti hentikan semuanya..!! " Bentak Erlangga
" Hentikan kamu bilang Mas..? Apa aku ga salah denger ya " Resti tak takut dengan bentakan Erlangga
" Aku hamil Erlangga..!! Dan semua itu karena kamu, kamu yang menjebak aku hingga akhirnya aku melayani laki laki lain .!!! " ucap Resti dengan kencang
" Begitu juga dengan wanita ini, dia mengambil Nay dan Nathan dari aku ..!!! " Resti terus berteriak dengan keras
" Kamu juga menipu ku Resti kamu menipu..!!! Kamu jadikan anak anak sebagai alasan kamu agar aku dan Laras berpisah !! " Bentak Erlangga kembali
" Sudah Mas lebih baik kamu sekarang kamu siapkan pemakaman untuk kami, dan jangan lupa siapkan rumah sakit jiwa juga untuk kamu mas " ucap Resti
Erlangga bingung siapa dulu yang ia tolong, mereka sama sama pentingnya untuk Erlangga.
Brukk
Tiba tiba seseorang dari belakang memukul kepala laki laki yang mengarahkan pisau ke leher Laras
" Brengsek berani beraninya" ucap Resti emosi
" Lepasin Naya dan Nathan Resti, mereka ga bersalah " ucap Laras dengan memohon
" TIDAK AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN MEREKA, MEREKA AKAN MATI BERSAMA DENGANKU " Ucap Resti berteriak
Dengan cepat Laras berlari kearah Naya dan Nathan.
" Laras " ucap Erlangga dan Rian bersamaan
" Mau apa kamu hah " ucap Resti saat Laras membuka pintu mobil Resti
" Aku ga takut sama kamu Resti, kamu itu hanya sampah " bentak Laras
Laras mendorong tubuh Resti dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya Resti berhasil jatuh.
Laras dengan cepat membuka pintu dan mengeluarkan Naya dan Nathan.
" Lari sayang cepat " ucap Laras kepada kedua anaknya yang tangannya terikat
Dengan cepat Naya dan Nathan pergi berlari, sedangkan Resti sudah menyiapkan untuk menyerang Laras.
Erlangga segera berlari menghampiri Laras, Laras melihat Resti yang tengah mengeluarkan pisau kecil.
" Mas Erlangga awas " Laras mendorong tubuh Erlangga
Pisau itu berhasil menusuk perut Laras, hingga darah keluar begitu banyak.
Dor..
Satu tembakan berhasil mengenai tubuh Resti
Jeri datang bersama dengan dua orang polisi, tak lama juga ambulance datang.
" Sayang kamu yang kuat ya " ucap Erlangga melihat darah yang begitu banyak keluar dari perut Laras
Sedangkan Resti, tembakan itu tepat mengenai jantungnya dan Resti meninggal di tempat.
Rian melihat raut wajah Naya pucat, berbeda dengan Nathan.
Dan Naya pun terjatuh di tanah tepat di samping Nathan.
" Naya.. Bangun Naya " ucap Nathan
Dengan segera Rian membawa Naya kedalam mobil dan menyusul Laras kerumah sakit
***
Naya dan Laras langsung di tangani dengan cepat, sejak tadi Erlangga tak henti hentinya menyalakan dirinya sendiri.
" Erlangga duduk jangan kayak gitu, Lo harus tenang " bentak Rian
" Istri sama anak gue didalam lagi berjuang, dan Lo nyuruh gue tenang " bentak Erlangga
Tak lama Fransiska dan kedua orangtua Erlangga datang kerumah sakit.
" Gimana kondisi Laras ..? " tanya Siska
" Belum ada kabar Mah " jawab Rian
" Naya gimana Er, dia baik baik aja kan " ucap Mamah Erlangga yang tampak panik
Erlangga tak menjawab sebab ia sendiri tak tau bagaimana dengan kabar anak dan istrinya.
" Erlangga kenapa bisa seperti ini, kenapa kamu tidak menjaga Laras Erlangga" ucap Siska kepada Erlangga
" Mah tenang Mah " ucap Rian menenangkan Mamahnya
" Kalau aja Laras ga ketemu lagi sama dia, ga akan kayak gini Rian " ucap Fransiska kembali
Erlangga benar benar merasa bersalah, ia tak bisa melindungi Laras dan anak anaknya.
Bahkan Laras lah yang justru melindungi dirinya, jika tadi Laras tak mendorongnya mungkin dia lah yang akan berada di dalam sana.
Tak lama Dokter keluar, dengan segera mereka langsung menghampiri.
" Gimana dok kabar anak dan istri saya " ucap Erlangga panik
" Kondisi istri saat ini belum sadar, luka tusukan yang istri terima cukup dalam dan kehilangan banyak darah. Sedangkan anak bapa belum sadarkan diri, sepertinya ia meminum sesuatu dan didalam minuman itu sudah diberikan suatu obat " jelas sang Dokter
" Dok untuk golongan darah O sedang kosong, dan kita membutuhkan 4 kantung darah dok " ucap seorang perawat
" Darah saya O " ucap Fransiska
" Darah saya juga O " ucap Rian
" Darah saya juga O silahkan ambil darah saya sebanyak apapun " ucap Yola orangtua Erlangga
Sontak hal itu membuat Erlangga dan Toni terkejut, yang mereka tau Yola sangat membenci Laras
" Mari ikut saya " ucap Perawat
Kini hanya tinggal Erlangga, Toni. Jeri tengah mengurus masalah ini ke polisi bersama dengan Antoni.
Erlangga tak henti hentinya berdoa agar anak dan istrinya selamat.
" Paahh " panggil Nathan yang baru saja tiba bersama dengan Jeri dan Antoni
" Sini sayang " Erlangga menggendong tubuh Nathan
" Bunda sama Naya gimana Pah " tanya Nathan dengan raut wajah yang sedih
" Nathan berdoa yah semoga Bunda dan Naya bisa kembali sehat" ucap Erlangga
" Iyah Pah " jawab Nathan
" Gimana dengan Raka ..? " tanya Toni kepada keduanya
" Dia sudah di tahan, sedangkan Yeni masih masih pencarian " ucap Jeri
" Licik sekali keluarga itu " gumam Toni
" Saya akan membantu menangani Laras dan Naya dulu, saya permisi dulu yah " ucap Antoni yang pergi meninggalkan lainnya
Erlangga benar benar tak bisa tenang, jika ada hal buruk yang terjadi pada keduanya ia benar benar akan menyalakan dirinya.
***
Hingga malam hari belum ada kabar mengenai Laras dan Naya, semua masih berkumpul untuk menunggu kabar.
Nathan pun sejak tadi enggan untuk pulang, ia benar benar ingin cepat bertemu dengan Naya dan Laras sang Bunda.
" Kenapa semua masalah datang begitu cepat yah Mah " ucap Rian yang tengah bersandar kepada Fransiska
" Mamah juga gatau Ian, Mamah cuma berdoa agar bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama dengan kalian " ucap Fransiska
Rian melihat raut wajah Erlangga yang penuh dengan penyesalan, Rian pun menghampiri Erlangga yang tengah duduk di lantai dengan memeluk kedua kakinya
" Gue yakin mereka akan baik baik aja ko " ucap Rian menenangkan Erlangga
" Salah gue Ian, semua salah gue " ucap Erlangga yang terus menyalahkan dirinya
" Bukan salah lo ko, beneran bukan salah lo "
" Gue gamau kehilangan anak sama istri gue Ian, gue sayang sama mereka " ucap Erlangga yang kini mulai sedikit bergetar
Mungkin jika Rian ada di posisi Erlangga ia akan bersikap sama, namun kini tak ada yang bisa di salahkan.
Tak lama Antoni keluar, Antoni menangani Naya dan Laras
" Gimana Mas keadaan Laras dan Naya " tanya Siska kepada suaminya
" Kondisi Naya sudah membaik, racun dalam tubuhnya juga sudah berhasil di keluarkan " jawab Antoni
" Lalu bagaimana dengan Laras Mas..? " tanya Fransiska kembali
Antoni menarik nafasnya dalam dalam, ia menatap semula sambil menggelengkan kepalanya.