Syakayla Abidah Umar, gadis berusia 19 tahun itu merupakan putri bungsu dari pasangan Abi Umar dan Umi Nafiza. Pada usia yang masih terbilang muda, Kayla harus merasakan pahitnya sebuah penghianatan yang dilakukan oleh kekasihnya. Kayla bahkan rela berbohong pada seluruh keluarga demi menutupi hubungannya bersama sang kekasih. Karena sejak kecil Kayla hidup di keluarga yang sangat menekankan ilmu agama dan secara tegas melarangnya untuk berpacaran.
Belum selesai dengan masa patah hatinya akibat perbuatan sang kekasih, nyatanya Abi Kayla secara diam-diam menjodohkan gadis itu dengan anak sahabatnya. Dia adalah Muhammad Fatih Akbar yang merupakan pengusaha muda yang sukses membangun sebuah restoran dengan hasil jerih payahnya sendiri. Mereka berdua dijodohkan dengan umur yang terpaut 5 tahun. Hal tersebut tentu saja membuat Kayla menolak.
Bagaimana kelanjutan kisah Kayla?
Yuk, langsung baca!
Silahkan berkunjung di IG author: awanmendung_26
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwanMendung26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Untuk Fatih
Kayla mengoleskan selain kacang pada roti yang berada di tangannya. Hal ini memang sudah menjadi rutinitas Kayla setiap pagi yakni menyiapkan sarapan untuk Fatih. Setelah mengoles dua buah roti tersebut Kayla lalu meletakkannya diatas piring milik Fatih sembari menunggu laki-laki keluar dari kamar.
"Pagi, kak." Sapa Kayla saat melihat Fatih kini berjalan kearah meja makan dengan mengancingkan baju di pergelangan tangannya.
"Pagi, Kayla." Sapa Fatih kembali dengan sebuah senyuman.
Fatih lalu menarik kursi dan bergabung sarapan bersama dengan Kayla. Laki-laki 24 tahun itu menatap roti di hadapannya lalu mendongak menatap Kayla.
"Makasi, ya." Ucap Fatih. Kayla yang saat itu sedang menggigit roti hanya bisa mengangguk dan mengacungkan jari jempolnya.
Keduanya menikmati sarapan pagi dengan begitu damai, hingga suara dering ponsel Fatih membuat atensi pasangan suami istri itu beralih pada benda pipih yang berada di samping piring Fatih.
"Sebentar, ya, saya angkat telfon dari Ayah dulu." Ucap Fatih sembari menatap kearah Kayla.
"Iya, kak."
Fatih lalu menerima panggilan tersebut dan meletakkan benda pipih itu di samping telinganya.
"Halo, Ayah?" Sapa Fatih di seberang telfon.
"...."
"Minta tolong apa, Yah?"
"....."
"B-bisa Ayah, nanti Fatih kasih tahu Kayla juga." Kayla mengerutkan dahinya menatap sang suami yang tampak gugup menjawab telfon dari ayah mertua Kayla.
"...."
"Iya, Yah. Hati-hati, ya. Ayah juga jangan lupa jaga kesehatan."
"...."
Panggilan itupun terputus. Kayla semakin dibuat penasaran mengapa raut wajah Fatih berubah jadi tegang setelah menerima telfon. Apa terjadi sesuatu? Begitu pikir Kayla.
"Ayah baik-baik aja kan, kak?" Tanya Kayla yang langsung memutuskan lamunan Fatih.
"Ah, iya. Ayah baik-baik aja kok."
"Terus kenapa muka kak Fatih kayak tegang gitu. Ada masalah?" Tanya Kayla kembali.
"Kayla, sebenarnya tadi Ayah nelfon untuk kasih kabar kalau Ayah ada urusan pekerjaan di luar kota, dan Ayah.."
"Ayah kenapa kak?" Tuntut Kayla yang semakin dibuat tidak sabar menunggu jawaban dari laki-laki dihadapannya.
"Dan Ayah mau nitip Nasywa disini. Tapi, ayah cuman 5 hari kok di luar kota. Apa kamu keberatan kalau Nasywa menginap 5 hari disini?" Tanya Fatih dengan suara pelan. Sejujurnya laki-laki itu sangat takut dengan respon istrinya. Fatih takut jika Kayla menolak Nasywa menginap, padahal dirinya sudah mengiyakan permintaan dari sang Ayah.
Gadis 19 itu seketika diam seribu bahasa saat mendengar penuturan Fatih. Bukannya Kayla tidak mengizinkan Nasywa untuk menginap di rumah ini, tapi yang menggangu pikiran Kayla adalah jika Nasywa tinggal selama 5 hari disini, itu artinya dia juga harus tidur satu kamar dengan Fatih selama 5 hari. Kamar di rumah ini memang ada tiga, tapi apa kata Nasywa nantinya jika dia melihat Fatih dan Kayla tidur di kamar yang berbeda.
"Maaf, ya, saya langsung mengiyakan saja permintaan Ayah tanpa minta persetujuan dari kamu. Saya---"
"Nggak apa-apa kok, kak. Dan aku juga nggak keberatan kalau Nasywa menginap disini." Jawab Kayla kemudian dengan senyuman yang menghiasi wajah cantik perempuan berhijab itu.
"Tapi, nanti aku izin pindahin barang-barang aku ke kamar kak Fatih, ya. Soalnya aku takut kalau Nasywa jadi curiga kalau kita tidur di kamar yang beda." Lanjut Kayla kembali sambil menunduk dan menggigit kembali roti dengan selai cokelat itu.
"Makasi, ya, kamu sudah izinin Nasywa menginap."
"Oh, iya, kapan rencananya Nasywa akan datang kak?"
"Kata Ayah tadi, Nasywa mau kesini setelah pulang sekolah nanti." Kayla mengangguk-angguk kepala tanda mengerti.
"Ya, udah aku pindahin barang-barangnya pas pulang kuliah aja."
Selepas sarapan, Fatih langsung mengantar Kayla ke kampusnya. Setelah memastikan sang istri tiba di tempat tujuan dengan selamat, Fatih kemudian meninggalkan area parkiran kampus menuju ke restoran miliknya.
Kayla berjalan melewati koridor dan menuju ke lantai dua di mana kelasnya berada. Langkah kaki gadis berhijab itu berhenti saat seseorang tiba-tiba menghadang jalan di depannya.
"Kayla, aku mau ngomong sesuatu." Ucap Mayra sambil menarik pergelangan tangan Kayla dan menuntun gadis itu untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Kayla sebenarnya malas bertemu dengan Mayra. Kayla bahkan masih mengingat jelas obrolan terakhir mereka yang mampu membuat gadis 19 tahun itu menjadi menghindari sepupu Amran.
"Kamu mau ngomong apa, May?"
"Gimana hubungan kamu sama suami kamu? Kapan rencananya kalian akan pisah?" Kayla berdiri dari posisi duduknya sambil menatap Mayra dengan tatapan tak percaya.
"Mayra stop, ya! Udah berapa kali aku tegasin sama kamu kalau kamu nggak berhak ikut campur soal kehidupan aku termasuk urusan rumah tangga aku." Sentak Kayla. Saat ini Kayla sedikit terpancing emosi, gadis itu bahkan berulang kali menarik napas guna menetralkan emosi yang sedang memuncak di dalam dirinya.
"Lho, apa salahnya sih, Kay? Aku bahkan sudah berbaik hati nanyain ini. Kenapa kamu jadi marah kayak gitu. Harusnya kamu itu bahagia dong ada yang perhatian sama ka---"
"Kamu bilang aku harus bahagia? Dan kenapa aku harus bahagia untuk pertanyaan konyol dari kamu itu. Dan, ya, satu lagi. Semua yang yang kamu lakuin ini bukan bentuk perhatian, May. Bedain antara perhatian dan mencoba merusak rumah tangga orang lain karena keinginan egois kamu." Kayla benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan sikap Mayra yang berubah padanya. Gadis berhijab itu bahkan tidak lagi peduli pada pandangan orang lain terhadapnya. Lagi pula, mengapa Kayla harus berpisah dengan Fatih sedangkan Kayla sendiri nyaman berada di sisi laki-laki itu. Apa salah jika Kayla ingin mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Mayra yang mendengar jawab Kayla lalu tersenyum miring.
"Ya, udah kalau gitu aku tunggu kabar perpisahan kamu aja, ya." Mayra kemudian pergi dan meninggalkan Kayla seorang diri.
Pertemuannya dengan Mayra pagi ini membuat mood Kayla seketika menjadi buruk. Untuk menghindari emosi sesaat yang dirasakannya, Kayla kemudian memilih melangkah menuju ke kelas.
Kayla mengikuti perkuliahan hari ini dengan begitu semangat. Berhubungan hari ini Kayla hanya ada dua mata kuliah jadi gadis berhijab itu bisa pulang cepat untuk memindahkan barang-barang miliknya ke kamar Fatih. Kayla juga sudah mengirimkan pesan pada suaminya itu untuk tidak menjemput dirinya, tentu Fatih menolak dengan tegas dan kekeh ingin menjemput Kayla. Tapi, setelah perdebatan panjang yang dilakukannya akhirnya Fatih bisa luluh dengan permintaan Kayla. Gadis berhijab itu kemudian pulang dengan menggunakan ojek online khusus perempuan karena itu merupakan salah satu syarat dari Fatih jika Kayla ingin pulang seorang diri.
Sesampainya di rumah, Kayla lalu bergegas untuk memindahkan pakaian serta barang-barang lain yang masih berada di kamarnya. Kayla juga harus memastikan tidak ada yang tertinggal nantinya.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga." Ucap Kayla dengan wajah berseri sambil menatap isi lemari Fatih yang kini berisi barang-barang miliknya juga.
Baru saja Kayla merebahkan badannya diatas kasur empuk Fatih, tiba-tiba saja suara ketukan pintu dari luar membuat Kayla bangkit dan bergegas keluar kamar untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum." Ucap Nasywa yang kini berada di depan pintu rumah Kayla dan Fatih.
Pintu dengan cat warna putih itu terbuka dan menampilkan sosok gadis berhijab yang sedang tersenyum kearahnya.
"Wa'alaikumussalam." Ucap Kayla.
"Ayo masuk, Nasywa." Ajak Kayla pada gadis remaja berusia 17 tahun itu.
Nasywa melangkah masuk ke dalam rumah sambil membawa koper berisi barang-barang pribadi gadis itu.
"Kak Fatih tadi udah cerita kalau kamu bakalan nginep disini. Ayok, kakak tunjukin kamar kamu." Ucap Kayla kemudian mengajak Nasywa menuju ke kamar yang sebelumnya di tempati oleh gadis itu.
"Makasi, ya, kak." Ucap Nasywa tersenyum.
"Kakak bantu kamu beres-beres, ya?" Tawar Kayla yang langsung di balas gelengan pelan dari gadis itu.
"Eh, nggak usah kak. Biar Nasywa sendiri aja." Tolak Nasywa dengan halus. Gadis remaja itu tidak ingin merepotkan kakak iparnya.
"Ya, udah kalau gitu kakak siapin makan siang dulu buat kamu. Pasti kamu lapar kan habis dari sekolah?" Nasywa tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari Kayla. Kakak iparnya itu memang sangat peka pada Naywa.
"Kak Kayla tahu aja aku lagi lapar. Sekali lagi makasi, ya, kak. Maaf aku ngerepotin kakak."
"Nggak sama sekali kok, malah kakak senang kamu bisa nginep disini. Ya, udah kakak tinggal ke dapur dulu, ya."
Setelah mengucapkan itu Kayla segera ke dapur dan menyiapkan makan siang untuk Nasywa. Sementara adik iparnya itu sedang sibuk menata barang di kamar. Kurang lebih 30 menit disibukkan dengan bumbu dan peralatan dapur akhirnya makan siang yang Kayla buat sudah tertata rapi di atas meja makan. Nasywa yang mencium bau masakan seketika membuat cacing di perutnya meronta untuk meminta segera di isi dengan masakan kakak iparnya.
Nasywa kemudian melangkah keluar dari kamar menuju ke meja makan. Sedangkan Kayla menyambut adik iparnya itu dengan senyuman. Keduanya lalu menikmati makan siang bersama sambil sesekali mengobrol. Bahkan pembicaraan mereka berlanjut di ruang tengah. Sepertinya kedua perempuan berhijab itu sudah memiliki list topik pembicaraan yang akan mereka obrolkan bersama. Kayla menjadi senang dengan kehadiran Nasywa di rumah ini. Ternyata gadis remaja itu begitu ceria dan mungkin sedikit cerewet. Tapi, Kayla senang karena Nasywa menerima dengan senang hati Kayla sebagai kakak iparnya.
"Kak kita ke mall, yuk!" Ajak Nasywa dengan mata berbinar.
"Ke mall?" Ulang Kayla sembari menimbang-nimbang ajak adik iparnya itu.
"Iya, kak. Mau, ya. Soalnya aku mau banget ngerasain jalan-jalan dan habisin waktu bareng sama kak Kayla." Ucap Nasywa dengan sedikit nada merengek. Kayla jadi tidak tega untuk menolak.
"Tapi, kakak izin sama kak Fatih dulu, ya." Nasywa segera mengangguk setuju.
Kayla kemudian mengirimkan pesan pada Fatih dan mengatakan bahwa dia dan Nasywa akan ke mall bersama. Tidak lama kemudian Fatih membalas pesan tersebut dan mengatakan bahwa dia boleh pergi bersama Nasywa dengan syarat mereka tidak akan pulang terlalu sore nantinya. Kayla tersenyum menerima pesan dari suaminya itu, di mana pun dia berada perhatian sederhana Fatih selalu mempu meluluhkan hatinya secara perlahan.
"Kak Fatih udah kasih izin." Ucap Kayla sambil menatap Nasywa.
"Yeay! Akhirnya. Ya, udah kalau gitu aku siap-siap dulu, ya, kak."
Nasywa berlari kecil menuju ke kamarnya. Melihat wajah dan tingkah lucu Nasywa membuat Kayla jadi tersenyum. Gadis berhijab itupun juga melangkah menuju kamar untuk segera bersiap-siap.
Setelah keduanya rapi dengan pakaian masing-masing. Dua perempuan berhijab itu lalu berangkat menuju ke mall dengan menggunakan taksi online.
Saat berada di mall, Nasywa dengan semangat untuk mengajak Kayla berkeliling. Kayla hanya pasrah dan mengikuti keinginan adik iparnya. Mereka berpindah dari satu toko ke toko yang lainnya. Dan saat ini keduanya sudah menenteng paper bag di tangan masing-masing. Nasywa yang semula memiliki niat untuk membeli pakaian saja kini tergoda untuk membeli sebuah sepatu yang menarik perhatiannya dan berakhir sepatu itu di pinang oleh gadis remaja berusia 17 tahun itu. Sedangkan Kayla, gadis itu di paksa untuk membeli pakaian muslimah juga.
Keduanya berjalan beriringan sembari terus menatap ke setiap toko yang ada di sana.
"Kak kesana, yuk!" Tunjuk Nasywa pada toko pakaian yang menjual baju koko pria.
"Itu kan toko khusus baju laki-laki. Terus kita ngapain kesana?" Tanya Kayla bingung. Apa mereka akan membeli baju koko, tapi untuk siapa?
"Gimana kalau kakak beliin kak Fatih baju koko." Saran Nasywa pada kakak iparnya.
Kayla diam sejenak, ide dari Nasywa tidaklah buruk. Selama ini Fatih sangat baik padanya, tidak ada salahnya bukan jika Kayla membeli pakaian untuk suaminya sendiri.
"Ya, udah, yuk!" Ucap Kayla lalu menggandeng lengan Nasywa untuk ikut bersamanya.
Keduanya kini berada di dalam toko sembari sibuk mencari baju yang cocok dikenakan Fatih. Namun, kegiatan Nasywa dan Kayla terhenti saat seseorang menyapa mereka.
"Nasywa, Kayla. Kalian disini juga?" Tanya tante Yuri yang tiba-tiba menghampiri mereka.
"Eh, tante. Iya, Tan. Aku kesini karena nemenin kak Kayla untuk cari baju buat kak Fatih." Jawab Nasywa sambil tersenyum.
Kayla sendiri sudah mengenal sosok tante Yuri. Beliau hadir di acara pernikahan Kayla dan Fatih. Fatih juga sudah menceritakan tentang Diandra yang tinggal bersama tante Yuri. Tapi, yang membuat Kayla sedikit kaget adalah tante dari suaminya itu tidak sendirian melainkan bersama dengan seorang perempuan yang sempat menawarkan untuk menjadi madu suaminya. Ya, dia adalah Zahra. Perempuan itu tersenyum menyapa Nasywa dan Kayla. Zahra bahkan bersikap seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.
"Tante ke sini sama siapa?" Tanya Nasywa.
"Ini tante sama temannya Diandra namanya Zahra."
"Oh, iya, Zahra kenalin ini keponakan tante dan yang ini istri dari keponakan tante, kakaknya Nasywa." Lanjut tante Yuri sambil menunjuk kearah Nasywa dan Kayla bergantian.
"Tanpa tante Yuri kenalkan pun Zahra sudah lebih dulu mengenal kak Fatih." Batin Kayla.
"Kak Zahra mau beli baju koko juga?" Tanya Nasywa yang kini mengalihkan atensinya pada Zahra.
"Katanya sih dia mau beliin untuk seseorang." Jawab tante Yuri dengan cepat.
Nasywa hanya mengangguk kemudian tersenyum. Sedangkan Kayla sibuk memperhatikan setiap gerak gerik Zahra. Rasanya benar-benar canggung saat Kayla kembali di pertemukan dengan perempuan itu. Tapi, karena tidak ingin terlalu memikirkannya, akhirnya Kayla memilih menyibukkan diri untuk mencari baju koko yang akan di belinya untuk sang suami.
Mata Kayla tiba-tiba menangkap sebuah baju koko dengan lengan 3/4 berwarna navy. Sepertinya warna dan model pakaian itu cocok di tubuh tegap Fatih.
Tanpa pikir panjang lagi, Kayla menuju ke kasir untuk membayar belanjaannya. Kini Kayla menenteng dua buah paper bag di tangannya.
"Nasywa, kakak ke toilet sebentar, ya." Ucap Kayla.
"Nasywa temenin, ya, kak." Tawar Nasywa.
"Biar Nasywa nemenin kamu, ya, Kayla. Nanti tante yang jaga barang belanjaan kalian." Ucap tante Yuri.
"Makasi, ya, tante kalau gitu aku permisi ke toilet sebentar." Ucap Kayla yang membuat tante Yuri mengangguk seraya tersenyum.
Setelah selesai dari toilet Kayla bergegas menuju ke toko di mana tante Yuri dan Zahra berada.
"Ini barang belanjaan kalian." Ucap tante Yuri sambil menyodorkan paper bag milik Nasywa dan Kayla.
"Sekali lagi makasi, ya, Tan. Maaf kalau ngerepotin."
"Iya, sama-sama. Tante nggak merasa di repotin kok." Balas tante Yuri.
"Kalau gitu aku sama Nasywa pamit dulu, ya, Tan."
*****
Malam harinya setelah menyantap makan malam, Kayla segera mencuci piring yang menumpuk di wastafel. Gadis itu mengeringkan tangannya dengan kain setelah mencuci piring. Setelah selesai kaki jenjang Kayla kemudian melangkah menuju ke kamar Fatih. Saat berada di dalam kamar, Kayla menatap Fatih yang kini duduk di atas kasur sambil bermain ponsel.
"Hm, kak tadi kan aku sama Nasywa ke mall terus kita nggak sengaja liat toko yang jual baju koko gitu. Dan aku beliin buat kakak semoga kakak suka, ya." Ucap Kayla sedikit ragu sambil menyodorkan paper bag yang berisi baju yang dibelinya untuk Fatih tadi.
"Kamu beliin baju untuk saya?" Tanya Fatih kembali sambil menunjuk dirinya. Laki-laki itu sedikit tidak percaya, meski begitu Fatih terlihat bahagia menerima hadiah sederhana dari sang istri.
Kayla mengangguk mendengar pertanyaan Fatih. "Aku nggak tahu kakak sukanya warna apa, jadi aku inisiatif beli warna navy aja."
"Apapun yang kamu pilih. Saya pasti suka kok." Jawab Fatih kembali. Laki-laki 24 tahun itu kemudian membuka paper bag dan mendapati 2 baju koko di sana.
"Kamu beli dua untuk saya?" Tanya Fatih kembali setelah melihat baju yang ada di paper bag tersebut.
jauh kan amran ternyata pleboy